
Sepasang mata bulat Almira berbinar-binar melihat kakang angkatnya tersebut. Sudah entah berapa tahun sejak terakhir mereka bertemu, bahkan sebelum Almira dan ayahnya pergi meninggalkan Blambangan untuk pergi ke Mataram. Masa itu berkelebatan di pikirannya.
“Bagaimana tempat tinggalku di Blambangan, Kakang Sudiamara?” tanya Almira.
“Ah, nduk. Itu tidak perlu kau pikirkan. Setahuku, para pekerja ayah dan pamanmu melakukan tugas mereka dengan baik. Tidak perlu dipikirkan keadaan kenegaraan seperti itu. Kekuasaan bangun dan tumbang di dalam sejarah. Itu hal biasa. Tak perlu kau cemaskan,” ujar Sudiamara.
“Syukurlah bila memang seperti itu. Lalu, apa yang membuat kakang sampai kemari, dan bagaimana kakang bisa mengetahui dimana aku berada?” tanya Almira penuh selidik.
Sudiamara memandang Almira lamat-lamat, termasuk ke arah perutnya yang sudah mulai menunjukkan bentuknya.
“Bagaimana kandunganmu, nduk? Apakah kau mendapatkan kabar terbaru darinya?” tanya Sudiamara. Pertanyaan ini membuat Almira tersentak kaget. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Sudiamara mendadak datang dan mengatakan bahwa ia megenal suaminya. Apalagi Sudiamara sepertinya tidak terkejut mengetahui Almira sedang hamil.
“Bagaimana kakang dapat mengerahuinya?” ujar Almira tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
Sudiamara beranjak berdiri. Ia berkacak pinggang memandang ke arah pelataran. “Aku datang tidak hendak memberikanmu kabar baik, nduk. Sebaliknya, kabar buruknya yang harus kamu siap terima, suka tidak suka. Untuk itulah pula aku datang, sebagai bentuk rasa sayang dan pengabdianku kepadamu dan keluargamu yang tak pernah akan dapat aku lupakan,” jawab Sudiamara.
“Apa maksud Kakang? Aku sama sekali tidak bisa memahaminya,” lanjut Almira masih dalam keadaan terkejut yang sangat.
__ADS_1
Sudiamara berbalik arah untuk memandang lekat-lekat wajah Almira. “Dengarkan aku baik-baik, nduk. Jangan potong ucapan atau ceritaku. Berikan pertanyaan setelah aku selesai menjelaskan dan menceritakan semua. Apapun kebingunganmu akan aku usahakan untuk ringankan. Tetapi bebanmu setelah mendengar ini, aku tak bisa. Aku berharap saja kau bisa menerima dan mempersiapkan jiwamu,” ujar Sudiamara tegas.
Almira menatap balik wajah Sudiamara. Ia menghela nafas, menutup matanya. “Duh, Gusti. Berita apa yang akan Kakang Sudiamara sampaikan kepadaku hari ini? Apakah Kakang Jayaseta mendapatkan kesukaran dan kemalangan? Atau ada hal-hal lain yang membahayakan jiwa Kakang Jayaseta?” batin Almira di dalam hati. Almira membuka matanya, kembali menatap Sudiamara, kemudian mengangguk mantap. “Aku siap, Kakang Sudiamara. Ceritakanlah apa yang perlu enkau ceritakan,” ujar Almira tegas.
Kini Sudiamara lah yang menghela nafas panjang. “Nama asliku memang Sudiamara, nduk. Tapi aku juga memiliki julukan. Kau tahu bahwa selama ini aku bekerja sebagai seorang jawara, pendekar, tukang pukul dan prajurit penjaga bayaran. Banyak hal yang kulakukan demi mendapatkan bayaran. Namun juga, aku bukanlah orang sembarangan. Julukanku adalah Macanputih Blambangan. Beberapa mengatakan aku sebagai Macanputih Osing. Aku adalah salah satu dari sembilan Pendekar yang dipekerjakan oleh sebuah kelompok besar di nusantara maupun mancanegara bernama Dunia Baru. Kelompok ini bertujuan untuk menyatukan kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri yang sering bertikai dalam sebuah panji kekuasaan saja, yaitu Dunia Baru itu sendiri.”
Almira masih menyimak dengan kedua matanya yang membulat indah tersebut.
