Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pengait


__ADS_3

"Aku akan membawa kalian ke Malaka dahulu. Aku tahu kalian keberatan bila aku harus ikut rombongan ke Ayutthaya, tapi ada beberapa hal yang perlu kalian ketahui sebelum nekad berangkat tanpaku," ujar Datuk Emas Kuning segera sebelum Jayaseta, Dara Cempaka atau yang lainnya mulai menunjukkan keberatannya.


"Aku memang sudah tua. Perjalanan jauh menyebrangi lautan bukanlah menjadi pilihanku lagi, apalagi kalian semua tahu aku baru saja terluka dan masih dalam masa penyembuhan dan pemulihan. Tapi, aku paham benar perjalanan melalui negeri Melayu seperti Kerajaan Johor, Malaka yang dikuasai Pranggi, sampai Pattani dan Ayutthaya," lanjut Datuk Mas Kuning.


Dugaannya jelas tepat, Jayaseta tak tahan untuk menentang maksud dan rencananya. "Tapi Datuk. Datuk lihat sendiri bahwa hamba tak berangkat sendiri. Ada banyak teman-teman hamba yang berangkat bersama. Hamba memiliki sumber daya yang luar biasa. Datuk juga pasti ingat bahwa hamba sudah melakukan perjalanan semacam ini, mencari pengobatan atas luka hamba seorang diri, maka hal semacam ini tak akan begitu berbeda," ujar Jayaseta.


Datuk Mas Kuning menggeleng dan tertawa kecil. "Itu ketika kau berangkat sendirian, Jayaseta. Sebagai seorang pendekar, yang kasarnya bisa dikatakan, tak ada ruginya. Namun, kali ini, kau bukan bertindak untuk diri sendiri, ini untuk istrimu, cucuku, Dara Cempaka."


Jayaseta tersentak dengan kata-kata sang Datuk yang tak bisa dibantah kebenarannya. Ia tersadar akan betapa berbedanya perjalanan kali ini.


"Dara mungkin memang mampu menjaga diri sendiri. Ia menguasai bela diri dengan cukup baik, kau menjadi saksinya, bukan, Jayaseya? Tapi taruhlah ia memang seperti itu, lalu bagaimana bila ilmu sihir itu kembali kambuh dan menyerang Dara di saat yang tak tepat?" ujar sang Datuk.


Jayaseta dan Dara Cempaka saling berpandangan. Jelas, Jayaseta merinding membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya itu.


"Baiklah Datuk. Lalu bagaimana rencana Datuk?" Jayaseta membuka kesempatan ini untuk mencari keputusan yang tepat bagaimana baiknya.


Datuk Mas Kuning berdehem. Semua orang di dalam ruangan memantau dengan khidmat dan mempersiapkan diri dengan apa yang akan diucapkan sang Datuk.


"Seperti yang kukatakan, kita akan melewati negeri Melayu. Dimulai dengan keberangkatan kita ke Kerajaan Melayu Johor Riau. Kita akan berkunjung ke rekan dan sahabat-sahabat lamaku di sana untuk mendapatkan perbekalan dan senjata atau berita dan penerangan yang penting mengenai arah dan jalur perjalanan kita," lanjut sang Datuk.


"Senjata? Maksud Datuk?" tanya Dara Cempaka. "Dara paham bahwa perjalanan ini akan memakan waktu dan menghadapi banyak masalah, termasuk kekerasan dan pertempuran. Bahkan ketika kita sampai di Ayutthaya nanti, belum tentu orang yang akan kita temui bersedia membantu Dara dan abang Jayaseta serta rombongan. Namun, untuk apa mempersenjatai diri kita lebih, Datuk? Toh kita tetap membawa senjata seperti layaknya para musafir di nusantara."


"Benar, Datuk. Bukankah akan lebih baik datang dengan damai dibanding sengaja memancing perkelahian?" kali ini malah Narendra yang menyumbangkan pendapatnya.

__ADS_1


Katilapan juga urun rembuk, "Kami pernah melewati selat Malaya, berlayar dan bepergian ke tanah orang-orang Melayu. Memang bajak laut Bugis, Melayu,Jepun dan Cina banyak betebaran di sana, Datuk. Belum lagi perampok di tengah jalan, atau masalah-masalah lain yang bila diurutkan mungkin tak ada habisnya. Kita jelas mungkin sekali akan berhadapan dengan mereka. Bukan berarti kami takabur dan tak khawatir, tapi dengan Jayaseta telah sembuh, begitu pula dengan tambahan rombongan, aku rasa kita tak memerlukan senjata yang berlebihan. Bukan begitu, Datuk?"


