Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tersohor


__ADS_3

Angkasa yang membentang biru tak bertepi membuat diri menjadi sangat kecil, hanya bagai serpihan unsur bumi di atas samudra yang sama luasnya. Sasangka terlalu akrab dengan keadaan ini. Ia bisa merasakan goyangan jung yang terhempas menubruk ombak, atau bau air laut yang dibawa angin kencang.


Segala kesibukan awak kapal, budak, nakhoda, dan tentu saja para pengawal kapal bersenjata yang laksana prajurit jelas merupakan bagian hidupnya beberapa tahun yang lalu. Sampai sekarang pun, keakraban ini sama sekali tidak memudar.


Lau Siufan, istrinya yang semakin jelita bahkan setelah menikah dengannya, melepas kepergian Sasangka dengan wajah yang seperti biasanya: selalu ceria dan penuh harapan.


Sasangka benci ini. Ia baru saja merasakan memiliki sebuah keluarga kecil. Kulit putih bersinar Lau Siufan, wajahnya yang tak bercela dan selalu menyunggingkan senyum, serta sentuhannya yang menggetarkan pertahanan jiwa Sasangka malah membuatnya enggan benar berpisah dengan sang istri.


Sialnya, sekali lagi ia diingatkan bahwa ia masih terlalu cinta diri dan berpikir untuk kepentingan pribadinya saja. Ia masih memiliki sifat yang bagai Lau Siufan itu terbilang buruk.


Apa mau dikata, istrinya sama sekali tak salah. Ia memang harus sadar dengan sifat ini agar dapat berpikir diluar kepentingan pribadinya saja.


Tapi, masalah yang datang kemudian di atas kapal ini memang benar-benar pribadi. Tiga orang laki-laki sudah memperhatikannya dari hari pertama berada di atas geladak kapal. Perampok atau penjahat yang biasa ada di atas jung, pikir Sasangka.


Ia sudah paham sekali bahwa di atas lautan, geladak kapal adalah sebuah dunia baru, sebuah kerajaan dan wilayah yang berdiri sendiri.


Nakhoda adalah sang raja. Para penjaga dan pengawal adalah tentara dan prajurit. Tentu kemudian ada budak dan para awak sebagai rakyat. Tamu-tamu negara adalah orang tumpang, mereka yang membayar untuk keperluan perjalanan dan berdagang. Maka jelas ada pula para penjahat yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mendapatkan keuntungan.


Yang merepotkan dari jenis penjahat seperti ini adalah, pertama, mereka bersifat 'dadakan'. Dalam artian bahwa para perampok ini sengaja ataupun tidak, mendapatkan calon korbannya ketika mereka berada di atas kapal. Berbeda dengan para perompak atau bajak laut yang berasal dari luar kapal sehingga membuat semua orang di atas geladak kapal menjadi awas dan bekerja sama karena merasa terancam oleh musuh yang sama.


Kedua, karena ancaman perampokan ini berasal dari dalam wilayah kerajaan kapal itu sendiri dan bersifat dadakan, maka para perampok akan menyesuaikan rencana dengan keadaan kapal. Misalnya, tiga orang laki-laki yang mengincar Sasangka, pelan-pelan mencari sekutu atau orang yang mau diajak kerjasama untuk merampoknya.


Mungkin sedari awal, ketiganya memperhatikan bundelan yang dibawa Sasangka. Memang benar, tujuan Sasangka berhubungan dengan usaha dan kerjasama perdagangan, jelaslah di dalam buntelannya ia membawa cukup banyak uang, emas dan perak. Sangat mungkin tanpa sengaja, Sasangka sedikit ceroboh sehingga membuat orang lain melihat barang-barang yang ia bawa.

__ADS_1


Melihat sasaran seperti ini, lebih banyak anggota yang melakukan kejahatan lebih baik pula hasilnya. Dengan pengetahuan mumpuni yang Sasangka kuasai, ia paham bahwa dengan banyaknya anggota perampok, mereka masing-masing dapat memiliki peran. Apalagi bila mereka tak saling kenal. Ini berguna bila nanti prajurit penjaga terlibat dalam sebuah keributan yang bisa saja terjadi karena memang wilayah kapal tak seluas daratan. Tak ada tempat berlari dan sembunyi.


Pihak jung akan kesulitan mendapatkan cerita, penerangan dan penjelasan mengenai korban atau pelaku, karena semua penjahat dan perampok tersebut memang dibuat dadakan.


Benar saja, empat orang sudah berhasil ikut andil dalam rencana perampokan Sasangka. Tiga orang berjaga menghalau prajurit atau awak kapal atau orang tumpang yang lain, sisanya yang empat mengikuti dan mendekati Sasangka di buritan kapal, senja hari ketika langit perlahan menggelap.


