Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bumi Sukadana


__ADS_3

Sebelum Giri Kedaton ditaklukkan pada tahun 1636 Masehi, Mataram sendiri merasa harus menguasai Surabaya sebagai sebuah kerajaan besar di bagian timur Jawa. Hanya saja, kerajaan Surabaya adalah sebuah kerajaan yang begitu besar dan kuat. Jayaseta sendiri sudah pernah membuktikan ketangguhan para prajurit Surabaya dan luka di dada kirinya akibat tusukan tombak Kyai Plered oleh Raden Pekik, seorang Pangeran dari kerajaan Surabaya yang memimpin pasukan itu secara langsung bersama sang istri, Ratu Pandhansari.


Maka dari itu Sultan Agung Hanyakrakusuma merasa perlu melemahkan Surabaya dengan terlebih dahulu sebelum melemahkan kerajaan-kerajaan lain yang memiliki hubungan baik dengan Surabaya.


Sebagai hasilnya, pada tahun 1622 Masehi, Mataram menyebrangi lautan menuju ke pulau Bakalapura atau juga dikenal dengan Tanjung Pura untuk menyerang sebuah kerajaan bernama Sukadana dengan menggunakan tujuh puluh Jung kapal perang dan dua ribu pasukan yang bersenjatakan lengkap yang dipimpin oleh Adipati Kendal, Bahureksa.


Banyak alasan yang Mataram gunakan sebagai pembenaran serangan ini selain memang ingin melemahkan kekuatan Surabaya dan menaklukkan nusantara. Mataram mengatakan bahwa mereka tidak senang kerjasama Walanda dengan Sukadana dalam pembelian intan dari sebuah daerah di kekuasaan Sukadana yang bernama Landak.


Sudah diketahui bahwa Walanda sangat dibenci oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Apalagi dengan adanya hubungan perdagangan ini membuat Sultan Agung khawatir pelabuhan Sukadana akan menjadi ramai dan membuat kerajaan Sukadana menjadi kaya serta hebat dan pada akhirnya dapat menyaingi pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Mataram.


Bagaimana tidak, sejak tahun 1604 Masehi, para perunding Walanda yang dipimpin oleh Pieter Aert sudah berada di Sukadana. Kemudian pada tahun 1608, perunding tersebut kembali dengan membawa 633 buah intan dengan nilai 257 karat.


Pada tahun 1609, Pieter Aert menandatangani sebuah perjanjian dengan Sultan Sambas, dalam upayanya dan pemerintahan Walanda memutus kekuasaan Brunei yang begitu kuat atas kesultanan Sambas itu serta untuk membangun sebuah kilang disana. Akan tetapi Walanda lebih banyak berhubungan dengan Sukadana yang letaknya jauh di selatan.


Pelabuhan Sukadana yang berdiri di Pantai Pulau Datok sendiri adalah pelabuhan yang memang sudah sangat ramai. Bangunan-bangunan dari kayu belian, kayu besi yang berukuran raksasa ditancapkan di pantai. Ciri inilah mungkin yang menjelaskan mengapa kayu ini mendapatkan nama kayu besi. Selain kokoh dan keras seperti besi, warnanya yang hitam legam, semakin menghitam mengkilat sepanjang usianya, memiliki bentuk potongan yang besar-besar.


Pelabuhan itu sanggup menampung ratusan kapal Jung dan dapat terus melanjutkan dengan kapal-kapal atau perahu masuk melalui sungai ke pedalaman pulau Tanjung Pura. Pelabuhan Sukadana tercatat menjadi jalur perdagangan dari barat, timur, utara dan mancanegara.


Selain orang-orang Walanda yang datang pada 1617 Masehi dan Britania Raya yang pernah menguasai Sukadana pada tahun 1611 Masehi, pelaut Cina, Johor, Brunai, Bugis, Jawa, Melayu, Banjarmasin, Riau dan Palembang hilir mudik dengan berdagang rempah-rempah, intan, kayu gaharu dan guci-guci Cina serta tentu saja kayu-kayuan.


Hasil dari serangan Mataram beberapa tahun lalu tersebut memang luar biasa, kekalahan Sukadana di depan mata. Datuk Mangku, suami dari raja perempuan Air Mala yang memerintah Sukadana tidak dapat berbuat banyak atas kekalahan ini. Ratu Air Mala bahkan ditawan dan dibawa ke Mataram hingga sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa sang ratu akan kembali ke tanah Sukadana.


Jayaseta menarik nafas dalam-dalam, lega karena sebentar lagi akan berhasil menyentuh tanah dengan selamat. Pepohonan lebat menjulang sebagai latar belakang pelabuhan tersebut.

__ADS_1


Ooh … betapa ia merindukan bertemu daratan. Udara yang cukup berbeda di banding kampung halamannya, namun itu tidak menjadi masalah.


Raja Nio menjelaskan kepada Jayaseta bahwa perbedaan lain yang mendasar antara pulau Tanjung Pura ini dengan Jawa adalah banyaknya hutan dan tanahnya yang berumput, kerap kali berair berwarna hitam kelam. Ia bakal masih akan menemui sungai dimana-mana. Sungai kecil, sungai besar, parit dan danau di tanah ini.


Cerita Raja Nio mengenai sungai ini seakan ditekankan, mengingat rasa takut Jayaseta terhadap segala hal yang berhubungan dengan perairan.


