
Ketika Jayaseta benar-benar dapat memperhatikan siapa musuh-musuhnya, ia melonggarkan kuda-kudanya. Ia bingung harus bersikap apa, jadi ia letakkan kelewangnya kemudian menjura, "Ampun, maafkan kelancanganku. Kami datang dengan damai, mohon dipertimbangkan untuk dapat berbicara dengan damai," ujar Jayaseta.
Data Cempaka terkejut, kemudian sadar dengan apa yang terjadi, "Abang, Jayaseta. Mereka bukan suku yang kita cari. Kita belum sampai di tempatnya!" Seru Dara Cempaka. Sebagai warga kerajaan Sukadana di pulau Tanjung Pura ini tentu mengenal puluhan bahkan ratusan suku pedalaman adalah sebuah pengetahuan yang sangat perlu untuk dikuasai.
Datuk Mas Kuning adalah seorang guru yang hebat. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu kanuragan dan jurus-jurus silat kepada cucu perempuannya yang masih muda, namun sang Datuk merasa bahwa seorang pendekar pun harus dibekali dengan pengetahuan yang baik agar dapat mengenal semua orang dan menghormati kebiasaan dan pola pikir mereka.
Celana panjang berkerucut di bagian pergelangan jelas bukan ciri suku yang dikepalai oleh Temenggung Beruang. Jayaseta tidak memiliki pengetahuan itu, dan ia memang datang dengan niat damai. Bukankah ia memang ingin meminta bantuan sang Temenggung? Maka dari itu, terlibat perkelahian dengan suku mereka jelas bukan merupakan keputusan yang bijak. Sayang Jayaseta tak paham itu.
Melihat Jayaseta melepaskan senjatanya, salah satu penyerang yang dadanya terluka mengambil naibor nya dan langsung menghambur menyerang Jayaseta yang masih menjura namun sedikit kebingungan karena seruan Dara Cempaka.
Dengan sedikit gerakan saja, walau tanpa persiapan dari serangan tiba-tiba itu, Jayaseta dapat menghindari dengan gampang sabetan naibor yang menyasar kepalanya tersebut.
Jayaseta kemudian menjejak bagian belakang lutut musuh dan memberikan satu tendang lagi ke rusuk. Dua serangan cepat ini membuat sang penyerang terhempas ke samping. Tubuhnya jatuh di rerumputan. Ia yang kini bingung dengan sigapnya gerakan musuh atas serangannya dan kecepatan serangan balasan yang dilancarkan. Jelas orang ini adalah pendekar yang dicari-cari tuannya.
Ia berusaha berdiri dengan berpegangan pada naibor nya yang ditancapkan ke tanah. Namun sebuah tendangan kembali menghajarnya sehingga ia jatuh lagi bergulingan di tanah ke arah kedua temannya yang kemudian membantunya bangun.
Tendangan yang terakhir berasal dari Dara Cempaka.
Ireng dan Siam juga tiba-tiba sudah mempersiapkan diri mereka dengan tombak. Padahal mereka juga paham bahwa Jayaseta seorang diri bisa menyelesaikan pertarungan melawan ketiga lawannya itu dengan beberapa kali gebrak saja.
"Siapa kalian? Mengapa tiba-tiba membokong kami?" seru Dara Cempaka ke arah ketika musuh mereka. Namun, alih-alih menjawab atau kembali menyerang, lawan mereka yang tak diketahui asal-usulnya ini berbalik arah dan ambil langkah seribu, melarikan diri.
"Berhenti kalian!" teriak Dara Cempaka yang sontak berlari menyusul ketiga orang tersebut. Jayaseta tanpa banyak pikir langsung mengambil kelewangnya dan ikut mengejar Dara Cempaka. Ireng dan Siam meloncat mengikuti mereka.
***
__ADS_1
Pendekar Harimau Muda Kudangan berdiri dengan tegak. Senyum lebarnya terpampang nyata di wajahnya menyaksikan rombongan Jayaseta sampai di depannya. "Sudah kuduga bahwa engkau sudah pasti dapat melewati sedikit rintangan ini. Maafkan atas sambutanku yang kurang pantas. Aku hanya ingin meyakinkan dan menegaskan bahwa pendekar yang kutunggu-tunggu, kucari dengan menyeberangi hutan serta menyusuri sungai memang adalah orang yang pantas untuk menjajal ilmu kanuragan," ujar sang pendekar.
