Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kulao Bassi


__ADS_3

Raja Nio terhenyak. Si tukang mabuk laut yang ia pikir tadinya tak akan bertahan lama di atas geladak tersebut menjelma menjadi sebuah alat tempur yang maha dahsyat.


Beberapa budak dan muda-muda tertusuk dan luka parah dalam serangan kilat ini. Entah bagaimana keadaan mereka saat ini, masih terluka parah, sekarat atau sudah tewas, Raja Nio tak bisa menebaknya.


Orang tumpang yang sekarang mengenakan topeng ini berhasil mengurangi jumlah korban di atas geladak jung nya. Ia membuat semua bajak laut arus pertama menitikberatkan perhatian dan serangan mereka padanya.


Bisa dipahami, karena para bajak laut sepertinya juga tak kalah terkejut bahwasanya ada seorang pendekar di jung ini, bukan sekadar para pedagang dan awak kapal yang dibekali ilmu silat sekadarnya. Dalam beberapa gebrakan saja, orang tumpang bertopeng itu sudah berhasil menjatuhkan lebih dari separuh penyerang.


Dengan lancangnya, sang pendekar meniru kuda-kuda para penyerang dan meleburkan dengan entah jurus apa lagi. Tubuhnya bagai orang mabuk namun juga tertanam kokoh di geladak kapal. Segala serangan dapat dihindari atau ditahan, bahkan menyerang kembali dengan cepat.


Tak tak diketahui Raja Nio adalah bahwa inti dari Jurus Tanpa Jurus Jayaseta adalah dimana setiap jurus baru yang ditiru atau dikuasai Jayaseta akan dilebur dengan jurus-jurus lain sehingga tak membentuk sebuah jurus sama sekali.


Jayaseta hanya mengambil saripati dari semua jurus itu untuk digunakan sesuai keperluan dalam sebuah pertarungan. Maka, para musuh hanya dapat melihat bahwa jurus mereka ditiru dan digunakan namun tak bisa menghadapinya, karena jurus-jurus tersebut tak lagi murni namun sudah tak berbentuk lagi.


***


Tiga bajak laut menyerang Jayaseta berbarengan. Mereka menusukkan badik mereka dengan gerakan pendek namun cepat berkali-kali ke arah kepala, leher, dada dan perut Jayaseta.


Sang pendekar bertopeng mendur dua langkah menjauh dari jangkauan tusukan badik. Namun kemudian ia berputar ke kanan, kemudian menutarkan tubuhnya sekali lagi ke arah yang berlawanan untuk menipu musuh.


Kudinya membabat rusuk satu perompak, membuat sang perompak terlempar. Dua sisanya dengan mudah dibabat tangan, bahu serta perut mereka.


Semuanya jatuh tergeletak di atas geladak kapal.


***


"Mereka mengenakan kulao bassi. itu adalah azimat orang-orang Bugis atau Mangkasar berbentuk batu bulat yang terbentuk secara alami dari alam dan dimantrai dengan gaib atau menggunakan tenaga dalam tertentu. Ukurannya bermacam-macam, dari yang sekecil biji jagung sampai sebesar ibu jari. Aku dengar beberapa kelemahannya adalah jangan sampai benda-benda gaib itu sampai terkena air, atau kekuatan kebal mereka akan lenyap. Bila kau perhatikan ...,"


"Ya, aku lihat itu," potong Jayaseta.


"Mereka menyimpan benda itu di dalam kantong kulit di kalung dan sabuk mereka. Aku sudah curiga mereka menyembunyikan sesuatu di sana," tambah Jayaseta.

__ADS_1



Jayaseta dan Raja Nio saat ini berdiri dengan kuda-kuda mereka saling berpunggungan. Baru saja sang nakhoda maju membabat seorang bajak laut yang menyerang Jayaseta dari belakang dengan kelewangnya sehingga membuat sang penyerang terjengkang mundur ke belakang, walau sebenarnya serangan bajak laut tersebut tidak sulit untuk dihadapi Jayaseta.


Kedelapan bajak laut yang tadinya dengan mata telanjang tidak hanya Raja Nio namun hampir semua awak dan penumpang jung itu dibacok dengan kudi Jayaseta, ternyata kembali bangun dengan keadaan tubuh yang segar bugar tanpa terlihat sekalipun terlihat bekas luka akibat sabetan senjata tajam.


Jelas, kesemuanya memiliki ilmu kebal.


Jayaseta pernah menghadapi jawara dengan ilmu kebal pada saat ia masih sangat muda, yaitu ketika menghadapi seorang ganongan berilmu kebal yang merampok di sebuah rumah penduduk di kampung halamannya, Giri Kedaton.


Saat itu ia berhasil menemukan kelemahan sang ganongan dengan menjejak retak tulang punggungnya.


Maka dari itu, menghadapi orang-orang dengan ilmu kebal baik karena pelatihan dan olah kanuragan yang keras maupun oleh benda-benda semacam jimat, Jayaseta tidak khawatir apalagi takut.


Kekebalan hanyalah keunggulan kekuatan tubuh yang tetap bisa dikalahkan dengan kecerdasan, kecermatan dan kemampuan silat yang mumpuni.


"Kita harus memutuskan kalung atau sabuk-sabuk itu untuk merampas kulao bassi mereka sehingga mereka akan kehilangan kekuatan. Kita juga dapat ...."


Raja Nio yang berkulit gelap namun tampan ini mau tak mau membenarkan ucapan sang pendekar. Ia harus mengurus tugasnya sendiri sebagai seorang nakhoda dan memusatkan perhatian pada kepemimpinannya. Biarkan sang pendekar yang sepertinya sudah paham kemana arah pertarungan ini yang melayani para perompak.


