
Tuan Rajo Intan mulai menggunakan jurus-jurus silat Langkah Empatnya. Langkah pertama, kedua serangan cakar Makkawaru dihindari dengan menggeser satu kaki ke belakang; langkah satu.
Tentu Makkawaru tak mau berhenti begitu saja, ia melancarkan serangan lanjutan. Dua serangan dalam satu gebrakan ke arah kepala Tuan Rajo Intan, satu tangan membentuk tinju sedangkan satunya lagi seperti menampar. Tuan Rajo Intan sekarang menggeser kedua kakinya dalam satu gerakan lurus kesamping agak jauh sembari menepis kedua serengan dengan kedua tangannya pula; langkah dua.
Makkawaru masih merasa bahwa musuhnya sekadar menghindar. Masalah seperti tak akan lama, pikirnya. Ia akan mempercepat serangannya, dan melakukan lebih banyak pukulan secara beruntun. Makkawaru lalu memberikan tinju dan siku berputar, sekali lagi dua serangan sekaligus dalam satu tarikan nafas.
Tuan Rajo Intan terlihat menggerakkan pinggulnya, seperti hendak kembali mundur dan menghindar. Makkawaru merasa ia sudah paham gerakan jurus lawan. Ia juga telah berencana memberikan serangan susulan yang menipu serta bertubi-tubi ketika nanti Tuan Rajo Intan berhasil menghindar kembali.
Sayangnya, Makkawaru salah besar. Tuan Rajo Intan bukannya mundur atau menghindar, ia malah maju menentang serangan. Kaki kanannya maju jauh dengan cepat menyeret kaki kirinya yang ada di belakang. Tinju Makkawaru tak sempat mengenainya, sedangkan siku berputar Makkawaru ditahan dengan punggung tangan Tuan Rajo Intan sebelum pukulan pendek namun bertenaga menghajar punggung Makkawaru yang belum sempat kembali ke kuda-kuda semula; langkah tiga.
BUG!!!
Makkawaru terdorong ke depan. Tulang punggungnya terasa nyeri. Dengan marah ia memutar tubuhnya menghadap Tuan Rajo Intan untuk membalas serangan. Tapi ia tak sempat melihat wajah musuhnya karena Tuan Rajo Intan maju sudah maju meluncur membenamkan sekaligus empat pukulan: wajah, dada, perut dan sikutan penutup kembali ke dada; langkah empat!
Makkawaru terlempar mundur dan jatuh tergeletak di lantai geladak kapal.
***
Semua awak paham bahwa Raja Nio tak ingin ada pertumpahan darah di atas kapalnya oleh sesuatu yang dapat menjadi permasalahan yang rumit dan kesalahpahaman.
Dua kapal besar hampir sebesar jung mereka menderu di atas air laut dengan latar belakang pulau-pulau kecil, menghimpit kiri dan kanan. Sedangkan kapal perompak sudah terlebih dahulu memepet lambung kapal.
Para perompak itu juga sudah berlompatan naik ke kapal. Sisanya yang masih di atas kapal mereka menembaki dengan bedil siapa saja yang hendak menahan rekan-rekan mereka naik ke jung Raja Nio.
"Mundur semua ... Mundur!" perintah Raja Nio kepada para awak dan pasukan pengawal kapal. "Tunggu sampai mereka naik, kemudian serang. Para pengawal dengan tameng di depan, kalian yang memegang kayu panjang dan dayung di belakang, berikan lapisan kedua. Sekali lagi, jangan gunakan senjata tajam. Para perompak itu hanya bersenjatakan belati yang mereka gigit. Yang berbahaya hanya para penembak bedil di kapal mereka," teriak Raja Nio.
Sebenarnya pada masa itu, setiap kapal atau jung besar yang berlayar jauh, bisa dipastikan memiliki pasukan dan persenjataan, termasuk meriam. Ini mengingat perjalanan yang jauh memungkinkan kapal-kapal tersebut terpaksa menghadapi bajak laut atau perompak. Tidak terkecuali jung Raja Nio ini.