Jayaseta menarik nafas. Ia sudah mahfum dengan keadaan semacam ini. Seseorang yang sudah menyatakan dirinya sebagai seorang pendekar pasti akan selalu terlibat dengan beragam pertikaian, baik dalam perihal membela kebenaran, mematangkan ilmu kanuragan, menantang pendekar lain, atau siap-siap ditantang pendekar lain seperti layaknya dirinya.
Namun, tetap saja Jayaseta bertanya, "Apa sebenarnya keinginan kisanak sehingga sampai menyerang kami yang tidak memiliki perkara jahat terhadap kisanak dan saudara-saudara sekalian?"
"Benar, benar ... Pendekar memang tidak ada pertikaian dengan kami, terutama aku. Aku yang minta maaf karena telah bersikap tidak sopan dan lancang menyerang rombongan kalian secara mendadak. Namun sekarang toh kita sudah paham bahwasanya serangan orang-orangku tak bermakna apapun bagi seorang pendekar seperti kau, Pendekar Topeng Seribu, bukan?" jawab Pendekar Harimau Muda Kudangan.
Ireng, Siam dan bahkan Dara Cempaka sekarang tahu ke arah mana pembicaraan ini. Tantangan bertarung dan saling jajal ilmu kanuragan adalah hal yang lumrah di dunia persilatan. Hanya saja, di pulau Tanjung Pura ini, pertarungan hidup dan mati lebih banyak berupa pertempuran antar kerajaan atau antar suku Daya pedalaman dalam rupa pengayauan.
Jayaseta kali ini sudah terlalu lelah untuk berbicara dan menghindari pertarungan. Pikirannya terlalu lugu bila melihat bahwa setiap ia meyakinkan dirinya untuk tak merasa bersalah ketika korban berjatuhan karena tindak-tanduk dan perilaku kependekarannya, saat itu pula ia sadar bahwa jalan hidupnya sudah ditetapkan. Ia harus berani melawan musuh yang menantang. Tak perlu berbasa-basi lagi.
***
Sepasang senjata itu disebut kerambit atau karambit dalam bahasa Melayu, namun dari bahasa aslinya yaitu Minang, senjata yang bentuknya berdasarkan pemikiran tentang kuku macam atau harimau itu disebut kurambiak atau karambiak.
Sang pengguna senjata ini dapat melakukan sebuah pukulan lurus atau berputar. Karena sifat kerambit yang ringan, kecil dan pas di genggaman, serangan tersebut akan sama cepatnya dengan tinju atau jotosan. Musuh tidak akan mengetahui bahwa tiba-tiba saja kulit dan dagingnya robek. Berbeda dengan pedang atau golok yang serangannya masih bisa terlihat dan teraba.
Namun begitu, pada awalnya sama seperti kebanyakan senjata di nusantara, kerambit juga merupakan alat pertanian yang dirancang untuk mencabut akar rumputtanaman atau memanen padi yang kemudian berkembang menjadi senjata dengan bentuk yang lebih melengkung dan mata pisau yang lebih tajam.
Bukti bahwasanya kerambit memang berasal dari suku Minang di pulau Melayu bagian barat adalah dengan sebuah peninggalan secarah patung atau arca raja Minangkabau di Pagarruyung, pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Adityawarman yang memiliki nama panjang Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa. Di arca tersebut sang raja yang berkuasa pada tahun 1347 sampai 1375 Masehi terlihat memegang sebuah kerambit di tangannya.
Lebih lengkap juga dijelaskan bahwa Adityawarman adalah putra dari raja kerajaan Majapahit yang kemudian berkuasa di tanah kerajaan Melayu yang sebelumnya beribukota di Dharmasraya dan Malayupura dan berpindah ibukota ke pedalaman Minangkabau.
__ADS_1
Kerambit pada arca itu menunjukkan bahwa sang raja adalah gambaran seorang pemimpin yang juga adalah seorang pejuang dan petarung.
