
Tuan Rajo Intan membuka bajunya. Terlihat jelas luka di bahu berupa goresan-goresan panjang dan pendek berwarna hitam karena terbakar, meski tak terlalu dalam. Ia memerintahkan seorang awak kapal untuk mengambilkan secarik kain. Ia mengikatkan kain itu menyilang di depan dada untuk menutupi lukanya.
"Tuan tahu bila saya tidak akan merasa kasihan dengan luka yang tuan dapatkan, bukan?" ujar Makkawaru memicingkan kedua matanya.
Tuan Rajo Intan tertawa, "Apa saya meminta tuan untuk kasihan dengan saya? Lebih baik tuan bersiap mengasihi diri tuan sendiri nanti," balas Tuan Rajo Nio.
Para awak dan pendekar gabungan Minangkabau-Bengkulu meski juga khawatir dengan keadaan sang nakhoda, di sisi lain mereka juga paham dengan kesungguhan hati dan kesaktian sang nakhoda. Jelas ada banyak alasan kuat mengapa Tuan Rajo Intan menjadi seorang pemimpin di atas kapal berisi pendekar-pendekar ini.
Ia menguasai jurus-jurus silat yang diberi nama Langkah Empat. Tubuhnya yang terluka sebenarnya sama sekali tak terasa. Ia menunduk rendah bagai tanpa kuda-kuda, namun disitulah ciri dari silat asal Suku Rejang ini.
Memang, pada kenyataannta, Tuan Rajo Intan adalah seseorang yang berasal dari suku Rejang, salah satu suku asli di Bengkulu selain suku-suku Melayu.
Orang-orang Rejang adalah orang-orang hebat dalam dunia ilmu kanuragan. Bila ditilik ulang, mereka juga dikenal sebagai suku dengan peradaban yang tinggi dan sejarah yang agung.
Nama Rejang sendiri berasal dari nama orang Tartar yang pertama sampai di daerah Bintunan, Rejang sekarang. Orang Tartar itu bernama Rhe Jang Hyang. Ia dan rombongannya datang pada tahun 2080 Sebelum Masehi, jauh ke belakang di masa kebanyakan negeri nusantara masih belum benar-benar terbentuk, dan mendirikan sebuah perkampungan bernama Kutai Nuak, tepatnya di daerah Utara Napal Putih.
Ia tinggal di Kutai Nuak hanya selama 50 tahun karena persediaan makanan sudah menipis dan terdesak oleh kedatangan orang-orang lain. Rhe Jang Hyang berserta keluarganya akhirnya berpindah lagi ke daerah Pinang Belapis atau Renah Sekalaw. Dari sinilah semua orang Rejang yang tersebar mula-mula berasal.
Disebutkan pula bahwa suku Rejang berasal dari empat petulai atau daerah atau desa. Empat petualai tersebut adalah Juru Kalang, Bermani, Selupu dan Tubai. Keempat petulai tersebut dipimpin oleh Seorang Ajai. Keempat ajai dimaksud adalah Ajai Bintang, Ajai Begelan Mato, Ajai Siang dan Ajai Tiea Keteko.
__ADS_1
Pada masa ketuka masa pemerintahan keempat ajai tersebut dikisahkan datang keempat orang bersaudara putera Ratu Kencana Wunggu dari Majapahit, meski ada pula yang mengisahkan bahwa keempat orang tersebut adalah bangsawan Sriwijaya yang mampu memberikan pengaruh besar pada suku Rejang. Perbedaan cerita ini bisa dikarenakan permasalah perubahan kekuasaan Sriwijaya di pulau Melayu yang perlahan tumbang digantikan kejayaan Majapahit di nusantara.
Namun, pada dasarnya, ini menunjukkan bahwa keempat ajai menerima keempat orang yang kemudian digelari biku atau bikau karena arif dan bijaksana dan telah dikawinkan dengan putri-putri keempat Ajai. Kempat Biku itu adalah Biku Sepanjang Jiwo, Biku Bijenggo, Biku Bembo dan Biku Bermano.
Di bawah pimpinan keempat Biku ini, Suku Rejang semakin tumbuh dan maju serta mengembangkan kebudayaan daerah sampai akhirnya memiliki tulisan atau aksara sendiri yang menandakan tinggimya peradaban mereka. Aksara itu bernama Kaganga.
