
“Apa begini sifat penjagamu, nduk? Kurang ajar, tidak sabaran dan lancang? Aku belum selesai berbicara denganmu. Lagipula apa urusannya dengannya?” ujar Sudiamara ketus.
“Tidak perlu bersikap baik dengan orang macam kau ini. Aku, Koncar, walau kau anggap remeh dan mungkin sama sekali bukan tandinganmu, tidak akan pernah merasa gentar untuk melawanmu dan akan menghabisimu pada akhirnya!” seru Koncar. Pada prajurit penjaga juga sudah berada di belakangnya, siap dengan tombak dan tameng mereka kembali.
Almira mengurut keningnya dan mengelus perutnya. “Koncar, tologn turunkan tombakmu. Begitu juga yang lain. Kakang Sudiamara bukan orang seperti yang kau pikirkan. Aku telah mengenalnya sedari masih bocah. Kalau ia memang hendak membunuhku, sudah dari tadi aku pasti sudah tak bernyawa. Ia tak akan menghabiskan waktu untuk berbicara denganku, apalagi menyampaikan keinginannya secara resmi untuk membunuhku. Bukan begitu, Kakang Sudiamara?” ujar Almira tenang, meski pikirannya berkemelut.
Sudiamara yang hampir tersulut amarahnya kembali menarik nafas demi melihat ketenangan dan kesabaran bekas Nyai yang telah menjadi saudara angkatnya itu. Ia mengangguk pelan.
“Nyai, orang ini berbahaya sekali. Aku dapat melihat dari tindak-tanduk dan perilakunya. Pengalaman dan naluriku mengatakan bahwa ia bukan orang baik-baik seperti yang Nyai kenal selama ini,” ujar Koncar dengan masih bersikeras tidak menurunkan tombaknya.
“Bocah edan! Siapa yang bilang aku adalah orang baik-baik? Entah sudah berapa nyawa manusia kulepaskan dari tubuh mereka selama hidupku ini. Kau dan cecunguk-cecunguk itu juga akan menerima akibatnya bila masih nekad untuk melawanku. Tapi ini bukan masalah apakah aku adalah orang baik seperti Jayaseta, suami Almira, atau orang jahat. Ini adalah masalah keselamatan Nyaimu. Tujuanku datang kemari dari jauh adalah untuk memperingatkan Almira sekaligus coba menyelamatkannya dari ancaman yang nyata. Kalau kau masih penasaran denganku, kita bisa jajal setelah urusan ini selesai. Dengan begitu, kau bisa tenang ke surga. Aku sendiri yang akan mengirimmu ke sana, hai Koncar sang orang baik!” ulas Sudiamara panjang sembari memberikan sindiran dan ejekan kepada Koncar. Meski Sudiamara jelas merupakan orang yang tak sabaran dan brangasan, ia dapat pula menahan nada kalimatnya agar tidak meledak-ledak.
__ADS_1
“Koncar, turunkan tombakmu. Perintah kepada bawahanmu juga. Kau boleh berdiri di sampingku untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Kakang Sudiamara. Bukan begitu, Kakang?” ujar Almira menatap tajam ke arah Sudiamara.
Sudiamara menghela nafas panjang. “Baik, dengan rendah hati aku meminta padamu, nduk. Juga kau … siapa namamu tadi? Ah, Koncar. Terus terang aku kelak akan meminta bantuanmu,” ujar Sudiamara terlihat agak malu-malu, berkebalikan dengan sikapnya tadi.
“Apa maksudmu?” selidik Koncar.
“Ya, apa maksudmu, Kakang?” sambung Almira.
“Ya, dan aku harap Jaka Pasirluhur juga dapat menemui Kakang Jayaseta serta membantunya, memberikan kekuatan tambahan,” ujar Almira.
“Jaka … siapa dia?” selidik Sudiamara.
__ADS_1
“Sudah Kakang. Lanjutkan saja ceritamu,” jawab Almira.
“Baiklah kalau begitu. Yang jelas, Dunia Baru sudah tidak bisa memiliki pikiran yang masuk diakal lagi. Mereka memerintahkanku untuk membunuh orang-orang yang berhubungan dengan Jayaseta. Aku menolaknya, tentu saja, tetapi tidak ada yang tahu. Lagipula, bukan aku satu-satunya yang diperintahkan untuk tugas ini. Kesanga, wong Bromo dari lereng Tengger, yang digelari Pendekar Cemeti Sakti, salah satu dari sembilan pendekar Dunia Baru,
juga sedang dalam perjalanannya kemari untuk ikut menjadi saksi kematianmu,” lanjut Sudiamara.
“Dia tidak sendiri. Masih ada dua kaki tangannya yang tidak hanya lumayan dalam ilmu kanuragannya, tetapi juga gila, kejam dan memiliki nafsu bagai binatang. Keduanya sepertinya bukan berasal dari Tengger. Kesanga mengambil mereka dari lumpur. Mereka adalah bekas begal dan perampok keji.”
Almira menarik nafas panjang dan mengucap di dalam hati.
“Dengar, nduk. Aku mungkin bukan orang baik. Aku mungkin sama kejamnya dalam kehidupanku. Tetapi, kau adalah orang yang penting di dalam hidupku. Akan kubaktikan seluruh hidupku untuk melindungimu. Sialnya, aku juga perlu jujur kepadamu bahwa Kesanga memiliki kemampuan silat setinggkat dua tingkat di atasku. Aku tidak akan dapat mengalahkannya begitu saja. Maka dari itu, aku memohon kepadamu untuk memercayakan rencana yang akan aku sampaikan. Meski kesal, aku juga senang karena Koncar dan para prajurit penjagamu keras kepala dan siap mati. Aku memerlukan mereka untuk menghadapi Kesanga,” tutup Sudiamara.
__ADS_1