
Karsa menghindar dengan gampangnya, bahkan ia tak repot mengangkat kelewangnya. Tongkat kayu Raja Nio menghajar lantai.
Tak mau membuang waktu dan kesempatan, Raja Nio memutarkan tongkatnya dengan satu tangan dengan arah membelah mendatar. Lagi-lagi Karsa berkelit sedikit.
Raja Nio menggunakan langkah silat Mensa untuk membabat perut dan sekaligus membabat menyilang ke dada Karsa dengan menggenggam tongkat di kedua tangannya.
Yang diserang kali ini berguling untuk menghindar.
Sial! Pikir Karsa. Rupa-rupanya setelah sempat mati, tulang-tulangnya sedikit kaku, dan sendi-sendinya menegang sehingga ia terpaksa harus menghindari serangan yang cukup 'tak biasa' itu.
Kepulauan Nusatenggara di bagian Timur tidak seperti kebanyakan bangsa-bangsa lain di Nusantara yang budayanya dipengaruhi oleh India atau Cina. Ini berlaku juga buat silat Mensa.
Gaya silat ini memiliki langkah pendek-pendek namun cepat, maju dan mundur, seperti kepiting. Bedanya, kepiting berjalan miring, sedangkan pesilat Mensa meluncur ke depan dan ke belakang.
Meskipun kemudian menjadi pertanyaan pula mengapa Mensa juga memiliki nama lain, yaitu Kentao Mensa atau Kentao Mensah. Bisa jadi kata kentao memiliki akar yang sama dengan kuntao atau kuntau, beladiri yang dikembangkan oleh orang-orang Cina di Nusantara.
Mungkin pula pengaruh Cina hanya pada istilah dan namanya saja. Berhubung Palembang adalah dimana pengaruh Islam pertama sampai di Solor, bisa jadi Kentao Mensa ini dipengaruhi silat gaya Palembang dimana Palembang sendiri juga secara budaya dan sejarah cukup kental pengaruh Cina nya, termasuk jenis gaya silatnya yang kelak disebut pula dengan Kuntau Palembang.
Islam disebarkan pada abad ke-15 Masehi di pulau Solor oleh para pedagang di bandar-bandar penting di Pamakayo, Lohayong, Menanga dan Labala.
Penyebaran agama Islam pertama dilakukan seorang ulama pedagang dari Pelembang yang bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga karena menyebarkannya pertama di daerah itu, kemudian ke Ende dan Alor.
Dalam perkembanganya kemudian, orang Islam juga datang ke Nusatenggara dari Celebes dan Bima, pulau Sumbawa. Tak heran bila silat Solor sangat mungkin dipengaruhi silat Melayu, Bugis, Mangkasara atau Jawa yang datang melewati Bali dan Sumbawa.
Sedangkan daerah-daerah lain di pulau Timor dan Flores, misalnya Larantuka, jelas sangat dipengaruhi oleh kaum bangsa Pranggi, dimana bangsa tersebut banyak membuka jalur-jalur baru di laut Nusatenggara bagian Timur sampai akhirnya menemukan kepulauan Solor yang terdiri atas beberapa pulau seperti Flores, Adonara, Solor, dan Lembata.
Pendek kata, jurus-jurus silat Raja Nio bisa dikatakan berbeda dan cukup sulit untuk ditebak bentuknya, apalagi ia menggabungkan dua gaya berbeda tersebut.
Bisa dikatakan kemudian bahwa sementara ini Raja Nio yang bukan pendekar hebat diuntungkan karena kecerdasannya serta kekakuan tulang-belulang sang musuh.
Tapi itu tak akan lama.
Raja Nio kembali menyerang dengan meluncur maju cepat-cepat, membabatkan tiga serangan tongkat kayunya secara menyilang.
Karsa menghindari dua serangan dan menepis satu serangan terakhir dengan kelewangnya.
Raja Nio merasakan tangannya bergetar akibat benturan itu.
Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikannya dan tak patah semangat, karena hanya dalam setengah tarikan nafas, Karsa balas menyerang.
Raja Nio belum sempat melihat sepak terjang sang pendekar tua ini karena tempo dulu ia sudah terlebih dahulu membabat kepalanya. Maka ia tak menduga sama sekali serangan sang kakek yang luar biasa lincah untuk ukuran umurnya.
Kelewang membabat perut, dada dan kepala Raja Nio.
TRAK!
TRAK!
__ADS_1
TRAK!
Serpihan kayu dari tongkat Raja Nio terlepas. Ia berhasil menahan ketiga bacokan itu, walau tangannya kembali bergetar keras.
"An*jing kudis! Mony*et buntung! Kelewang tumpul ini yang kau gunakan untuk memotong leherku?!" ujar Sang Penyair Baka kesal menyadari tiga serangannya tak memutuskan atau mematahkan tongkat kayu lawannya.
Padahal sebenarnya, Raja Nio memiliki sebuah jurus tertentu dari Jogo do Pau yang memungkinkan benturan tongkat dengan benda tajam dapat mengurangi kerusakan tongkat kayunya.
Ia tak mau meladeni ucapan sang kakek. Sebaliknya ia menyerang balik secepat mungkin, sehingga dari beberapa sabetan dalam sekali serang, satu pukulan mendarat di leher sang kakek.
PLAK!
Karsa tersentak ke samping. Raja Nio lupa, ia sedikit puas. Ia sendiri tak menyangka bisa mendaratkan serangan ke tubuh musuh, telak pula di leher.
