
Perkampungan Thai sudah sekitar setengah hari perjalanan lagi. Pagi-pagi buta Jayaseta sudah bangun. Ia sempat tidur beberapa saat, itupun karena dipaksa oleh Dara Cempaka. Sang istri berjanji akan berjaga. Jayaseta diminta beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaganya. Memang Dara Cempaka sendiri telah cukup banyak beristirahat selama perjalanan mereka. dan itu sangat membantu kesehatan dan keawasannya pula. “Ingat, abang. Bagaimanapun abang harus mengakui aku adalah seorang pendekar,” ujarnya. Tentu saja hal semacam ini membuat Jayaseta menurut.
Sebenarnya Dara Cempaka sudah ingin menceritakan sesuatu kepada sang suami sebelum Jayaseta sendiri menjelaskan tentang pikirannya. Namun, Dara Cempaka belum mendapatkan waktu serta masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan dugaannya. Kisah yang disampaikan Jayaseta ternyata akhirnya sesuai dengan dugaannya selama ini.
Jayaseta terkejut mendengar kisah sang istri. Namun kemudian ia mencium lembut bibir Dara Cempaka karena begitu cerdas perempuan muda tersebut. Kini semuanya telah terbuka. Keterkejutannya tidak sebanding dengan apa yang mungkin mereka bisa hindari kelak. Ia tidak bisa tidak berterimakasih kepada Dara Cempaka atas ketepatan pengamatannya. Bila tidak, keselamatan kelompok ini secara keseluruhan akan terancam.
Jayaseta tidur dengan tenang walau hanya beberapa saat. Ia dan Dara Cempaka sudah sepakat dan memutuskan langkah mereka selanjutnya. “Tapi, abang harus tidur dahulu,” begitu perintah sang istri.
Pagi-pagi buta. Api masih menyala. Siam dan Ireng sudah mempersiapkan barang-barang bawaan mereka dan berbicara ringan dengan keempat pemburu Thai yang juga sudah bangun dan menggenggam senjata mereka. Narendra dan Katilapan berjalan mendekat ke arah Jayaseta. “Jadi, bagaimana rencanamu, Jayaseta? Kita akan melanjutkan perjalanan saat ini juga, atau kau mau makan dahulu?” tanya Katilapan.
Jayaseta memandang kedua kakangnya. “Kakang Narendra dan kakang Katilapan, nampaknya kita akan memiliki perubahan rencana secara besar-besaran. Siapkan senjata kalian. Kakang Katilapan, tolong gunakan ginunting. Kita harus membunuh lagi. Bila tidak, kita yang akan terbunuh,” ujar Jayaseta dengan suara rendah hampir berbisik.
__ADS_1
Katilapan dan Narendra mengerutkan kening mereka. Namun tak ada pertanyaan yang keluar dari kedua mulut mereka. Sebagai pendekar, apalagi yang telah mengenal Jayaseta, tidak penting untuk mengetahui secara utuh semuanya. Cukup bersiap melaksanakan pertempuran. Masing-masing memegang hulu senjata mereka.
Jayaseta berdiri, menghela nafas, memandang tajam ke arah Siam, kemudian berlari cepat, mencelat dan menerjangkan tendangannya tepat ke arah Siam yang memang kebetulan sedang memandang ke arahnya.
Siam menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.
BRAK!
Ia melihat tak percaya kepada Jayaseta kemudian berseru, “Ada apa tuan Jayaseta? Apa yang tuan lakukan?”
Jayaseta berdiri santai dengan kuda-kuda Jurus Tanpa Jurusnya. Ia mendengus dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Jurus apa yang kau gunakan, Siam? Aku tebak kau menguasai jurus-jurus harimau, bukan?”
__ADS_1
Siam memandang kuda-kudanya, kemudian berdiri cepat. Masih menunjukkan kebingungannya, ia menatap balik kepada Jayaseta. “Aku tak mengerti maksud tuan!”
Ireng mencabut kerisnya sebagai bentuk pertahanan diri, meski tak tahu apa yang sedang terjadi. Begitu pula Narendra dan Katilapan. Syukurnya, walau masih mencoba mengerti dengan apa yang sedang terjadi, mereka memang sudah siap dengan apa yang akan terjadi. Empat pemburu suku Thai memasang kuda-kuda perang. Tombak panjang terulur ke arah Jayaseta.
“Aku akui kau lumayan pintar menyembunyikan jati dirimu, hai orang Champa!” ujar Jayaseta. Kini semua orang dibuat semakin bingung.
“Sayangnya, kau tidak menganggap Dara Cempaka, istriku sang pendekar perempuan itu terlalu cerdas untuk dapat kau bayangkan,” Jayaseta menghela nafas tetapi masih memandang tajam ke arah Siam. “Aku tahu kau tidak berdarah Siam. Kau sebenarnya adalah orang Champa yang telah lama tinggal di Siam. Apakah kau tahu bahwa Dara mampu berbicara Champa walau tidak terlalu fasih? Bahasa Champa memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Melayu. Selain itu, Datuk Mas Kuning nyatanya juga telah memberikan Dara sedikit kemampuan berbahasa Siam. Selama ini, istriku telah mengumpulkan banyak hal yang akhirnya sampai di kesimpulan ini,” ujar Jayaseta.
Raut wajah Siam yang semula terlihat bingung kini mendadak berubah menjadi lebih santai. Ia menghela nafas, menggeleng dan menggaruk-garuk kepalanya. “Aku juga sudah terlalu lelah, Jayaseta,” balasnya santai.
Kemudian, tanpa aba-aba dan peringatan, Siam menderu ke arah Jayaseta. Ia melompat begitu tinggi mencoba membenamkan kedua cakar jari-jarinya di kepala sang pendekar.
__ADS_1