Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Topeng Buta Merah


__ADS_3

Para gerombolan bertopeng merah menunjukkan keresahannya. Mereka adalah orang-orang bawahan kelompok Jarum Bumi Neraka yang memiliki keahlian khusus dalam hidang pembunuhan rahasia dan telik sandi, bukannya perang tanding secara langsung. Ada orang-orang lain di dalam kelompok yang sama yang dilatih dan ditugaskan khusus untuk bertempur berhadap-hadapan, tapi jelas bukan mereka.


Sang pemimpin mengendus rasa takut yang mengambang di udara.


Memang benar bahwasanya ia ditugaskan memimpin pasukan pengecut ini dalam rencana membunuh Almira, namun kelompok tersebut memiliki bentuk kepemimpinan dan perintah yang cukup rumit.


Tidak ada yang benar-benar berada di atas yang lainnya. Semuanya mengabdi kepada kepentingan Walanda Kompeni Betawi sekaligus diri mereka sendiri.


Ini dapat dimaklumi karena dari awal pembentukan Jarum Bumi Neraka, mereka adalah kumpulan penghianat dan para jawara yang menginginkan kekuasaan serta uang.


Tak lama tujuh pengawal Almira bermunculan dari balik pepohonan.


"Bagus. Para bang*sat ini rupa-rupanya memutuskan untuk menyerahkan nyawa mereka!" tukas Jaka Pasirluhur demi melihat gerombolan bertopeng itu berdiri menyebar di berbagai tempat.


"Kalian bertujuh, kami juga bertujuh. Sebuah kebetulan yang tak disangka-sangka. Tepat tak kurang tak lebih, satu nyawa berada di tangan setiap orang," ujar Jaka Pasirluhur kemudian.


Para pengawal rekan-rekannya pun tak menampik ucapan Jaka Pasirluhur. Tombak mereka tergenggam erat di tangan.



"Tuan, apa tuan pikir kami harus menghadapi mereka? Lalu siapa yang akan melapor kepada Nyai Pratiwi cucu tuan?" bisik salah satu gerombolan bertopeng buta merah tersebut. Terlihat nyata bahwa mereka ciut nyarinya. Apalagi terbukti Jaka Pasirluhur tidak hanya berhasil menyelamatkan Almira, Nyai mereka, namun juga dengan cekatan menangkis hampir semua lemparan paku rahasia yang dilepaskan dengan keterampilan tertentu.


Orang yang dipanggil 'tuan' yang merupakan pemimpin mereka ini terkekah. Ia berkata keras-keras kepada para 'anak buahnya' namun sengaja ditujukan kepada rombongan pengawal Almira, "Kalian pergi dari sini wahai para pengecut. Biarkan si renta ini menghadapi para cecunguk ini. Kalian masih muda, masih bisa menghabiskan waktu kalian untuk berfoya-foya, mabuk-mabukan dan main perempuan. Sekali pengecut tetap pengecut!"


Enam orang bertopeng buta merah celingak-celinguk saling pandang, mencoba yakin atas apa yang diucapkan sang tuan.


"Nah, maaf bila kalian kecewa tidak bisa berhadapan satu lawan satu. Tapi aku akan coba memuaskan kalian semua. Aku harap tujuh melawan satu pendekar lanjut usia ini tidak membuat harga diri kalian jatuh," ujar sang pemimpin gerombolan bertopeng. Kali ini kepadaa rombongan Jaka Pasirluhur.


Segera setelah mengatakan ini, enam orang bertopeng langsung mencelat berlari menjauh melarikan diri.


Tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan oleh para pengawal Almira. Mereka segera menyusul enam orang yang melarikan diri tersebut.


Tak diduga-duga, dengan kecepatan yang luar biasa, sosok renta di depan mereka menjejak tubuh satu pengawal, membuatnya ambruk, kemudian mencelat menghajar tengkuk satu pengawal lain serta menubruk satu orang lain dengan bahunya sehingga pengawal itu terpental menabrak sebuah pohon.


Para pengawal langsung awas dan memasang kuda-kuda, memusatkan perhatian pada sosok di depan mereka.


Rombongan kelompok bertopeng segera saja menghilang di balik pepohonan.


Jelas orang tua ini berbahaya dan tak bisa diremehkan walau perawakannya dengan celana kendur dan tubuh kurus keriputnya sama sekali tidak meyakinkan.


