
Antonio da Silva sudah berlayar sejak masih terbilang sangat muda, berasa tahun. Waktu itu ia menjadi seorang muda-muda yang menumpang kapal dari negerinya, Larantuka, pergi ke beragam tempat di nusantara.
Pelayaran pertamanya adalah dari Timor ke Malaka menumpang kapal yang membawa kayu cendana, damar dan madu. Kemudian ia masih ikut kapal tersebut ke Sumbawa untuk mengambil kayu Sapan dan ke Solor untuk belerang.
Di Timor sendiri memang selain kayu cendana, damar dan madu, perdagangan budak juga merupakan perdagangan yang sangat menguntungkan. Perlu bertahun-tahun bagi da Silva untuk menempa diri agar menjadi seorang nakhoda yang pandai sehingga dapat menakhodai kapalnya sendiri yang ramah terhadap budak walau cukup sulit untuk lepas dari perdagangan ini.
Ia kemudian berhasil menjadi seorang nakhoda yang handal. Ia memimpin pelayaran melalui jalur yang dilalui pelaut-pelaut Jawa dan Pranggi untuk menghindari kapal-kapal Walanda yang merupakan saingan berat Pranggi dan tentu saja lawan orang-orang Jawa.
Ia menakhodai kapal melewati pulau Karimata di dekat pulau Tanjung Pura atau dikenal juga sebagai pulau Brunai, menyusur pantai Selatan pulau Brunai ke Ujung Pandang, di Mangkasara. Ia juga berlayar dari Malaka ke Maluku melalui jalur Utara pulau Brunai dan menyebrang ke Celebes.
Jalur ini sudah dipakai oleh oleh pelaut-pelaut pribumi ketika berhubungan dengan Mindanao dan Sulu dan negeri-negeri di Selat Malaka.
Maka tak heran ketika da Silva yang sekarang telah bergelar Tuan atau Raja Nio mendapati para bajak laut yang menyerang kapalnya ini adalah orang-orang Mangkasara dan Bugis dari pulau Celebes.
Yang masih ia pertanyaan, mengapa mereka repot-repot membawa kekuatan sebanyak ini? Dua kapal induk dengan besar yang lumayan untuk mengapit jung nya, delapan bajak laut setingkat pendekar dan prajurit, ditambah lima belas orang lagi, ditambah satu ketua pimpinan perompak yang tak kalah berwibawa dan ditakuti di atas lautan.
Raja Nio melihat di atas dua kapal induk yang masih menempel di jung nya masih ada banyak budak dan awak kapal bukan petarung yang ditugaskan untuk mengatur kapal, seakan-akan kapal para perompak ini adalah kapal dagang atau bahkan kapal perang kerajaan.
Jung yang ia nakhodai hanya membawa beras dari Semarang yang dijual dari Mataram untuk diperjualbelikan dengan emas, intan, bahan makanan, dan hasil hutan seperti damar dan kayu-kayuan dari Lawe, Sambas dan Tanjungpura lama termasuk Sukadana di dalamnya.
Apa yang begitu menarik para perompak ini?
Sesuai pengalaman Raja Nio, para perompak akan membatalkan penyerangannya bila sudah banyak jatuh korban dari pihak mereka. Ini karena bagaimanapun para perompak memikirkan tentang untung dan rugi, bagai berdagang.
Mereka juga bisa meneruskan usaha perompakan mereka dengan berbicara dan saling tawar-menawar dengan nakhoda dalam memikirkan keuntungan dan kerugian yang sama-sama mereka alami atau akan terjadi.
Tapi para perompak pimpinan Si Gelembung Lotong ini sangat ngoyo ingin menghabisi para awak kapal dan terus berusaha mencari kemenangan walau banyak sudah orang-orang pilihan mereka tewas maupun luka berat.
***
__ADS_1
Munculnya sang pemimpin membuat para pengawal kapal Jung yang Jayaseta naiki menjadi awas. Ternyata para awak kapal, budak bahkan sang nakhoda sendiri mengatahui siapa gerangan pemimpin perompak ini.