"Kalian tak paham," ujar sang Datuk sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, terutama pada orang-orang yang jelas akan mengikuti rombongan. "Kita bukan akan menghadap seorang tokoh bijak, atau tua lemah renta sepertiku, atau seorang tabib dermawan. Orang yang akan kita mintai tolong adalah Khun Wanchay Na Ayutthaya, tokoh berpengaruh di negeri itu. Namun, bukan seperti pejabat negara atau tokoh masyarakat, ia dikenal sebagai seorang tuan tanah, pengusaha kaya raya namun memiliki pasukan sendiri. Ia bahkan dicurigai mengatur usaha penyewaan pendekar, jawara dan pasukan untuk berperang, membunuh dan menghancurkan kekuasaan seseorang bahkan negara seperti Kamboja dan Pattani dengan bayaran yang sesuai. Intinya, kalian akan menghadapi orang jahat. Kalian tidak meminta pertolongannya, kalian akan memaksanya untuk membantu kalian. Oleh sebab itu, kalian akan menggunakan kekuatan terbesar kalian untuk bertempur kembali. Peperangan tak mungkin dihindari, bahkan mungkin itu adalah satu-satunya cara agar dapat mendapatkan apa yang kita perlukan."


Semua yang ada di ruangan mendadak terdiam, mencoba menggambarkan apa yang akan terjadi kelak di dalam pikiran mereka masing-masing.


Jayaseta memandang Dara Cempaka dalam-dalam seakan mencoba berkata, "Jangan khawatir. Aku akan melindungimu dengan segenap jiwa ragaku. Kita akan hadapi ini berdua, bersama."


Dara Cempaka mendapatkan dan memahami pesan yang disampaikan suaminya itu.


***


Sasangka bertelanjang dada, mengenakan sehelai cawat hitam dengan tali jerami mengikat pinggangnya dan dibuat sedemikian rupa sebagai tempat menggantungkan ketiga wedhung nya.


Ia berdiri tegap, mengatur nafas dan siap menccabut wedhung-wedhungnya.


Rambut lurus panjang hitamnya digelung sederhana, membuat wajah cantiknya semakin bersinar terpapar mentari pagi.


Sasangka mencabut kedua wedhung di pinggang kiri dan kanannya dengan cepat kemudian maju memapras udara, melakukan jurus belati kembar tiga.


Gerakannya cepat dan trengginas.


Jurus-jurus belati kembar yang harus dilakukan bertiga ini ternyata digubah sedemikian rupa oleh Sasangka agar dapat memenuhi kebutuhan atas tiga orang pengguna tersebut. Untuk itu, ada banyak penyesuaian yang dibuat oleh Sasangka sendiri, termasuk dengan menambahkan gaya pertarungan Sàam Kûn-thâu yang ia pelajari dari sang istri, Lau Siufan.

__ADS_1


Maka, untuk memenuhi jurus tiga serangkai belati ini, Sasangka memberikan semacam pengait pada seluruh ujung gagang wedhung nya.


Ketika kedua tangannya masing-masing memainkan wedhung, satu tangan akan meraih wedhung ketiga dengan mengaitkannya di gagang. Maka, kini ada tiga wedhung yang ditusukkan, ditebaskan dan ditikamkan ke tiga arah mata angin.


Tidak hanya itu, dengan cekatan, Sasangka dapat melepas pengait dan mengaitkannya secara bergantian di wedhung kiri dan kanannya.


Kedua tangannya bergerak laksana tiga pasang tangan orang yang berbeda. Langkah-langkah kakinya berubah-ubah dari pendek ke panjang, dengan cepat namun ringkas, tidak boros gerakan serangan yang tak perlu.


Lau Siufan memandang sang suami dengan penuh rasa cinta dan bangga.


***


"Kau yakin tak apa bila kutinggalkan untuk sementara waktu, Siufan?" tanya Sasangka ketika ia berbaring di paha sang istrinya itu di pekarangan depan sehabis latihan kanuragan pagi ini.


"Kakang ... Kakang belum mandi malah sudah menempel di pahaku seperti ini," ujar Lau Siufan memukul dada Sasangka pelan.


"Apa aku harus mandi dahulu baru kau menjawab pertanyaanku, Siufan?" tanya Sasangka sembari menatap wajah sang istri.


Lau Siufan tersenyum jenaka. "Bukan seperti itu maksudku, kakang."


"Lalu?"


Lau Siufan menarik nafas dan menghempaskan nya perlahan. Angin kecil hembusan Lau Siufan menerpa wajah Sasangka lembut. "kakang tahu aku tak akan keberatan, bukan? Bukankah aku adalah orang pertama yang mendukung segala perbuatan yang tidak hanya baik bagi kakang, namun juga kira berdua? Ingatkah kakang bahwa akulah yang memaksa kakang untuk berangkat ke Semarang, menolong istri teman kakang dari ujicoba pembunuhan dari kelompok Jarum Bumi Neraka?"

__ADS_1


Sasangka mengiyakan. "Bagaimanapun, aku harus mendengarnya langsung darimu, Siufan."


"Baiklah. Sekarang kakang sudah mendapatkan persetujuanku, bukan? Berangkatlah ke Malaka, kakang. Usaha ini bukan masalah kekayaan, kakang, tapi tanggung jawab. Tanggung jawabmu sebagai kepala rumah tangga, serta sebagai menantu serta anggota keluarga Lau," ujar Lau Siufan kembali tersenyum.


__ADS_2