Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Topeng Kayu Berhias Bulu Burung


__ADS_3

Rumah kayu itu berdiri kokoh. Untuk mencapainya, Jayaseta harus melewati sebuah bukit dengan batuan berundak yang dijadikan semacam benteng alam, kemudian ada sebuah taman dengan pepohonan yang rimbun dan rapat, sedangkan tanah datarnya dihiasi rerumputan. Di sekeliling bangunan kayu tersebut dipagari oleh gelonggongan kayu sebesar dua buah lengan dan memiliki ujung-ujung yang tajam.


Berbeda dengan bangunan-bangunan pejabat di pulau Jawa yang lantainya menyatu dengan tanah, bangunan ini memiliki kolong setinggi orang. Bangunan ini berdiri dari tonggak-tonggak kayu raksasa dan bertingkat tiga.


Ada lebih dari duapuluh penjaga berseragam prajurit lengkap dengan senjata berupa tombak, pedang dan keris terselip di pinggang mereka.


Dua orang yang mengantarkan Jayaseta ke rumah Datuk Mas Kuning itu tersenyum-senyum. Mereka berharap Jayaseta terkejut dan ciut.


Beberapa waktu yang lalu, dua orang yang berumur paling muda dibanding sepuluh orang Jawa yang sedang berkumpul makan di sebuah kedai makan dekat pelabuhan Sukadana diminta rekan-rekannya untuk mengantarkan sang tamu menuju ke rumah orang yang dicarinya dari jauh, sampai melewati samudra.


"Baiklah nakmas, mungkin kau heran mengapa kami semua mengenal orang yang kau sebutkan namanya tadi. Pendek kata, beliau memang seorang tokoh Melayu Sukadana yang terkenal, tersohor karena perilakunya," satu orang setengah baya lainnya berbicara.


Ketika ia ingin berbicara lagi, laki-laki ini melihat sekeliling ke rekan-rekannya, seakan meminta persetujuan. Semuanya tersenyum, membuat Jayaseta sedikit bingung.


"Tapi kau terlambat, anakku. Aku tak tahu apa yang dikatakan oleh orang yang memintamu menemui Datuk Mas Kuning, tapi apapun yang akan kau katakan dan minta padanya sudah tak akan dapat tercapai."


"Maaf, bapak. Sejujurnya, aku bingung kemana arah pembicaraan bapak-bapak sekalian. Aku datang jauh-jauh dari Semarang karena memang ingin menyampaikan pesan ...,"


"Kami tahu, kami paham, kisanak. Kau ingin mendapatkan pekerjaan dan penghidupan di Sukadana, bukan?"


Jayaseta mulai paham dengan apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang Jawa ini benar-benar berpikir bahwa mungkin ia adalah salah satu orang yang hijrah dari pulau Jawa karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik.


Jayaseta memutuskan untuk mengiayai pemikiran mereka. Ia ingin tahu dengan lebih banyak ada apa sebenarnya.


Jayaseta tersenyum, "Engkau benar, bapak."


"Aku beritahu sesuatu, nakmas. Datuk Mas Kuning memang adalah seorang tokoh yang penting di Sukadana. Tidak hanya bagi orang Jawa, namun juga hampir semua orang yang datang ke Sukadana untuk mendapatkan pekerjaan atau penghidupan yang layak. Namun sejak beberapa tahun yang lalu, beliau tidak bisa membantu banyak lagi. Orang-orang kepercayaan Ratu Jaintan atau dikenal juga dengan nama Ratu Air Mala atau juga Ratu Bunku yang ditawan di Mataram melakukan semacam perlawanan terhadap pemerintahan sang anak, Giri Mustika. Para prajurit setia Ratu Jaintan menawan Datuk Mas Kuning yang dianggap sebagai pengkhianat."


"Maksud bapak, apakah karena beliau membawa orang-orang Jawa masuk ke Sukadana?" tanya Jayaseta.


"Tentu, tentu. Padahal orang-orang Jawa, seperti kita ini, adalah orang-orang korban dari peperangan yang dikobarkan oleh Sultan Agung dan Kerajaan Mataram yang dipimpinnya."


"Lalu, apa yang terjadi?"


"Sang Datuk ditempatkan di sebuah rumah dengan pengawalan ketat. Bisa dikatakan ia sebenarnya sedang dipenjara, walau masih memiliki sedikit kebebasan yang sangat diatur."


"Lalu, bagaimana dengan tindakan putra Ratu Jaintan sendiri, Giri Mustika, yang harusnya menjadi pemimpin Sukadana, bukan?"

