Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Khun Wanchay Na Ayutthaya


__ADS_3

Datuk Mas Kuning menghela nafas panjang. Ia sama sekali tak menyangka dengan semua kejadian ini, bahkan tak terlintas dalam pikirannya.


"Aku yang memberikan ijin kepada orang-orang dari tanah seberang untuk bekerja dengan bebas di tanah Sukadana. Aku pula yang memperbolehkan mereka menyusul kau, Dara, dan Jayaseta ke tanah Temenggung Beruang," ia menggelengkan kepala penuh keprihatinan. "Aku tak menuduh semua orang Jawa yang datang ke Sukadana memiliki maksud buruk. Bila aku seperti demikian, aku tak ubahnya dengan para pejabat Sukadana yang bertentangan dan memenjarakanku. Namun, aku harusnya lebih peka dan lebih bertanggungjawab dengan segala keputusanku," ujar sang Datuk penuh rasa bersalah.


Luka-luka di tubuh sang Datuk sudah terlihat sangat membaik. Bahkan pada dasarnya, untuk orang berumur seperti Datuk Mas Kuning, kecepatan pemulihannya sangat mengagumkan.


Kesedihan dan penyesalan sang Datuk datang berlipat ganda karena mengetahui rombongan yang berangkat ke kampung berbenteng kayu ulin itu berkurang hampir seluruhnya.Masa lalu sang Datuk kembali pada usianya yang telah senja ini. Tewasnya Karsa, kabar mengenai kematian sang sahabat lama, Temenggung Beruang, serta sang cucu yang terkena ilmu sihir jelas membuat rasa sedih yang menyerang bertubi-tubi.


Tak banyak yang bisa kembali disampaikan untuk mengurangi rasa kekecewaan itu. Bagaimanapun semua juga merasakan hal yang kurang lebih sama.


"Namun bila itu yang memang sudah menjadi garisan Yang Maha Kuasa, aku sebagai manusia tak bisa melakukan apa-apa kecuali menjalani dan menghadapi apa yang yang ada di depan kelak," ujar sang Datuk berusaha kuat. Bukan mengapa, usianya yang sudah tak muda ini, ia harusnya menghabiskan banyak waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, keadaan berkata lain. Ia nampaknya harus membayar hutang di masa mudanya yang penuh dengan gejolak dan semangat membara.


"Kita harus memusatkan diri pada penyembuhan Dara," lanjut sang Datuk.


***


Cuca Bangkai bisa dibaca sejak masa kerajaan Daya Sidiniang yang terletak di pegunungan Sangkiang yang dipimpin oleh seseorang bernama Patih Gumantar dan berdiri pada tahun 1340 Masehi. Patih Gumantar memiliki hubungan yang erat dengan Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.


Di masa itu pula, Kemaharajaan Tartar yang dipimpin oleh Toghon Temür Khan, yang sudah menguasai hampir separuh isi bumi, masih penasaran untuk bisa menguasai negeri-negeri di sekitar Nusantara.

__ADS_1


Bangsa Tartar menguasai Cina dan membentuk Wangsa Yuan. Pada masa kakeknya berkuasa, yaitu Kubilai Khan, kemaharajaan Tartar sedang pada masa jayanya, walau serangan ke Jawa yang saat berada dalam pergantian kekuasaan dari Singasari ke Majapahit serta kerajaan-kerajaan tetangga seperti Dai Viet, Champa, dan Bagan negeri orang-orang Burma gagal.


Maka pada masa Toghon Temür Khan, ada usaha untuk kembali mencoba menundukkan kerajaan-kerajaan tersebut .


Dalam rangka memenuhi sumpah sang Mahapatih, yaitu Amukti Palapa yang diucapkan pada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amungkubhumi Majapahit tahun 1336 Masehi, menyatukan wilayah Nusantara di bawah panji-panji kerajaan Majapahit serta menahan laju kekuatan Kemaharajaan Tartar, sang Patih meminta bantuan Patih Gumantar untuk pergi ke negeri orang-orang Siam yang saat itu baru saja masa peralihan dari kerajaan Sukhotai ke Kerajaan Ayutthaya yang berhasil menundukkannya.


Patih Gajahmada meminta bantuan Patih Gumantar khususnya dalam menghadapi para dukun ilmu sihir Tartar yang diikutkan dalam bagian dari para prajurit.


Para dukun tersebut meminta kekuatan dari pada dewa jahat yang disebut kelompok tengri hitam. Para dukun ini memiliki ilmu yang luar biasa. Mereka tidak langsung turun tangan dalam sebuah peperangan, namun memberikan mantra, jampi-jampi dan jimat agar pasukan Tartar tidak dapat sakit, tidak gampang terluka, cepat sembuh dari cidera, memiliki keberanian tanpa rasa takut sedikitpun, serta bergerak lebih cepat dan kuat.


Menghadapi ilmu sihir haruslah dengan ilmu sihir. Patih Gumantar dengan kekuatan Cuca Bangkai nya yang luar biasa dibantu beberapa prajurit Daya pilihan, menyebrangi lautan bersama pasukan Jawa Majapahit di bawah pimpinan Patih Gajah Mada, melawan para dukun, membuat pasukan Tartar melemah bagai mayat hidup.


Pertarungan tak terelakkan, namun terbukti prajurit Tartar bukan orang-orang yang bisa dianggap remeh, apalagi para dukun. Patih Gumantar membutuhkan lebih banyak prajurit dengan ilmu sihir.


