
Kuda dipacu dengan cepat dan gesit. Dari atas kuda pecutan cambuk menggelegar menyambar-nyambar. Sosok di atas pelana nyatanya memiliki sepotong cambuk yang jauh lebih panjang dibanding cambuk tiga pendekar lainnya. Hal ini cukup sebenarnya memiliki kesukaran sendiri dalam memainkan cambuk yang panjang tersebut. Di atas pelana kuda memang terlihat sekali kemampuan sang pendekar dan keuntungan menggunakan senjata panjang. Namun bagaimana ketika sosok itu berada di bawah. Bukankah akan sangat merepotkan menghadapi lawan dengan cambuk yang terlalu panjang seperti itu? Tapi masalahnya sekarang adalah sang pendekar yang baru saja melompati tembok pagar tersebut sedang benar-benar menghajar para prajurit penjaga.
Para prajurit yang lengah segera saja terluka di berbagai bagian tubuh mereka serta berjumpalitan dan kembali berjatuhan bagai gugurnya daun kering. Para pemanah yang beberapa memang masih siap dengan busur dan anak panahnya tanpa perintah langsung menghujami sang penunggang kuda dengan serangan-serangan mereka. Sang pendekar di atas kuda melepaskan sekali hempas cambuknya. Gelombang cambuk tersebut bagai campuran kilat dan angin topan merontokkan batang-batang anak panah dengan mudahnya. Sekali sentak pula cambuk membalas menyerang para pemanah dengan sebuah serangan yang menyeluruh. Dengan sentakan jurus tertentu yang jelas hanya dimiliki orang-orang dengan kesaktian tinggi, helai cambuk mampu menelisik ke sela-sela dan ruang diantara para prajurit sehingga dapat mengenai semua orang.
Busur terlepas, darah menghiasai wajah, leher sampai bahu para prajurit. Kuda yang dinaiki sang pendekar meringkik, berputar, melompat pendek dan berlari-lari begitu lincah bagai memiliki kemampuan ilmu silat dan kanuragan pula. Pasangan kuda dan sang pendekar ini nyatanya membuat para prajurit benar-benar kewalahan.
Koncar berteriak-teriak memberikan perintah untuk mengatur tatanan dan gelaran perang bagi para prajurit.
CTAR! CTAR! CTAR!
Satu serangan cambuk menciptakan sekaligus tiga ledakan dalam sekali sentak.
Dua prajurit tumbang. Mereka tewas. Leher mereka tersobek dan bahkan koyak oleh lembaran cemeti bagai terserang oleh senjata tajam saja.
Sudiamara menggeram. “Bangsat! Aku tertipu mentah-mentah!” rutuknya. Ia berlari ke arah sang penyerang bersamaan dengan para prajurit lain yang telah berhasil membunuh dua pendekar cemeti sebelumnya.
Para prajurit melemparkan tombak mereka ke atas pelana. Dua orang prajurit bahkan dengan sengaja melemparkan tombak mereka ke arah kuda, sengaja ingin membuat kuda tersebut terluka bahkan mati serta melemparkan sang pengemudi.
CTAR! CTRATAR!
Lagi-lagi sebuah letusan beruntun hanya dari satu kali sentak menggugurkan tombak-tombak tersebut yang seperti sedang menubruk lapisan medan tenaga yang kasat mata. Sang pendekar memang tak melulu memainkan cemetinya. Gerakan kuda dan tentu saja gerakannya sendiri mampu membuat serangan musuh gagal seluruhnya.
__ADS_1
Sang pendekar juga kini melakukan serangan berputar, mirip seperti serangan sang pendekar cemeti sebelumnya yang telah lebih dahulu tewas. Untaian cambuk yang jauh lebih panjang dari cemeti-cemeti sebelumnya membuat sang sosok terlihat seperti di dalam sebuah payung pelindung.
Ketika pra prajurit sepertinya sedang terpana, sang pendekar berkuda melepaskan serangan lagi.
Dua prajurit terlempar sedemikian rupa ke udara untuk kemudian jatuh berdemum ke bumi. Leher mereka retak dan patah. Dalam hitungan beberapa kali tarikan nafas saja, mereka pasti akan sudah mati. Nyawa hanya sekadar tersangkut di tenggorokan mereka. Serangan sang pendekar ternyata diarahkan ke kaki mereka. Setelah terjerat, dalam sekali sentak kedua prajurit terangkat ke udara. Sebuah jurus luar biasa yang memerlukan kekuataan di atas rata-rata. Selain itu kecepatan menyentak cambuk dan ketepatan mengarahkan jeratan juga hanya bisa dilakukan oleh orang yang istimewa.
