Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Cindai


__ADS_3

“Mati kau penyusup!” Sang gadis berteriak geram tertahan.


Jayaseta kini melihat seorang perempuan muda berwajah begitu manis namun dengan wajah berkerut penuh amarah muncul terkena cahaya. Rambutnya digelung dan dihiasai beberapa buah tusuk konde emas dengan hiasan berbentuk bunga.


Di tangan kanan sang gadis sudah terhunus sebuah keris pendek tanpa luk atau lekukan. Jayaseta mengenal senjata itu sebagai patrem, sebuah keris yang berukuran kecil yang memang biasanya diperuntukkan untuk perempuan.



Patrem itu berdapur atau berbentuk cundrik yaitu lurus atau sedikit saja berlekuk. Yang paling menonjol dari patrem ini adalah ukurannya yang kecil walau berbilah tebal. Misalnya saja patrem yang kecil hanya sekilan, satu jengkal, panjangnya. Ada pula yang sedikit lebih panjang, yaitu sekilan lima nyari, yaitu sepanjang lima jari yang diletakkan mendatar, atau bisa juga dua kilan.


Senjata ini karena kecil namun ampuh, kerap diselipkan di konde, atau gulungan rambut sebagai senjata rahasia kaum perempuan namun setahu Jayaseta senjata ini lebih akrab digunakan di tanah Jawa.


Patrem kecil berukuran sekilan itu menyabet perut Jayaseta dengan kecepatan dan kekuatan yang tak disangka-sangka.


Jayaseta terpaksa harus mundur sedikit. Serangan itu lolos karena memang walau kecepatan tusukan sang gadis termasuk luar biasa, bagi seorang pendekar layaknya Jayaseta patrem itu tak cukup panjang dan cepat untuk membabatnya.


Mengetahui serangannya mentah, sang gadis menyerang lebih ganas namun tetap tanpa suara. Dua kali tusukan mengarah ke bagian paling berbahaya di tubuh Jayaseta, perut dan dada.


Jayaseta masih belum mengadakan perlawanan. Ia hanya sekadar menghindar, mengikuti pola serangan sang gadis yang sekali lagi tak berhasil menyentuh bahkan seujung kuku pun kain baju Jayaseta.


Sang gadis terlihat gusar. Bahkan pada malam hari yang diterangi obor yang tidak seterang siang hari, Jayaseta dapat melihat rona merah amarah muncul di kedua pipi sang gadis yang ternyata memiliki kulit yang sangat putih dan terang tersebut.


Sang gadis kali ini menyerang Jayaseta dengan melompat pendek, membukanya dengan dua kali tendangan tajam dan dua tusukan serta sabetan patremnya lagi. Kali ini Jayaseta mengangkis serangan terakhir gadis itu, kemudian pada memukul lengan kanan bagian dalam sang gadis dengan telapak tangan kanannya. Dengan tangan kirinya yang bebas, Jayaseta menangkap pergelangan tangan lain sang gadis dan memberikan tamparan ringan ke bahu kanan bagian belakang sang gadis, membuatnya terpekik tertahan dan tersorong ke lantai.


Patremnya terlepas.


“Kurang ajar!”


Sang gadis terlihat sedikit kesakitan, namun lebih terlihat kekesalannya. Wajahnya semakin memerah. Tidak ia pedulikan lagi patremnya yang terlempar ke lantai.


Ia bangun dan menghambur lagi ke arah Jayaseta yang dilihatnya sebagai seorang penyusup dengan topeng kayu berhias bulu burung.

__ADS_1


Walau sang gadis mengenakan kain sebatas lutut, itu tidak menghalaunya memberikan tendangan yang luar biasa cepat dan keras.


Jayaseta walau sangat mampu menghindari tendangan sang gadis dengan tidak begitu sulit, tak pelak ia juga terkagum-kagum dengan kelincahan jurus silat gadis itu. Tapi tentu saja akhirnya Jayaseta terpaksa sekali lagi menjatuhkan sang gadis.


