
Tiga kapal pedagang tidak jauh jaraknya di belakang kapal Lan Xang yang sedang diserang. Tiga kapal yang ukurannya sedikit lebih kecil itu sebenarnya milik orang-orang Siam dan dinakhodai orang-orang Cina. Namun, kebanyakan pedagang dan para prajurit pengawal kapal tersebut adalah orang-orang Lan Xang.
Tentu saja kabar mengenai kapal Lan Xang yang dirampok di depan saja entah bagaimana telah sampai di telinga para pedagang dan prajurit pengawal bayaran dari ketiga kapal yang berlayar beriringan tersebut. Keadaan langsung menjadi kalut dan kemelut, bukan karena takut dan menciut, tetapi sebaliknya. Orang-orang Lan Xang, tidak peduli pedagang, penunggang, bahkan awak ataupun prajurit, langsung mempersiapkan senjata mereka geram ingin ikut bertempur, membela orang-orang sebangsa mereka.
Para nakhoda Cina dari awal sebenarnya sudah menawarkan kepada para penumpang untuk menghindari pertempuran dengan berhenti sejenak jauh di belakang kapal yang sedang diserang itu. Tawaran itu dapat dimaklumi karena sebagai pedagang, keuntungan mutlak adanya dan kerugian harus dihindari, itu juga sebuah keniscayaan. Masuk akal bila harusnya para pedagang menghindari terlibat dengan persengkataan apapun di atas sungai, apalagi dan terutama perompakan.
Namun, ketiga kapal bersikeras untuk terjun ke dalam pertempuran itu ketika mengetahui bahwa orang-orang sebangsa mereka diserang oleh para perompak sungai berkebangsaan Đại Việt dan Champa.
__ADS_1
"Apa kepentingan orang-orang Đại Việt dan Champa dengan Lan Xang? Selama ini kita tak bermasalah dengan mereka kecuali mungkin Cina dan Kamboja?" ujar salah satu pedagang Lan Xang yang sudah menghunus pedangnya. Ia sedang berbicara keras dengan kerumunan orang-orang Lan Xang lainnya bersama sang nakhoda Cina di salah satu kapal.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Apa keputusan mereka terhadap serangan itu, Yu?" tanya Pratiwi kepada sang suami.
Yu hanya menggeleng. Ia sudah menjadi penerjemah Pratiwi sejak awal ia meminta penjelasan kepada nakhoda Cina yang fasih berbahasa Lan Xang dan Siam.
Tak lama dua orang awak kapal berkebangsaan Cina mendekat ke arah ketiga rombongan ini. Mereka memandang ke arah Pratiwi yang berbusana laki-laki. Awalnya mereka merasa aneh dengan laki-laki bertubuh kecil dan berkulit gelap itu, tetapi kemudian tidak mangacuhkannya. Mereka berpikir mungkin ia adalah pegawai Jawa atau nusantara dari kedua orang Cina itu.
__ADS_1
"Sebenarnya ada dua kapal yang sudah berlayar dahulu. Kami tidak yakin kapal mana yang diserang, yang jelas salah satunya berisi para penumpang dari Jawa pula. Kami sebenarnya hendak tak melibatkan diri, tapi tuan-tuan lihat sendiri bagaimana semangat dan keinginan orang-orang Lan Xang ini. Jadi, demi kebaikan tuan-tuan sekalian, lebih baik tuan-tuan masuk ke bawah geladak untuk berlindung. Mau tidak mau kapal ini, dan dua kapal lainnya akan sedikit mendekat ke kapal di depan sana. Para prajurit Lan Xang akan turun dengan menggunakan perahu," ujar salah satu dari dia awak Cina itu kepada Yu dan sang Laoya.
Keduanya mengangguk setuju.
Sejak sampai di Malaka, Yu sudah bersikeras untuk segera langsung saja melanjutkan perjalanan ke Siam. Inilah bukti bahwa takdir tidak berjalan lurus, bukan sebuah garis, melainkan sebuah lengkungan. Tidak akan ada yang dapat diketahui dari satu sudut takdir ke sudut lainnya. Lengkungan memainkan titik-titik kehidupan di setiap belokannya.
Setelah pergi ke kampung-kampung dengan kelompok Cina untuk mencari Laoya atau tokoh kepercayaan yang memiliki kemampuan gaib, pengobatan dan sejenisnya, Fong Pak Laoya terpaksa harus kembali memberikan berita yang tak enak didengar bagi Pratiwi dan Yu. Para Laoya dan tabib yang dikenal Fong Pak Laoya semuanya sedang berada di ibukota Ayutthaya. Mereka diminta untuk melakukan tugas-tugas yang terus terang tidak begitu jelas, bahkan bagi Fong Pak Laoya. Namun, pada intinya, tidak ada cara lain selain pergi berangkat ke Ayutthaya.
__ADS_1
Pratiwi memicingkan matanya ketika mendengar Yu menerjemahkan dan menjelaskan apa yang dikatakan salah satu awak Cina itu. Pratiwi bertanya-tanya apakah Jayaseta adalah salah seorang yang mungkin ada di kapal yang sedang diserang itu?