
Jayaseta mengangkat potongan kepala Karsa tinggi-tinggi di depan benteng dari kayu ulin tersebut. Belasan prajurit dan pejuang Daya sudah menintingnya dengan sumpit serta bersiap menyerangnya dengan tombak dan do. Punyan memperhatikan nya dari atas benteng.
"Punyan, melihat cirinya, nampaknya benar itu kepala Karsa, orang yang dijuluki Sang Penyair Baka," ujar salah satu prajurit melapor.
Punyan memandang penuh selidik pada sosok laki-laki di depan bentengnya yang baru saja sampai bersama tiga orang lain berpakaian Melayu. Orang-orang suku laut atau Melayu pesisir bukanlah musuh mereka, hampir tidak ada persengketaan yang lahir dalam hubungan kedua suku selama ink. Bahkan, sang ayah sekaligus kepala suku sudah lama bekerjasama dan bersahabat karib dengan beberapa tokoh Melayu, terutama dari Sukadana.
"Aku masih belum percaya siapa mereka. Dari busana dan penampilannya, mereka adalah orang-orang Melayu, mungkin dari Kesultanan. Namun orang macam apa yang dapat membunuh Karsa dan membawa kepalanya kemari? Ia pasti seorang pendekar. Lalu, bila ia seorang pendekar, mau apa ia kemari? Kemampuannya bertarung harusnya menjadi pertimbangan kita untuk berjaga-jaga. Suku Biaju bisa membayar Karsa untuk membantu mereka, mengapa tidak dengan yang satu ini?" balas Punyan kepada prajuritnya.
"Masuk akal, Punyan. Apa perlu kita jajal kemampuan bertarungnya? Siapa tahu memang niatnya buruk terhadap kita," ujar sang prajurit setuju.
Punyan berpikir keras. Bagaimanapun sekarang ia turut bertanggungjawab atas keselamatan kampungnya. Ia tak mau selalu meminta sang apai sebagai kepala suku untuk memutuskan segala perkara. Ia sudah mulai harus turun langsung dan ikut berperanserta salam segala hal.
Setelah kejadian penyerangan oleh suku Biaju beberapa hari yang lalu, banyak korban berjatuhan dan kerusakan terjadi di mana-mana. Sang apai kembali bersemedi untuk mendapatkan pencerahan terhadap masalah ini. Ia kembali tak bisa diganggu.
Di usia tuanya, sang kepala suku ternyata mulai mendapatkan semacam gambaran masa depan suku mereka. Ada hal yang begitu penting sehingga beberapa masa terakhir sang apai kerap tak ada si kampung untuk pergi menyendiri.
Punyan sangat maklum dengan hal ini. Masa depan dan keutuhan suku dan kampung mereka sedang diuji kembali. Ia harus mengambil alih kepemimpinan dengan mengambil keputusan yang harus diambil dan dilaksanakan.
Setelah kejadian yang cukup membuat kampung mereka dalam keadaan yang menyedihkan, awas dan penuh kewaspadaan, ia tak mungkin mengendurkan barang sedikitpun.
Punyan melepaskan tameng dan tombaknya. Do tersampir di pinggang bagian belakangnya. Ia memegang hulu do yang berhiaskan rambut musuh.
Ia membuka pintu benteng. Beberapa orang prajurit Daya mencegahnya. "Apa yang hendak kau lakukan, Punyan?"
"Aku harus turun untuk langsung menghadapinya. Aku akan lihat tamu seperti apa mereka," jawab Punyan.
__ADS_1
Para prajurit nampak sekali tidak terlalu setuju dengan langkah anak kepala suku mereka ini. Namun, Punyan sudah membuka pintu benteng. Ia meniti jalan dari papan dan turun melalui tangga.
Jayaseta terlihat masih memegang kepala Karsa dengan cara menjambak rambutnya. Wajah keriput pendekar tua nan sakti itu masih tak memperlihatkan tanda-tanda pembusukan, mesti jelas bahwa ia sudah mati.
Para prajurit Daya yang mengepung Jayaseta dengan tombak, sumpit dan tameng membuka gelaran mereka ketika Punyan datang.
Punyan memperhatikan Jayaseta, kepala yang ia bawa dan ketiga orang lain yang berada di tepi sungai, dekat perahu mereka.
"Ambil kepala itu!" perintah Punyan yang langsung dikerjakan dua orang prajurit. Mereka mengambil kepala Karsa dari tangan Jayaseta dengan kasar.
"Maafkan kelancanganku, saudara. Kami datang mungkin dalam keadaan yang tidak tepat. Aku dapat melihat beberapa bagian dari tempat tinggal engkau yang porak poranda dan dilahap api," ujar Jayaseta. Tidak ada tanggapan dari Punyan yang berdiri tegak di depannya.