__ADS_1


"Hah, terlalu rumit untuk dijelaskan masalah kenegaraan ini. Intinya kedua ibu dan anak itu seakan memiliki ruang kekuasaan sendiri-sendiri yang tak bisa saling diganggu. Giri Mustika nampaknya memberikan keleluasaan sedikit bagi para pengikut ibundanya untuk tetap memiliki kekuasaan dan melaksanakan keinginan mereka selama tidak melakukan pemberontakan kepada Mataram. Lagipula, beliau lebih sering menghabiskan waktu di Mulia dibanding di Sukadana."


Percakapan ini terus berlangsung walau akhirnya Jayaseta tetap menginginkan untuk bisa datang ke rumah sang Datuk walau ia dikatakan dijagai oleh para prajurit di sebuah tempat yang juga mudah untuk didatangi.


"Tapi aku hanya ingin berbicara dengannya. Aku rasa para pengawal masih bisa diajak bicara," ujar Jayaseta.


Para tua baya terkekeh, "Terutama kau, orang Jawa, para prajurit itu akan senang sekali untuk bisa menghajarmu. Ha ha ha .... Namun, baiklah kalau kau memang ingin kesana. Sunar dan Sarta akan mengantarkanmu kesana untuk bisa kau lihat sendiri. Jangan bilang kami tidak memperingatkanmu, ya? Bila sudah memutuskan untuk masih nekad ingin menemuinya atau membatalkannya, setelah itu, silahkan datang kembali kesini. Kami butuh otot muda dalam pekerjaan kami. Mungkin Datuk Mas Kuning tak bisa membantumu, tapi kami mungkin bisa sedikit menolongmu."


Dan di sinilah mereka. Jayaseta pura-pura merasa kecewa dan menyesal melihat bahwa rumah dimana sang Datuk tinggal seperti tak mungkin dapat tersentuh sama sekali.


Sunar dan Sarta terlihat sangat puas melihat raut wajah anak muda itu.


"Ini, aku punya topeng hiasan rumahku dari orang-orang pedalaman. Tadinya aku mau buang karena tak tahu gunanya. Namun ini mungkin berguna buatmu, siapa tahu kau berniat meloncat ke dalam sembunyi-sembunyi bagai maling, he he he," Sarta tertawa pelan diikuti oleh Sunar sembari memberikan sebuah topeng kayu dengan hiasan bulu burung yang panjang-panjang.



Keduanya kemudian pergi meninggalkan Jayaseta yang berdiri di balik pohon memperhatikan topeng kayu itu di tangannya.


Ia tersenyum.


***


Dengan mengendap-endap di balik pepohonan, Jayaseta memperhatikan lantai teratas rumah itu yang diterangi obor dan lampu minyak.


Jayaseta juga dapat melihat beberapa orang prajurit yang berjaga di setiap lantainya.


Ia tidak mau ada keributan, ia hanya ingin mencari Datuk Mas Kuning dan berbicara dengannya. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja mustahil bila ia harus langsung berbicara dengan para pengawal dan prajurit yang berjaga.


Rencana yang diejekkan oleh Sarta sebenarnya adalah memang rencananya sendiri.


Sudah barang tentu, ia akan menghindari perkelahian agar tak terjadi. Bukan ini yang ia mau.


Maka dengan tetap mengendap-endap, Jayaseta mendekati bangunan tersebut. kemudian setelah mendekati pagar dari gelonggongan kayu yang tertancap rapat mengelilingi bangunan, ia gunakan jurus Cakar Macan dan Cakar Naga untuk menggenggam erat pagar tersebut.


Dengan menggenggam pagar kayu tersebut, ia tolakkan tubuhnya ke atas tanpa suara dengan kemampuan jurus meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf tinggi seperti layaknya pendekar-pendekar pilih tanding.


Ini harus dilakukannya karena lantai dan sebagian besar bangunan terbuat dari papan kayu yang gampang berderit.

__ADS_1


Tubuh Jayaseta melayang sampai ke atas pagar. Kedua kakinya yang telanjang kemudian menjejak sela-sela kayu yang lancip untuk kemudian melompat lagi bagai seekor kera sampai ke sebuah jendela besar di lantai kedua bangunan tersebut yang sedikit terbuka.


Kelenturan dan keuletan tubuhnya sebagai seorang pendekar tidak hanya berguna untuk bertarung, namun juga sangat bermanfaat untuk dapat menyelinap masuk ke rumah besar ini tanpa diketahui para prajurit.


Sesampainya di jendela, ia langsung menyelinap masuk. Berguling sekali di lantai yang bila Jayaseta tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang mumpuni, pasti lantai tersebut akan berderit.