Ia datang kemari karena ingin berurusan dengan Datuk Mas Kuning, namun malah terjadi sebuah kesalahpahaman dan diserang orang seorang gadis muda nan manis yang entah siapa sebenarnya.


Dengan gerakan jurus yang aneh, nyeleneh dan tak terduga, Jayaseta seperti menggulung tubuhnya dalam sekali gerakan ketika sebuah tendangan  dengan kaki kiri sang gadis menyerang dadanya. Ini mengakibatkan tubuh Jayaseta yang menggulung tersebut membawa serta sang gadis yang kemudian terjatuh karena kaki kanannya yang menopang tubuh itulah yang tergulung bersama tubuh Jayaseta.


Gerakan aneh ini tidak melukai kaki atau tubuh sang gadis, namun membuatnya hilang keseimbangan dan terlontar sedikit menjauh dari Jayaseta.


Jayaseta berguling mundur dan berdiri dengan kuda-kuda santai ala Jurus Tanpa Jurusnya dan sebagian tubuhnya tersembunyi di salah satu pojok pelataran.


Sang gadis sudah jelas masih kesal, penasaran dan marah atas kejadian tersebut. Namun ketika ia bangkit dan hendak menyerang kembali, sang laki-laki paruh baya menekan bahunya dari belakang, “Dara, jangan kau serang lagi. Cukup sudah,” ujarnya.


“Tapi datuk ... Orang bertopeng ini adalah seorang penyusup yang pasti memiliki niat jahat. Penjahat kurang ajar dan pengecut itu harus kita tangkap dan dihukum karena berani-beraninya menyelinap ke rumah kita,” balas sang gadis dengan suaranya yang lembut dan setengah berbisik.


“Biarkan saja dia, Dara. Kakek ingin tahu apa maksud kedatangannya. Sebagai seorang tuan rumah, kita harus sopan menerima tamu.”


“Apa tuk? Tamu? Tamu yang kurang ajar, maksud datuk?”


Namun sang gadis sudah terlalu kesal, “Datuukk …. “ katanya kali ini terdengar agak manja namun masih terlihat amarahnya yang seakan akan meledak keluar dari parasnya yang tiba-tiba menjadi kekanak-kanakan itu.


Tanpa memerdulikan ucapan sang datuk, sang gadis yang bernama Dara itu melepas melepaskan selembar kain yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Di balik kain itu, ia mengenakan sebuah celana pangsi, sedangkan kain yang ia lepas ternyata adalah selembar cindai, kain serupa sarung yang terbuat dari bahan sutra.



Dara menggulung cindainya dan memegang erat di kedua ujung dengan kedua tangannya. Garis-garis wajah gadis muda ini mengeras, pandangannya menajam.


Dengan cindai ini Dara menerjang Jayaseta dengan gerakan cepat namun tanpa suara. Cindai tersebut ia kibaskan dengan keras ke arah wajah bertopeng Jayaseta. Kibasan cindai dara seakan meledak di depan wajah Jayaseta yang berhasil mundur menghindar.


Satu kibasan lagi mengincar sang pendekar. Cindai sutra yang ia kibaskan bagaikan gelombang yang menghajar pantai.

__ADS_1


Pada dasarnya cindai hanyalah sehelai kain biasa. Kelenturannya maupun daya hancurnya sebagai senjata masih kalah jauh dengan cemeti atau cambuk rantai. Namun ketika digunakan dengan benar, ledakannya ketika dikibaskan dapat membuat luka beset di kulit atau lebih parah, luka dalam.


Melihat keadaan ini Jayaseta merasa tidak mungkin hanya berdiam diri dan menghindar. Bahkan Dara juga paham bahwasanya ia juga tak bisa terus-menerus menyerang penyusup ini dengan sabetan cindai nya karena bunyi yang dihasilkan dapat mengundang penjaga.


