Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kasmaran


__ADS_3

Jayaseta mengenakan kembali pakaiannya, membuat Dara Cempaka kembali dapat bernafas setelah sekian lama harus melawan tekanan darahnya yang berdesir cepat membuat jantungnya berdetak membabibuta.


Jayaseta juga memasukkan keris Kyai Pulau Bertuah kembali ke balik pakaiannya. Datuk Mas Kuning sudah merasa bahwa keris buatannya itu memang sudah menemukan jodohnya. Dan bila suatu saat Jayaseta melepaskan hubungannya untuk kedua kali dengan keris tersebut, itu sudah diluar kehendak dan kemauannya lagi.


"Anakku, Jayaseta, aku ijinkan kau untuk datang kembali esok malam. Kita akan berpanjang lebar berbicara mengenai luka yang kau dapatkan itu. Anggap saja malam ini adalah malam perkenalan dan maaf aku tak dapat menjamumu dengan layak, nakmas," ujar sang datuk.


Jayaseta mengambil topeng kayunya yang sebelumnya tertusuk tusuk konde Dara Cempaka. Setelah mencabut dan mengembalikannya kepada si empunya, ia mengenakan topeng itu kembali.


"Datuk, adik Dara, kalian telah memberikan segala bantuan yang dibutuhkan. Hamba akan mengganggu datuk lagi esok malam," Jayaseta menjura sebagai bentuk penghormatan kemudian berbalik dan mencelat turun dari rumah bertingkat tiga tersebut.


Dara Cempaka terkesima kemudian mencoba melihat arah kepergian sang  pendekar, "Datuk, ia melompat turun dari rumah yang berlantai tiga ini?" ujarnya tanpa melihat ke arah sang datuk.


Datuk Mas Kuning berdiri, menguap dan meregangkan tubuhnya, "Dia adalah seorang pendekar sakti, Dara. Apa yang kau harapkan?" ujar sang datuk santai.


"Kau boleh tidur di sini malam ini. Tapi besok kau harus pulang ke rumah orangtuamu, karena bagaimanapun datuk adalah tahanan, Dara. Dan kau pada dasarnya sedang tidur di penjara. Bersyukur mereka mengijinkanmu untuk datang dan pergi sesuka hatimu karena mereka tahu kau adalah cucu kesayanganku yang tak akan membuat masalah," ujar sang datuk sembari tersenyum.


"Aku heran dengan engkau, datuk. Datuk begitu sakti sehingga sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh prajurit yang maju sekaligus pun tak akan mampu menahan datuk. Bahkan seorang pendekar termahsyur seperti abang Jayaseta saja jauh-jauh datang kemari untuk meminta bantuan datuk. Lalu, mengapa datuk mau saja diperlakukan seperti ini, di tanah dan negara tempat datuk berbakti dan menguras semua daya tenaga?"


"Ah, Dara ... Dara ... Datuk sedang lelah harus mengulang selalu menjelaskan kepadamu betapa rumit permasalahan ini. Biarkan lah bila itu mau mereka. Datuk sudah tua, tak berkeinginan melancong jauh-jauh atau berkegiatan berupa-rupa. Cukuplah datuk di negeri ini, di rumah ini. Makanpun datuk berkecukupan. Masih dapat melihat wajah manismu itu atau melihat burung pipit membuat sarang di pohon."


"Datuk ... Engkau masih menganggap aku sebagai gadis kecil, bukan? Aku sudah empat belas tahun, datuk. Aku ...,"


"Kalau kau pikir datuk menganggap kau sebagai anak kecil, mengapa datuk biarkan kau menjajal ilmu kanuragan Jayaseta, seorang pendekar yang bahkan kau sendiri sadar kesaktiannya berkali lipat dibandingkan dirimu? Lalu, mengapa tak datuk cegah kau untuk merasakan cinta pertamamu dengan orang asing yang sebelumnya hendak kau bunuh? Itu karena datuk ingin kau merasakan semua dan bertanggungjawab atas apa yang kau lakukan dan rasakan sendiri. Karena datuk paham kau sudah dewasa," kembali Datuk Mas Kuning tersenyum penuh makna.

__ADS_1


Wajah Dara Cempaka kembali memerah. Ia menundukkan muka sedalam-dalamnya. Ia tak tahu bahwa sang datuk sudah mencium gelagat rasanya pada Jayaseta.


Dara Cempaka bahkan enggan melawan atau menentang perkataan sang datuk yang kini terkekeh pelan menggoda sang cucu. Ia bahkan langsung pergi tanpa pamit sembari menutup wajahnya, menuruni tangga dengan kecepatan seorang pendekar perempuan diikuti tawa pelan mengejek sang datuk.


Malam itu dara tak bisa tidur sampai hampir pagi menjelang. Sepasang matanya hanya tertutup sejenak sebelum kemudian mentari bangun dari peraduannya. Itupun wajah Jayaseta muncul berkali-kali dalam mimpinya.


