Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sosok yang Sangat Mengerikan


__ADS_3

Khaung dan Sovarannith mengamuk. Dha dan dav menderu-deru bagai kumpulan lebah yang siap menyengat. Sesadar apapun mereka dengan kenyataan bahwa mereka sedang menghadapi seorang pendekar yang sangat tangguh ini, harga diri yang terluka karena baru saja dipukul dengan dua batang rotan, bukanlah sebuah hal yang bisa diwajarkan. Harusnya Jayaseta segera membunuh mereka saja dengan sebilah daab yang malah ia tancapkan begitu saja di tanah, pikir mereka.



Namun, memang itu tujuan Jayaseta, memainkan mereka, mencari penjelasan dan kejelasan dari mulut mereka sendiri sekaligus mempelajari jurus-jurus musuh.


Sudah sampai enam kali sabetan baik dari Khaung maupun Sovarannith. Jayaseta sengaja menangkis pedang-pedang mereka dan menepis dengan bilah rotan yang lentur itu. Serangan kedua perampok pendekar Burma dan Khmer tersebut, meski tidak terbilang terlalu hebat, tetap saja cukup berbahaya. Apalagi keduanya sedang dirasuki amarah yang luar biasa.


Sovarannith memiliki jurus-jurus serupa dengan Muay Boran, atau silat Tomoi yang dikenal Jayaseta terlebih dahulu, hanya saja alih-alih menggunakan tangan kosong, jurus-jurus itu diterapkan pada penggunaan senjata.


Jayaseta harus berkelit dan memutar tubuh setiap dav dibacokkan ke arahnya. Rotan dipukulkan ke sisi pedang lawan untuk menepisnya. Sovarannith merasakan serangannya yang bertubi-tubi itu mental. Jari-jarinya terasa kesemutan karena semakin cepat ia menebaskan dav nya, secepat itu pula lah Jayaseta menangkis.


Khaung menebas dengan gerakan tangan yang panjang-panjang, tidak seperti Sovarannith yang pendek-pendek dan cenderung melengkung. Jayaseta melingkupi tubuhnya dengan gerakan Jurus Tanpa Jurusnya dengan meleburkan Kali Bisaya dan disesuaikan dengan keperluan. Serangan Khaung sama mandulnya, meski keduanya menerapkan jurus yang walau serupa tapi berbeda secara inti.


Kedua tangan Jayaseta bekerja sama baiknya, enam serangan lawan ditepis dengan baik. Ia ingat bahwa Kali Bisaya sangat berguna dalam pertarungan bila musuh semakin menyerang. Kini ia telah menjaga jarak untuk memancing musuh kembali menyerang.


Khaung mengangkat satu kaki, kemudian mencelat ke arah Jayaseta, disusul Sovarannith di belakangnya.

__ADS_1


Dha di tangan kanan Khaung menebas turun mencoba membelah batok kepala Jayaseta. Yang diserang menepiskan serangan itu dengan menyatukan kedua batang rotannya.


Khaung berpikir bahwa pertahanan Jayaseta terbuka karena kedua lengannya digunakan untuk menepis satu sabetan saja. Maka ia menjejakkan kaki kanannya ke arah sisi perut musuh dan berencana menutup jurus serangan ini dengan menebaskan pedang kirinya.


Tapi ia benar-benar salah. Jayaseta memainkan gaya Kali Bisaya dengan beragam campuran jurus yang telah bersatu padu. Kaki Khaung tertahan oleh lutut Jayaseta yang terangkat, sedangkan sabetan tangan kirinya ditebas oleh kedua rotan. Khaung oleng dan hilang keseimbangan sehingga ketika ia serasa ingin terjatuh, masih mencoba menyerang.


Jayaseta memutarkan kedua lengannya, mengancing lengan Khaung dan menyentaknya keras dengan memanfaatkan kedua rotan sebagai alat pengunci.


Dha terlepas dari tangan kirinya.


PLAK! PLAK! PLAK!


Sebelum ia bisa kembali awas dan sadar, Jayaseta sudah menyodok ulu hati dan merebut tangan kanan yang menggenggam dha dengan sepasang rotannya serta sekali lagi menguncinya. Dengan sebuah jurus yang rumit dan harus melalui bakat atau latihan yang keras, Jayaseta memutar kunciannya sehingga membuat Khaung terpelanting dan terhempas jatuh ke bumi. Dha nya terlepas, terlempar jauh, sedangkan ia sendiri tak bisa bergerak karena rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya karena terbanting tadi.


Sovarannith melompat tinggi dan membabatkan dav gandanya menyilang.


Jayaseta mundur dan berguling ke belakang. Ujung dav hanya sejengkal dari wajahnya.

__ADS_1


Sovarannith berseru keras dan kembali memburu Jayaseta. Melihat rekannya sudah berhasil dilucuti dan ditaklukkan malah semakin membuatnya bersemangat mengalahkan Jayaseta.


Jurusnya yang pendek-pendek menjadi lebih cepat dibanding Khaung. Hanya saja, untuk menggapai sasaran, ia harus bergerak cepat dan meluncur jauh.


Jayaseta yang merasa musuh diburu nafsu sengaja mengikuti alur pertarungan Sovarannith. Alih-alih mundur, ia malah melangkah maju. Kedua rotannya berputar-putar di depan bagai payung. Ia sengaja menebaskan kedua rotan dan membenturkannya ke kedua dav.


PRAK! PRAK! PRAK!


Tidak seperti pedang dimana logam yang saling beradu akan menghasilkan bilah yang rompal, rotan yang lentur tak mudah terpapras. Sebaliknya kelenturannya mengakibatkan ujung-ujung rotan menampar-nampar jari, buku-buku, punggung dan pergelangan tangan Sovarannith setiap dua jenis senjata itu beradu.


Sovarannith meraung marah karena merasa dikadali oleh lawan dan dikerjai oleh sepasang rotan. Ia semakin mengamuk menebaskan kedua dav nya menyilang kemudian mencelat maju menusukkan lututnya.


Sial bagi Sovarannith. Udara kosong yang ia dapatkan, sedangkan rasa sakit menjalar di belakang kepalanya. Tapi sebentar saja, karena setelah itu, ia tak merasakan apa-apa lagi. Kepala bagian belakangnya hancur oleh kerasnya pukulan batang rotan. Nyawanya tak bisa tertolong.


Khaung tersentak melihat kejadian ini. Ia berusaha duduk dengan tubuh yang terasa hancur.


"Kau membunuh Sovarannith, Jayaseta! Bukankah kau ingin kami menceritakan semuanya sehingga kau mengganti daab mu dengan dua batang rotan k*eparat itu?" ujar Khaung tak percaya.

__ADS_1


Jayaseta berdiri di depannya. Angin mengibarkan ekor kain yang menutupi mulutnya. "Aku tak perlu dia. Kau lah yang bisa berbahasa Melayu."


Khaung terbelalak. Ia tak menyangka sosok dingin di balik penutup mulut itu berubah menjadi sosok yang sangat mengerikan.


__ADS_2