Tapi, dalam keadaan yang mendadak dan rumit ini, Raja Nio jelas tidak ingin terlibat dalam pertikaian yang memusingkan dengan negeri-negeri serta bangsa-bangsa yang berkepentingan dan bertikai, apalagi, pertempuran ini terjadi dengan cukup ganjil, yaitu di laut dangkal dengan dengan pulau-pulau dan daerah kekuasaan beragam kerajaan dan negeri.
Belasan perompak bercawat, bertelanjang dada berkulit legam. Semuanya mengenakan topeng kayu yang membentuk binatang seperti kera atau mahluk aneh lainnya.
__ADS_1
Katilapan mengenal baik topeng-topeng itu. Ia berseru, "Mereka adalah orang-orang suku Mah Meri!"
Mengetahui ini, sang nakhoda Raja Nio membalas seruan Katilapan, "Jangan tertipu. Pikirkan saja bagaimana melumpuhkan mereka tanpa terkena tembakan dari kapal-kapal itu. Kita tak tahu pasti siapa mereka," tegasnya.
Kata-kata Raja Nio jelas masuk akal. Bagaimana mungkin suku Mah Meri yang berarti 'orang hutan' itu terlibat dalam sengketa ini? Mereka adalah suku-suku asli di kepulauan Melayu yang bukan merupakan orang Melayu. Mereka memang juga dikenal tinggal di pesisir dan merupakan para pelaut handal karena terpaksa hijrah dalam jumlah besar dari wilayah selatan Johor ke Selangor. Lalu apa urusan mereka?
Memang Selangor yang setelah tidak lagi menjadi bawahan Malaka menjadi rebutan Johor, Pranggi, Aceh bahkan kerajaan orang-orang Siam. Di Selangor sendiri juga banyak orang-orang Minangkabau yang berpengaruh di sana. Maka kerumitan ini semakin menjadi. Tapi yang jelas, nampaknya ada yang memainkan permainan kelas tinggi, sehingga bahkan orang-orang suku Mah Meri pun dibawa-bawa.
Katilapan juga kemudian sadar bahwa semua ini mencurigakan. Ia memandang Narendra. Yang dipandang mengangguk. "Kita tak perlu peduli siapa di balik topeng-topeng orang Mah Meri itu. Walau tak bisa menggunakan trisulaku, tanganku sudah gatal menghajar para perompak tak dikenal yang jelas ingin membuat sebuah fitnah keji dan kerumitan masalah," ujarnya.
Itu pula sebabnya Katilapan dan Narendra dahulu yang maju menghajar para perompak bertopeng itu. Katilapan meminjamkan satu tongkat rotannya kepada Narendra yang dengan gesit melompat melewati kepala para pengawal jung Raja Nio yang siap dengan tameng rotan mereka.
Katilapan dan Narendra menggebuk empat perompak dalam beberapa kali gebrak. Namun mereka bukan para pendekar yang gegabah dan jumawa, karena ketika tembakan dari kapal perompak mulai berhamburan, Katilapan dan Narendra langsung mundur.
***
Makkawaru bangun dengan harga diri terluka. Ia memandang ke arah Labussa yang memicingkan mata seakan mengirimkan pesan dan pertanyaan, "Kau yakin bisa mengalahkan orang yang terluka ini?" Seakan Labussa dan para pendekar pelaut Bugis mengejek dan memaksanya untuk segera menuntaskan permainan ini agar saudara-saudara mereka yang tewas di kapal bercadik mereka karena tembakan dari meriam di kapal ini dapat menemukan keadilan.
Makkawaru melesat menyerang Tuan Rajo Intan. Lagi-lagi dua serangn awalnya dihindari dan ditepis dengan menggunakan gerak jurus langkah satu dan langkah dua.