Semua orang yang lama di atas laut, terutama di perairan antara Jawa, Celebes dan Tanjung Pura atau Brunai, sadar bahwa saat ini mereka berhadapan dengan seorang bajak laut berdarah Bugis bernama Bombang Labolong. Lucunya, namanya itu juga berarti Gelombang Hitam yang menjadi julukannya. Si Gelombang Hitam, atau dalam sebutan lain dalam bahasa Bugis, Si Gelembung Lotong.
Konon kabarnya, ia memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang bajak laut yang disegani dan ditakuti para pelaut di seantero nusantara bahkan mancanegara. Orang-orang menyebutnya dengan namanya sendiri, Bombang Labolong, atau julukannya, Si Gelembung Lotong yang kesemuanya berarti sama, yaitu Gelombang Hitam.
Julukan dan namanya sama-sama menakutkan, apalagi sepak terjangnya. Ini sudah Jayaseta rasakan sendiri. Kapal induk bajak laut yang dipimpin Si Gelembung Lotong ini memiliki anak buah yang kesemuanya sakti, memiliki ilmu kebal.
Butuh waktu yang menguras tenaga untuk mengalahkan mereka semua, itupun dengan bantuan yang tidak sedikit dari para awak dan budak kapal. Jayaseta juga baru merasakan pedasnya tinju sang pemimpin ini yang membuat dadanya serasa terbakar.
Jayaseta bangun, menarik nafas dan memberikan sedikit hawa murni dan disebarkan ke seluruh tubuhnya.
Ia meraih kembali gada yang terlepas dari tangannya. Bahkan tanpa tanda, Jayaseta menyerang sang pemimpin perompak walau masih dalam keadaan menunduk ketika mengambil gada di atas lantai geladak kapal.
Serangan ini dimaksudkan sebagai tipuan, sehingga Si Gelembung Lotong akan segera saja dapat dikumpulkan.
Gada kayu pecah jadi dua. Satu bagian pecahannya yang tajam bahkan sempat melukai telapak tangan Jayaseta.
Tak sempat merasa terkejut,
BES!
BES!
Dua tinju Si Gelembung Lotong menghajar perut dan dada Jayaseta, membuatnya terjengkang.
Dua tinju yang terasa pedas dan panas ini kembali terasa oleh Jayaseta.
Namun sebagai seorang pendekar pilih tanding, Jayaseta segera memutarkan tubuhnya agar tak rubuh, kemudian ia memasang kuda-kuda kaki bersilang.
__ADS_1
Melihat ini, sang lawan mengernyit, “Ooh … demi dewa-dewa lautan dan arwah penasaran di samudra ini. Bila memang benar adanya, aku adalah orang yang beruntung di atas lautan,” ujar Si Gelembung Lotong tiba-tiba.
Semua orang terhenyak dan berhenti bertarung. Perhatian mereka ditujukan pada kedua pendekar sakti yang saling berhadap-hadapan tersebut.
“Aku mendengar bahwa seorang pendekar pilih tanding di tanah Jawa yang bergelar Pendekar Topeng Seribu memiliki jurus-jurus yang aneh dan tak dapat diterka. Selain itu, ia mampu meniru gerakan dan jurus-jurus musuhnya hanya dalam sekejap,” ujarnya lagi.
Jayaseta hanya diam karena walau ia sedikit terkejut, ia mahfum bahwa dalam dunia persilatan, bukanlah aneh memiliki pengetahuan tentang nama-nama para pendekar di nusantara. Hanya kerana usianya saja yang masih muda sehingga ia sama sekali kurang memiliki pengetahuan semacam ini.
Malahan, jujur, ia sedikit bangga karena bahkan namanya sudah mendahuluinya di atas lautan.
