
Tiga puluh hari sejak terakhir pertempuran berdarah di laut dangkal perairan Melayu Riau, kini kapal-kapal Jambi dibawah kepemimpinan langsung dari Datuk Meghak Bulunyo Megha siap menyerang kapal-kapal perang Riau, dibantu para pendekar Johor, yang juga langsung dipimpin oleh Datuk Sri Harimau Selatan.
Permasalahan semakin memanas antara kedua belah pihak dan nampak-nampaknya tak mungkin terhindarkan lagi. Walanda sudah bersiap-siap pula menjadi pendukung pihak Riau-Johor meski malu-malu mengakuinya. Pasalnya, mereka juga memiliki kepentingan di semua wilayah Melayu, Jambi termasuk di dalamnya.
Peperangan tidak selalu menjadi keinginan Walanda. Terutama karena memang tidak semua pertempuran menghasilkan keuntungan dan memberikan keaejahteraan bagi pihak Kerajaan Walanda. Tapi khusus masalah ini, Walanda tak ikut andil secara langsung. Kekacauan yang terjadi di antara mereka dan kericuhan yang terbangun sedikit banyak memetakan rencana penaklukan Malaka dan negeri Melayu selanjutnya bagi Walanda. Untuk sekarang, Walanda membiarkan Pranggi yang ikut campur urusan negeri-negeri Melayu si sekelilingnya, sedangkan Walanda sendiri akan berusaha tenang tentram sembari melihat perkembangan serta mempersiapkan pertempuran di masa mendatang.
Pranggi sendiri, setelah kekalahannya sebelumnya, merasa tidak perlu ikut memberikan sumbangsih dalam perselisihan tersebut. Mereka sudah mengalami kerugian besar. Lebih baik menjaga Malaka dan mempersiapkan segala sesuatu untuk melawan serangan-serangan dari Walanda dan sekutu-sekutunya, baik dalam kecil maupun besar-besaran.
Para pribumi kali ini harus bertempur sendiri.
Kali ini pula, giliran jung yang ditumpangi Yu dan Pratiwi yang harus melewati jalur pertempuran antar kedua kekuatan Datuk negeri yang bertentangan kepentingan ini. Tidak hanya di lautan, pesisir dan daratan juga begitu panas. Pasukan Datuk Meghak Bulunyo Megha diam-diam dipersiapkan untuk meluluhlantakkan pesisir, wilayah kekuasaan Datuk Harimau Selatan di pesisir Wilayah Riau.
Nampak-nampaknya, pasir pantai akan kembali memerah darah.
***
__ADS_1
Sasangka akhirnya melihat utuh kedua sahabatnya yang hilir mudik di pelabuhan. Keduanya yang ditemani dua orang lain terlihat naik ke sebuah jung raksasa yang sepertinya dinakhodai oleh orang dari negeri Timur nusantara.
Sasangka benar-benar terhisap dengan pemandangan ini. Kedua sahabatnya yang bersama-sama mendiang pendekar-pendekar lain telah melanglang buana di atas lautan. Kini mereka telah tercerai berai dan tak saling tahu, namun masih memiliki kerinduan dan keterikatan yang sama dengan jung, kapal dan samudra.
Entah dimana Jayaseta. Itupun bila memang pendekar itu ada bersama mereka.
"Aku tak habis pikir dengan para pendekar yang memperumit kehidupan mereka."
Sasangka tersentak kaget. Ia tak menyangka kehadiran seseorang luput dari perhatiannya.
Sasangka berusaha tak terlalu mengacuhkannya sebab ia tak yakin orang itu waras, atau mengucapkan kata-kata yang merujuk padanya. Apalagi melihat sang laki-laki tak dikenal itu sama sekali tak menaruh perhatian kepadanya.
"Ah, apa lacur, kehidupan pendekar memang selalu bersinggungan dengan kematian. Namun, apa perlu memainkan peran cengeng? Kalau mau jadi pendekar, berkelahi saja, kalahkan musuh. Mengapa harus tenggelam dalam ingatan dan kenangan yang membuatmu lemah, sahabat," sang laki-laki tak dikenal itu kembali menyerocos.
Sasangka menarik nafas panjang dan menghembuskannya keras. "Maaf, apakah kau berbicara denganku, orangtua? Karena kalau iya, aku tak paham dengan satu katapun dari mulutmu."
__ADS_1
Sang laki-laki tak dikenal itu meludahkan sirihnya. Bibirnya memerah. Ketika ia terkekeh, gigi-gigi merahnya juga terlihat. "Aku bukan orangtua. Aku baru saja perlahan masuk ke usia paruh baya."
"Aku tak peduli," jawab Sasangka ketus. "Apa maumu sebenarnya, orang asing?"
Sang laki-laki paruh baya itu berdiri. Tubuhnya tidak hanya kecil, namun juga sedikit pendek, walau tidak juga bisa dikatakan terlalu pendek.
Ia memukul-mukul cawatnya untuk membuang debu.
"Ayo sini, lawan aku. Mari kita bertarung," ujarnya santai.
Sasangka memicingkan kedua matanya. "Kau sudah gila, orang tua."
"Ah, pertama, sudah kukatakan bahwa aku adalah seorang paruh baya. Kedua, aku bisa jelaskan kepadamu bahwa Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu asli sedang ada di padepokan dan sanggar tari Melayu Baharuddin Labbiri. Ia bersama rekan-rekanmu yang lain, Narendra dan Katilapan. Ketiga, bila ingin tahu lebih banyak mengenai bagaimana aku mengetahui semua ini, kau harus bertarung denganku dulu. Toh, tak susah untuk mengalahkan seorang paruh baya sepertiku, bukan?"
Sasangka kembali tersentak dengan penjelasan orang tak dikenal itu. Ia berusaha mencerna kata-kata laki-laki paruh baya itu namun tak mampu.
__ADS_1