Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bumi Kenyalang


__ADS_3

Saat itu sudah menjelang malam. Temenggung Beruang mengundang Jayaseta ke bangunan rumah pribadinya yang dibangun di atas tiang-tiang yang kekar nan tinggi menjulang di atas tanah. Saking tingginya, bahkan kolongnya juga dapat digunakan untuk beragam kegiatan masyarakat.


"Aku ingin kau ambil mandau ini, Jayaseta. Peninggalan asli, senjata pertama yang ditempa dan digunakan Man Da U sendiri. Sudah beratus tahun senjata ini berpindah tangan ke beragam suku, berkubang darah, mengering dan sampai di tanganku," ujar Temenggung Beruang sembari memberikan mandau yang masih tersarungkan rapi. Rambut-rambut musuh yang menghiasi hulu dan warangkanya berkibar-kibar tertiup angin malam.


Sepasang mata Jayaseta terbelalak tak percaya. "Tapi, Temenggung, apa maksud Temenggung? Bukanya mandau ini adalah pusaka yang berharga, lambang dari kehebatan suku dan kampung Temenggung pula?"


Sang Temenggung terkekeh. "Kau sebagai seorang pendekar pasti tahu dengan benar bahwa sebuah senjata adalah benda mati. Ia bisa tua, berkarat, buruk, patah dan rusak. Tombak Kyai Ageng Plered yang melukaimu memiliki kekuatan oleh karena sang pengguna, atau tenaga-tenaga di luar senjata yang dimasukkan ke dalamnya. Begitu pula mandau ini. Ia sudah tua, hanya hebat bila si empunya juga sakti dan lihai menggunakannya."


Jayaseta masih memandang lekat-lekat senjata itu, namun belum berani memegangnya.


"Ayo, ambillah, Jayaseta. Akan kujelaskan mengapa kau berhak membawanya. Lagipula, tak perlu kau puja senjata itu. Ia hanya digunakan untuk membantu kita melawan musuh, membunuh atau membela diri, namun tak ada bedanya dengan alat untuk memotong rumput, pohon atau memyembelih hewan."


Jayaseta meraih senjata yang diserahkan kepadanya dengan ragu, namun sang Temenggung memberikannya mantap.


"Aku berencana untuk membawa warga kampung meninggalkan wilayah ini menuju ke arah barat laut," ujar sang Temenggung singkat. Tentu saja Jayaseta kembali terkejut dengan ucapan sang Temenggung tersebut.


Memang pada awal tahun-tahun ini, dimulai sejak beberapa tahun yang lalu - 1630 Masehi, para Iban mulai berbondong-bondong pergi ke barat laut pulau Tanjung Pura. Mereka pergi ke sebuah wilayah yang dikuasai Kesultanan Brunai sejak abad ke-16 Masehi dan disebut Bumi Kenyalang dan kelak disebut sebagai Serawak.


Temenggung tahu betul bahwasanya di kepala Jayaseta ada terlalu banyak pertanyaan berseliweran. Maka ia langsung menceritakan semuanya.

__ADS_1


Temenggung Beruang mulai dengan menceritakan pengalamannya sewaktu masih begitu belia, ketika sebagai orang Daya, ia juga dituntut untuk mampu berkelana, berpetualang, sembari mencari ilmu untuk mendapatkan kehormatannya sebagai anak dari seorang kepala suku. Saat itu ia bahkan sampai pergi ke wilayah kerajaan Sambas yang mula-mulanya berdiri sekitar abad ke-5 hingga abad ke-7 Masehi, hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Batu Laras di Hulu Sungai Keriau yaitu sebelum berdirinya Kerajaan Tanjungpura yang besar dan menjadi taklukkan kerajaan Majapahit di pulau ini.


Pada abad ke-14 Masehi, Sambas adalah sebuah negeri yang diperintah oleh Raden Janur dengan pusat ibu kotanya berada di Paloh. Seperti diketahui, kerajaan ini dikenal sampai ke pulau Jawa setidaknua sampai datangnya pasukan Majapahit mulai tahun 1350 sampai 1364 Masehi, dimana mereka berlabuh di sebuah pantai di wilayah kerajaan Sambas bernama Jawi.


Dengan datangnya pasukan Majapahit maka kekuasaan Raden Janur berakhir, sehingga dapat dikatakan sejak saat itu berdirilah Kerajaan Hindu Sambas yang sangat dipengaruhi oleh Majapahit.


Menurut kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 Masehi, pulau Tanjung Pura bagian barat ini telah menjadi taklukan Majapahit, bahkan sejak jaman Singasari yang menamakannya Bakalapura. Sedangkan menurut catatan kesultanan Banjar, negeri Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di sepanjang Sungai atau Batang Lawai pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar bahkan sejak jaman Hindu.


Kemudian Kerajaan Islam Sambas atau yang disebut Kesultanan Sambas berdiri pada paruh kedua pertengahan abad ke-17 Masehi dengan Raden Sulaiman tercatat sebagai sultan pertama Kesultanan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Shafiuddin. Pusat pemerintahan Kesultanan Sambas ini adalah di tempat yang baru di dekat muara Sungai Teberrau yang bernama Lubuk Madung. Sambas dikenal sebagai sebuah negeri yang memiliki penguasa jauh sebelum berdirinya kesultanan tersebut pada tahun 1630 Masehi.


Walanda mulai mendarat di Tanjung Pura pada tahun 1598 Masehi, namun baru mulai menunjukkan kekuasaan dan penjajahannya pada abad ke-17 Masehi dimana Walanda dan Britania Raya bersaing berusaha untuk menguasai perdagangan. Maka pada tahun 1609 Masehi, Kerajaan Sambas menjadi daerah dibawah lindungan kompeni VOC Walanda.


