Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Laut Dangkal Bagian Ketujuh - Terhimpit


__ADS_3

Kapal Kesultanan Johor-Riau tertembus meriam. Pelu*ru bulat yang berukuran sedikit lebih besar dari kepala manusia melesak masuk ke lambung kapal dari geladak. Beberapa pendekar dan prajurit kerajaan tewas di tempat, sedangkan beberapa terluka cukup parah.


Nakhoda Kapal Johor-Riau itu kemudian menubrukkan kapalnya langsung ke jung Raja Nio. Getaran hebat membuat kapal bergoyang. Dengan kesempatan ini Jayaseta melesat secepat seekor burung camar, menerjang dua perompak bertopeng yang menguasai meriam jung ini. Dengan sekali pukul, kepala satu perompak terhempas dan terantuk ke meriam. Ia langsung tak sadarkan diri. Satunya sempat menebas ke arah Jayaseta dengan belatinya. Jayaseta menepis, kemudian berputar dan mengunci lengan atas lawan. Sekali sentak perompak itu terangkat ke udara dan langsung terhempas ke geladak kapal. Ia mengerang dan mencoba bangkit. Jayaseta menanamkan kaki ke tengkuknya, mengirimkannya ke sebuah mimpi indah.


DAR!!


DAR!!


DAR!!


Tiga tembakan sekaligus dilepaskan oleh para perompak di kapal yang lain. Namun Jayaseta sudah tak terlihat dari pandangan mereka, berkelit secepat kilat. Dengan kejadian itu, meriam jung Raja Nio hanya berhasil ditembakkan sekali sebelum para penyusup dibekuk Jayaseta.


Tapi para perompak juga sudah memiliki rencana cadangan yang sangat terukur. Mereka melemparkan tali dengan pengait ke tepian jung. Satu persatu bajak laut merambati tali dengan cepat. Bedil menggantung di punggung mereka. Orang terakhir menjaga rekan-rekannya dari bawah, sebisa mungkin menembaki siapapun yang menghalangi mereka naik ke atas jung. Naas baginya ketika hendak menyusul, kapal perompak itu ditubruk keras oleh kapal milik orang-orang Melayu Jambi. Kapal para pelaut Melayu Jambi itu menjepit kapal perompak sampai terus menubruk jung. Tubuh sang perompak tergencet dan tewas tanpa teriakan beserta hancurnya sebagian besar bagian kapalnya.


Jung raksasa Raja Nio kini berada di tengah-tengah dua kapal yang hampir sama besarnya, terhimpit, dengan para pendekar dan prajurit dua pihak yang siap meloncat masuk ke jung Raja Nio.


***


Bisa dikatakan semua penyusup dari kapal-kapal perompak yang naik ke kapal nakhoda Tuan Rajo Intan telah tewas. Syukurnya, ada tiga orang perompak yang masih bisa diringkus dalam keadaan hidup, walau terluka cukup parah di tubuh mereka.


Para perompak inilah biang keladi permasalahan dan kesalahpahaman antara orang-orang Bugis dan Minangkabau-Bengkulu-Rejang ini. Mereka berhasil diam-diam menyusup ke kapal, merebut meriam, menembakkan ke kapal orang-orang Bugis yang mengejar mereka, dan akhirnya menyulut pertikaian antar suku bangsa nusantara tersebut.

__ADS_1


Sekarang, setelah tiga perompak berhasil diringkus dalam keadaan hidup, apakah kesalahpahaman dapat diluruskan?


Belum tentu!


Kapal-kapal orang-orang Bugis hancur, banyak dari saudara-saudara mereka tewas. Mayat-mayat mereka mengambang di atas laut dangkal dan beberapa ikut tenggelam bersama muatan kapal. Semua karena tembakan meriam dari kapal orang-orang Minangkabau-Bengkulu ini.


Labussa dan Makkawaru berniat memberikan pelajaran dan hukuman berat bagi sang pelaku. Kapal ini adalah tanggung jawab sang nakhoda dan orang-orang di atas geladaknya. Menjadi kecolongan oleh para perompak juga adalah kesalahan telak, mengingat sebuah kapal seperti sebuah negara yang berdaulat. Labussa dan Makkawaru berani naik ke kapal ini saja sebenarnya merupakan tanda pelanggaran kedaulatan, sebuah serangan.


Jadi, walaupun sumber kesalahpahaman telah ditemukan, dan andaikata kelak didapatkan penjelasan secara menyeluruh, orang-orang Bugis ini tetap akan meminta pertanggungjawaban atas kecerobohan kapal dan nakhoda Tuan Rajo Intan yang menyebabkan kehancuran kapal-kapal dan hilangnya nyawa awak, pendekar dan orang-orang Bugis lainnya.


Tuan Rajo Intan sadar dan paham ini dengan baik. Para perompak sudah setengah berhasil menjalankan rencana mereka memporak-porandakan lawan dengan cara mengadu diantara mereka sendiri.


***


Sama seperti prajurit-prajurit Jawa, prajurit-pendekar Melayu ini juga menghiasi diri mereka dengan gelang, cincin dan perhiasan emas untuk menunjukkan betapa istimewanya mereka dibanding pendekar biasa, apalagi cuma sekadar jawara bayaran.