***


Si tua, sang pemimpin orang-orang bertopeng itu menghunus sebuah senjata tajam berlapis emas yang berkilauan tertimpa sinar obor dan lampu minyak temaram dari rumah-rumah penduduk di kejauhan yang menembus sela-sela pepohonan.


Senjata itu adalah sebuah kujang yang ia ambil dari balik pakaiannya yang menunjukkan keriput kulit dada dan tulang-tulangnya yang menonjol. Ini tentu tidak biasa karena dari logat dan caranya berbicara, sang sosok tua ini jelas bukan orang Sunda asli.


__ADS_1


Kujang adalah senjata yang akrab digunakan oleh pendekar-pendekar dari Tatar Sunda. Senjata ini memiliki tempat khusus dan dihormati di pulau Jawa bagian wetan tersebut.


Kujang sendiri tercatat mulai dibuat sekitar abad ke-8 atau ke-9 yang terbuat dari besi, baja dan bahan pamor.


Serupa dengan beragam senjata tajam di nusantara, awalnya kujang juga merupakan alat yang digunakan dalam kegiatan pertanian terutama pada masyarakat Jawa, seperti yang tertera pada naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian pada tahun 1518 Masehi.


Sesuai namanya, kujang yang berasal dari kata kudihyang, dimana kudi memiliki arti sebuah senjata sakti sedangkan hyang berarti dewa dewi. Maka ada juga anggap bahwa senjata kujang ini adalah kembangan dari senjata kudi, dimana keduanya dahulunya juga merupakan perkakas kerja dalam pertanian.


Kujang yang merupakan peralatan kerja itu juga melalui perkembangan dan pergeseran bentuk, kegunaan dan makna. Wujud baru kujang sebagai senjata diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12 Masehi.


Sebagai sebuah senjata berjenis belati, kujang memiliki sisi tajam dan bagian-bagiannya. Papatuk atau congo adalah nama bagian ujung tajam kujang yang menyerupai panah.


Eluk atau silih adalah istilah untuk lekukan pada bagian punggung belati, sedangkan tadah sebaliknya adalah lengkungan menonjol pada bagian perut. Ada pula mata yaitu lubang kecil yang biasanya ditutupi logam emas dan perak sebagai hiasan.


Bentuknya yang melengkung-lengkung ini memiliki beberapa kegunaan penting dalam sebuah pertarungan. Selain dapat merobek tubuh lawan, bagian bilang kujang yang cekung dapat mengunci senjata lawan.


Bahan baku kujang yang cenderung tipis, bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam ini membuat kujang dapat digerakkan dengan cepat untuk menusuk dan membabat musuh.


Tindakan sang tua renta yang menyerang para pengawal Almira dan mencabut kujangnya ini jelas merupakan sebuah ajakan untuk bertempur. Banjir darah tak akan terelakkan lagi.


"Si tua tak tahu diri ini memang cari mampus. Sudah, kita habisi saja, kita cincang beramai-ramai, lalu kita kejar sisanya," ujar salah satu pengawal Almira.


Jaka Pasirluhur hendak mencegah rekannya yang menggenggam tombak itu agar tak sembrono dan terburu-buru. Ia sadar musuh di depannya ini bukan orang biasa.


Terlambat!


Dengan ringan sosok bertopeng itu berkelit sembari mengangkat kujangnya.


Satu tombak terkunci di cekungan kujang di bagian gagang kayunya, sedangkan mata tombaknya dua jengkal dari kepala bertopeng tersebut.


Dengan sekali sentak, tombak itu berputar, digunakan untuk menangkis sodokan tombak yang baru datang kemudian.


PRAK!


Tombak dan tombak beradu.


Dengan satu gerakan luwes lagi, kedua tombak lepas dari tangan karena sebuah gerakan berputar sedemikian rupa.


Gerakan kedua lebih cepat dan mengejutkan. Satu sabetan panjang kujang menyobek paha kedua penyerang.


Keduanya ambruk dengan teriakan yang menyeruak ladang pepohonan tersebut.


Melihat ini, yang lain tentu tak tinggal diam. Mereka juga langsung maju serentak.


"Tunggu!" teriak Jaka Pasirluhur. Sayang ia kembali terlambat.