Patih Gajah Mada kemudian memiliki pemikiran untuk mencoba meminta bantuan prajurit dan orang-orang sakti Ayutthaya yang mampu menguasai ilmu sihir Cuca Bangkai tersebut.


Bagi Majapahit, kerajaan-kerajaan tetangga mancanegara di negeri Siam yang disebut pada masa itu seperti Syangka, Darmmanagari dan Ayodhyapura yaitu nama kuno sebutan Majapahit untuk Ayutthaya adalah mitra satata. Maksudnya kerajaan-kerajaan itu adalah sahabat Majapahit yang sejajar, bukannya daerah taklukkan, selain kerajaan-kerajaan lain seperti Champa dan Kamboja, negeri orang-orang Khmer.


Raja Majapahit keempat, Hayam Wuruk, naik tahta pada tahun 1350 Masehi dengan gelar Sri Rājasanagara dan tak lama kemudian masuk ke dalam masa kejayaannya. Sedangkan kerajaan Ayutthaya terbentuk setahun setelahnya, yaitu pada tahun 1351 Masehi dengan raja pertamanya, U-Thong atau bernama lain raja Ramatibodhi Pertama.

__ADS_1


Jadi jelas, permintaan bantuan orang-orang pilihan untuk dapat menguasai Cuca Bangkai segera disambut baik dan dicoba untuk dipenuhi oleh raja U-Thong.


Dari puluhan prajurit Ayutthaya, akhirnya ada lima orang saja yang mampu menguasai Cuca Bangkai, sisanya banyak yang menyerah, terluka, bahkan terpaksa harus tewas tak kuat mempelajari ilmu sihir tersebut.


Perang kembali berlanjut, sehingga pasukan Tartar pun akhirnya didesak mundur dari gerbang negeri Siam. Dukun mereka kewalahan menghadapi Cuca Bangkai, sedangkan pasukannya yang banyak terkena sihir sehingga tak dapat bertarung layaknya prajurit sejati, harus tewas di tangan para prajurit Jawa, Daya dan Siam.


Kekalahan pasukan Tartar ini juga sebenarnya diperparah oleh lepasnya banyak daerah kekuasaan mereka di Cina oleh Maharaja Han Cina Lin'er dan Xu Shouhui dan beragam pemberontahan serta serangan wangsa Ming.


Kekalahan dan terusirnya bangsa Tartar dari tanah Siam ini tetap memberikan dampak buruk bagi pasukan gabungan Jawa, Daya dan Siam. Terutama Patih Gumantar yang kehilangan lebih dari separuh pasukan, bahkan pasukan sihirnya hanya tersisa satu orang, sama dengan lima orang prajurit Ayutthaya yang tersisa satu pula.


"Dengan tewasnya Patih Gumantar di tangan orang-orang Biaju, maka penguasa ilmu sihir dari tanah orang-orang Daya itu bisa dikatakan menghilang. Namun setelah mendapati cerita kalian bahwa ilmu sihir Cuca Bangkai kemudian dipakai oleh salah seorang Panglima penting Biaju, bisa jadi saat itu penaklukkan Sidiniang, orang-orang Biaju ada yang mampu mempelajarinya, dari satu prajurit Daya yang masih selamat. Ilmu itu terus diturunkan sampai ke sang panglima," ujar Datuk Mas Kuning.


"Namun, ia telah tewas, Datuk. Bila yang Datuk maksud adalah mencari penyembuhan dari orang yang menguasai ilmu sihir tersebut, nampaknya kita akan menemukan jalan buntu. Tidak mungkin rasanya mencari orang Biaju untuk dimintai pertolongan, apalagi mereka jelas memusuhi suku Daya di bawah pimpinan Temenggung Beruang," timpal Jayaseta.


Datuk Mas Kuning mengangguk-angguk setuju. "Benar, kita tak bisa meminta bantuan orang-orang Biaju, namun kita masih memiliki harapan di Ayutthaya," jawab sang Datuk. Ruangan itu menjadi penuh dengan bisik-bisik.


"Temenggung Beruang kerap bercerita kepadaku mengenai keturunan satu orang prajurit yang menguasai ilmu sihir Cuca Bangkai tersebut. Bahkan kabarnya, ia memang menciptakan budaya dalam keluarganya untuk melestarikan Cuca Bangkai secara turun temurun. Akupun akhirnya mengikuti berita mengenai keturunan sang prajurit Ayutthaya tersebut tanpa putus. Kabar terakhir, sekitar tiga tahun yang lalu, keturunan satu-satunya dari garis darah moyang sang prajurit adalah seorang laki-laki bernama Wanchay. Ia tinggal di Ayutthaya, hidup sebagai priyayi atau bangsawan yang dikenal dengan Khun Wanchay Na Ayutthaya, atau Tuan Wanchay dari Ayutthaya," jelas sang Datuk panjang lebar.


"Hamba akan kesana, Datuk. Hamba akan mengunjungi Ayutthaya." ujar Jayaseta yakin. "Tapi, ada yang perlu hamba lakukan dahulu sebelum perjalanan panjang ini kembali hamba lakukan. Hamba ingin menikahi Dara Cempaka, Datuk."

__ADS_1


Semua orang di dalam ruangan itu tak dapat menahan keterkejutan mereka, termasuk rasa senang, atau bingung, atau ketidaktahuan mereka.


Dara Cempaka mendongak, namun kemudian menunduk kembali, menutup mata, campuran rasa bahagia, bingung dan campur aduk beragam rasa lain. Datuk Mas Kuning menatap sepasang Jayaseta dan menemukan kemantapan di dalamnya.


__ADS_2