Kesultanan Sukadana terletak di sebuah pulau, jauh melebihi besar pulau Jawa, yang banyak dikenal dengan beragam nama. Pada masa kerajaan Singasari, pulau ini dinamai Bakulapura dalam bahasa Sansekerta yang berarti pohon Tanjung, karena memang terdapat banyak pohon Tanjung yang tumbuh disitu.


Bakulapura sendiri adalah sebuah nama kerajaan yang terletak di barat daya pulau dimana pada masa kerajaan Majapahit yang tersohor menamainya dengan Tanjung Pura atau bahasa Melayu kuno untuk Bakulapura.


Kerajaan Tanjung Pura bercorak Hindu-Budha yang merupakan taklukan kerajaan Majapahit dan juga cikal bakal kerajaan Sukadana itu sendiri. Masa kerajaan Majapahit, orang-orang dari Jawadwipa juga menyebutnya dengan Tanjungnegara. Sedangkan pada masa kerajaan Kadiri atau Panjalu pulau ini disebut dengan Nusa Kencana.


Jayaseta bahkan ingat bahwa orang-orang di Giri Kedaton kerap menyebut pulau sabrang ini dengan Pulau Banjar, yang juga merujuk pada salah satu Kesultanan Islam yang berdiri di pulau ini, yaitu Kesultanan Banjar.


Ada sebuah peta yang dibuat oleh pelaut bule Pranggi pada tahun 1601 Masehi. Nama kerajaan Brunei digunakan  untuk menatap seluruh pulau. Dalam lidah orang bule Pranggi, kata Brunei dilafalkan sebagai Borneo. Maka seluruh pulau tersebut pada sejak abad ke-16 dan awal abad ke-17 sudah dinamai dan dikenal oleh orang-orang bule mancanegara sebagai pulau Borneo.



Ada yang mengatakan bahwa nama Brunei atau Borneo berasal dari kata Sansekerta váruṇa yang berarti air atau dewa Baruna dalam ajaran Hindu, dewa air dan laut.


Ini juga masuk akal karena pengaruh agama Hindu sampai ke pulau ini ratusan tahun yang lalu.


Bisa dikatakan bahwasanya nama Brunei atau Borneo kemudian lebih dikenal dan tersohor. Kerajaan Majapahit selain menamainya degan Tanjungnegara atau Nusa Tanjungnegara, juga menyebutnya sebagai Barune di dalam naskah Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi.

__ADS_1


Begitu pula catatan-catatan perjalanan orang-orang Cina awal, menyebut Bo-ni pada tahun 977 Masehi dan disebut kembali oleh seorang pejabat Cina bernama Chau Ju-Kua yang datang ke pulau ini tahun 1225 Masehi.


Tak heran, Raja Nio menjelaskan kembali kepada Jayaseta bahwasanya nama penyebutan Brunei banyak digunakan serta Borneo lah yang paling dikenal oleh orang-orang mancanegara, terutama negeri para bule di belahan bumi Barat.


Sukadana adalah pelabuhan penting bersama dengan tetangga-tetangganya seperi Sambas, Kotawaringin, dan Banjarmasin menggantikan pelabuhan-pelabuhan sebelumnya seperti Lawe, Sampit, Quodomdom dan Tanjungpura.


Sebelum Walanda bersama perusahaan VOC nya datang ke Sukadana Britania Raya sudah mulai menaruh perhatian terhadap perdagangan di pulai Brunei bagian Barat ini. Setelah pedagang asal Britania Raya memberitakan tentang kemungkinan keuntungan yang bis didapat, barulah  pada tahun 1611 Masehi, Britania Raya membuka kantor


dagangnya di Sukadana.


Kegiatan perdagangan Britania Raya tentu mendorong VOC terlibat dalam perdagangan di pulau Brunei atau pulau Tanjung Pura di bagian Barat. Awalnya, VOC Walanda mengadakan perdagangan lada dan intan di Landak.


Kerajaan Sukadana bercorak kelautan dan pertambangan sehingga juga membedakan dengan Mataram yang lebih kepada pertanian. Tak heran kerajaan ini terkenal dengan hasil tambang emas, perak dan intannya.


Masyarakat kerajan Sukadana telah mampu mengolah logam mulia dan batu mulia menjadi perhiasan-perhiasan dengan nilai jual yang tinggi. Bahkan ibu Kota kerajaan Sukadana memiliki ketersohoran sebagai pusat kerajinan intan terbaik di kawasan laut Nusantara.


Raja Nio kembali senjelaskan sejarah dan keadaan negeri ini kepada Jayaseta dengan wajah dan perasaan bangga seperti seorang guru mengajari muridnya.


Jayaseta mencoba mereguk semua pengetahuan ini sebaik-baiknya.


Negeri penghasil intan ini memberikan banyak harapan bagi banyak orang, termasuk dirinya. Tentu bukan emas intan yang ia inginkan, walau mungkin apa yang menjadi urusannya di tanah ini sama berharganya.


Ia memandang ke pelabuhan dan bangunan-bangunan yang berderet di sekelilingnya. Semua bangunan rapi dan ramai tersebut terbuat dari kayu dan atap rumbia, ada pula yang juga menggunakan kayu yang dipotong tipis-tipis sedemikian rupa untuk dijadikan atap.

__ADS_1


Hutan dengan pepohonan besar-besar menjulang ke angkasa. Jayaseta merasa kerdil di dunia yang baru akan diinjaknya ini.


__ADS_2