Sang renta menunduk, berputar, berkelit diantara pepohonan. Tombak menusuk-nusuk kesana-kemari namun tak mengenai sasaran.

__ADS_1


Sebaliknya dalam dua tiga gerakan, kujang menusuk dan menyabet para penyerang yang sebenarnya diunggulkan jarak mereka karena mengunakan tombak panjang.


Sebenarnya para pengawal ini bukan tak memiliki kemampuan silat yang mumpuni, namun mereka terlalu dibawa hawa nafsu untuk mengenyahkan penghalang ini. Karena bagaimanapun cecunguk-cecunguk pengecut yang melemparkan senjata rahasia berupa paku tersebut sekarang melarikan diri. Tentu mereka akan sangat berbahaya bila dilepaskan begitu saja.


Sayang, para pengawal tidak mempertimbangkan gerakan jurus dan kemampuan silat serta ilmu kanuragan lawan mereka yang sekilas terlihat rapuh ini.


Semua tusukan yang sambung-menyambung saling berbenturan satu sama lain, membuka rongga untuk musuh menghindar sekaligus menyerang.


Para pengawal juga langsung berjatuhan. Secepat itu gerakan sang tua renta ini dan juga karena kecerobohan dan nafsu para penyerang yang tidak mau mempertimbangkan kehebatan sang lawan.


Jaka Pasirluhur sudah curiga bahwa sang kakek bertopeng ini memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Ia juga terlihat sombong dan jumawa, karena Jaka Pasirluhur tahu pasti bahwasanya sang kakek bisa saja langsung menusuk dan membunuh para penyerang, namun ia hanya melukai mereka di berbagai tempat.


Kaki terluka sehingga seorang pengawal jatuh bersimpuh. Bahu tergores membuat serangan tombak lemah. Lengan sobek, membuat senjata jatuh.


Tak mau melihat kawan-kawannya dikerjai sosok itu, Jaka Pasirluhur maju membabatkan caluk nya menyibak kawan-kawannya yang berjatuhan.


Sang tua renta bertopeng mundur tiga langkah. Serangan pengawal yang terakhir ini bukan serangan biasa.


Senjata Jaka Pasirluhur yang tak kalah aneh dan khas dibandingkan kujangnya terlihat berat dan juga tetap memiliki keunggulan jarak.


Si kakek bertopeng menggeserkan tubuhnya ke samping dan merendah. Ia menusuk ke arah kaki Jaka Pasirluhur.


Yang diserang sudah awas dan paham akan gerakan musuhnya ini. Jaka Pasirluhur kemudian berguling ke depan.


Sang kakek tak kecewa karena serangannya lolos. Ia bangkit dan memburu dengan langsung memberikan tiga tusukan ke arah kepala dan dada. Kali ini sang kakek memutuskan untuk menghabisi Jaka Pasirluhur, bukannya bermain-main seperti yang ia lakukan kepada para pengawal Nyai Almira yang lain.


Lucunya, serangan sang kakek yang ditujukan untuk membunuh Jaka Pasirluhur ini malah membuka rahasia dibaliknya.


Jurus-jurus sang kakek yang seperti bermain-main melukai musuh itu mungkin sebenarnya memang adalah bagian utama dari gaya silat nya.


Maka ketika ia memutuskan untuk langsung membunuh musuh, Jaka Pasirluhur menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke rongga terbuka di jurusnya, membabat paha sang kakek dengan bagian beliung atau kapak di caluk nya kemudian membacok menyilang dari atas ke dada sang kakek.


BUG!


BUG!


Jaka Pasirluhur tersentak.


Caluk tajammya seperti membentur batu.


Sang kakek bertopeng terdorong mundur dan jatuh terduduk. Namun kurang dari satu tarikan nafas saja ia sudah kembali bangun.


Celana kendur dan bajunya tersobek, namun tak ada tanda-tanda luka luar yang terlihat.


Si kakek terkekeh, "Ha, ha, ha ... Kau lumayan juga ternyata karena bisa menyentuh tubuhku dengan senjatamu itu."


Ia kemudian melepas topengnya, melemparkannya dan meludah ke tanah. Wajah tuanya separuh tertutup bayangan pepohonan, sebagian tersinari oleh cahaya dari perumahan penduduk dari sela-sela pepohonan, namun Jaka Pasirluhur dapat melihat seringai mengerikannya.

__ADS_1


__ADS_2