Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pendekar Paripurna


__ADS_3

Bulan separuh muncul di sela-sela awan hitam yang berarak. Obor dan lampu minyak memendarkan bayangan para penjaga yang beberapa sedang sibuk menyirih, meludahkan cairan merah itu ke tanah.


Jayaseta masih mencoba menghindar dari serangan Datuk Mas Kuning yang lebih sering mengincar dada dan perutnya. Sebelumnya ia sudah tiga kali terkena serangan telak sang datuk yang dilancarkan dengan begitu cepat dan tak terduga.


Namun kemudian setelah sekian serangan lanjutan sudah terbaca, Jayaseta memutuskan memberikan sedikit balasan. Seberapa indah dan tepat guna silat Gayong Malaka inipun pasti memiliki sebuah pola dan ciri tertentu yang dapat diambil saripatinya.


Maka, Jayaseta membalas serangan dengan pukulan panjang disertai sepakan rendah ke arah dada dan paha sang datuk.


Merupakan hal yang tak Jayaseta perkirakan sama sekali ketika kedua tangan Datuk Mas Kuning menepis pukulan Jayaseta dan menangkap kakinya. Kemudian satu gerakan memutar membuat Jayaseta jatuh bergulingan ke depan.


"Yang ini bernama Silat Gayung Harimau Pattani," ujar sang datuk tersenyum. Kuda-kudanya berubah menjadi lebih lebar dan kesepuluh jari tangannya membentuk cakar.


Jayaseta meluncur maju, kembali memberikan pukulan dan tendangan yang serupa. Lagi-lagi sang datuk mengunci kaki Jayaseta, namun karena kecerdasan Jayaseta dalam memahami sebuah jurus, ia tak mau kejadian yang sama terulang. Ia memegang lengan sang datuk dan hendak berbalik memelintir serta membanting kakek sakti itu.


Lagi-lagi sebuah hal berada diluar perkiraan Jayaseta terjadi. Sang datuk menepis tangan Jayaseta, mengubah jurusnya lagi dengan memberikan pukulan pendek dengan kepal menyamping yang dilontarkan tanpa ancang-ancang, lurus ke arah dada Jayaseta.


Bukan hanya sekali, lima sampai enam pukulan membenam ke dada sang pendekar.


Jayaseta merasakan bobot tenaga pukulan pendek namun cepat dan dilakukan bertubi-tubi itu menggetarkan tubuhnya, kembali meregangkan luka baru yang belum sembuh benar di tubuhnya.


Jayaseta menepis tinju ke tujuh dan delapan, membalas dengan satu pukulan lurus. Sang datuk mundur selangkah, memiringkan tubuh, tinju Jayaseta menempel di lengan luarnya. Datuk maju selangkah lagi dengan lurus dan menanamkan tinjunya.


Jayaseta menyilangkan kedua lengannya di depan dada sehingga dadanya kali ini tertahan meski tubuhnya kembali mundur beberapa langkah dan berhenti sebelum menubruk dinding kayu, membuat Dara Cempaka hampir tak dapat menahan diri untuk memberhentikan pertarungan karena kepeduliannya terhadap Jayaseta.


"Sendeng ... Silat sendeng sepapan?!" ujar Jayaseta takjub karena sang datuk ternyata juga menguasai gaya silat yang sempat ia hadapi di atas geladak kapal tempo hari.


Sang datuk terkekeh, sedangkan Dara Cempaka berseru, "Datuk, datuk yakin dengan permainan silat ini.? Aku yakin abang Jayaseta masih dalam keadaan tidak sempurna. Bukankah ia hendak meminta bantuan datuk? Datuk malah dapat kembali melukainya."


Sang datuk tersenyum, tak ingin mempermalukan dan menambah malu cucunya yang sedang kasmaran tersebut, sebab padahal kemarin malam di masa yang sama, Dara Cempaka lah yang habis-habisan menggempur Jayaseta sampai bahkan ingin menghabisinya.


"Nah, nah ... Kau dengar, nakmas Jayaseta? Bila kau memang masih terluka, mungkin kita tak perlu melanjutkan permainan ini."


