
Seorang prajurit yang mengira kemunculan seorang gembel yang mengganggu namun tak berbahaya sama sekali itu tak paham bahwa nasibnya begitu naas.
Karsa menggenggam tombak yang prajurit itu pegang. Tinjunya mendarat telak di rahangnya, meretakkan tulang bagian bawah kepala tersebut serta membuat sang prajurit ambruk ke tanah.
Karsa membalikkan tombak sehingga ujung mata tombak tersebut melesak masuk ke dada sang prajurit. Tidak berhenti sampai disitu, ketika sang korban sedang meregang nyawa, Karsa mencabut tombak dan kembali menusukkannya dalam-dalam ke dada sang prajurit kedua kalinya dengan amarah.
Nyawa si prajurit Sukadana itu tak tertolong lagi.
"Bang*sat! Mana Mas Kuning, mana pendekar muda sialan itu? Hadapi aku, jangan cecunguk-cecunguk busuk macam kalian ini yang menghalangi jalanku!" teriak Karsa yang tubuh kerempeng rentanya basah kuyup. Ia menodongkan tombak yang matanya masih menempel darah menetes itu ke arah para prajurit yang sudah sontak menghunus pedang dan tombak mereka.
Melihat salah satu rekan mereka tewas mengenaskan, salah satu prajurit menghambur maju dengan pekikan perang. Ia memiliki hubungan yang dekat dengan sang korban, maka dengan kejadian yang cepat dan mengejutkan ini tak memerlukan penjelasan dan keterangan lagi. Ia bertekad menghabisi sosok entah gembel entah orang gila tersebut.
Pedang menyambar ke arah kepala Karsa.
Karsa membiarkan kepalanya bebas terpapras pedang tersebut.
TAK!
Tangan kanan sang prajurit bergetar hebat. Ia tak menyangka pedangnya serasa menubruk batu karang.
Keterkejutannya tak bertahan lama, tombak menembus lambung sampai bagian belakang tubuhnya.
Karsa menggenggam bilah pedang sang prajurit yang masih berada di atas kepalanya sembari memandang tajam kedua mata prajurit yang sedang dalam sakratul maut tersebut.
Karsa kemudian merebut pedang yang ia genggam tanpa terluka sekalipun itu, memelintirnya serta menancapkan ujungnya ke tenggorokan si prajurit pemilik pedang, membunuhnya selama-lamanya.
"Hariku sedang sangat buruk. Aku terhina oleh para budak dan awak hina. Jadi minggir kalian semua, panggil Mas Kuning kemari, atau kuhabisi satu persatu dari kalian, kemudian aku akan kembali ke kapal dan membunuh orang-orang yang menghinaku tanpa sisa!" kembali Karsa berteriak-teriak bagai orang kesetanan.
Para prajurit tidak paham apa yang si tua ini ucap dan maksud. Namun mereka melihat dengan mata kepala mereka betapa sang sosok tua renta ini begitu ganas dan sakti karena kekebalannya.
"Orang itu meminta kita menunjukkan Datuk Mas Kuning. Kau mendengarnya bukan?" ujar salah satu prajurit kepada rekannya.
"Aku tak peduli apa mau orang gila itu. Ia telah membunuh dua rekan kita. Peduli setan bila ia adalah seorang sakti. Persiapkan senjata kalian. Kita akan bunuh ia di tempat," balas rekannya.
__ADS_1
Para prajurit di tanah yang dari delapan orang berkurang dua, menjadi enam, didatangi empat orang prajurit lagi yang muncul dari wilayah penjagaannya di dalam bangunan dan lantai dua rumah Datuk Mas Kuning.
"Heh, kau, orang tua. Kami tak peduli siapa kau yang datang mengacau secara tiba-tiba. Tapi kami pastikan kau akan membayar kematian rekan kami yang kau bunuh," teriak prajurit yang sudah sedari tadi geram dengan tindakan Karsa.
"Bacot kalian tak sebesar nyali. Maju kalian semua. Kubuat kalian minum bersama di akhirat. Aku, Sang Penyair Baka sendiri yang akan mengantarkan kalian."