Ia benar-benar lupa bahwa serangan semacam itu tak berarti banyak bagi seorang Karsa, pemilik ajian Rawarontek.
BRET!
"Akhhh ....," teriakan Raja Nio terdengar cukup keras di telinganya sendiri. Otot betisnya robek oleh sabetan kelewang.
Karsa meloncat menebas dari atas ke bawah ke arah kepala Raja Nio, yang dengan kepekaannya menyilangkan tongkat di atas kepalanya.
TRAK!
Serpihan kayu terlempar kembali. Kedua lengan Raja Nio serasa kesemutan dan bergetar hebat.
TRAK!
TRAK!
Tunggal sedikit lagi tongkat kayu itu akan patah seutuhnya ketika Karsa mengganti serangannya dengan sebuah tusukan.
Raja Nio tak bisa mendengar suaranya kali ini. Ujung kelewang membelesak masuk ke bagian lembut di antara bahu dan dada kirinya.
Karsa mencabut kelewangnya dengan kasar. Darah meluncur keluar dari luka tersebut.
Tongkat kayu Raja Nio jatuh, bersama dengan tubuhnya.
Ia jatuh berlutut. Kedua tungkai kakinya pun tak sanggup menahan tubuhnya.
Karsa maju dan menjambak rambut Raja Nio. "Aku akan tebas kepalamu dengan menggunakan kelewang yang kau gunakan untuk menebas leherku," ujarnya dingin.
Kelewang terangkat siap meluncur turun.
TAK!
Sebatang tombak meluncur terbang menyasar tubuh Karsa. Ia terpaksa menggunakan kelewang untuk menangkisnya dan serta merta melepaskan jambakannya pada rambut Raja Nio.
__ADS_1
Raja Nio rubuh ke lantai dengan kaki terlipat.
Nampak para awak kapal berdatangan dengan membawa beragam senjata, dari tombak, parang sampai kapak. Banyak pula yang membawa obor sehingga geladak kapal menjadi terang benderang.
"Tuan nakhoda, Raja Nio, bagaimana keadaanmu?" teriak satu awak yang tadi melemparkan tombak ke arah Karsa.
Awak-awak yang lain juga ikut meneriakkan, "Tuan nakhoda... Tuan nakhoda...Raja Nio ...."
"Bagus ... Bagus. Sekalian saja aku habisi kalian semua di sini, agar puas jiwaku," ujar Karsa dengan wajah mengeras.
Para awak sudah belajar banyak dari kejadian sebelumnya. Mereka tak akan mau bertempur dengan cara mengeroyok dan menyerang langsung.
Sebelumnya, salah satu awak kapal yang pulang ke kapal lebih awal melihat Karsa berdiri di depan Raja Nio dengan jelas. Maka ia segera berlari memanggil kawan-kawannya yang untungnya masih waras dan belum banyak menenggak tuak.
Begitu juga dengan awak di lambung dan buritan yang juga kebetulan mengetahui kejadian ini.
Entah bagaimana, semua awak mendadak paham bahwa ada cara lain yang bisa dilakukan melawan pendekar tua yang kembali hidup dari kematiannya tersebut.
"Lain kali, bila berhasil membunuhku, yakinkan bahwa kalian sudah benar-benar menghilangkan nyawaku!" teriak menantang Karsa.
"Terimakasih. Kami akan ingat itu," balas salah satu awak yang kemudian dengan tiba-tiba melemparkan sebilah kapak.
Kapak itu berhasil ditepis Karsa meski mengenai sedikit lengannya. Dan itu sama sekali tak berpengaruh.
Namun kemudian para awak kembali melemparkan tombak, kapak lagi serta parang.
Hujan senjata tak semua dapat ditepis Karsa. Senjata-sejata itu menubruk tubuhnya yang bagai karang, sama sekali tak melukainya, bahkan tak meninggalkan tanda atau bekas.
"Dasar dungu! Hahaha ... Kalian pikir dapat melukaiku dengan cara bodoh ini?"
BUS!!
Sebatang obor terlempar mengajar dada Karsa, membuatnya tercekat. Matanya mendelik.
"Bodoh, apa yang kalian lakukan? Kalian bisa membakar kapal ini?" ujar Karsa sedikit khawatir.
"Kami tak peduli. Bila kapal ini terbakar, maka tubuhmu juga akan hangus. Kami akan hancurkan badanmu sampai ke abu-abunya!" balas awak kapal lain.
Karsa memang kebal dan mampu bertahan hidup bahkan ketika kepalanya lepas dari tubuhnya. Namun dengan api, itu persoalan lain. Bisa-bisa kepalanya tidak hanya lepas dari tubuhnya, namun tubuhnya pasti akan habis sama sekali.
Tanpa perlu diperintah lagi, obor-obor beterbangan ke arah Karsa dibarengi teriakan-teriakan liar bersemangat. "Bakar... Bakar... Bunuh orang itu!!"
Karsa Sang Penyair Baka menangkisi obor yang dilemparkan ke arahnya dan berusaha membuang obat-obor itu ke laut agar tak jatuh ke geladak dan akhirnya dapat membakar.
Percikan api berpendaran akibat dari tangkisannya.
Dua obor mengenai wajah dan membakar rambutnya.
__ADS_1
Karsa membuang kelewang ke lantai geladak kapal, kemudian mencelat ke air laut yang hitam.
Tubuhnya langsung hilang di kegelapan malam.