Jayaseta berdiri tegak, "Tidak, tidak. Hamba sama sekali tidak apa-apa. Tolong berikan kembali pelajaran kepada hamba. Maaf, adik Dara, aku merasa ini saat yang penting dan tepat untuk memperoleh bimbingan yang luar biasa berharga. Tidak perlu khawatir."

__ADS_1


Sang datuk memandang cucunya dengan pandangan menggoda, membuat Dara merengutkan wajahnya, pura-pura marah.


"Datuk, hamba akan melanjutkan menyerang!" Jayaseta menghambur maju. Kali ini ia mencoba menyerang dengan gerakan lurus bergaya sendeng sepapan, namun memberikan sedikit sentuhan tinju panjang silat Pattani.


Datuk Mas Kuning menangkis satu tinju panjang dengan merendahkan tubuh dan merentangkan satu lengannya. Jayaseta memberikan menyerang lagi, namun Datuk Mas Kuning melenggok lembut, membuat pukulan Jayaseta tak berarti, mengenai ruang kosong.


PLAK!


Tamparan keras menghajar tengkuk Jayaseta. Ia tersungkur dan bergulingan ke depan.


"Kau sungguh masih sungkan, nakmas? Atau mungkin karena kita bermain di tempat sempit dan menahan suara?" ujar Datuk Mas Kuning.


"Mungkin keduanya, datuk," balas Jayaseta.


"Bila dalam pertempuran jalanan, kau mungkin akan mengeluarkan serangan terbaikmu sehingga pertarungan tak akan berlangsung lama, bukan begitu, nakmas? Mari silahkan coba lagi sebaik mungkin, jangan segan-segan menyerangku yang bisa saja cepat ditaklukkan dalam adegan perkelahian sebenarnya."


Jayaseta merasa bahwa adalah percuma bila ia tidak bersungguh-sungguh dalam permainan adu kanuragan ini. Keengganannya sama saja sebuah kelemahan dan sikap meremehkan sang datuk.


Maka Jayaseta kembali maju, menyapu kaki sang datuk dengan dua tendangan Guntur dari Selatan. Sang datuk mengangkat satu kaki dan melompat pelan untuk menghindari tendangan kedua.


Kesemuanya lolos.


"Giliranku!" seru tertahan sang datuk. Tinju Bogem Watu Gunung menghajar tiga titik di tubuh Jayaseta, membuka luka yang baru akan sembuh. Darah kembali mengalir keluar. Tendangan Guntur dari Selatan menghajar pinggang, dan tebasan sisi telapak tangan Garuda Ngelayang hampir membabat rahang Jayaseta bila ia tidak menangkisnya.


Dalam keterkejutannya karena sang datuk juga mampu meniru jurus-jurusnya, Jayaseta membalas menyerang dengan pukulan tinju dan serangan telapak tangan Tapak Buddha bertubi-tubi dengan kecepatan yang hampir tiada banding.


Sang datuk kali ini jelas kewalahan. Tiga serangan dapat ditepis, dua serangan dielakkan, namun dua tinju menembus tangkisan tangan bersilang dan bersarang di bahu dan dadanya.


Sang datuk mundur tiga langkah. Memutar tubuhnya, memberikan bunga-bunga silat dengan kedua tangannya dan siap meluncur kembali menyerang.


Serangan sang datuk terhenti manakala Jayaseta tiba-tiba bersimpuh di lantai, "Ampun, datuk. Hamba kalah!" ujarnya.


Dara Cempaka yang sejak tadi memperhatikan pertarungan penuh kehebatan ini terhenyak dan terheran-heran. Jayaseta jelas masih dapat memenangkan pertarungan. Ia baru saja mendesak sang datuk dan bisa saja terus melakukannya. Namun sebaliknya, malah ia yang mendadak mengaku kalah.

__ADS_1


Sang datuk sendiri jelas urung menyerang Jayaseta. "Mengapa kau menyerah, nakmas? Bukankah kau sadar dengan baik bahwa kau bisa mengalahkan aku dalam ...,"


"Lima jurus lagi!"


"Lima jurus lagi!"


Datuk Mas Kuning dan Jayaseta menjawab serentak.


Sang datuk tersenyum lebar dan terkikik puas.


