Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Memanen Nyawa Musuh


__ADS_3

Dewa Langkah Tiga harus menelan kekecewaan karena keadaan di tempat ini tidak sempat menjadi makanan kejemawaannya. Ketika tubuh kecilnya menyeruak masuk ke dalam gedung kesatrian musuh, pendekar paruh baya ini hanya melihat kurang dari sepuluh prajurit Siam bersenjatakan pedang ganda sedang duduk-duduk. Bahkan ada yang berbaring begitu saja di bagian depan pelataran dari tanah tersebut.


"Bangsat! Mana yang lain? Mengapa aku hanya ditinggalkan dengan cecunguk-cecunguk ini?" sumpah Dewa Langkah Tiga dengan gaya sombong nya yang memang sudah sangat terkenal itu.


Ia memang baru saja merubuhkan beberapa orang prajurit penjaga di depan dengan beberapa gebrak saja, tangan kosong bahkan. Namun, apakah berlebihan bila beberapa orang prajurit Siam bersenjata lengkap yang berada dalam keadaan raga yang awas dan sempurna itu tidak cukup dimata nya?


Yang jelas, para prajurit yang terlihat santai itu kini semua telah bangkit berdiri dan langsung menghunus sepasang pedang kembar mereka.


"Kemana punggawa pasukan kalian, heh? Bila cuma sejumput prajurit semacam kalian ini, hanya membuang tenaga dan waktuku saja," seru sang pendekar paruh baya bertopeng iblis Khon itu dalam bahasa Melayu.


Salah satu prajurit yang juga mampu berbahasa Melayu maju ke depan. Ia meludah ke tanah dan melotot memandang sosok yang menerobos masuk ke kesatrian mereka tersebut. "Bajingan! Aku tak peduli kau mewakili siapa, para pendekar Melayu Kedah atau keprajuritan Kesultanan Kedah. Yang jelas, kau sudah mengantarkan nyawa mentah-mentah di depan pedang kami," ujar sang prajurit.


Dewa Langkah Lima merasakan darah panasnya menggelegak. Ia terhina karena ditantang seorang cecunguk bedebah Siam dalam menggunakan bahasa Melayu pula. Selain itu kekecewaannya sudah berada di ubun-ubun karena tak mendapatkan apa yang ia harapkan.

__ADS_1


Namun, ada secuil kesadaran di dalam otaknya yang masih bisa berjalan dengan wajar. Ia tetap harus berjalan sesuai dengan rencana dan tujuannya. Maka ia berteriak lantang. "Aku adalah sang Pendekar Topeng Seribu yang bernaung di bawah Kesultanan Melayu Kedah. Aku datang ingin memberikan pelajaran kepada para prajurit dan cecunguk Siam bahwasanya Kedah tidak bisa diancam oleh Ayutthaya. Aku hadir untuk menghancurkan kekuatan para pendekar Siam maupun prajurit-prajurit Ayutthaya. Aku sendiri, tidak perlu bantuan, akan menghabisi siapun yang berani mengganggu laju Kesultanan Kedah."


Tentu saja seruan ini sungguh membuat para prajurit Ayutthaya yang berjumlah kurang dari sepuluh orang itu menjadi kalap. Kesombongan dan pancingan sang sosok bertopeng itu benar-benar dimakan sebagai umpan.


Lima orang prajurit menyerbu dengan tangan terentang ke atas siap menebas tubuh kecil Dewa Langkah Tiga yang sedang bermain peran berpura-pura menjadi Pendekar Topeng Seribu.


Ciri khas jurus-jurus Langkah Tiga yang dikuasai sosok tokoh Kerinci itu adalah dengan menyongsongnya. Langkah pertama dan kedua dilakukan berurutan namun begitu cepat seakan adalah satu langkah saja. Satu tinju menghajar ketiak satu prajurit Siam, kemudian sepakan keras menghantam pinggul satu prajurit lain. Di sela-sela serangan dua langkah itu, Dewa Langkah Tiga memberikan pukulan bertenaga dalam begitu keras ke tiga rombongan prajurit lain yang menyerang dengan berantakan. Ketiganya terpental bertabrakan.


Tiga serangan dalam tiga langkah itu tidak terlalu merusak, karena sisa peyerang terpaksa membuat Dewa Langkah Tiga mundur berkelit. Dua pedang panjang berseliweran membabat ke arah kepalanya membuat sang pendekar paruh baya ini terpaksa mengelak.


Dewa Langkah Tiga mundur berkelit, berputar dan menunduk. Tubuh kecilnya begitu cekatan dan gesit. Namun sebagai hasilnya, para prajurit Siam Ayutthaya menjadi semakin kalap, merasa bahwa musuh sedang kesulitan.


Dewa Langkah Tiga menyelip mendekat ke arah musuh yang menyerang, namun ia sendiri tak mendaratkan pukulan. Para prajurit yang tadinya menyerang berbarengan harus menarik satu sabetan pedang mereka agar tak mengenai rekan mereka.

__ADS_1


Dewa Langkah Tiga menggunakan kesempatan itu untuk meraih tangan musuh, menekuk dan membantingnya. Musuh yang lebih tinggi terguling dan jatuh di tanah. Dalam kesempatan itu, Dewa Langkah Tiga menjejak wajah dan dada musuh hingga terdengar bunyi derak tulang patah.


Kini, setiap serangan pedang ganda musuh harus tertahan sehingga menjadi serangan satu pedang saja. Ini dikarenakan sang Dewa Langkah Tiga terus menerus menempel musuh dan membantingnya.


Dua prajurit lagi tumbang dan meregang nyawa karena dijejak dada, wajah dan kepala mereka setelah terlebih dahulu terbanding, terjegal atau tergeletak oleh jurus-jurus lawan bertopeng itu.


Ketika Dewa Langkah Tiga telah mendapatkan irama dalam pertarungan ini, dari luar bangunan kesatrian itu, para pendekar Melayu berbusana serba hitam dan mengenakan penutup wajah menyerbu masuk.


Keris dan belati sudah terhunus. Dalam kebingungan prajurit-prajurit Siam, para pendekar Melayu Kedah itu langsung menanamkan senjata tajam mereka tubuh-tubuh lawan. Jeritan dan teriakan kematian menggema.


"Bangsat! Apa yang kalian lakukan? Kalian merusak pekerjaan dan tanggung jawabku!" seru Dewa Langkah Tiga geram.


"Kau yang dungu, pendekar tua! Pendekar Topeng Seribu membunuh musuh dengan senjata. Kau dengan bodoh memaksakan memamerkan jurus-jurus tangan kosongmu. Lalu, untuk apa kau menyamar menjadi pendekar itu kalau kau mau menjadi dirimu sendiri?" balas pemimpin pasukan Melayu itu.

__ADS_1


Mendengar ini Dewa Langkah Tiga menjadi semakin geram. Namun ia nampaknya tak bisa berbuat apa-apa. Maka, ia memungut sepasang pedang ganda dari prajurit Siam yang tergeletak mati di depannya. Dengan teriakan perang yang liar, ia mengayunkan kedua pedang Siam itu untuk memanen nyawa musuh.


__ADS_2