Di Kerajaan Sambas inilah Temenggung Beruang bertemu dengan Datuk Mas Kuning, bersaing namun juga kemudian bersahabat dan berkerabat di bawah guru seorang Cina Hui Muslim, Ma Ying.


"Tapi, Temenggung. Bukannya aku menolak adat dan kepercayaan kampung ini yang telah dilaksanakan entah berapa lama. Namun bukankah ada beberapa hal yang kadang memang tak bisa digunakan lagi, entah karena sudah usang, entah karena demi kepentingan lain yang lebih tinggi. Misalnya, sebut saja mengenai Punyan. Aku rasa, tanpa harus mengembara keluar kampung seperti leluhurnya, ia tetap akan menjadi seorang pemimpin yang hebat. Termasuk pernikahan antara Punyan dan Kumang. Bukankah ada cinta yang lebih besar dari segalanya?"


Temenggung terkekeh lagi. "Aku tak tahu soal itu, pendekar muda. Yang jelas, serangan ke kampung ini semakin sering dan semakin membawa korban lebih banyak, tak peduli seberapa kuat perlawanan, pencegahan dan pertahanan kami. Dewa-dewa juga tak lagi banyak berbicara. Kami harus meninggalkan tanah ini, memberi ruang untuk masa depan yang baru. Apalagi ada pelanggaran adat lagi di tanah ini," ujar Temenggung memelan.


"Ada pelanggaran adat lagi? Maaf, bila tak lancang bertanya, pelanggaran apakah itu, Temenggung?"

__ADS_1


"Kapan kau akan menikahi Dara Cempaka, Jayaseta?" tanya balik Temenggung Beruang tiba-tiba sembari menatap sepasang mata Jayaseta tajam.


Pertanyaan mendadak sang Temenggung tak pelak membuat Jayaseta terkejut. Namun kemudian ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan tersebut. Ia bahkan mencoba sedikit tertawa. "Kapan Punyan mengatakannya kepada Temenggung?" ujarnya.


"Kau tahu pasti bukan itu yang kumaksud. Kau dan Dara Cempaka pada dasarnya telah melakukan sebuah tindakan yang aku percaya tidak akan diamini oleh adat dan agama apapun, pendekar," balas sang Temenggung.


Jayaseta merasa tubuhnya dingin. Ia merasa begitu malu. Ia kalah sama sekali. Ia adalah seorang pendosa, bagi Dara Cempaka, bagi Almira dan yang lebih parah, bagi kampung ini.


"Jangan keliru melihat ini, Jayaseta. Aku sudah terlalu banyak melanggar aturan. Tindakanmu juga bukan sebuah tindakan yang tak pernah kulakukan," kata sang Temenggung sembari tersenyum. "Namun, bagaimanapun bebanku sudah terlalu banyak dan menumpuk, Jayaseta. Kau sangat ... Sangat istimewa. Tentu dalam keistimewaan itu lahir pula hal-hal yang membuatmu dapat salah jalan, khilaf atau tersesat. Tapi yang penting kau harus bisa kembali ke jalur dan terus berjalan. Maka, kuberikan mandau ini sebagai perlambang meninggalkan hal lama, bagiku dan orang-orang kampung, dan lembaran baru bagimu dan Dara Cempaka."


Jayaseta hampir tak berani memandang keteduhan mata sang Temenggung.


"Andai disini ada penghulu sesuai dengan agama dan kepercayaanmu, sudah pasti besok pagi kau kukawinkan, Jayaseta," lanjut Temenggung Beruang sembari tertawa ringan.


"Kau harus meninggalkan kampung ini secepatnya, Jayaseta. Besok kau masih akan kuijinkan tinggal dan bersiap-siap, namun lusa, aku ingin kau sudah pergi. Jangan salah paham, ini bukan pengusiran. Tiada yang tak senang kau ada di sini, bahkan Punyan begitu bersemangat. Namun, pekerjaanku dan keperluanmu telah selesai. Kutukan tenaga dalam telah hilang selamanya. Itu patut kau rayakan, bukan? Selain itu, kami juga harus meninggalkan tempat ini, maka banyak yang harus kami bicarakan dan lakukan. Dengan adanya tamu, aku khawatir kami tidak benar-benar dapat ....,"


"Aku paham, Temenggung. Aku paham segala ucapan Temenggung," potong Jayaseta sembari menundukkan kepalanya.


"Aku akan menikahi Dara Cempaka sesegera mungkin sesampainya di Sukadana. Kami berdua bagaimanapun memiliki rasa yang sama. Aku tak mau Temenggung merasa bahwa aku kurang tanggung jawab dan tak ksatria. Dan aku akan pulang kembali ke Sukadana sesuai waktu, besok lusa," ujar Jayaseta. Semua kata-katanya diucapkan dengan sungguh-sungguh dan Temenggung Beruang dapat membacanya.

__ADS_1


Sang Temenggung menepuk bahu Jayaseta perlahan dan terkekeh untuk kesekian kalinya. "Mari kita masuk. Tak kau ciumkah bau ikan dan pelanduk bakar itu? Sudah saatnya kita mengisi perut." Keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan makan di bangunan rumah panjang tersebut.


Hawa malam semakin menusuk, namun tak terasa sama sekali oleh kedua adik-beradik, Kumang dan Jipen yang berdiri memandang Temenggung Beruang dan Jayaseta dari balik pepohonan di bawah sana dari tadi, tersembunyikan kegelapan pekat dan rerumputan. Wajah mereka menunjukkan sebuah rahasia besar yang tak terbaca sama sekali.


__ADS_2