
Kapal dagang Lan Xang itu telah hampir seluruhnya dipenuhi oleh para perompak Đại Việt seperti seekor belalang sembah dikerubuti sepasukan semut rang rang.Para perompak dengan tubuhnya yang kecil sangat lincah dan gesit merambati kapal dengan tali-tali yang disangkutkan ke badan kapal. Mereka juga mulai menusuki dan menyerang para awak dan budak yang mendayung kapal. Kapal mulai terambing-ambing karena serangan ini. Para pendayung sudah banyak yang terluka dan tak mungkin bagi mereka untuk sepenuhnya memusatkan perhatian mereka pada pekerjaannya.
Sasangka sudah mencabut wedhung tunggal yang mencancap di dahi musuh. Ia sudah kembali berdiri dengan gaya tiga jurusnya. Sang perompak Đại Việtdengan pedang melengkung serupa katana yang telah rompal di sana-sini sudah terlalu geram dengan Sasangka. Ia penasaran sekali untuk bisa membacokkan pedangnya ke tubuh pendekar dari pulau Jawa tersebut. Sialnya, kesempatan belum didapatkannya. Para perompak berebutan maju dan menusukkan tombak mereka. Dari awal mereka semua paham bahwa tidak ada kesempatan bagi mereka untuk dapat mengalahkan sang pendekar. Satu-satunya cara adalah mengeroyok dan menjaga jarak mereka dengan menggunakan tombak tersebut.
Namun, rencana mereka malah kini memberikan keuntungan bagi Sasangka. Tombak di tangan mereka mulai bergulir dari genggaman, memudahkan Sasangka memotong jarak. Maka, kini, mereka lah yang dalam bahaya. Di sisi lain sang perompak Đại Việtdengan pedang melengkungnya itu mencari-cari jalan agar dapat masuk mendekat,
di sela-sela rombongan perompak bertomba yang berteriak-teriak mengancam dan terus-terus menusukkan tombak mereka, baik sebagai bentuk ancaman atau mencuri-curi kesempatan.
“Bangsat! Minggir kalian. Aku kubunuh orang yang satu ini,” seru sang perompak dengan suara sengaunya.
Sepertinya tak ada yang benar-benar mendengarnya, maka ia mendorong dua orang perompak bertombak yang menghalangi jalannya ke samping dengan keras. Seraya berseru keras, kedua tangannya menggenggam gagang pedang erat dan melompat membabatkan bilah rompal tetapi tajam itu lurus membelah dari arah atas ke bawah. “Heyaaa …!” teriaknya.
Kembali, nyatanya, keberuntungan memihak Sasangka. Langkah sang perompak yang diburu nafsu dan hasrat membunuh itu membuka jalan bagi sang pendekar. Dua perompak yang terdorong ke samping dengan cukup keras itu goyah dan hampir jatuh, mempengaruhi kuda-kuda perompak lain yang mengepung Sasangka. Dengan lincah,
__ADS_1
Sasangka melangkah masuk ke sela-sela gelaran para perompak yang telah berantakan itu dan menghindar dari bacokan sang perompak berpedang. Dalam kesempatan itu pula Sasangkan sekaligus berhasil membabat leher salah satu perompak yang oleng tadi. Sang perompak memegang lehernya yang hampir putus dan mengucurkan
darahnya deras. Tak lama ia tumbang.
Sasangka sendiri terus masuk ke sela-sela para perompak yang kebingunan dengan tombak mereka. Tusukan-tusukan menjadi tan gkisan-tangkisan yang tak begitu berguna. Tiga jurus Sasangkan menembus ketiak. Bahu, leher dan bahkan perut mereka. Tak diketahui berapa banyak yang tewas, berapa banyak yang terluka parah. Yang jelas Sasangka bergulingan, menunduk dan memanen jiwa-jiwa musuh.
“Bangsat! Aku di sini. Hadapi aku, Sasangka!” ujar sang perompak Đại Việt dengan menggunakan bahasa yang dipahami Sasangka.
Ia kembali mencelat maju mengejar Sasangka. Tiga sabetan panjang diarahkan ke sang pendekar dengan penutup mulut tersebut. Ketiganya tentu gagal sama sekali. Sasangka berkelit dan berguling, kemudian mendadak sudah ada di sampingnya.
BRET!
BRET!
__ADS_1
BRET!
Sasangka menerjang maju dengan satu langkah panjang tetapi rendah. Sabetan tangan kanannya yang menggenggam wedhung kembar memaprat putus telinga sang perompak. Tak berhenti, Sasangka memutarkan wudhung kembarnya untuk jurus kedua, menyobek wajah dari dahi sampi bibir sang perompak, ditutup dengan serangan terakhir, wedhung di tangan kiri merobek lambung musuh.
Pedang melengkung penuh rompal di tangan sang perompak Đại Việt itu tak sempat sama sekali menyentuh musuh, malah jatuh berdenting di atas geladak kapal di susul tubuh tak bernyawanya yang bersimbah darah menggelegak keluar dari perutnya yang sobek.
BRET!
Sasangka mendadak merasakan bahu kanannya memedih. Ia langsung berputar dan bergulingan ke belakang beberapa kali.
BRET!
Sekarang bahu kirinya yang terluka.
__ADS_1
Sasangka memutar-mutarkan ketiga wedhungnya untuk menghalau serangan tombak demi tombak yang tiba-tiba seakan bertambah banyak berkali-kali lipat. Awalnya ia sudah berpikir bahwa bisa merusak gelaran perang dan keroyokan para perompak tersebut. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa para perompak terus berdatangan. Ini sebenarnya dikarenakan karena ia sendiri terlalu memusatkan pikiran para para pengeroyoknya dan bukan keadaan kapal. Berbeda dengan Jaka Pasirluhur yang sudah memetakan kemungkinan serangan lawan dan apa saja yang sudah terjadi di beberapa sisi kapal, termasuk buritan, haluan dan bagian tengah kapal.