
Jayaseta sudah tidak tidur sama sekali selama tiga hari sejak melawan para perompak Annam, melawan empat pemburu suku Thai dan membantai rombongan perompak Champa yang menyusul mereka. Ia berpura-pura menutup mata dan tidur di malam hari selama mereka menginap di gua di bawah bukit, dan memulai perjalanan menuju ke perkampungan suku Thai. Ia terpaksa harus mencurigai Ireng atau Siam yang hadir di saat ia mengejar sang pemimpin perompak Champa. Di sisi lain, ia juga tidak boleh menunjukkan kecurigaan ini.
Sesuai keputusan bersama, setelah masalah salah paham terjadi, Jayaseta dan rombongannya diajak untuk tinggal di perkampungan suku Thai yang memerlukan perjalanan seharian penuh. Rencana ini masuk akal sebagai cara untuk rombongan Jayaseta terhindar dari pengejaran yang bertubi-tubi dari kelompok Dunia Baru yang sampai saat ini pun masih penuh dengan hal-hal yang tidak dapat dipahami dengan baik.
Rombongan ini akhirnya kembali berjalan pulang ke perkampungan Thai. Tentu saja, Jayaseta, Narendra dan Katilapan kemudian membantu keempat pemburu Thai untuk mendapatkan buruan yang memang merupakan tugas keempat orang tersebut. Setiap malam dalam perjalanan pulang, mereka beristirahat dan menginap di beberapa tempat tertentu dahulu sembari berjaga-jaga. Jayaseta tidak hanya ikut bergiliran berjaga, tetapi ia sendiri berjaga-jaga pada kelompoknya sendiri. Tiga hari tanpa tidur sama sekali tentu bukan perkara mudah meski bagi seorang pendekar sehebat Jayaseta sekalipun. Belum lagi selama seharian penuh ia bertempur melawan musuh yang terus berdatangan.
Jayaseta sengaja tidak memberikan penjelasan apapun tentang kecurigaanya kepada siapapun, termasuk kedua kakang dan shabatnya, serta tentu saja sang istri. Namun, seuatu malam, seperti biasa, ketika Jayaseta sedang menyalurkan tenaga dalam murninya melalui punggung sang istri untuk membantu meringankan serangan racun jahat yang dideritanya, Dara Cempaka bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi, abang Jayaseta? Adik tahu sesuatu pastilah ada di dalam benak abang,” ujarnya.
__ADS_1
Jayaseta tersentak. Betapa pekanya perasaan seorang perempuan.
“Darimana kau tahu ada sesuatu denganku?” tanya Jayaseta pendek, tetapi ia tersenyum.
Dara Cempaka membalikkan tubuhnya memandang sang suami. “Tidak perlu berpura-pura dan menutupinya, abang. Adik adalah istri abang. Meski kita belum lama menjadi pasangan suami istri, tapi adik memiliki perasaan yang tidak bisa ditolak kebenarannya,” lanjut Dara Cempaka balas tersenyum.
Senyum manis sang perempuan Melayu itu membuat Jayaseta merasa luntur dan luruh. Ia kini tersenyum lebar kemudian menyentuh pipi dan dagu istrinya dengan lembut. “Tidak ada yang perlu terlalu dipikirkan, Dara. Tidak ada m asalah yang terlalu besar. Kau tahu, pikiranku selalu berada entah dimana. Memikirkan satu dan dua hal. Itu wajar adanya.”
__ADS_1
Jayaseta terkekeh.Ia ternyata tak bisa menipu istrinya yang selain seorang perempuan manis dan peka, juga merupakan seorang pendekar.
Kini mereka sedang berada tak jauh dari sungai kecil, di bawah pepohonan besar nan rimbun dimana mereka berkemah. Api dinyalakan kecil untuk menghangatkan dan memanggang sebagian kecil saja daging rusa yang sebelumnya telah mereka berhasil buru. Bintang-bintang bertaburan berkelap-kelip dalam langit yang mencembung indah.
Jayaseta bersandar ke sebuah batang pohon yang besar, sehingga Dara Cempaka kemudian meletakkan kepalanya di dada sang suami, mendengarkan jantungnya yang berdetak lembut.
“Orang terakhir yang bertarung melawanku adalah pemimpin perompak yang menyusul. Aku berhasil mengalahkan semua bawahannya. Tetapi ketika aku menghadapinya, ia menggunakan jurus pelempar pisau rahasia. Pisau-pisau yang ia lemparkan beracun, tetapi dapat aku atasi,” ujar Jayaseta. Dara Cempaka meyentuh bekas luka di tubuh Jayaseta dengan lembut. Luka itu telah mengering dengan cepat sebelumnya.
__ADS_1
“Yang aku heran, pemimpin perompak itu menggunakan jurus-jurus lemparan yang mirip sekali dengan yang diajarkan oleh kakek Salman, Sang Pisau Terbang Penari, salah satu guruku dan sahabat Datuk Mas Kuning,” ujar Jayaseta. Pandangannya menerawang. Dara Cempaka menyentuh dada sang suami lembut, tetapi tidak menjawab apapun. Ia membiarkan sang suami untuk mengutarakan semua hal yang ia sedang pikirkan. “Pemimpin perompak itu kemudian melarikan diri karena jelas merasa bahwa ia tidak mungkin bisa mengalahkanku. Aku kemudian memang sengaja mengejarnya, khawatir ia akan membawa lebih banyak masalah. Ketika aku menemukannya, ia telah tewas dibunuh oleh seseorang dan mayatnya sempat disembunyikan. Ireng dan Siam mendadak datang. Mereka mengaku tidak tahu-menahu dengan siapa yang membunuh sang pemimpin perompak itu. Tapi kemudian aku melihat ujung jari-jari Ireng meyisakan darah kering.”
Dara Cempaka menghela nafas panjang, kemudian menegakkan tubuhnya. “Abang, bolehkan giliran aku bercerita?” ujarnya sembari menatap tajam mata sang suami.