“Kekuatan Dunia Baru bagai kaki-kaki gurita. Kami mengetahui berbagai macam berita, kabar dan kisah bahkan pengetahuan tentang hampir semua hal di nusantara dan mancanegara. Kami paham dengan keadaan di dalam kerajaan, keadaan masyarakat, sampai permasalahan-permasalahan yang ada karena kami memanfaatkannya. Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu telah menjadi incaran kami sejak namanya mahsyur dan terkenal. Kami mengikutinya menggunakan kemampuan yang kami miliki serta sumber-sumber kami yang kaya. Untuk itulah kami tahu bahwa Jayaseta kemudian menikah denganmu, Almira. Termasuk kemudian menikah dengan Dara Cempaka, seorang perempuan Melayu dari tanah Tanjung Pura. Ia sudah beristri dua, nduk,” ujar Sudiamara mengecilkan
suaranya.
“Jayaseta telah sembuh. Ia adalah seorang pendekar adidaya yang hampir tiada tandingannya. Tapi sekarang, ia sedang melakukan perjalanan ke tanah Siam. Ini dikarenakan sang istri, Dara Cempaka, yang giliran terkena racun kutukan karena sebuah pertempuran dengan orang-orang asli pulau itu, nduk.”
Almira tersenyum lebar. “Jadi, Kakang Jayaseta telah sembuh? Sungguh kah itu, Kakang Sudiamara?”
Sudiamara mengernyikan keningnya. “Kau tidak marah Jayaseta memiliki istri lagi, nduk?” ujarnya heran.
__ADS_1
Mendadak wajah Almira menjadi murung. “Aku sekarang malah prihatin dengan keadaan istri Kakang Jayaseta gadis Melayu itu. Apakah ia akan baik-baik saja?”
Sudiamara tidak bisa menahan wajahnya yang terlihat kebingungan.
Almira kembali menghela nafasnya. “Begini, Kakang Sudamira. Akan aku jelaskan kepadamu bahwa Kakang Jayaseta adalah seorang pendekar. Aku setuju denganmu bahwa ia bukanlah seorang pendekar biasa. Kakang Jayaseta memiliki garis nasibnya sendiri yang digerakkan oleh semesta. Aku hadir cukup beruntung di dalam garis hidupnya. Aku tahu ia mencintaiku, dan juga sebaliknya. Tapi akan terlihat memikirkan diri sendiri bila aku menginginkannya untuk diriku saja, Kakang. Jangan pikir aku bodoh dengan mengatakan bahwa aku adalah jenis perempuan yang bisa diperbudak mudah oleh laki-laki. Asal kau tahu, Kakang Sudamira, aku adalah seorang Nyai. Aku memiliki usaha mendiang abahku, dan itu membuatku sebagai salah satu seorang perempuan kaya di tanah Jawa ini. Jadi, aku bukan perempuan yang diperbudak oleh laki-laki. Tapi di sisi lain, aku sadar betul siapa Kakang
Jayaseta dan apa yang diembannya di dalam kehidupan ini,” ujar Almira panjang lebar.
Sudiamara melongo tak bisa berkata apa-apa. Ia tak tahu Almira bisa memiliki jawaban semacam itu.
“Dan, anak yang aku kandung ini adalah bukti bahwa nasib dan takdir Kakang Jayaseta masih berjodoh denganku. Tak akan kubiarkan kecemburuan konyol meluluhlantakkan kejayaan Kakang Jayaseta,” tambah Almira. Sepasang mata bulat indahnya masih melebar menatap Sudiamara.
“Itu bukan puncak masalahnya, nduk. Aku akui aku terkejut karena mendapati bahwa kau tak cemburu, marah apalagi sampai murka ketika mengetahui bahwa Jayaseta telah menikah lagi. Di sisi lain, aku juga lega karena kau bisa menunjukkan kepadaku bahwa kau memang sudah memiliki kesiapan jiwa. Namun, sekali lagi, bukan itu masalahnya, nduk. Aku, sang Macanputih dari Blambangan, ditugaskan oleh Dunia Baru untuk membunuhmu!”
Almira yang tadi sudah melotot bersemangat langsung kembali duduk lemas. Ia mengelus perut dan kepalanya secara bersamaan. “Duh Gusti, apa lagi ini yang terjadi pada hidupku dan calong jabang bayiku?” ujar Almira.
Koncar melesat maju dan mengarahkan ujung tombaknya ke arah Sudiamara. “Bangsat! Aku mendengar apa katamu tadi. Sudah kuduga dari awal bahwa kau memang memiliki kejahatan di dalam dirimu. Aku akan bunuh kau sekarang juga!” seru Koncar sang pemimpin prajurit penjaga itu mengancam.
__ADS_1