Cambuk kembali berputar-putar di sekeliling sang pendekar di atas pelana kuda.
Panas terlepas dan tombak kembali terlempar. Kekang kuda disentak sehingga kuda melonjak. Tombak lolos dan anak panah kembali gugur.
Sang pendekar kemudian tanpa diduga melompat dari atas kuda. Ia berputar sekali di udara, kemudian berdiri menyentuh tanah dengan kuda-kuda begitu rendah. Payung pelindung yang diciptakan dari cambuknya berputar dan bergelung rapi tetapi berbahaya seperti buntut seekor ular naga.
“Anak buahku sudah mulai berguguran, Sudiamara. Kau masih menyuruhku untuk meminta mereka maju, heh? Lebih baik kita menyerang dari jarak jauh. Menjauh dari jarak cambuknya, kemudian menghujani dengan panah!” balas Koncar terlihat keberatan.
“Percuma, Koncar! Dia akan menyerang kita dan menghabisi para prajurit satu demi satu tanpa sisa. Lagipula, aku sudah katakan bahwa ia kebal. Kita hanya akan menghabiskan anak panah dan tombak serta menunggu giliran untuk dihabisi!” teriak Sudiamara masih mencoba meyakinkan sang pimpinan pasukan penjaga.
“Kau banyak omong, Sudiamara! Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau adalah salah satu dari sembilan pendekar … apa itulah namanya. Lakukan sesuatu. Serang orang itu!”
Sudiamara sungguh tersinggung. Ia ingin sekali membungkam mulut Koncar dengan tinjunya. Namun, sekarang sama sekali bukan saatnya. Kesanga sedang menghabisi para prajurit, sedangkan Koncar tidak mau mendengarnya. Ia sendiri sangat membutuhkan bantuan para prajurit dan Koncar sendiri bukan karena ia takut menghadapi Kesanga, tetapi ia cenderung ingin menyelamatkan nyawa banyak orang dengan memikirkan dan merencanakan pertempuran dengan baik.
“Ah, peduli setan. Bila memang harus mampus sekarang, apa boleh buat,” ujarnya.
__ADS_1
Sudiamara melompat ke gelanggang pertempuran.
CTAR! CRARATAR!
Dengan sigap, pendekar bertubuh gempal itu bergulingan, melompat dan berjumpalitan dengan tangkas menghindari serangan Kesanga. Ketika sudah masuk ke dalam ruang serang Kesanga, Sudiamara menarik lengan para prajurit yang terluka dan terjebak di dalam serangan Kesanga kemudian melemparkan mereka jauh.
“Pergi cepat, jauhi gelanggang perang dan jarak serangnya. Tinggalkan tombak kalian. Aku memerlukannya!” seru Sudiamara.
Permintaannya langsung dituruti. Sudiamara menggunakan satu tombak yang tergeletak di tanah untuk menepis pecutan Kesanga ke arahnya atau ke arah para prajurit. Ketika para prajurit telah berhasil menjauh, Sudiamara melemparkan tombak tersebut lurus ke arah Kesanga.
Kesanga tentu tidak terlalu kesulitan kembali menghindar dari serangan semacam ini. Ia hanya sekadar berkelit sehingga ujung tajam tombak lolos dari lehernya.
Sudiamara menggunakan kesempatan ini untuk mengambil langsung dua buah tombak yang tergeletak di tanah seraya berteriak, “Heh, Kesanga! Setahuku kau kebal, lalu mengapa kau menghindar dari serangan tombakku tadi, hah?!” pancing Sudiamara.
Sudiamara masih menderu maju dan kembali melemparkan tombak di tangan kanannya. Lagi-lagi Kesanga menghindar dan berhasil.
Sudiamara melompat tinggi, menggunakan tenaga dalam yang dipusatkan di kakinya untuk memotong jarak antara dirinya dan Kesanga.
CTAR!
Sudimara merasakan tubuhnya terlempar dan dihempaskan. Kakinya tadi ternyata terbelit oleh cambuk sang pendekar cemeti dan tubuhnya dibuang begitu saja oleh Kesanga dengan menggunakan kekuatan yang luar biasa, mengingat Sudiamara pastilah bertubuh sangat berat.
__ADS_1