Bagi seorang bujang waras, kecantikan Dara Cempaka tak dapat dibandingkan dengan siapapun. Wajahnya begitu manis bagai buah-buahan yang tersiram embun di pagi hari.


Kulitnya begitu putih berlawanan dengan rambut panjangnya yang hitam kelam.


Tapi segala kecantikan ini serasa tak berguna bagi Dara Cempaka sendiri karena ia sedang kasmaran. Ia merasa buruk rupa, merasa tak memiliki sesuatu apapun yang bisa dibanggakan kepada sang pujaan hati.


Malam nanti ia akan bertemu kembali dengan pendekar yang mengalahkanya dengan mutlak, tubuh, raga dan jiwa. Apa yang bisa ia lakukan untuk membawa wajah ini tegak di depan sang tampan? Dara Cempaka merebahkan tubuhnya lagi di atas tempat tidur beralas sutra dan bertilam lembut bulu angsa.


***


"Wah, kau kembali, saudaraku," teriak Raja Nio dari atas kapal melihat kedatangan Jayaseta. Kedua tangannya terentang menyambut.


Para awak kapal yang melihat kehadiran orang penting itu juga melambai atau menganggukkan kepala mereka.


Sudah hampir subuh ia sampai ke pelabuhan Sukadana, berjalan pulang dari rumah Datuk Mas Kuning di balik bukit yang dijagai ketat oleh para prajurit tersebut.


"Tuan nakhoda, apakah jung tuan akan melepas sauh dalam waktu dekat?" ujar Jayaseta langsung tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Hmm ... Kau seorang pendekar pilih tanding yang sama sekali tak paham apa-apa mengenai pelayaran dan bepergian dengan kapal rupanya," ujar sang nakhoda.


"Aku butuh sekitar tiga bulan untuk menjual beras dan menggantikan dengan barang dagangan kembali ke Semarang. Barang dagang itu adalah lada, mungkin sedikit besi buat barang-barang dsn perkakas pertanian. Maka dari itu, bukankah aku telah menyampaikan kepadamu bahwa kau boleh pulang kembali bersamaku setelah urusanmu, apapun itu, selesai?"


Jayaseta mengangguk-angguk puas. "Bolehkah aku menginap kembali di kapalmia, tuan nakhoda sampai urusanku selesai. Aku juga akan minta bantuanmu untuk bekerja apa saja, bahkan di atas kapal ini."


Antonia da Silva tertawa kencang-kencang. "Apa aku harus memperjelas bahwa kau diterima kapan saja, pendekar. Ah, kau ini ada-ada saja," ujarnya singkat.


Jayaseta menarik nafas lega. Perjalanan dari pelabuhan ke rumah sang datuk tidak bisa dikatakan sebentar. Namun, ia baru sehari di dunia baru ini. Jelas ia tak tahu harus kemana. Apalagi, berbeda dengan perjalan-perjalanannya terdahulu, dalam satu hari ini pula ia sudah menemukan apa yang selama ini ia cari. Ia tak akan mempersulit keadaan dengan mencari-cari tempat tinggal, makan dan bekerja tentunya.


Sang nakhoda, Raja Nio, menepuk bahunya. "Aku tahu sekarang sudah mendekati subuh. Tapi aku yakin kau belum makan seharian. Kau tahu tempat ini terkenal dengan beragam jenis ikan laut dan sungainya bukan? Ada dendeng pelanduk dan daging asap kalau kau mau. Aku punya masih punya banyak simpanan arak dan tuak, tapi kalau kau tak suka, kau boleh coba air pegunungan yang luar biasa segar diambil hari ini oleh awak kapalku."


Mendadak Jayaseta merasakan perutnya merintih. Ia ingat bahwa ia belum menyentuh makanan sama sekali hari ini.


Bukan ia tak beruang, bukan ia tak bisa menemukan barang sebuah kedai makan yang masih buka atau rumah penduduk yang bersedia menerima kedatangannya untuk sekadar meminta makan, bahkan bila harus membayarnya.


Hanya saja ia terlupa dengan kebutuhan wajar manusia tersebut karena ia terlalu bersemangat mengenai pertemuannya dengan sang datuk. Ia berpikir bahwa semakin cepat urusannya selesai, racun kutukan tombak Kyai Ageng Plered dapat hilang selamanya dari tubuhnya, secepat itu pula ia dapat pulang kembali ke pulau Jawa bertemu dengan sang istri tercinta, Almira.


Maka dari itu, tentu saja tawaran sang nakhoda untuk kembali pulang ke Semarang tiga bulan lagi benar-benar sangat menggiurkan.


Malam ini Jayaseta berniat dan bertekad memimpikan sang kekasih hati, Almira.


Jayaseta tak mengerti sama sekali, ada hati yang terpaut pada wajahnya. Ada gadis muda yang juga sedang memimpikannya dengan hati penuh rasa kasmaran.

__ADS_1


__ADS_2