Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tujuh


__ADS_3

Para anggota Jarum Bumi Neraka buyar, bubar, ambyar. Mereka tak menyangka bahwa ada sosok tak dikenal berkelebat dari satu tempat ke tempat lain dengan gerakan yang cepat dan gesit kemana mereka tersebar. Sosok itu menyusup di sela-sela desingan pe*luru bule Pranggi dan jarum-jarum rahasia beracun mereka untuk perlahan tapi pasti, menghabisi mereka semua.


"Kakang. Kita harus pergi!" ujar salah satu anggota Jarum Bumi Neraka kepada Kamisan sang Pikulan Sakti. Sebenarya, masih ada empat orang anggota kelompok itu bersamanya. Namun, meski tujuan mereka untuk mengobrak-abrik kota di dalam benteng ini pada dasarnya sedikit banyak telah berhasil, kerugian besar juga mereka dapatkan. Mereka kehilangan banyak nyawa dari anggota mereka sendiri.


Kamisan, yang setelah berhasil membunuh seorang perwira Pranggi dengan jurus-jurus pikulan mematikannya itu mungkin terlalu bangga dan tinggi hati. Ia tak sadar bahwa sepak terjangnya dibalas dengan perlawanan keras pula.


Beberapa prajurit pribumi dan bule tewas di tangan mereka. Api membumbung tinggi membakar tempat yang jelas membuat rugi kota Malaka di dalam dinding benteng Pranggi ini. Kekacauan terjadi dan orang-orang bingung dan ketakutan. Harusnya, setelah itu mereka dapat melenggang pergi dengan santai menikmati kehancuran yang mereka ciptakan, bila saja pendekar tak dikenal itu tak datang dengan tiba-tiba entah dari mana.


Kamisan kebingungan. Getar kebanggaan di dadanya meredup dengan pesat. Ia tak menyangka bahwa laporan dari keempat anggota kelompok Jarum Bumi Neraka itu ternyata menggagalkan segalanya.


Kamisan memandang senjata pikulan kayunya yang berlumur darah setelah ia memecahkan kepala sang perwira Pranggi tadi. Rasa bangga nya berubah menjadi sebuah kebencian dahsyat. Ia ingin mencari dalang kegagalan ini dan membunuhnya di saat ini juga untuk memulihkan sedikit saja kekecewaannya yang begitu besar.


"Tidak, kakang. Kita tidak bisa melakukannya. Terlalu banyak prajurit Pranggi yang tahu siapa kita," ujar sang anggota kelompok Jarum Bumi Neraka ketika tahu bahwa Kamisan hendak nekad mencari tahu mengenai sang pendekar mengganggu itu.


"Aku tak perduli. Apa kau pikir aku takut menghadapi semua baji*ngan itu? Aku bisa membunuh mereka dalam sekali gebrak," balas Kamisan.


"Kami tahu kau mampu, kakang. Tapi ini bukan saatnya engkau mengikuti hawa nafsumu. Kita harus segera keluar dari sini. Kita tak tahu berapa banyak anggota kita yang hidup dan lolos dari serahkan pasukan Pranggi dan serangan sosok itu. Kita harus mengikuti rencana," ujar yang lainnya.


"Rencana apa? Keadaan tidak sesuai lagi dengan apa yang kira rencanakan sebelumnya. Orang-orang kita banyak yang tewas. Mereka harus membayarnya, siapapun itu?!" jawab Kamisan masih penuh dengan amarah dan benci dendam.


"Kakang, berpikirlah yang jernih. Bayangkan teman-teman kita yang selamat menunggu di tempat pertemuan. Mereka mungkin sudah ada di sana sekarang, menunggu kita. Mereka akan kebingungan untuk melakukan langkah selanjutnya, apalagi bila engkau tidak terlihat. Bagaimana bila mereka menduka kita semua tewas? Apa yang akan mereka lakukan?"

__ADS_1


Kamisan menggeram kesal. Tapi tak butuh waktu lama baginya untuk sadar bahwa apa yang dikatakan teman-temannya benar adanya. Mereka bisa dikatakan adalah anggota Jarum Bumi Neraka yang terakhir. Mereka tak memiliki banyak waktu dan tenaga lagi. Kekuatan terakhir ini harusnya menjadi kekuatan awal bagi mereka bangkit dan mendapatkan kepercayaan dari kekuasaan bule Walanda di Betawi. Tapi memang yang terpenting sekarang adalah keutuhan kelompok, meski tak jelas berapa orang dari mereka yang masih bisa selamat.


Kamisan langsung memimpin keempat rekannya berlari menembus asap dan kekacauan dengan gesit keluar dari benteng.


Sasangka di sisi lain sudah lebih dahulu keluar. Ia sudah kembali pada perannya sebagai seorang pedagang arak. Tempat arak dari bambu sudah diambilnya kembali. Ia pun sudah keluar dan mengambil wedhung yang ia titipkan. Dalam keadaan kacau ini, para penjaga ternyata hapal dengan dirinya dan memaklumi ketakutan dan kekhawatiran orang-orang, terutama para pendatang seperti dirinya.