Kata-kata Karsa tak bermakna apa-apa bagi para prajurit selain pemancing amarah. Dengan teriakan perang, lima prajurit sekaligus menyerang, membacokkan pedang mereka secara bersamaan.
Terlihat Karsa sudah benar-benar kesal dengan kejadian hari ini. Rencananya kacau balau. Maksud hati ingin menyelesaikan semua perhitungan secara tertata, membunuh sang nakhoda, membantai awak kapal dan budak, kemudian menuntut balas pada Jayaseta dengan memergokinya di rumah sahabat lamanya, Datuk Mas Kuning.
Sekarang, dengan tubuh basah, kotor dan penuh kekalahan, ia tak peduli lagi. Siapa saja yang akan jadi korban tak masalah buatnya, yang penting ia bisa membunuh seseorang untuk melegakan sedikit rasa kesalnya.
Maka Karsa tak mau repot-repot menghindari serangan para prajurit. Ia menangkisi bacokan bertubi-tubi itu dengan kedua tangannya. Bahkan beberapa ia biarkan lolos mengenai bahu bahkan kepalanya.
Karsa bergeming.
"Aku bilang, berikan Mas Kuning kepadaku!" Karsa berseru, kemudian membalas menyerang.
Modal kesaktian Karsa bukan sekadar kekebalan tentunya. Dalam bermain jurus, ia juga bukan pendekar sembarangan. Itu sebabnya, julukan Sang Penyair Baka melekat padanya.
Karsa mematahkan lengan satu penyerang dan memukul telak sisanya. Teriakan kesakitan bersahutan disusul tubuh-tubuh yang berjatuhan.
Dalam dua tarikan nafas saja, para penyerang lumpuh menggelepar di tanah.
"Tunggu! Jangan serang orang ini! Sedari awal ia menginginkan Datuk Mas Kuning," bisik salah satu dari sisa prajurit yang masih berdiri.
"Kau gila ya? Orang tua ini menghabisi dan melukai kawan-kawan kita. Apa harus kita biarkan?" balas yang lain.
"Dengar semua. Datuk Mas Kuning sebenarnya adalah tawanan kerajaan. Ia orang yang menentang setiap keputusan Ratu Mas Jaintan. Lalu, apa ruginya bila ia tewas?"
"Tapi Datuk Mas Kuning adalah orang penting. Kita ditugaskan untuk menjaganya, bukan?"
"Orang penting bagi siapa? Jelas bukan bagi kita dan Sukadana, tapu bagi orang Jawa, orang Mataram, yang menyerang dan melumpuhkan negeri ini. Lagipula, kalian yakin bisa melawan pendekar tua sakti nan kebal itu, yang sebentar saja sudah membuat kita kocar-kacir?"
__ADS_1
Para prajurit yang menghunus pedang, menggenggam tombak dan perisai rotan itu saling pandang, mulai ragu dan terbawa ucapan salah satu prajurit berjaga kawan mereka tersebut.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita tak perlu tahu siapa dan apa maunya orang tak dikenal ini. Segera panggil Datuk Mas Kuning. Kita hanya akan menjadi saksi belaka pertemuan mereka akan dibawa kemana. Kita tak memiliki bantuan nyata, mengingat Sukadana sudah terbagi-bagi menjadi beberapa pihak. Kecuali bila orang ini mulai mengacau kepentingan-kepentingan kerajaan lain, maka kita harus melapor kepada keraton."
"Lalu, bagaimana dengan kawan-kawan kita? Lihat, mereka kesakitan," ujar prajurit lainnya menunjuk ke arah teman-teman mereka yang mengaduh-aduh kesakitan.
Si prajurit yang sedari awal ingin menghindari perkelahian ini berpikir sejenak, kemudian ia memutuskan maju mendekat ke arah Karsa. "Wahai, orang tua tak dikenal. Kami akan biarkan engkau menemui orang yang kau cari. Tapi kami ingin merawat kawan-kawan kami yang tidak kau bunuh. Kami juga akan mengambil jasad prajurit yang telah tewas," serunya.