Papan-papan panjang nan kokoh diturunkan, meregang diantara dua sisi kapal. Para pendekar-prajurit Johor-Riau dan Jambi datang menggulung bagai ombak sembari meneriakkan semangat perang.


Para perompak bertopeng Mah Meri yang membawa bedil menembaki mereka yang datang menyerbu.


Letusan bedil menerbangkan asap putih tebal di angkasa. Dua tiga pendekar Melayu tumbang, namun sebentar saja para penembak itu menjadi bulan-bulanan pendekar Melayu. Tombak menembus tubuh mereka di segala sisi bagai tusuk sate.

__ADS_1


Keadaan di jung Raja Nio riuh rendah dan begitu kalang-kabut. Awalnya tujuan serangan adalah para perompak yang cukup mudah diketahui. Pertama, mereka yang bertelanjang dada dan bertopeng kayu suku Mah Meri. Kedua, mereka yang bertopeng Mah Meri dan menembaki dengan bedil.


Namun, para pembedil sudah langsung tewas, menyisakan para perompak bertopeng yang bersenjatakan belati. Tapi mereka juga kebanyakan telah dibekuk oleh para pendekar dan prajurit jung Raja Nio. Para perompak itu ditawan, diikat atau pingsan tergeletak di lantai kayu. Raja Nio sudah memerintahkan semua orang di atas geladak untuk tidak membunuh mereka. Ini demi mencari tahu penjelasan dari mereka, ada apa di balik ini semua.


Namun, para pendekar-prajurit Melayu dari dua sisi yang bersebarangan ini sudah terlalu ganas dan bernafsu sehingga siap mencincang siapa saja.


"Tunggu ... Tunggu sebentar saudara-saudara," seru Raja Nio. Tongkat kayu panjangnya terentang di depan dada. Begitu juga dengan prajurit penjaga lain yang ikut merentangkan tongkat mencegah para pendekar Melayu tersebut maju lebih jauh.


"Namaku Antonio da Silva dari Kerajaan Larantuka. Orang-orang memanggilku dengan Raja Nio. Aku adalah nakhoda jung yang berangkat dari Sukadana di tanah Tanjung Pura. Kapal ini milik seorang saudagar Cina dari Semarang. Aku memiliki izin resmi hendak berlayar ke pelabuhan Johor. Surat-surat resmi perjalanan kami lengkap adanya. Aku bisa menunjukkan kepada saudara-saudara bila memang diperlukan, tapi tolong berhenti sejenak, saudara-saudara," seru Raja Nio.


"Minggir kau nakhoda, berikan orang-orang itu kepada kami. Kami yang akan memberikan hukuman yang pantas bagi mereka!" ujar seorang prajurit Melayu yang nampaknya merupakan pimpinan pasukan tersebut.


"Ah, orang-orang Datuk Meghak Bulunyo Megha dari Jambi rupa-rupanya. Jauh-jauh ke laut dangkal ini untuk ikut campur urusan kelautan Kesultanan Johor yang berdaulat. Jung ini jelas ingin berangkat ke Johor, kau sendiri mendengarnya bukan? Urusan laut di kepulauan Riau ini tentu juga menjadi urusan Kesultanan Johor," tukas pemimpin pendekar Johor-Riau yang bertubuh pendek, kecil, namun terlihat cukup berbahaya. Apalagi ia memelihara rambut panjang di balik ikat kepala Melayunya, membuatnya tampak liar.


"Cih! Sejak kapan pasukan pribadi Datuk Sri Harimau Selatan berhak mewakili kerajaan?"


"Lalu, bagaimana dengan yang terhormat Datuk Meghak Bukunyo Megha sendiri? Apakah beliau yang memegang tampuk pemerintahan sehingga berhak mengurusi hal-hal di laut ini?"


Sang pemimpin pasukan Jambi tak ambil pusing dengan perkataan pemimpin pasukan lawan. "Laut ini bukan milik Johor, saudara. Bila ya, mengapa kami tak melihat pasukan tempur kerajaan? Yang ada hanya para pendekar bawahan seorang Datuk yang adalah seorang saudagar dan pengusaha belaka?" tukas orang Melayu Jambi itu.


Sang lawan bicara tertawa dibuat-buat, "Hahaha ... Saudara jenaka sekali. Sudah jelas laut ini bagian dari kedaulatan Johor. Riau adalah bagian dari Johor pula. Johor hanya bersikap baik dengan memperbolehkan para pelaut dari beragam bangsa untuk berdagang dan berlabuh di kepulauan Melayu yang pada dasarnya berada di bawah penguasaan Johor, penerus resmi dari Kesultanan Malaka. Jadi jelas, kami lah yang berhak membawa para perompak ini untuk dihukum dan dimintai keterangan atas segala rencana kegiatan jahat mereka di laut dangkal kepualuan Riau ini."

__ADS_1


Tak lama, ketegangan makin terasa kental. Kedua pemimpin yang saling ngotot akan hak paling besar memiliki para perompak ini menyebar dan menular ke para prajurit. Mereka sudah memantapkan pegangan pada tombak dan perisai mereka, sedangkan kuda-kuda menyerang pun sudan disiapkan. Hanya menunggu waktu saja, ketegangan ini akan meledak.


__ADS_2