Pendekar Harimau Muda Kudangan memberikan do nya pada 'orang-orangnya'. Kerambitnya masih menempel di pinggangnya. Ia juga mempersiapkan diri untuk pertarungan ini.
Jayaseta sudah mengiyakannya. Ia tak mau menghabiskan waktu dengan rombongan pengganggu ini. Si penantang juga harus diberikan pelajaran yang memang ia mau. Entah seberapa jauh jarak dan lama waktunya merencanakan untuk menemui Jayaseta. Jadi, jelas orang ini tak akan mau dibiarkan begitu saja. Dan yang jelas ia tak akan mau kalah.
Jayaseta mendekat ke arah Dara Cempaka, Ireng dan Siam. Ia melirik ke arah belati yang terselip di pinggang Siam kemudian berkata kepada mereka bertiga, "Dengar. Aku harus menyelesaikan pertarungan ini dengan segera. Tadinya aku hendak langsung menggunakan kelewang, namun orang itu nampaknya ingin menjajal tangan kosong denganku. Namun begitu, ia masih membiarkan senjata melengkungnya di pinggang bagian belakangnya yang bisa kapan saja ia gunakan dengan licik," ujar Jayaseta. Ketiga rekannya mengangguk setuju.
"Siam, ini kelewang milik Raja Nio, nakhoda kalian. Bisakah kau menggunakannya?" tanya Jayaseta.
Yang ditanyai langsung menjawab, "Tentu, pendekar. Awak kapal cukup terbiasa menggunakan kelewang," jawabnya.
"Bagus. Aku titipkan kelewang ini kepadamu. Namun sebagai gantinya, bolehkah aku pinjam belatimu itu? Aku memerlukannya ketika nanti lawanku itu mencabut senjatanya," pinta Jayaseta.
Tanpa ragu Siam menyerahkan belati itu yang langsung diselipkan di balik sarung Jayaseta. "Itu adalah belati bergaya negeri Siam, pendekar. Aku tahu kau pasti bisa menggunakannya," ujar Siam setelah memberikan belati dengan bentuk khas menggelembung di bagian depan bilah tajamnya tersebut serta menyerahkan tombaknya kepada Dara Cempaka sehingga kesemuanya bersenjata.
Jayaseta mengangguk dan berterimakasih. "Kalian harus siap dengan senjata kalian masing-masing. Tombak, kelewang, dan kau Dara, kipasmu itu. Kita tak tahu apa yang akan terjadi setelah pertarungan ini selesai. Kita harus berjaga-jaga bilamana orang-orang pendekar itu juga tiba-tiba bergerak menyerang."
Dara Cempaka hendak berkata sesuatu ketika Jayaseta mengangkat satu tangannya, "Tenang Dara. Bukannya jumawa, tapu kupastikan tak akan ada hal buruk yang terjadi padaku. Aku akan usahakan selesaikan ini secepatnya. Orang itu memang perlu diberikan pelajaran. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri."
Dara Cempaka tersenyum. Tak ada keraguan sedikitpun di dalam hatinya mengenai kehebatan laki-laki yang sudah terlanjur ia kasihi tersebut. Ia hanya ingin mengatakan, "Hati-hati dan jaga dirimu, abang Jayaseta." Namun ternyata Jayaseta sudah mengetahui apa yang ia pikirkan dan rasakan. Apakah ini pertanda bahwa Jayaseta sudah memahami isi hatinya?
Ah, dalam kesempatan semacam ini sempat-sempatnya ia memikirkan perihal asmara, pikir Dara Cempaka.
__ADS_1
Jayaseta sendiri telah berbalik dan menuju medan pertarungan. Dara Cempaka, Ireng dan Siam sudah menggenggam senjata mereka masing-masing. Ireng dengan tombaknya, Dara Cempaka melengkapi kipasnya dengan tombak di tangan satunya, sedangkan Siam menggenggam kelewang. Pandangan mereka ditujukan kepada tujuh orang prajurit Daya berbaju campuran Minang tersebut yang juga siap dengan naibor mereka, serta beberapa orang lain yang kemungkinan besar adalah pengikut sang pendekar yang mengurus beragam keperluannya.