Raja Nio yang kemudian merasa begitu terkejut. Ia sudah lama mendengar nama itu, Pendekar Topeng Seribu. Tak heran orang tumpang ini mengenakan topeng dalam pertarungannya. Wajar bila Si Gelembung Lotong mati-matian mengejar sang pendekar. Ini perihal apa yang para pendekar anut, jalan pedang, jalan harga diri dan kematian.
Sementara itu Jayaseta mengubah kuda-kuda kaki bersilangnya yang tadi ia tiru untuk menyeimbangkan badannya dengan cara berputar sedikit di atas geladak kapal. Sekarang kaki kiri nya di depan segaris dengan kaki kanan di belakangnya, kuda-kuda tipis ditiru habis-habisan dari rombongan perompak yang lain, yang berjumlah lima belas orang.
“Ha ha ha ha … baik … baik. Huahh … hidupku menarik sekali hari ini. Dengarkan wahai anak-anakku dan kalian para awak kapal. Di depan kalian sudah berdiri dua orang pendekar yang sudah malang melintang di dunia persilatan. Nama pendekar muda di depanku ini sangatlah agung, namun aku sendiri sebagai seseorang yang juga mengambil jalan kependekaran – tentu saja sembari merampok dan mencari kekayaan dan kemahsyuran, ha ha ha … akan menghadapinya dengan cara kependekaran juga. Bila hari ini aku tak dapat membunuhnya, aku akan berhenti menjadi seorang perompak atau mati sama sekali!”
Pernyataan ini tak ubah membuat semua orang terkejut bukan kepalang. Para bajak laut tentu tak meragukan sang pemimpin, namun nama lawan, Pendekar Topeng Seribu, adalah nama yang sangat mereka kenal. Sedangkan bagi para awak kapal meskipun mereka berharap sang pemuda memang benar Pendekar Topeng Seribu adanya, namun di sisi lain mereka jelas khawatir Si Gelembung Lotong akan menjadi benar-benar beringas dan mungkin sekali menghabisi semua orang di atas jung Raja Nio ini bila ia berhasil mengalahkan pendekar tersebut.
***
Bagi orang-orang Bugis, seorang raja memiliki kewajiban yang besar untuk memberikan rasa aman dan menjamin keadilan bagi rakyatnya. Pada saat itu, Kerajaan Bone, yang merupakan kerajaan orang-orang Bugis, diperintah oleh Raja La Madaremmeng Matinro’E Ri Bukaka yang mulai memerintah pada tahun 1628 Masehi.
Masa penobatan dan pemerintahan awal raja Bone ketigabelas ini bertepatan dengan penyerangan ke Benteng Betawi oleh Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Saat itu pula, Kerajaan Bugis Bone ini berada di bawah Kesultanan Gowa yang lebih besar. Banyak rakyat Bugis yang merasa tertindas oleh orang-orang Mangkasara dari Kesultanan Gowa.
Karena pertempuran, peperangan dan perselisihan yang tiada henti, banyak orang Bugis dan Mangkasara yang keluar dari daerah mereka untuk menghindari perpecahan tersebut. Kebanyakan dari mereka yang memiliki kemampuan kelautan dan maritim yang hebat, belum lagi kemampuan beladiri mereka juga sangat mumpuni. Banyak yang memberikan pengaruh luar biasa di setiap tempat dan kerajaan dimana mereka tinggal, namun banyak pula yang menyusuri lautan menjadi bajak laut dan membuat banyak pelaut menjadi gentar.
Tidak hanya pelaut nusantara, bahkan orang-orang Pranggi dan mancanegara lainnya pun melihat para perompak Bugis ini sebagai momok yang mengerikan.
Tentu saja keputusan untuk berhenti menjadi seorang bajak laut menjadi sangat menakutkan bagi para anak buah Si Gelembung Lotong, karena inilah hidup yang mereka pahami. Inilah hidup yang memberikan mereka harga dan kepercayaan diri, belum terhitung kemakmuran yang mereka dapatkan selama berada di bawah kepemimpinan Bombang Labolong Si Gelembung Lotong.
__ADS_1