
Jayaseta selalu sadar bahwasanya setiap kali ia bertarung dengan seorang pendekar, maka selalu ada ilmu baru yang didapatkan. Kadangkala ilmi itu berupa jurus-jurus yang bisa ia tiru, pelajari dan gunakan. Namun adapula ilmu berupa pengalaman yang dapat ia rasakan dan alami sendiri.
Jurus-jurus silat Punyan, anehnya, tak dapat dengan mudah ia tiru. Awalnya ia ingin menyelesaikan pertarungan dengan cepat seperti biasanya, agar keperluannya bertemu Temenggung Beruang akan segera terlaksana. Namun, ia malah terperangkap dalam ketertarikan berbagi dan bertukar ilmu kanuragan.
"Namaku Punyan. Aku harap kau mempersiapkan diri untuk menerima seranganku. Aku juga mohon agar tidak sungkan-sungkan menunjukkan kemampuan terbaikmu, terutama cara bagaimana mengalahkan Karsa, Sang Penyair Baka yang sakti tersebut," ujar Punyan menyindir kemampuan Jayaseta pada awal pertarungan mereka.
Jayaseta bahkan tak diberikan kesempatan untuk memperkenalkan diri ketika Punyan menerjangnya.
Yang manjadi perbedaan mendasar gerakan jurus-jurus silat pemuda Daya ini adalah kecenderungannya menyerang ke arah atau dari bagian bawah tubuh dan dengan pukulan cepat berlapis-lapis.
Jayaseta menangkis dan menepis langsung empat pukulan Punyan yang diarahkan ke perut dan ulu hatinya. Ia juga harus mundur dan berputar setengah lingkaran menerima serangan susulan berupa lima tinju yang dilakukan dengan cepat bagai menampar-nampar ke arah dada dan lehernya.
Jayaseta kemudian mencoba membalas dengan pukulan ke arah wajah dan dada Punyan.
Bagai seekor kera, Punyan menunduk dan mencelat dengan menjejakkan salah satu kakinya ke lutut Jayaseta, membuatnya sedikit oleng.
Ketika kaki Punyan menjejak tanah, ia langsung menolakkan tubuhnya kembali menyerang Jayaseta.
Dengan kecepatan yang luar biasa kali ini Jayaseta kecolongan satu pukulan dari rangkaian serangan yang diberikan. Perutnya terpukul telak sehingga ia jatuh berguling ke belakang.
Ireng dan Siam menahan diri untuk tak ikut masuk ke dalam medan pertempuran. Dara Cempaka sebaliknya, ia terlihat begitu tenang, membuat kedua kawan seperjalanan mereka menjadi heran.
"Untuk apa kalian sekhawatir itu?" tanyanya kepada Ireng dan Siam.
"Kau tak khawatir melihat ini? Kau yang harusnya menjelaskan mengapa kita tak perlu cemas? Jayaseta sudah bertarung beberapa hari yang lalu, seorang diri. Ia juga harus melawan rasa takut berada di atas perahu, sekarang setelah sampai ia malah harus kembali bertarung," ujar Ireng.
"Kau benar-benar lucu, bang Ireng. Harusnya kita mengkhawatirkan diri sendiri, bagaimana caranya jangan sampai membuat sudah bang Jayaseta. Selama perjalanan kita, ia menghadapi segalanya seorang sendiri, dengan keterbatasannya pula. Namun seperti kita saksikan sekarang, ia tetap berhasil. Karena itu memang menunjukkan betapa abang Jayaseta memang adalah seorang pendekar pilih tanding," balas Dara Cempaka.
__ADS_1
"Setelah sejauh ini, kalian malah meragukan kesaktian dan ketangguhannya?" lanjut Dara Cempaka.
Penjelasan panjang lebarnya ini memberikan kesadaran kepada kedua teman rombongannya ini. Mereka harusnya malu, dan lebih menjaga diri saja dibanding mencemaskan keadaan sang pendekar.
"Abang Jayaseta selalu belajar dari sesuatu. Aku sudah memperhatikannya sejak dari ia menginjakkan kakinya di rumah Datuk," kembali jabar Dara Cempaka yang ternyata hanya menggunakan namanya, Dara, untuk merujuk dirinya sendiri hanya kepada Datuk Mas Kuning dan kata ganti 'adik' di depan Jayaseta. Sedangkan di depan orang lain, kata 'aku' yang digunakan.
Kepercayaan Dara Cempaka pada kemampuan orang yang dikasihinya itu memerlukan kesabaran dan pengertian yang luar biasa. Bagaimana tidak, tak lama Jayaseta kembali terdesak. Ia menghindar dari terjangan Punyan dan malah terkena tendangan pendek di pinggul dan sebuah tinju lagi menghantam telak di dadanya.
Jayaseta terjungkal dan berguling ke belakang beberapa kali.
Punyan menggelengkan kepala. Apakah seperti ini kemampuan orang yang membunuh Karsa dengan tangan kosong?
Sudah cukup, pikir Punyan. Ia merapal sebuah mantra dengan cepat. Aliran tenaga dalam mengalir dari jantung ke kedua lengannya.
Ia menunduk rendah dengan satu kaki menekuk dan satunya membujur. Kedua lengannya yang dialiri tenaga dalam menempel di tanah, menopang tubuhnya dengan kesepuluh jarinya. Jurus Bangkui Sakti Memecah Buah sudah siap meremukkan tulang-belulang Jayaseta dan membuatnya lumpuh, bahkan tewas.
