
Siam tak kekurangan kepercayaan diri. Ia tersenyum melihat kehadiran prajurit Ayutthaya lain. "Ah, tentu bukan seperti itu tuan prajurit. Kami hanya pedagang yang meniagakan barang-barang yang kami mampu dan cukup baik membuatnya. Siapa yang yang meragukan kehebatan dan keagungan Kerajaan Ayutthaya?" ujar Siam bermanis-manis.
Sang prajurit nampak tak terbujuk dan belum luluh hatinya. Ia semakin mendekat dan mengintip ke kotak dalam kayu. "Keris. Belati Jawa dan Melayu itu memang cukup terkenal. Aku dengar di negeri Bisaya ada bentuk yang lebih besar disebut Kali," gumamnya. Sang prajurit kemudian terkekeh. "Lalu, kalian ingin menjual senjata-senjata ini untuk keuntungan berapa? Aku hanya melihat tak sampai belasan buah belati. Berapa keping logam emas yang kalian harapkan?" lanjutnya. "Lihatlah berapa jumlah anggota rombongan kalian. Bukannya berdagang, aku bahkan mencurigai kalian sebagai para penyusup yang ingin membikin onar di negeri kami," serunya.
Sang prajurit yang bersuara galak ini sebenarnya bertubuh kecil dan ramping. Tapi otot-otot bahu dan lengan di balik baju pasukan merah terangnya itu terlihat liat dan berisi. Entah apa jabatan dan peringkatnya di dalam keprajuritan, yang jelas, rekan-rekan sesama prajurit tidak mengatakan apapun dan cenderung menyimak kata-kata dan tindakannya.
__ADS_1
Siam kembali tersenyum, sudah begitu sadar akan apa yang bakal terjadi. "Itu sebabnya kami datang berbondong-bondong, tuan. Aku dan temanku, orang Jawa ini, kami adalah para mpu yang memiliki kemampuan merancang dan menciptakan keindahan serta kekuatan sebuah belati. Rekan kami yang itu," ujarnya sembari menunjuk ke arah Jayaseta dan Narendra, "... adalah pandai besi orang Jawa pula yang memiliki tenaga luar bisa dalam menempa besi panas. Sedangkan rekan kami yang ini," ujarnya menunjuk Katilapan, "... berasal dari Bisaya. Itu sebabnya tuan dapat melihat belati lengkung bagai paruh burung ciri khas Bisaya bernama ginunting ada bersamanya. Ia adalah penghembus api yang cekatan, tuan. Nah, yang terakhir, anak muda, rekan termuda kami ini, yang kenes, manis dan manja itu adalah seorang ..., ah, engkau paham lah tuan. Ia seorang phi ying praphet song yang berasal dari tanah Tanjung Pura. Ia pandai sekali meramu tuak dan melayani kami. Memijat dan, ah tuan tahu maksudku," ujar Siam sembari meringis malu-malu.
Sang prajurit memicingkan mata memandang Dara Cempaka yang dialamatkan Siam. Namun ia tidak mengatakan apapun pun tak memandang Dara Cempaka dengan perasaan tertentu. Dara Cempaka sendiri yang tak paham apapun berusaha tak menatap balik pandangan sang prajurit.
Tanpa membuang-buang waktu, Siam mampu melihat keadaan ini dan melanjutkan penjelasannya. "Nah, kami tidak sekadar menjual barang, tuan. Kami menjual jasa. Kami menawarkan kemampuan kelompok ini dalam mencipta senjata. Aku adalah orang berdarah Siam, darah Ayutthaya, tuan. Mana mungkin aku berpikir buruk tentang negeriku sendiri. Lagipula, tentu aku paham ciri dan kehebatan senjata tajam dari Ayutthaya. Maka, kemampuan kami ini pasti cocok bagi tuan-tuan pembesar di Ayutthaya. Bahkan kami secara khusus ingin menghadap Khun Wanchay Na Ayutthaya," tutup Siam.
__ADS_1
Tidak ada satupun dari kelompok ini yang gentar dengan gertakan prajurit kurus kecil Ayutthaya tersebut. Bahkan Dara Cempaka yang merupakan satu-satunya perempuan dan dalam keadaan yang tidak seutuhnya sehat, telah dibekali dengan kemampuan beladiri yang mumpuni. Mereka sudah paham bahwa perjalanan di tanah Ayutthaya ini akan menghadapi alang rintang yang berbahaya dan menantang. Namun, sebisa mereka, pertarungan harus lah dihindari.
Namun, bukan berarti hal permintaan sang prajurit tidak membuat mereka khawatir. Jayaseta cenderung ingin menyelesaikannya dengan sebuah perkelahian. Ia luar biasa sempurna di bidang ketimbang harus berpura-pura berperan sebagai seorang pandai besi dan menjelaskan pekerjaannya yang sudah dikarang oleh Siam dan dilatih bersama mereka.
Jayaseta, Narendra, Katilapan dan Dara Cempaka sudah siap untuk melakukan kebohongan terbaik mereka ketika terdengar ringkikan kuda dan kehebohan terjadi di pondok para prajurit.
__ADS_1
"Keprajuritan diserang Melayu! Keprajuritan diserang Melayu! Pasukan kita yang ada di sana dibantai habis oleh Pendekar Topeng Seribu! Ia nyata-nyata bekerja di bawah perintah Kesultanan Kedah!" teriak prajurit yang baru saja datang dengan menunggang kuda itu.
Secara naluriah, Siam langsung menerjemahkan seruan sang prajurit Siam itu sehingga membuat Jayaseta tersentak terkejut sekaligus penasaran.