Jayaseta memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini dengan maju menyerang dan berencana kembali memberikan sedikit memberikan semacam tamparan kembali ke arah bahu Dara dan melumpuhkan perempuan muda itu tanpa benar-benar melukainya.


Hanya saja, cindai bukanlah sekedar kain sarung penutup tubuh atau sebagai bagian dari busana, namun juga memang dirancang sebagai sebuah senjata. Maka tak heran bila serangan Jayaseta dapat ditahan oleh Dara. Kemudian cindai itu Dara gunakan untuk mengunci lengan Jayaseta dengan cara melilitnya dengan cepat kemudian diputarkan ke arah leher sang penyerang dengan maksud sekaligus mencekiknya.


Cindai memang dikenal sebagai salah satu senjata dalam ilmu silat. Orang-orang dari tanah Melayu atau Minang kerap menggunakannya sebagai senjata pelindung dari serangan belati, pisau atau pedang. Seorang pendekar yang mumpuni dapat melumpuhkan para penyerang dengan mengunci pergelangan tangan para penyerang dan melucuti senjata mereka.


Cindai pun dapat melindungi tubuh dari serangan senjata tajam karena lipatan kain yang cukup tebal dan berlapis-lapis.


Jayaseta sedikit terkejut karena tak menduga serangannya dapat dikunci sedemikian rupa. Maka dengan sekali sentak Jayaseta mencoba melepaskan diri dengan terpaksa melemparkan Dara dengan gerakan pinggul dan bahunya.


Dara terlempar namun mendarat dengan berguling sigap di atas lantai kayu. Ia kembali memasang kuda-kuda dengan merentangkan cindai nya di atas kepala, bersiap kembali menyerang.



“Bila engkau memang ingin berbicara denganku, jangan sungkan untuk segera menyelesaikan permainan ini dengan cucu perempuanku in, kisanak!” tiba-tiba sang Datuk berkata pelan kepada Jayaseta.


Dengan kemampuan sasmita yang tinggi, Jayaseta paham maksud sang datuk yang memang sudah paham akan kedatangan Jayaseta. Tak heran sejak awal, sang datuk tidak mempermasalahkan kedatangan orang bertopeng kayu yang menemuinya dengan cara mengendap-endap menggunakan jurus meringankan tubuh yang sudah tinggi tarafnya.


Bila tidak karena si gadis mungkin ia dan sang datuk sudah akan berbicang-bincang dengan nyaman.


Apa boleh buat, bahkan sang kakek si Dara ini sengaja memberikan ijin bagi Jayaseta untuk melumpuhkan cucunya sendiri yang masih terlihat geram untuk kembali menyerang Jayaseta.


Sebuah pengalaman pertarungan yang sangat berharga bagi Jayaseta. Ia memang datang dengan damai, namun kesalahpahaman juga dapat dimengerti. Siapa yang bisa begitu saja terima dengan tamu tak diundang naik ke lantai tiga sebuah bangunan yang dijaga ketat?


Secara jiwa kependekaran, Jayaseta memutuskan untuk mengikuti syarat sang datuk untuk mengalahkan sang cucu. Ini semacam permainan kanuragan sang datuk yang sedang menilai tamunya.


Di satu sisi Jayaseta tidak ingin mencari masalah sekaligus enggan melukai sang gadis, di sisi lain ia sangat tertarik untuk bertarung dalam kesunyian. Saling menyerang sembari menahan suara keributan.

__ADS_1


Jayaseta menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia akan segera selesaikan pertarungan ini agar dapat segera berbicara dengan sang datuk yang ia sudah yakin benar adalah orang yang ia cari, Datuk Mas Kuning. Namun ia sama sekali tak ingin melukai sang cucu. Bukan meremehkan kemampuan silat sang gadis, tapi lebih kepada rasa hormat dan adab sopan.


Kuda-kuda santai Jurus Tanpa Jurus Jayaseta kembali terpasang. Setiap serangan sang gadis akan lebur dalam jurusnya.


__ADS_2