Baju atasan lengan panjang hitam tanpa kancing, celana pangsi hitam dan topeng kayu berbulu burung yang diberikan Sarta yang ia kenakan benar-benar menyamarkan keadaannya.


Segera dengan begitu waspada, hati-hati dan kesiagaan yang luar biasa, segera ia memasuki ruangan dan memeriksa seluruh bagiannnya.


Ia hanya menemukan beragam pernak-pernik rumah tanpa seorangpun di dalamnya. Lantai dua kemungkinan adalah tempat sang tuan rumah menjamu para tetamunya. Akhirnya Jayaseta memutuskan untuk keluar dari ruangan itu melalui jendela yang sama dari mana ia masuk tadi.


Ia menjejakkan kakinya sekali untuk meloncat ke satu bagian lain di lantai tiga sembari menghindari empat orang pengawal yang sibuk berbincang di sebuah pelataran lantai kedua, yang menjorok ke bagian luar dari ruangan.


Di lantai ke tiga inilah Jayaseta melihat seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di pelataran dengan lantai papan kayu berwarna hitam mengkilap, sedang membelakanginya.


Kedua tangannya berada di bagian belakang pinggangnya saling bertauran. Ia memandang jauh melewati gelapnya taman pepohonan ke perkampungan yang berkerlap-kerlip oleh lampu obor atau lampu minyak.


Jayaseta menarik nafas. Ia tidak tahu siapa orang tersebut yang mengenakan pakaian khas Melayu dengan ikat kepala lebar, yang satu bagian membentuk segitiga, baju dari bahan sutra berwarna hijau, celana sepanjang mata kaki juga dari bahan sutra yang ditutupi dengan lilitan kain dan ikat pinggang. Dari satu sudut yang agak menyamping, Jayaseta dapat melihat sebuah keris panjang terselip di ikat pinggang, di depan perutnya.


Sudah palang tanggung sampai lantai ketiga, Jayaseta akan mengambil kesempatan ini. Ia akan menepuk bahu sang laki-laki dengan pelan dan menanyakan dengan baik-baik tentang Datuk Mas Kuning.


Bila ia memang Datuk Mas Kuning, barangkali ia memiliki ilmu silat dan kebijakan seorang guru sehingga tidak akan mudah terkejut atas kehadiran Jayaseta, namun bila ia bukanlah Datuk Mas Kuning dan terkejut atas kemunculan Jayaseta dan berusaha berteriak, apa boleh buat, Jayaseta akan melumpuhkannya.


Rencana Jayaseta yang sepertinya sederhana namun tertata dengan baik ini sepertinya tidak akan berjalan lancar. Sang laki-laki paruh baya sebenarnya sudah paham akan kehadiran Jayaseta, sosok bertopeng tersebut, sedari ia meloncat dari pagar ke lantai dua. Sang laki-laki hanya tersenyum sembari masih tetap membelakangi Jayaseta.


Jayaseta berjalan mendekat dengan perlahan. Bagi orang awam, atau pendekar dengan ilmu dengan tingkat yang tidak terlalu tinggi, ilmu mengendap-endap Jayaseta ini sebenarnya sudah bisa dikatakan sempurna. Namun kali ini, semuanya terasa berbeda ketika baru beberapa langkah ia berjalan, Jayaseta mendengar deru angin yang cukup keras menuju ke arahnya.


Demi mendengar deru angin ini, Jayaseta memiringkan dirinya kemudian menjatuhkan badan ke lantai tanpa bersuara. Sebuah benda lolos melewati bahunya dan menancap di pagar papan yang membatasi pelataran.


Jayaseta melihat ternyata desiran angin kencang tersebut dikarenakan oleh sebuah tusuk konde emas dengan hiasan berbentuk bunga di bagian pangkalnya yang jelas dilemparkan ke arahnya dengan kemampuan silat yang mumpuni. Konde bunga emas tersebut menancap dalam di pagar kayu.


Dengan menahan tubuhnya menggunakan sepuluh jari-jarinya di lantai, Jayaseta menolakkan tubuhnya lagi dengan cepat sembari melihat ke arah datangnya senjata rahasia tersebut.


“Datuk, awas ada penyusup. Akan aku habisi penyusup gila ini!” seru tertahan seorang perempuan muda. Suara perempuan itu sepertinya juga diusahakan agar tak terdengar oleh para prajurit di luar.


Jayaseta menajamkan kepekaan dan sasmitanya ketika sebuah keris pendek tanpa luk keluar dari sudut ruangan yang sedikit lebih gelap langsung menuju ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2