Saat ini, di awal abad Ke-17 Masehi, diadakan permufakatan besar suku bangsa Rejang yang dipimpin oleh Petulai dan pecahan-pecahan Petulai dari keempat wilayah Lebong. Permufakatan besar ini bertujuan untuk membina persatuan dan kesatuan suku bangsa Rejang termasuk mengenai wilayah, suku dan gelar Depati - atau adipati dalam bahasa Jawa - bagi para pemimpin petulai.
Diputuskan pula bagi para pendekar untuk menjaga keamanan dan pertahanan daerah suku Rejang yang terdiri atas empat orang pemimpin Sindang Empat Lawang dan lima orang pemimpin Sindang Beliti yang bertugas menjaga ancaman musuh dari Timur. Mereka adalah para pendekar penjaga hutan. Ada pula sebelas orang pemimpin dari Renah Pesisir dan tujuh orang pemimpin Renah Ketahun menjaga ancaman musuh yang datang dari laut.
Pemerintahan bersama di seluruh suku bangsa Rejang di mulai saat ini dengan pimpinan keempat Depati tersebut bersama-sama. Oleh sebab itu, pemerintahan bersama antara empat Depati ini disebut dengan istilah pemerintahan Depati Tiang Empat.
Angka Empat memiliki falsafah yang kuat dalam kehidupan suku Rejang, maka ilmu silat Langkah Empat adalah andalan sang nakhoda.
***
Raja Nio bergerak cepat. Suaranya yang lantang memerintahkan para awak kapal untuk menaikkan layar dan juru mudi membanting kemudi, menjauh dari medan pertempuran selagi satu kapal perompak melaju dengan cepat ke arah mereka dan diikuti pula oleh dua kapal besar milik pasukan Kesultanan Johor-Riau dan Kesultanan Jambi.
Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Melayu, dan kemudian menjadi bagian dari pendudukan wilayah Sriwijaya yang berpusat di Palembang pada sekitar tahun 682 Masehi. Pada akhir abad ke-14 Masehi Jambi merupakan negeri bawahan Majapahit dan sampai sekarang pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi.
__ADS_1
Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. Dimulai sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1616 Masehi Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh dan kemungkinan akan terus menyaingi tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang.
Inilah yang membuat Jambi ikut berkuasa di lautan, dan bersaing dengan negara tetangganya, seperti Johor saat ini. Terlihat dari jauh para prajurit dengan pakaian kebesaran mereka, dilengkapi dengan tombak, perisai, keris dan pedang yang diselipkan di pinggang mereka.
Melalui teropong, Raja Nio menakar kemampuan musuh dan melihat bahwa jungnya akan terlibat dalam sebuah keruwetan besar. Mereka akan terjebak dalam sebuah pertarungan besar pertama sejak sampai ke tanah Melayu.
Raja Nio memandang ke atau Katilapan yang telah menggenggam sepasang tongkat rotannya. Katilapan memandang balik ke arah sang nakhoda yang kemudian langsung paham dengan maksud yang coba disampaikan pendekar Bisaya tersebut.
Raja Nio mengambil tongkat panjangnya dan berseru, "Simpan pedang, belati atau keris kalian. Jangan gunakan senjata tajam. Ambil perisai logam dan rotan, tongkat kayu dan rotan, gada kayu atau dayung untuk membela diri!"
***
Makkawaru menggunakan kuda-kuda menyilang yang rendah. Ia memandang tajam ke arah lawannya. Maksud hati tak ingin memperlama pertarungan dan menundukkan sang musuh tanpa banyak jurus.
Jadi, tanpa aba-aba, tak peduli sang nakhoda sudah siap atau belum, Makkawaru melesat bagai seekor burung camar meninju lurus ke arah dada Tuan Rajo Intan.
Yang disasar mundur dengan cepat, kepekaan kanuragannya sudah terlihat dari sini. Tinju Makkawaru berjarak sejengkal dari dada Tuan Rajo Intan.
Bukan seorang pendekar bila langsung berhenti pada serangan pertama, Makkawaru menyambung dengan tinju menggunakan tangan yang berlawanan dan satu sapuan kaki menyerang tungkai Tuan Rajo Intan.
__ADS_1
Sang nakhoda masih dengan cekatan berkelit dan meloncat. Kedua serangan itu juga kembali lolos. Makkawaru mencelat maju dengan gemas. Kesepuluh jari membentuk cakar siap menghajar dan meremukkan kepala Tuan Rajo Intan.