Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tumbang Menjadi Mayat


__ADS_3

Jayaseta mundur kemudian mengelak menyamping dengan ringan. Dua serangan dalam sekali gebrak oleh Siam sang Harimau Siam lolos tak mengenai sasaran. Siam melanjutkan serangannya tanpa jeda. Ia mencoba menggasak bagian bawah tubuh Jayaseta dengan cakar dan tinjunya. Jayaseta masih menghindar, memberikan ruang bagi serangan berikutnya. “Satu jurus lagi,” gumam Jayaseta.


Siam berseru geram, berputar sekali dan memberikan dua serangan tipuan. Ia seakan-akan akan menyerang kepala Jayaseta dengan cakarnya, tetapi kemudian malah berguling sekali ke depan dan menggunakan kedua tangannya menghajar kedua paha Jayaseta.


Sang Pendekar Topeng Seribu paham sekali dengan gerakan-gerakan menyerang ini. Ia mumbul ke atas dan menjejak punggung Siam. Siam terjerembab, sedangkan Jayaseta menggunakan punggung Siam sebagai tolakan untuk meloncat menghindar. Ini adalah sebuah serangan sekaligus gerakan menghindar oleh Jayaseta.


Jayaseta sudah merasa bahwa jurus-jurus harimau Champa Siam ini serupa sekali dengan silat Melayu. Sangat bisa dipahami karena bahkan silat Minang pun dipengaruhi oleh silat orang-orang Champa.


“Tidak ada yang terlalu istimewa dari seorang Harimau Siam ternyata,” seru Jayaseta, mengejek sekaligus memberikan tantangan kepada Siam. “Aku mungkin terkejut karena sampai saat ini aku baru tahu bahwa seorang Siam adalah pengkhianat dan memang memiliki kemampuan silat sedikit lebih baik dari Siam yang aku tahu. Tapi, hanya sedikit, Siam. Atau entah siapapun namamu sebenarnya.”


Siam tidak terpancing dengan gertakan Jayaseta. Diam-diam ia melapisi kedua tangannya dengan tenaga dalam. Kedua kakinya melengkung dengan kuda-kuda yang sangat rendah, ciri khas silat harimau Melayu. Ia siap kembali menyerang.


Bahkan Jayaseta pun paham bahwa Siam memiliki gelar kependekaran tersebut bukan tanpa alasan. Buktinya saja ia mampu menyembunyikan jati dirinya selama ini. Namun, Jayaseta sudah bertekad untuk tidak menyepelekan lawan dan akan sebisa mungkin mengalahkan secepat mungkin. Ucapannya untuk menyemooh sang lawan ditujukan untuk membuat Siam mengerahkan seluruh kemampuannya.

__ADS_1


Di sisi lain, Narendara dan Katilapan sudah mencelat maju menyongsong tunjaman tombak dari empat pemburu Thai. Narendara sengaja mengambil wilayah yang agak jauh sebagai ladang pertempuran. Katilapan melemparkan satu batang rotan ke arah salah satu penyerangnya untuk memecah perhatian.


Berhasil!


Satu pemburu terpaksa menangkis rotan itu dengan tombaknya sehingga perhatiannya teralihkan. Dan itu sangat cukup bagi Katilapan untuk menghadapi lawan satunya. Ginuntingnya menepis tombak yang terjulur ke arahnya. Di saat yang sama, tangan kirinya yang bebas digunakan untuk kembali meraih satu lagi rotan dan melemparkannya ke wajah musuh.


BLETAK!


Teriakan kematian menggema dari sang korban. Katilapan menggenggam tombak, kemudian memutarkan ginuntingnya yang masih tertanam di dalam lambung musuh, kemudian membelahnya ke samping. Darah muncrat bersamaan dengan terburainya jeroan musuh.


Satu musuh tumbang menjadi mayat.


Tangan Katilapan yang lain kini juga sudah menggenggam sebatang tombak milik sang lawan.

__ADS_1


Melihat hal ini, tentu pemburu Thai satunya meraung murka. Ia memutarkan tombaknya dan mencelat maju.


Narendra yang berlari menjauh mendadak berhenti, memberikan semacam kejutan bagi lawan. Tombak bermata trisulanya diputar dan dibabatkan ke arah kaki lawan-lawan yang sedang berlari ke arahnya. Satu lawan tersentak, terpelanting sekali ke udara yang jatuh dengan leher patah karena terbentur tanah dengan keras. Akibatnya, satunya lagi langsung menahan laju dan berguling ke depan.


Narendra tidak mau memberikan kesempatan dan kemungkinan. Ia berdiri dan langsung menghujamkan tombaknya ke dada musuh yang jatuh dan lehernya patah tadi. Maka, kematian lawan menjadi nyata baginya.


Narendra mencabut tombak trisulanya kemudian melanjutkan dengan melemparkannya ke arah satu lawan yang sedang berusaha bangkit. Sang pemburu Thai tersebut masih mencoba menepis lemparan tombak Narenda, tetapi tidak terlalu berhasil. Salah satu mata tombak dari trisula menembus lengannya dan menancap di sana.


Ia berteriak keras dan bersumpah serapah dalam bahasa Siam. Tubuhnya oleng dan tak seimbang, terutama karena tombak panjang Narendra membuat berat beban senjata itu semakin menyobek kulit dan daging lengannya.


Narendra sekali lagi tidak mau membuang kesempatan ini. Ia melompat tinggi dan langsung menjejak dada lawan, membuatnya kembali tersentak tergeletak di tanah. Narendra menginjak dada lawan sehingga ia tetap terbaring, kemudian dengan cepat mencabut tombaknya yang menancap di lengan lawan untuk kemudian menghujamkannya ke leher musuh yang bisa dikatakan tak berkutik itu.


Darah menyembur dengan liar termasuk bunyi gelegak dari kerongkongan sang pemburu Thai ketika nyawa melesat keluar dari raganya.

__ADS_1


__ADS_2