Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Mossak Toba


__ADS_3

Jayaseta menderu-deru dengan peudeung di tangan kanannya. Bentuk pedang yang melengkung itu mengingatkannya pasa shamsir dan jurus-jurus mendiang kakeknya sehingga entah bagaimana, gerakan penggunaan pedang Parsi yang telah melebur ke dalam dirinya muncul kembali bercampur dengan segala jurus yang pernah ia pelajari.


Pendekar Toba, Pendekar Aceh dan para pendekar Bugis-Mangkasara harus merasakan kepedihan menghadapi pasangan guru-murid ini.


Sang Datuk mengibaskan sarung, kemudian maju menusuk. Ketika lawan hendak menyerang balik, Jayaseta berputar bagai topan membentuk benteng dengan peudeung yang membabat-menetak.


Dua tiga pendekar dari sisi musuh langsung berjatuhan. Datuk Mas Kuning mengarahkan serangan ke bagian tengah dan bawah tubuh musuh, sedangkan Jayaseta melengkapinya dengan deruan bilah pedang ke leher dan kepala. Darah berkecipratan.


Para pendekar yang semuanya memiliki sejarah dan kepentingan sendiri di atas geladak kapal orang Pranggi ini tentu tak mempunyai kesadaran gerakan serangan bersama. Mungkin hanya orang-orang Bugis dan Mangkasara yang saling paham dengan kemauan mereka di dalam satu kelompok, namun orang Toba dan pendekar Aceh menyerang dengan kalut, kisruh, berbondong-bondong dan berebutan serabutan.


Jayaseta memandang sang Datuk, menyampaikan semacam pesan terselubung yang langsung dipahami gurunya tersebut.


Sang Datuk memberikan ujung sarungnya kepada Jayaseta dengan cepat. Keduanya langsung berputar-putar maju dengan gerakan yang rumit, mengunci lengan musuh dengan untaian sarung tersebut kemudian sang Datuk menusukkan kerisnya ke pinggang dan perut pendekar Toba. Jayaseta sendiri kemudian melepaskan pegangan sarung di tangannya dan menyelip di antara musuh, menebas sekaligus dua pendekar Bugis-Mangkasara dan menusukkan ujung puedeung dengan bilah melengkungnya ke si pendekar Aceh, menyobek perutnya.


Gerakan yang dilakukan Jayaseta dan Datuk Mas Kuning tadi ternyata merupakan tipuan yang digubah dari silat pulut yang berkelok-kelok dan bagai kedua orang yang menari-nari namun memiliki kekuatan dahsyat bagai ombak yang mampu menerobos kepungan musuh. 


***


Babiat Sibolang berguling mundur. Ginunting memapras dada seorang pendekar Aceh, sedangkan perut rekan pendekar Toba Babiat Sibolang bocor ditusuk tombak bermata trisula Narendra. Babiat Sibolang menahan gemeretak gigi-giginya yang dikatupkan begitu keras karena amarah.

__ADS_1


Sepasang pendekar ini seakan berlomba-lomba saling bersaing menghabisi musuh. Babiat Sibolang tak menduga sama sekali bahwa mereka ternyata harus menghadapi empat orang pendekar yang merupakan lawan-lawan pilih tanding.


Babiat Sibolang melepaskan dan melemparkan belatinya ke atas lantai papan geladak kapal. Ia menatap tajam kedua pendekar yang bersenjatakan pedang yang melengkung ke depan bernama ginunting dan sebuah tombak bermata tiga bernama trisula itu.


Babiat Sibolang menempatkan sebuah kuda-kuda yang sangat rendah dan lebar, setengah berjongkok. Kedua kakinya diangkat bergantian dengan mengikuti titik berat tubuh. Nafasnya diatur sedemikan rupa dan dengan cara tertentu, kemudian tangannya digosokkan ke punggung.


Inilah sikap jurus silat Mossak milik para pendekar Toba. Babiat Sibolang sendiri tidak benar-benar berhasil mempelajari sepenuhnya beragam jurus dan kesaktian tersebut dari gurunya. Ketekunan yang luar biasa serta rasa keagamaan yang tinggi membuat Babiat Sibolang enggan berguru lebih lanjut. Ia merasa telah cukup cerdas untuk mengambil saripati dan inti unsur silat Mossak sehingga menciptakan gubahannya sendiri.


Silat Mossak yang asli membuat seorang pendekar tidak sekadar memiliki kemampuan badaniah yang hebat, cepat dan peka, namun juga menguasai tenaga murni atau tenaga dalam yang mumpuni. Tenaga dalam ini dihasilkan dari kedekatan seorang pendekar dengan unsur-unsur alam yang merupakan ciptaan Yang Maha Kuasa. Sehingga, bisa dikatakan bahwa seorang yang menguasai silat Mossak memiliki kedekatan dengan Yang Maha Esa pula. Kemampuan memahami alam ini selain membuat seorang pesilat Mossak memiliki kekuatan tenaga dalam murni, ia juga memiliki kepekaan luar biasa, sehingga bahkan dengan mata tertutup pun ia sanggup menghindari serangan lawan dan membalasnya. Ini karena sang pendekar sangat mengenal sekitarnya.