Maka Sasangka menderu bagai orang yang takut mati dan lega karena berhasil keluar dari kekacauan dan kerusuhan di dalam benteng tersebut. Padahal, ia sengaja keluar dari kota karena paham para begundal-begundal itu akan melarikan diri bagai para pengecut. Sasangka akan mengikuti dan menghabisi semuanya di luar benteng, tanpa kerusuhan dan korban orang lain. Sudah adab para anggota kelompok licik itu untuk lari dan sembunyi setelah melakukan serangan mengejutkan dan membokong musuh.


Tapi kali ini, Sasangka tak akan membiarkan mereka semua selamat.


***


"Hanya ini yang berhasil selamat?" ujar Kamisan. Wajahnya bermuram durja, memerah padam oleh amarah dan dendam meski tersembunyi oleh bayangan dedaunan.


Tak ada yang menjawab.


"Ingin rasanya aku kembali untuk mengobrak-abrik tempat itu," tambah Kamisan lagi. Tak ada yang menyanggah atau menolak perkataannya. Namun semua juga paham bahwa itu hanya merupakan tindakan bodoh. Para prajurit Pranggi tentu sudah siap berjaga-jaga. Jangankan untuk mengacaukan keadaan, gerakan mereka pasti sudah langsung ketahuan ketika berada seratus langkah di depan gerbang kota.


Kamisan menumbukkan kayu pikulannya ke tanah dengan kesal. "Baik, kita tinggalkan saja tempat laknat ini. Kelak, bersama prajurit Walanda kita akan kembali datang dan ikut menghancurkan benteng sialan itu. Kita akan selesaikan pekerjaan kita," ujar Kamisan.


Mereka baru saja hendak berbalik pergi ketika ada suara lantang terdengar di belakang mereka, "Kau benar-benar yakin bisa kembali ke sini?"

__ADS_1


Ketujuh anggota Jarum Bumi Neraka yang tersisa itu langsung awas. Mereka berbalik dan mempersiapkan paku-paku mereka yang masih tersisa.


Ada sosok orang berdiri menyender di barang pohon dengan dedaunan yang lebat. Wajahnya ditutupi kain di bagian mulut dan hidungnya, membuatnya tak dapat dikenali. Namun begitu, beberapa anggota Jarum Bumi Neraka langsung mengetahui siapa gerangan sosok itu.


"Kakang Kamisan, dia adalah orang yang menyerang kita dan membuat pasukan Pranggi mengetahui keberadaan rahasia kita," ujar salah satu anggota Jarum Bumi Neraka yang memang sempat melihat kegesitan dan sepak terjang Sasangka di dalam benteng kota tadi.


Darah Kamisan menggelegak. "Bangsa*t! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Cari mampus rupanya orang ini," sumpah Kamisan. Ia tak menyangka orang yang mau ia cari tadinya itu malah datang dengan sukarela ke hadapannya tanpa perlu dicari.


"Kau tahu bahwa para bule Walanda itu jelas akan membuang kalian, bukan? Tujuh orang tak ada harganya ini masih hendak mengemis kepada kekuatan besar di Betawi itu? Mimpi kalian terlalu besar," ujar Sasangka di balik penutup mukanya itu.


"Oh, jadi kau dalam hal ini bekerja pada bule Pranggi, hah? Nampak-nampaknya pekerjaanmu berhasil dengan baik. Berapa bayaranmu, orang asing? Lalu, apakah sebentar lagi para prajurit Pranggi akan datang dengan bedil-bedil mereka mengepung tempat ini?" ujar Kamisan.


Sasangka terkekeh. "Aku tidak ada urusannya dengan orang-orang Pranggi. Urusanku dengan kalian, cecunguk-cecunguk pengecut dan penghianat," balas Sasangka. Pengalamannya dengan kelompok ini jelas masih membekas jelas di dalam jiwanya. Dendam kesumat tak mungkin hilang.


"Jangan khawatir, tak akan ada siapapun yang akan menggangguku di sini untuk mengantar kalian langsung ke akhirat!" ujar Sasangka.


Kali ini Kamisan yang terkekeh. "Budak sombong ini mengantar nyawanya sendiri. Baiklah, kau bisa menjadi ganti teman-teman kami yang tewas di sana. Tapi sebelumnya biarkan aku tahu siapa kau sebelum nyawamu melayang, orang asing," jawab Kamisan. Kayu pikulannya telah mantap di tangan. Enam rekannya pun sudah mempersiapkan senjara rahasia mereka.


Sasangka berjalan maju beberapa langkah, membuat anggota Jarum Bumi Neraka menggeser kaki dan mempersiapkan kuda-kuda silat mereka dengan awas. Ia kemudian mencabut dua wedhung, saling mengaitkannya di masing-masing pangkal gagang. Ia kemudian mencabut satu belati wedhung lagi. Sasangka menimbang-nimbang serta memain-mainkan ketiga senjata raja andalannya tersebut.


"Bersiaplah untuk mati wahai para pengecut, walau kalian akan mati terhormat di tangan sang Pendekar Topeng Seribu," seru Sasangka lantang sembari menghambut maju menyerang langsung ke arah ketujuh anggot Jarum Bumi Neraka tersebut.

__ADS_1


__ADS_2