Raja Nio mengangkat kelewang nya tinggi-tinggi kemudian menyemburkan perintah kepada jurumudi, mualim, muda-muda dan para budak untuk mengatur arah jalan kapal serta mempersiapkan kedua meriam jung mereka.


Pengalaman sebagai seorang nakhoda kapal berjenis rah talor bertahun-tahun di Nusa Dipa atau sepanjang kepulauan Nusatenggara, menggodok kemampuannya.


Sewaktu masih menjadi nakhoda kapal dari Nusatenggara, Raja Nio kerap menakhodai kapal yang membawa hasil alam ke Malaka seperti kayu cendana, kayu merah dan belerang serta kuda dari Sumbawa dan Timor. Ia sendiri kemudian memutuskan untuk pergi dari kampung halamannya ketika menolak untuk ikut membawa 'barang dagang' berupa budak-budak orang senegrinya oleh pengusaha-pengusaha serta pelaut Madura.


Ia juga beberapa kali menjadi saksi banyak serangan-serangan para bajak laut dari orang-orang Mangkasara, Bugis, Lawu atau Bone yang terkenal sakti dan berani. Ilmu kebal mereka yang menggunakan kulao bassi tidak hanya digantungkan atau diselipkan di balik busana saja, namun ada yang ditanam secara gaib ke kaki atau paha sehingga kekebalannya akan bertahan selamanya.


Tidak jarang kapal yang dinakhodainya menyerah atau paling tidak tawar-menawar dengan para perompak sakti tersebut agar tidak semua barang dagangan mereka rampas. Acap kali pula, para perompak kehilangan minat ketika melihat barang bawaan kapal yang tak seberapa.


Mereka terbukti tak tertembus segala jenis senjata tajam serta semua jenis senjata yang terbuat dari besi atau logam. Dalam hal ini termasuk pula p*eluru timah dari moncong bedil.

__ADS_1


Tunggu! Raja Nio melihat Jayaseta melepaskan kudinya. Senjata itu jatuh ke geladak kapal dari kayu.


Kedelapan perompak pendekar menyerang Jayaseta dengan menusukkan badik mereka. Jelas kali ini mereka akan mencabik-cabik tubuh pendekar bertopeng itu, apalagi Jayaseta memutuskan untuk tak bersenjata sama sekali.


***


Bunyi teriakan perompak menyayat hati. Jayaseta berkelit dari tusukan satu perompak, menangkap tangan sang penyerang, kemudian mematahkannya. Patahan tulang tangan sang korban keluar menyembul keluar, merobek kulitnya dari dalam.


Dengan gerakan yang luar biasa cepat dan gesit, Jayaseta menggunakan tenaga dalamnya yang dialirkan ke kakinya untuk menjejak tulang kering kaki penyerangnya dan mematahkannya. Ia juga memberikan Tinju Delapan Penjuru Angin, Telapak Buddha dan Bogem Watu Gunung ke rusuk, dada, leher dan dagu para perompak.


Bunyi berderak patah segala jenis tulang bercampur dengan teriakan kesakitan.


Raja Nio kembali terhenyak, memahami betapa orang tumpang ini mengetahui celah kelemahan para perompak, menunjukkan kesaktian dan kemumpunannya sebagai seorang pendekar.


Kedelapan perompak roboh, lumpuh dan merintih kesakitan. Para awak kapa demil melihat kejadian ini maju beramai-ramai menombaki dan membacoki para bajak laut yang sedang sekarat itu sampai mati.


Kulao bassi memang mampu menahan serangan senjata tajam dan benda-benda dari logam atau besi. Kulit sang pengguna azimat ini menjadi sekeras batu namun selentur getah.


Sebagai seorang pendekar yang cerdas dan juga pilih tanding, Jayaseta langsung saja memahami bahwa adalah percuma baginya menggunakan senjata tajam. Maka tenaga dalam dapat menghancurkan tulang-tulang dan jeroan tubuh para jawara tersebut. Ini karena saking kuatnya ledakan tenaga dalam yang menembus kulit, tanpa perlu melukainya.


Geladak kapak basah oleh darah kental para perompak yang tewas seketika setelah dikeroyok para awak kapal. Darah mereka mengalir menyebar mengikuti cipratan air laut yang naik ke kapal.


Jayaseta tak bisa menahan serangan para awak yang bernafsu membunuh dan dikuasai amarah tersebut. Ia belajar bahwa ia menganggap sepele pertarungan ini. Ia merasa dirinya sangat picik karena beranggapan bahwa serangan bajak laut tidak akan memakan banyak korban.


Ketidaktahuannya mengenai keadaan di atas samudra harusnya tidak terjadi. Ia paham bahwa bila tak dihentikan, maka bisa saja korban akan labih banyak jatuh dari para awak kapal. Para perompak tak akan segan-segan membunuh mereka semua.


Di laut, ada dunia tersendiri yang tak jauh bedanya dengan di darat. Bila sang nakhoda adalah raja, maka akan ada pula serangan dari negara-negara lain yang ingin menundukkan kerajaan kapal tersebut.


Kekejaman dan keserakahan ada di mana-mana, termasuk di atas laut.


Jayaseta memandang dua kapal induk yang mendekat ke jung yang ia tumpangi. Jayaseta membulatkan tekad. Ia akan habisi setiap pembajak yang menjejakkan kakinya di atas geladak kapal ini, tak peduli ia memiliki ilmu kekebalan atau ilmi sihir macam apapun.

__ADS_1


Jayaseta mengencangkan ikatan pada topengnya. Ia meraih sebilah badik yang terlempar dari tangan salah satu perompak yang kini sudah tewas. Ia rasakan genggaman gagang senjata tusuk itu di tangannya dengan mantap dan mempersiapkan serangan bajak laut berikutnya.


__ADS_2