Babiat Sibolang adalah laki-laki penuh semangat namun jumawa. Ia merasa sudah menemukan inti dari sembilan tingkat ilmu kanuragan Mossak Toba, padahal secara resmi ia baru sampai tingkat keenam. Dengan pemikiran dan latihannya sendiri, pada akhirnya ia mampu menciptakan gaya silat serupa dengan Mossak suku Toba sekaligus menggubah pencapaian ilmu tenaga dalam murni dan pernafasan dengan caranya sendiri.


Katilapan tak berlama-lama memutuskan untuk menyerang sisa satu pendekar Toba tersebut, apalagi Babiat Sibolang sudah dahulu menyerbu. Katilapan sendiri sempat heran mengapa sang lawan membuang senjata tajamnya dan malah bertangan kosong.


Katilapan baru paham ketika tebasannya ke arah dada lawan dapat dielakkan dengan kuda-kuda yang begitu rendah. Satu tangan menopang tubuh, dan satunya, dengan bentuk meniru telapak kaki harimau, menghajar pinggang Katilapan.


Katilapan tersentak mundur dan jatuh berguling. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya. Rupa-rupanya dengan melepaskan senjatanya, gerakan lawan menjadi lebih gesit dan telapak tangannya dialiri tenaga dalam yang tak biasa. Katilapan berusaha bangun, namun rasa sakit itu masih berputar-putar di sekitar pinggangnya.


Melihat kawannya tumbang dalam sekali gerak, Narendra langsung berpikir cepat bahwasanya musuh di depannya ini bukanlah pendekar sembarangan. Sedari awal pertempuran, orang itu terlihat lebih banyak undur diri. Menyerang sekali dua, mencari celah, kemudian mundur. Kini gerakannya begitu cepat dan sama sekali berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


Maka Narendra pun enggan tergopoh dan ceroboh. Ia memberikan tiga tusukan tombak trisulanya sekaligus. Babiat Sibolang merunduk rendah, bergeser dan mencelat tinggi. Ketika kedua kakinya sampai ke lantai, Babiat Sibolang langsung melesat.


Narendra tak menduga serangan tiba-tiba itu, namun ia tetap meneruskan serangannya dengan sebuah tusukan panjang alih-alih menghindar dari serangan balasan sang musuh.


Babiat Sibolang menghempaskan lengannya keras menangkis tombak trisula Narendra, kemudian menunduk rendah dan memasukkan kedua telapak tanganya ke perut dan dada Narendra.


Hampir saja tubuh Narendra menjadi sasaran terbuka musuh bila ia tak menyilangkan batang tombak trisulanya membujur di dada dan perutnya. Namun hasilnya, meski tubuhnya tak terkena langsung, Narendra tetap terlempar ke belakang sejauh satu tombak. Dadanya sedikit sesak karena benturan telapak tangan Babiat Sibolang yang menekan tombak trisula ke dadanya.


Katilapan bangkit dan menyerang langsung ke arah pendekar Toba itu. Ginuntingnya menderu menusuk, membabat menyilang pendek dua kali dan sekali dengan tebasan panjang. Babiat Sibolang menghindari semua serangan dengan sempurna. Gerakannya bagai orang kesurupan. Ia bergerak rendah, menunduk. Kedua tangannya melebar, menekuk di atas tengkuk dan punggung, sehingga jurus-jurus rendahnya ini membuat tubuhnya serasa merata dengan lantai.


Narendra masuk ke dalam pertempuran. Ia melompat dan menusukkan trisulanya ke arah kepala Babiat Sibolang. Yang diserang kembali menunduk, namun kemudian berputar dan memasukkan tendangan panjang yang dilontarkan dengan cara ditolakkan dengan kedua tangan di lantai geladak.


Narendra terlempar. Perutnya telak terkena tendangan Babiat Sibolang. Tak sampai disitu, sang pendekar Toba ini kembali berputar dan dengan sebuah langkah panjang lagi mengghantamkan telapak tangannya lagi ke dada Katilapan.


Teriakan pendek terdengar. Katilapan terlempar mundur dan terkapar di atas geladak kapal. Ginuntingnya terlepas dari tangannya.


Jayaseta dan Datuk Mas Kuning yang telah menyelesaikan tugas mereka: melumpuhkan, melukai dan membunuh para pendekar yang terkapar berserakan merintih di lantai geladak langsung mendekati Katilapan. Jayaseta membantunya berdiri.


Jayaseta kemudian hendak menyerang Babiat Sibolang sebelum Katilapan memegang tangan dan mencegahnya. "Tak perlu, Jayaseta. Orang ini biar menjadi lawanku dan Narendra. Lebih baik kau perhatikan baik-baik tiga pendekar Nias, para penembak bedil di atas sana, termasuk nakhoda dan bule itu. Mereka pasti memiliki rencana tersembunyi. Aku akan tuntaskan pendekar yang satu ini," ujar Katilapan. Ia menggapai pinggannya dan mencabut dua batang tongkat rotan.

__ADS_1


__ADS_2