Karsa meludah ke tanah. "Sudah kukatakan sedari tadi untuk tak ikut campur urusanku. Ambil orang-orang kalian dan segera panggil di Mas Kuning!" balas Karsa.
Sang prajurit yang berbicara dengan Karsa tadi langsung menyuruh beberapa temannya yang tersisa untuk mendekat ke arah prajurit yang terluka dan telah tewas. Ia juga meminta satu orang untuk memanggil Datuk Mas Kuning.
Yang disuruh mengangguk dan berbalik hendak berlari menjemput sang Datuk ketika dilihatnya sosok orang yang hendak dipanggilnya sudah berdiri di depannya.
"Nah, nah ... Mas Kuning, mengapa tak dari tadi kau datang menemuiku?" ujar Karsa tersenyum melihat sahabat lamanya itu.
Datuk Mas Kuning tidak langsung menjawab. Ia memerintahkan para prajurit untuk segera membantu kawan-kawan mereka yang terluka dan merawatnya di rumahnya. "Temukan Dara Cempaka di sana. Ia telah menyiapkan obat-obatan yang diperlukan. Jangan khawatitkan apa-apa dahulu. Aku tak akan pergi dari rumah ini," ujar sang Datuk. Yang diperintahkan segera mengangguk dan melaksanakan permintaan Datuk tersebut.
Datuk Mas Kuning memandang Karsa. "Perilaku dan adabmu tak pernah berubah, bahkan setelah kita telah berbau tanah seperti ini, Karsa."
"Heh, Kuning. Apa kabarmu? Baik, aku rasa. Memiliki kehidupan yang terhormat, kaya dan jaya. Bahkan ketika kau memiliki citra sebagai seorang pengkhianat negara pun masih diperlakukan dengan puja puji," Karsa terkekeh.
"Harusnya kau sudah harus paham seusia ini bahwa segala hasil yang kita dapatkan adalah dari segala tindak-tanduk kita dahulu di masa muda. Apa kau mau menyalahkan nasib yang berperilaku tidak adil, padahal kau lah sendiri yang memutuskan untuk menjadi apa dan seperti apa?"
"Kuning, cukup. Kita tak bisa menghabiskan malam dengan berbincang, bertukar kata dan saling bergaya siapa yang paling dewasa memainkan kata-kata mutiara," ujar Karsa sembari memungut sebelah pedang yang ditinggalkan prajurit yang terluka tadi. Ia menimang-nimang pedang itu di tangannya.
"Setahuku, kau yang suka sekali berbicara, Karsa. Kau sendiri yang memutuskan menggelari dirimu dengan Sang Penyair Baka," ujar Datuk Mas Kuning sembari tersenyum.
"Hariku sedang tak baik, Kuning. Aku sedang malas berpantun dan bersajak. Segera serahkan Pendekar Topeng Seribu, muridmu yang baru itu kepadaku. Setelah itu, aku akan terima tawaranmu menyirih, atau bila kau mau aku pergi, aku akan pergi," Karsa menggenggam pedang dengan mantap, memandang tajam ke arah Datuk Mas Kuning dan memasang kuda-kudanya.
Datuk Mas Kuning sendiri tertawa pelan, mencabut keris Kyai Pulau Bertuah yang sedari tadi ia genggam dan letakkan di belakang punggungnya oleh kedua tangannya.
__ADS_1
Mata Karsa berbinar, "Hahaha, kembali juga pusaka pada pemilik sahnya."
Jayaseta memandang adegan ini dari jauh. Tubuhnya masih penuh dengan darah. Tubuhnya masih lumayan lemah. Tapi ia khawatir tak dapat bertahan lama melihat kejadian ini dari jauh sesuai permintaan sang Datuk. Sepasang kakinya sudah hendak memacu tubuhnya menghambur ke arah Karsa yang ternyata masih hidup dan terlihat sehat sentosa.