Sial, baru saja aku menikmati langit dan bau samudra, pikir Sasangka sekali lagi.


Ia berdiri, berjalan pelan seakan tak mengetahui bahwa empat orang bersenjata golok, badik dan keris yang terselip di pinggang mereka sedang mendekat.


Sasangka berbelok di satu sudut buritan jung, namun kemudian ketika tak terlihat, ia mencelat, menolakkan kakinya memantul ke atas.


Empat orang laki-laki itu mendadak kebingungan celingak-celinguk mendapati sasaran mereka raib bagai ditelan laut.


Sasangka melompat turun dengan cekatan bagai seekor bajing, tepat di belakang keempat perampok tersebut tanpa bersuara.


Di sisi lain laut, di perairan dekat kepulauan Riau dan Jambi, jung yang dinakhodai Raja Nio, di sebuah kotak kamar, di atas sebuah dipan, Dara Cempaka berpeluh namun badannya sekaku  batang kayu.


Jayaseta baru saja masuk kamar tersebut setelah mencoba berjalan-jalan di atas jung melawan rasa mabuk dan takut airnya.


Demi melihat pemandangan semacam itu, Jayaseta langsung menghambur ke arah istrinya tersebut.


Ya, kutukan Cuca Bangkai mampir keluar menyerang tubuh Dara Cempaka dari dalam.

__ADS_1


Jayaseta memanggil-manggil nama istrinya sembari menepuk-nepuk pipinya pelan. Tak ada yang terjadi. Ia melihat sekeliling dengan perasaan tegang dan belingsatan.


Ia tak mungkin memanggil Datuk Mas Kuning untuk membantunya. Selain waktu yang terasa tidak cukup karena keadaan yang mendadak ini, ia juga tak mau cengeng dengan selalu meminta bantuan. Dara Cempaka adalah tanggung jawabnya, ialah yang harus mampu mengurusnya.


Jayaseta menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia mengingat sang guru, Kakek Keling yang ia tak tahu kabarnya sekarang. Saat-saat seperti inilah ia paham dan sadar bahwa ilmu pengobatan yang diajarkan sang kakek akan berguna bukan hanya untuk dirinya ketika melawan racun kutukan tombak pusaka Kyai Ageng Plered, namun juga untuk menyembuhkan dan mengobati orang lain.


***


"Aku harap kalian membatalkan rencana kalian sebelum semua terlambat," ujar Sasangka tiba-tiba dengan suara rendah di balik penutup mulutnya.


Keempat calon perampok langsung terperanjat bagai melihat hantu. Apalagi ketika melihat sosok yang entah bagaimana telah berdiri di belakang mereka dengan wajah yang tak terlihat. Bagaimana tidak terkejut, sosok itu muncul tanpa terdengar sama sekali bagai tercipta dari udara.


"Bang*sat! Apa urusanmu baj*ingan tengik?!" ujar salah satu begundal tersebut dengan gelagapan antara terkejut dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa sadar, keempat orang tersebut perlahan menarik senjata mereka keluar dari sarungnya sesuai naluri. Keterkejutan mereka bukan tanpa alasan. Ada hawa kependekaran yang luar biasa terpancar dari sosok tak dikenal tersebut.


"Batalkan niat kalian merampok laki-laki itu sebelum kalian menyesal pernah hidup," ujar Sasangka masih dengan suara dalam yang bernada ancaman.


Satu laki-laki yang telah menghunus golok maju satu langkah, memberanikan diri dan mencoba peruntungannya, bergaya berani dan petantang petenteng. "Heh, kau! Apa maksudmu berpakaian seperti itu, berpenutup mulut agar tak dikenali? Kau mau coba bergaya sok pahlawan, heh? Mau tahu dan ikut campur urusan orang lain. Kau pikir kau Pendekar Topeng Seribu?"


Entah mengapa nama tokoh termahsyur itu keluar dari mulut salah satu begundal tersebut, mungkin karena memang nama julukan kependekaran Jayaseta sangat tersohor. Sialnya nama tersebut mengambang di udara dan membuat suasana menjadi semakin tegang. Ditambah Sasangka yang sama sekali diam tak berucap kata.


Keempatnya saling berpandangan. Mungkinkah orang yang berdiri di depan mereka ini adalah benar adanya si Pendekar Topeng Seribu?


Sang pemegang golok benci sekali dengan keadaan seperti ini. Satu-satunya cara meyakinkan siapa orang yang mengganggu rencana mereka ini, ia maju menerjang sang sosok.

__ADS_1


__ADS_2