Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Terikat


__ADS_3

Sasangka merasakan kenyamanan berniaga. Ia sudah mendapatkan pelanggan, rekan kerja, serta jaminan kelancaran perdagangan ini. Ia tidak hanya bekerja dengan penduduk Cina, Jawa serta Melayu di Malaka, Sasangka bahkan sempat membuka kemungkinan hubungan perniagaan dengan orang-orang Siam. Pendek kata, beberapa masa di Malaka membuktikan bahwa ia semakin mahir berdagang. Babah Lau dan Lau Siufan pasti akan bangga padanya. Dua hari lagi, Sasangka akan berlayar pulang kee Betawi memberikan kabar baik ini. Bila Walanda akan benar-benar menggempur Pranggi Malaka dalam jangka waktu setahun kedepan, maka ia dan Babah Lau akan tetap medapatkan keuntungan, bahkan lebih besar.


Harusnya memang ia sudah akan pulang berlayar kembali sampai secara tak sengaja ia melihat sosok yang nampaknya ia kenal sedang berjalan di wilayah pelabuhan.


Ia melihat Narendra. Sahabatnya yang telah lama ia kenal.


Tapi ia tak begitu yakin. Bukan mengapa. Pertama, apa tujuan Narendra sampai jauh-jauh kemari? Apakah ia kembali bekerja di pelayaran? Alasan ini lebih dapat diragukan. Kedua, Sasangka paham bahwa Narendra sekarang hanya memiliki Katilapan sebagai teman mengembaranya. Namun, Sasangka tak melihat adanya orang itu. Ia pun sudah terlalu lama untuk mencoba melupakan dan tak memikirkan mereka.

__ADS_1


Jadi iapun berangkat meninggalkan pelabuhan menuju ke kampung Sabba dimana ia tinggal sekarang. Dua hari lagi ia akan pulang.


Wajah cantik Siufan sudah membayang di pelupuk matanya. Ia benar-benar ingin kembali ke pelukan perempuan Cina itu.


Tapi keinginan dan rencana Sasangka itu mendadak buyar. Dengan jelas ia kemudian juga melihat Katilapan berjalan dari pelabuhan. Tubuhnya yang penuh rajah walau ditutupi busana panjang Melayu sekalipun. Belum lagi giwang besar dan ginunting yang terselip di pinggangnya.


"Berarti benar Narendra yang aku lihat tadi. Lalu, apa kah berarti Jayaseta ada di sini pula?" tanya nya dalam hati. Ada gemuruh rasa aneh di dalam dadanya. Dendam, kemarahan, kekecewaan dan entah apa lagi. Yang jelas, Sasangka merasa ia harus mencari tahu apa gerangan urusan mereka di sini, dan benarkah Jayaseta juga ada di Malaka.

__ADS_1


Fong Pak Laoya, Yu dan Pratiwi telah memulai perjalanan mereka. Pratiwi kembali mengenakan pakaian bergaya pria. Tubuh mungilnya dibungkus pakaian bergaya campuran Jawa dan melayu untuk mengaburkan perhatian orang di perjalanan. Apalagi ikat kepala tebal dan tingginya. Yu dan Fong Pak Laoya berpendapat bahwa dengan tanpa mengenakan pakaian khusus, Pratiwi tidak akan terlalu diperhatikan. Orang-orang akan berpikir bahwa ia adalah sekadar pembantu dua orang Cina yang jelas tak perlu menyamar karena gambaran wajah mereka tak mungkin menipu orang lain.


Yu dan Fong Pak Laoya mengenakan pakaian Cina yang sudah berbaur dan dipengaruhi budaya nusantara. Pratiwi, sang pembantu pribumi, ikut dengan mereka di belakang, hampir selalu tersembunyi. Sebuah jung sudah siap berangkat besok bersender di pelabuhan Sukadana.


Kehidupan memang semakin menantang, terutama bagi Yu yang harus bepergian jauh sekali lagi, dan perjalanan ini bisa dikatakan berbahaya. Pratiwi mungkin adalah seorang pendekar perempuan yang sudah makan asam garam pertempuran demi pertempuran, namun tidak dengan keadaannya sekarang yang lemah dan payah. Tak membutuhkan pendekar besar untuk bisa mengalahkan bahkan membunuhnya. Perampok biasa pun mungkin akan menyulitkan dan membuatnya berada dalam bahaya.


Tapi, kehidupan juga membawakan kebahagiaan bagi Yu. Tadi malam, sebelum tertidur, Pratiwi membisikkan kata-kata ini, "Yu, kau harus menjagaku. Kau adalah suamiku. Melindungiku dengan nyawamu. Dan sebagai seorang istri, itu pula yang akan aku lakukan."

__ADS_1


Cara mengucapkan kata-kata itu memang dingin dan cenderung kejam, tapi itu hanya cara seorang pendekar perempuan berbicara. Tapi makna di dalam kata-kata itu jelas menunjukkan sebuah perasaan yang sungguh-sungguh dan diinginkan Yu. Pratiwi jujur bahwa ia sudah terikat dengan Yu yang sekarang sudah menjadi suaminya. Tanggung jawab tidak hanya dari dirinya, namun Pratiwi dengan gamblang sudah mengatakan bahwa ia juga akan melakukan hal yang sama kepada Yu.


Kebahagiaan membuncah di dalam dada Yu. Tanpa diminta pun, ia pasti akan melakukan apapun demi sang istri. Pratiwi bahkan membiarkan tubuhnya dipeluk dalam tidur oleh Yu.


__ADS_2