Punyan melihatnya sebagai bentuk kekikukan dan ketakutan musuh karena akan diserang dengan tenaga dan kekuatan yang lebih besar dan menyakitkan, padahal, Jurus Tanpa Jurus Jayaseta adalah jurus yang menggunakan kesempatan sebagai titik utama. Penyerapan jurus-jurus musuh membuat Jayaseta mampu merasakan dan memahami serangan musuh, sehingga ia dapat menyesuaikan pertahanan atau serangan balasan.
Punyan meraung dan meluncur ke arah Jayaseta. Kedua tangannya siap menghancurkan tubuh Jayaseta menjadi berkeping-keping.
Jayaseta meredam serangan Punyan yang bertubi-tubi itu dengan mengamalkan jurus-jurus silat pulut yang dicapai dengan melalui Jurus Tanpa Jurusnya.
Kesepuluh jarinya bergerak bagai menari, menepis semua pukulan bertenaga dalam yang keras dari Punyan. Tenaga serangan Punyan seakan pupus bagai api mati tertiup angin.
Jayaseta berhasil menundukkan serangan ganas Punyan dengan gerakan jurus-jurus lembut.
Ketika Punyan tersadar bahwa semua serangannya lolos, Jayaseta membalik keadaan. Lima pukulan bertubi-tubi menampari dada dan perutnya. Sebagai penutup Jayaseta menendang dada Punyan sehingga calon kepala suku itu mundur bergulingan di tanah ke belakang.
__ADS_1
Punyan segera berdiri. Wajahnya tersenyum puas. Baru kali ini serangan Bangkui Sakti Memecah Buah bisa dielakkan lawan, bahkan dikembalikan dengan telak.
"Cukup, Punyan!" teriak seorang laki-laki tua bertubuh kecil dari atas titian papan di benteng kayu ulin tersebut.
"Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan?" ujar lelaki tua yang ternyata adalah Temenggung Beruang tersebut.
"Apai ...," seru Punyan.
"Tapi aku ingin benar-benar melihat kemampuannya bersilat. Seberapa hebat sehingga ia dapat mengalahkan Karsa," ujar Punyan.
"Benarkah itu yang kau mau, atau kau terbawa hawa nafsu dan takut menerima kenyataan bahwa dirimu baru saja dikalahkan?" balas sang Temenggung Beruang.
Punyan tersentak. Ada banyak kebenaran dalam kata-kata sang apai. Sukunya sedang dalam masa cobaan berat. Serangan demi serangan dari suku Biaju terus dilancarkan dan tidak sedikit korban berjatuhan. Dalam keadaan seperti ini, tentu saja Punyan ingin mengambil peran sebagai seorang pelindung bagi rakyatnya. Wajar bila ia harus terlihat tangguh dan tak terkalahkan. Bila tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan kenyataan bahwa ia sakti dan membawa kepala musuh mereka, yaitu Karsa, tentu pula membawa kecurigaan tertentu. Namun, sang apai menyadarkan bahwa jangan-jangan karena pemikiran seperti inilah yang membuat segala pemikiran lain tertutup oleh kecurigaan dan kesombongannya.
"Bagaimanapun mereka adalah tamu-tamu kita. Mereka sudah menunjukkan niat sebaik yang mereka bisa untuk membuat kita percaya bahwa kedatangan mereka adalah dengan maksud baik dan damai," lanjut Temenggung Beruang.
Semua prajurit Daya menunduk hormat kepada sang kepala suku yang menunjukkan kewibawaan dan kebijaksanaan yang luar biasa. Mereka, termasuk Punyan sendiri, juga memperlihatkan kelegaan yang sangat. Ini dapat diwajari karena sang Temenggung baru kembali lagi dari tempatnya bersemedi.
Sedikit banyak, walau Punyan memegang kendali, kehadiran sang kepala suku membawa rasa ketegaran dan semangat. Mereka merasa dalam keadaan genting seperti ini, ada seorang pengarah yang datang membantu meluruskan tujuan.
Temenggung Beruang berjalan menyusuri titian papan dan turun melalui tangga kayu yang tinggi. Terdengar gemerincing lonceng-lonceng kecil yang diikatkan di pergelangan kaki serta bergelantungan di pakaiannya. Bulu-bulu burung enggang gading memcuat di atas kepalanya, semakin menunjukkan kebesaran sosok tersebut.
"Kau kah pemuda sakti yang bergelar Pendekar Topeng Seribu?" tanya sang kepala suku langsung di depan Jayaseta.
Kembali, semua prajurit, termasuk Punyan, terhenyak dan terkaget-kaget dengan pertanyaan Temenggung Beruang tersebut. Jayaseta tak kalah terkejut dengan ucapan sang ketua suku.
"Sudah lama kami menantimu. Selamat datang di perkampungan kami yang seserhana ini. Maaf bila penyambutan ini tidak sesuai dengan yang diharapkan. Mohon maklum karena satu dan lain hal yang telah terjadi beberapa waktu terakhir," wajah tegas Temenggung Beruang menyunggingkan senyum yanh penuh dengan pertanyaan dan teka-teki bagi Jayaseta.
__ADS_1