Makkawaru dengan cepat melapisi serangan ketiganya yang berupa pukulan dengan sisi telapak tangan dengan tenaga dalam. Kerasnya serangan itu membuat tangkisan langkah tiga Tuan Rajo Intan menjadi sedikit lemah. Ia terdorong ke belakang sehingga langkah empat gagal untuk diselesaikan. Tuan Rajo Intan harus mundur jauh menghindari dua serangan tambahan Makkawaru.
Tuan Rajo Intan tak sempat mengulang jurus-jurus langkah dua, karena Makkawaru menyerang secepat seekor hiu di lautan. Dua tinjunya menembus tepisan. Satu menubruk dada, sedangkan satunya lagi dialiri tenaga dalam telak mengajar bahunya yang terluka.
Tuan Rajo Intan jatuh berguling ke belakang. Darah mengalir merembes keluar dari kain bebatannya ketika ia berusaha bangkit.
Para pendekar dan pelaut Minangkabau, Bengkulu dan Rejang menarik nafas namun berusaha menahan diri. Mereka masih percaya kepada nakhodanya yang sakti itu.
***
__ADS_1
Raja Nio membabatkan tongkat panjangnya.
BLETAK!
BLETAK!
Dua kali sabetan menghajar kepala perompak yang sama. Topeng berbentuk kera nya lepas. Darah mengalir dari kepalanya yang terluka. Ia sendiri jatuh terjerembab tak sadarkan diri.
***
Datuk Mas Kuning memasukkan kembali kerisnya ke dalam sarungnya, walau haram hukumnya meloloskan keris tanpa meminta darah, pikirnya.
Ia menyelip keluar, menggunakan jurus silat gayong dan silat Pattani, meliukkan tubuhnya dengan gesit sembari dengan tangan kosong membanting satu perompak dan menginjak dadanya. Satu perompak lagi dihajar dengan lima pukulan beruntun hingga musuh jatuh kaku berdemum ke lantai kapal.
***
Jayaseta membelitkan dua selendang ke kedua lengannya. Ia tak memiliki senjata yang tak tajam, maka ia memutuskan menggunakan tangan kosong. Dua helai selendang itu bisa digunakan untuk menepis senjata tajam yang diarahkan kepadanya.
"Abang yakin akan turun bertempur?" ujar Dara Cempaka yang sudah mengeluarkan kipas besinya.
"Aku tak bisa berdiam diri seperti ini, Dara. Jung ini sudah berada di laut dangkal dekat pulau. Aku sudah tak mabuk lagi. Meski aku yakin dengan kemampuan Katilapan, Narendra, Raja Nio, Datuk dan para pengawal serta awak kapal, mana mungkin aku bersembunyi di sini," ujarnya.
Dara Cempaka mengangguk. "Pergilah abang Jayaseta. Adik pun sudah tidak apa-apa. Adik juga dapat menjaga diri," ujar Dara Cempaka.
Jayaseta langsung memeluk sang istri erat dan menciumi keningnya. "Aku tahu engkau mampu, Dara. Tapi demi aku, jangan terlibat pertempuran dahulu bila aku tak di sisi. Cukuplah di ruangan ini," ujar Jayaseta.
Dara Cempaka memandang kedua mata suaminya lekat-lekat untuk meyakinkannya kemudian mengangguk.
***
Jayaseta melompati geladak dengan lincah dan cekatan bagai seekor bajing. Tubuhnya dengan gampang ia aliri dengan tenaga dalam sehingga dapat bergerak bagai menggunakan ilmu peringan tubuh.
Ia memegang wajahnya, sadar tak memiliki penutup. Namun, tak berapa lama wajah tampannya bersinar. Di sela-sela peperangan, ia melihat beberapa topeng tergolek di lantai. Para perompak yang masih berdatangan naik ke jung dilindungi oleh tembakan bedil dari kapal induk perompak ini ternyata semuanya bertopeng.
__ADS_1