
Khaung kembali berdiri dan meraih sepasang dha nya yang terlepas dari tangannya. Rasa perih menyala-nyala di beberapa bagian tubuhnya yang dihantam tongkat rotan Jayaseta tadi.
"Aku merasa terhormat bisa bertarung denganmu, Jayaseta. Asal engkau tahu bahwasanya namamu adalah bahan pelajaran dan pembahasan bagi semua anggota Dunia Baru. Kami semua dijejali kisah tentangmu dan bagaimana kau seharusnya menjadi bagian dari Dunia Baru. Lihat lah kehidupanmu, Jayaseta. Kau sebatang kara. Ayah, ibu, kakek nenekmu adalah korban dari kekuasaan yang dimainkan para pemimpin, sunan, sultan, dan raja. Sepanjang sejarah kehidupanmu, kau disuguhi pertempuran dan pertentangan antar negeri. Mataram, Giri, Betawi. Di pulau Tanjung Pura, Sukadana terpecah. Di pulau Melayu Samudra, setiap kerajaan Melayu saling serang. Tak selesai sampai disitu, engkau saksikan sendiri hubungan Melayu dan Siam," ujar Khaung panjang lebar.
"Lalu, apa maksudmu sebenarnya?" suara rendah Jayaseta terdengar.
Khaung terkekeh. "Bergabunglah dengan kami, Jayaseta. Hentikan perjalananmu yang tanpa makna ini. Kau menghabiskan waktu untuk melawan beragam pendekar dan terlibat persengketaan ketatanegaraan yang tak kau pahami benar. Kita akan hentikan pertengkaran bangsa-bangsa itu dan menciptakan sebuah tatanan dunia baru."
Kali ini Jayaseta yang terkekeh pelan. "Mimpi kelompok kalian terlalu besar. Dan bila kau cermati, kalian juga sebenarnya tak ada beda, tak ubahnya kelompok yang bernafsu penguasa. Bukankah pernah ada Sriwijaya dan Majapahit di sejarah nusantara? Jangan-jangan itu adalah mimpi kalian sebenarnya?"
Khaung menggeleng. "Nah, Jayaseta. Kau tak perlu memaksaku untuk memberikanmu penjelasan tentang siapa kami sebenarnya. Lalu, apa inti dari pertarungan kita ini?"
"Aku tak tahu. Kau masih bisa pergi dan tak mengganggu rombonganku atau para peniaga serta musafir lain untuk melanjutkan perjalanan. Atau kau merasa lebih senang bila menerima hukumanku?" ujar Jayaseta.
Khaung terkekeh, kemudian tertawa keras. "Atau, jangan-jangan aku memiliki kesempatan untuk membunuhmu. Toh percuma saja membujuk orang yang tak memiliki nilai sama sekali dalam gerakan ini, Jayaseta!"
Khaung menderu maju, kemudian mencelat tinggi siap membacokkan dha nya membelah tengkorak kepala Jayaseta.
Yang diserang bergeser ke samping dengan cepat dan memainkan dua batang rotannya menepis serangan dha pertama dan serangan dha kedua serta ketiga.
__ADS_1
Sebelum Khaung melanjutkan serangannya, Jayaseta terlebih dahulu dengan gerakan cepat memapras saling menyilang dengan kedua tangannya.
PRAK!
PRAK!
PRAK!
Sudah bisa diduga akibat dari serangan balasan Jayaseta. Khaung tersentak mundur karena serangan bertubi-tubi Jayaseta. Kedua lengan dan bahunya dihajar habis. Ia tak menyangka dua batang rotan bisa seberhaya dan menakutkan itu.
Kedua lengannya masih utuh, meski kulit, daging dan tulangnya serasa panas dan hancur lebur. Andai Jayaseta tidak jemawa menggunakan dua batang rotan, ia pasti sudah bisa melepaskan tangan dari bahuku, pikir Khaung dalam hati.
Tapi, lucunya, mengapa Daap yang ia pegang tadi malah ditukar dengan dua batang rotan? Seberapa cepat Jayaseta bisa membunuhnya? Pikir Khaung kembali.
"Aku akan gunakan keunggulan sepasang dha ini untuk benar-benar membunuhnya."
Khaung melupakan rasa sakit di beragam tempat di tubuhnya. Ia maju menyerang dengan dua serangan bersilang.
Jayaseta sudah membaca gerakan lawannya itu. Sebelum serangan sabetan dha bersilang itu mencapai sasaran, ia sudah terlebih dahulu maju, memutarkan batang rotan menepis dha, kemudian satu lagi masuk membelit mengunci lengan tangan Khaung yang memegang dha.
__ADS_1
Dari situ, Jayaseta leluasa memukul habis paha, pinggul, bahu dan leher Khaung dengan rotan di tangannya yang bebas. Ditambah sedikit tenaga dalam, serangan terakhir membabat dada Khaung membuatnya tersentak dan terlontar ke belakang.
Khaung terkapar meregang menahan rasa sakit karena tulang-tulang di dalam tubuhnya retak di banyak tempat. Ia masih sadar, namun rasa sakit tak akan membuatnya mampu bertahan lama untuk tak semaput.
Jayaseta berbalik dan berjalan ke arah rombongannya dan mengembalikan sepasang rotan itu kepada Katilapan.
Rupa-rupanya banyak pasang mata menyaksikan sepang terjang Jayaseta menghadapi para perampok tadi. Tidak semua peniaga dan pelancong sert musafir segera melarikan diri ketika Jayaseta datang menolong. Banyak dari mereka masih diam di tempat bersembunyi dan balik pepohonan dan tanaman perdu untuk menyaksikan Jayaseta menghajar para perampok yang menyerang menaiki kuda. Mereka juga mendengar seruan Jayaseta bahwa ia adalah sang Pendekar Topeng Seribu.
"Jayaseta, aku rasa kita tak mungkin melanjutkan perjalanan melalui darat. Terlalu banyak orang yang memperhatikan kejadian ini. Mereka hanya akan mengikuti rombongan kita dan mungkin bakal terlalu penasaran," ujar Siam.
Jayaseta sadar dengan apa yang sudah ia lakukan tadi terlalu menonjol. "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Siam?" balas Jayaseta.
"Kita akan ke sungai dan melanjutkan perjalanan melalui air agar tidak terlacak oleh orang lain," jawab Siam.
Jayaseta yang masih menutup mulutnya dengan kain mengeluh pelan. "Sialan. Kita harus lewat air lagi?" ujarnya membayangkan penderitaan di atas perahu.
Di kejauhan, Sasangka memperhatikan dari awal apa yang sedang terjadi. Jayaseta di matanya memiliki gerakan yang luar biasa cepat dan gesit, berkembang jauh ke arah pendekar paripurna dibanding saat-saat sebelumnya, terakhir mereka bertemu.
Takdir juga perlahan menunjukkan kekuatannya, dimana, selintingan rokok daun jauhnya, Jaka Pasirluhur mendengar berita dari orang-orang yang berbondong-bondong datang dari arah di depannya bahwa Pendekar Topeng Seribu sedang menghadapi para perampok yang puluhan jumlahnya sendirian saja.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, pendekar buntung dari Banyumas itu langsung berlari cepat, memacu tubuhnya dengan menggunakan tenaga dalam yang disalurkan ke kedua kakinya melewati rerumputan, perbukitan, dan pepohonan hutan kecil di sisi sebuah sungai di wilayah perbatasan negeri Siam dan Melayu tersebut.