
Sepasang mata Karawek berbinar-binar memandang petarung pujaannya kembali menang. Ia tak menyangka, setelah tak terlihat lebih dari empat puluh hari di kampung mereka, Arthit bertambah hebat dan sakti. Ia mengalahkan musuh dengan begitu cepat, singkat dan padat. Padahal sudah beberapa kali ia menyaksikan sang jagoan berhadapan dengan lawannya, namun tak ada yang seringkas ini.
Karawek mungkin akan lebih girang bukan kepalang andaikata ia tahu bahwa ialah taruhannya, dan kini telah dimenangkan sang laki-laki pujaan hati.
Hanya saja, Karawek harus menunggu sekali adegan pertarungan lagi sebelum dirinya diboyong oleh Arthit. Sang pendekar silat tomoi dari Pattani ternyata sudah siap menghadapi si Muay Paak Klang tersebut.
"Hormat dari Pattani untuk seorang Arthit sang Muay Paak Klang," ujar sang lawan sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di atas depan keningnya. "Namaku Amin. Aku mungkin serupa denganmu, orang yang haus akan pelajaran bela diri serta ilmu kanuragan. Sudah lama aku mendengar akan sepak terjang seorang Arthit. Beruntung sekali aku akhirnya menemukan dirimu. Aku mohon, berikan bimbinganmu, jangan sungkan dan sungguh-sungguhlah," ujar pria Pattani bernama Amin tersebut.
Hawa kependekaran tak mungkin luput dari kepekaan indra dan naluri kependekaran Arthit. Amin jelas bukan orang biasa, walau kata-kata dalam bahasa Siam itu mengalir lancar, fasih serta sopan dari mulutnya. Kekuatan tersembunyi pastilah ada di balik tata bahasa yang baik rupanya itu.
Kuda-kuda dimulai. Amin berjinjit dan saling memutarkan kedua lengannya, sekali saja. Namun, berbeda dengan gaya bertarung silat tomoi atau silat Muay Boran biasanya, ia membuka semua jari-jari tangannya dan tak membentuk tinju.
"Ah, tomoi dengan silat Melayu, rupanya," seru Arthit paham.
Ia sendiri sudah membalikkan punggung telapak tangan ke bawah dan kedua lengannya itu diarahkan hampir sejajar di depan dada, bukannya di samping kepala atau wajah, seperti layaknya kuda-kuda Muay Boran biasa.
Sudah jelas, kedua gaya silat Muay Boran ini sama-sama tidak biasa. Harusnya, pertarungan pun menjadi seru dan tidak biasa pula.
__ADS_1
Entah mengapa hati Karawek menjadi gegap gempita, bukan karena riang, namun khawatir. Ada angin keresahan yang menyapu ke arahnya. Padahal ia belum tahu bahwasanya ia sendiri sudah resmi menjadi 'hadiah' Arthit. Seakan nalurinya mengatakan bahwa Arthit memang harus menang hari ini sebagai pujaannya.
Amin maju selangkah dengan cepat sekaligus memberikan serangkaian serangan: tinju lurus tangan kiri, dilanjutkan tinju panjang tangan kanan dan sapuan kaki ke arah pinggang.
Dua pukulan pertama dapat dihindari Arthit. Namun, tendangan Amin mendarat di paha atas, sedikit di bawah pinggang.
Arthit bergeming.
Amin kembali menendang ke arah pinggang satunya serta satu tendangan lurus ke arah ulu hati.
Amin tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia berputar dua kali untuk memperkuat tendangan yang akan ia lontarkan.
Arthit ternyata masih bergeming dan bukannya berusaha menghindar. Tendangan keras menghajar bahunya. Ia bergoyang sedikit ke samping.
Amin mengumpulkan tenaga dalam bergaya silatnya dengan secepat mungkin mengatur pernafasan. Ia melompat tinggi, membuka kepalan dan siap membelah kepala Arthit dengan sisi telapak tangan kanannya.
Arthit menyilangkan kedua tangannya di depan kepalanya.
__ADS_1
PRAK!
Bunyi benturan keras terdengar.
Amin merasakan tangannya sedikit kesemutan tapi sudah kembali mundur menjaga kuda-kudanya.
Arthit tersentak mundur ke belakang akibat serangan bertenaga dalam itu. Tapi ia terlihat tak apa-apa.
"Hmm ..., aku selalu kagum dengan jurus-jurus tenaga dalam orang-orang Melayu, Jawa serta nusantara. Kalian begitu telaten dalam mempelajari ilmu kanuragan jenis itu. Aku tabik dan hormat dengan usaha kalian," ujar Arthit pelan.
Kini Amin yang tak bisa menutupi betapa tersentak dan terkejutnya ia. Tenaga dalam yang ia kerahkan hampir separuh kemampuannya itu nyatanya tak menimbulkan dampak yang seberapa. Bahkan ia tak melihat ada akibat apapun pada orang yang ia serang.
Sekuat itu ternyata seorang Arthit, pikir Amin.
Arthit membenahi tali yang membelit kedua lengan atasnya. Ia menutup mata sejenak. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang merapal mantra. Setelah itu ia kembali mengepalkan kedua tinjunya.
Sekali hentak, Arthit melesat ke depan, ke arah Amin sang lawan dengan satu tinju mengacung ke arah kepala.
__ADS_1