"Nah, nah ... Jelaskan apa yang kau pelajari nakmas pendekar."


"Datuk. Sekarang muridmu ini paham, bahwa selama ini hamba belum pernah menitikberatkan pertarungan pada murni kemampuan diri hamba sendiri. Hamba hanya memanfaatkan beragam cara dan upaya untuk memenangkan pertarungan," ujar Jayaseta.


"Lanjutkan!" sang datuk melipat kedua tangannya di depan dada.


"Datuk menyadarkan hamba bahwa hamba menggunakan beragam senjata, meniru jurus musuh, atau bahkan dibantu oleh tenaga dalam baik tenaga dalam yang hamba latih sendiri ataupun dari tenaga racun kutukan tombak Kyai Ageng Plered. Tapi hamba tak pernah menguasai dan mengenal tubuh dan kemampuan sejati hamba sendiri.


"Akan menjadi sukar ketika tak ada senjata yang bisa hamba pakai. Tak ada jurus yang bisa hamba tiru, dan tak bisa pula menggunakan tenaga dalam. Datuk menyontohkan bahwa bakal ada musuh yang memiliki kemampuan bertarung dengan jurus-jurus yang kaya dan tak dikenal sama sekali, entah di bagian dunia mana.


"Meski hamba dapat saja mengalahkan datuk, datuk sendiri sudah paham bagaimana dan jurus keberapa hamba akan mengalahkan datuk. Itu adalah tanda kesadaran tertinggi, kemampuan memahami semesta, diri sendiri, dan nasib.


"Datuk sudah paham semuanya. Datuk sudah meramalkan segala gerakan hamba dan bagaimana hamba akan menyerang. Dengan pemahaman ini, datuk bisa mengganti jurus dan tindakan untuk menghadapi hamba, bahkan mengalahkan hamba."


Datuk Mas Kuning memandang sang cucu yang kedua matanya sedang berbinar menyaksikan kecerdasan sang pendekar.


"Nah, nakmas, kau mampu meleburkan segala jenis jurus silat bagaimanapun bentuknya. Kau mampu bergerak cepat, liat dan gesit. Namun kau tak mengenal tubuhmu sendiri. Kau berperang dengan jurus-jurus yang kau rasa penting dan membuang yang kau rasa tak perlu. Itu memang kebanyakan berhasil. Namun, aku hanya menambahkan sebuah kemungkinan, bagaimana bila lawanmu adalah seorang pendekar dengan gaya bertarung yang rumit dan kaya, yang tak membuang bahkan hal-hal yang kau rasa tidak perlu ...,"


"Maka, hamba tak akan dapat membaca gerakan lawan. Sebagai hasilnya, hamba kembali mencuri tenaga dalam dimana segenap tenaga dalam di dalam tubuh hamba akan mencoba mengambil keuntungan untuk keluar dan mengambil alih diri hamba," potong Jayaseta. Sinar kesadaran meneranginya sepenuhnya.


"Itu sebabnya kau tak akan pernah bisa lepas dari racun itu, nakmas. Selama tenaga dalam kau gunakan, semakin sering pula perlahan dirimu akan kecanduan dan menjadi satu dengan tenaga dalam itu sendiri. Kau memang akan dikenang sebagai seorang pendekar pilih tanding, tak terkalahkan, dengan jiwa yang digerogoti dari dalam."


Jayaseta terduduk lemas. Ia mengusap-usap rambutnya yang disimpul. "Datuk, bantu hamba datuk. Selama ini hamba ternyata terlalu jumawa dan tak awas bahwa hamba sama sekali tidak mengenal diri hamba sendiri."

__ADS_1


Malam ini Jayaseta belajar bahwa inti dari segala kemenangan bukanlah mengalahkan musuh, namun mengalahkan diri sendiri. Mengenali diri sendiri, memahami musuh dan memahami semesta adalah syarat yang diperlukan untuk menjadi seorang pendekar paripurna.


Sang datuk paham keterbatasannya sehingga ia tahu benar bahwa ia akan kalah. Namun ia begitu berani karena pemahaman akan hidup dan mati membuat seorang pendekar menjadi sempurna.


__ADS_2