"Namaku Jayaseta," lanjut Jayaseta. "Aku sebenarnya berasal dari pulau Jawa. Jauh-jauh kemari untuk perihal yang sangat genting, mengenai kesehatanku. Aku sudah bertemu dengan Datuk Mas Kuning di Sukadana, namun karena satu dan lain hal, aku diminta Datuk sendiri untuk melanjutkan pengobatan dengan seorang tokoh Daya, sahabat beliau sendiri, bernama Temenggung Beruang. Jikalau engkau bersedia, bolehkah aku bertemu dengan beliau. Aku sudah jauh berperahu dari Sukadana dengan ditemani oleh Ireng, Siam dan seorang gadis berpakaian laki-laki itu, Dara Cempaka, yang kebetulan adalah cucu beliau sendiri. Menurut ia sendiri, rombongan Datuk pernah kemari bertahun-tahun dahulu, dan ia ikut serta sewaktu masih sangat kecil," jelas Jayaseta panjang lebar.
"Aku tak mempersoalkan anak gadis itu. Aku mungkin bisa percaya dengannya, karena aku juga masih ingat bagaimana wajahnya sewaktu masih kecil dan bagaimana cerita yang kau sampaikan benar adanya. Namun, aku tidak bisa ambil mentah-mentah kisah tentang dirimu, orang asing," jawab Punyan.
Jayaseta menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah, saudara. Aku paham dengan keadaan ini. Adakah cara untuk dapat bertemu dengan Temenggung Beruang? Atau syarat yang harus aku penuhi?"
Punyan memerintahkan prajurit yang membawa kepala Karsa mendekat. Ketika sudah berada di dekatnya, Punyan memperhatikan kepala itu.
"Jadi, apakah Karsa benar-benar sudah tewas?" tanya Punyan kepada Jayaseta tanpa menengok ke arahnya.
"Seperti yang engkau lihat, saudara. Namun, nampaknya kita harus membakar kepala itu agar tubuhnya tak mungkin kembali bersatu dengan tubuhnya. Aku sengaja membawa kepalanya kemari untuk membuktikan bahwa kita di pihak yang sama," ukar Jayaseta kemudian.
"Tangan kosong atau senjata?" tanya Punyan tiba-tiba.
__ADS_1
"Maaf, apa maksudmu, saudara?" jawab Jayaseta sedikit bingung dengan pertanyaan yang datang tiba-tiba tersebut.
"Bagaimana cara kau menghabisinya? Dengan tangan kosong atau senjata?"
Jayaseta tak paham kemana arah percakapan ini, namun ia tetap menjawabnya.
"Sedikit rumit untuk menjelaskannya. Untuk itulah aku ingin bertemu dengan Temengggung Beruang. Tapi bila memang kau ingin tahu bagaimana caraku mengalahkan dan membunuh Karsa, baiklah. Aku menggunakan tangan kosong untuk melumpuhkannya, karena toh senjata tajam tak benar-benar bisa mencelakainya, meski aku memang sempat menggunakan senjata pula."
Mendengar ini, Punyan meminta prajurit yang memegang kepala Karsa untuk memegang do nya pula yang ia lepas ikatannya di pinggang.
Tentu saja para prajurit menjadi kebingungan dengan tindakan sang putra kepala suku tersebut.
"Baiklah bila memang itu yang terjadi. Aku melihat kau juga menitipkan kelewang dan tombakmu kepada rombonganmu di perahu sana. Mari kita lakukan pertarungan dengan tangan kosong," ujar Punyan.
Jayaseta masih merasa bahwa ia linglung, bingung dengan apa yang diinginkan orang ini.
"Kau sendiri yang mengatakan apa syarat untuk bertemu Temenggung Beruang, ayahku. Inilah syaratnya, bertarung denganku. Tak bisa kubiarkan orang yang mengaku bisa mengalahkan dan membunuh Karsa dengan tangan kosong masuk begitu saja ke dalam benteng. Kau harus membuktikan ucapanmu sendiri!" tegas Punyan kembali menjelaskan.
Jayaseta berang dalam hati. Ia berkali-kali harus bertarung untuk dapat bertemu orang yang ia perlukan demi kesembuhannya. Mengalahkan Karsa bila diceritakan begitu saja, akan terdengar sepele. Padahal ia harus mengorbankan dirinya sendiri sehingga harus pergi ke tempat ini.
Melawan orang ini lagi dengan tangan kosong bukanlah perkara mudah. Ia juga sudah dapat memastikan bahwa yang dihadapinya bukanlah orang biasa, namun pendekar suku Daya pilih tanding. Ia sendiri mengatakan bahwa ia adalah putra sang Temenggung Beruang, pasti merupakan orang penting, calon pemegang kepemimpinan baru. Sedangkan Jayaseta tidak dalam keadaannya yang sempurna, tak bisa menggunakan tenaga dalam dan lelah.
Tapi bagaimanapun juga, di sisi lain ia tersinggung bila dikatakan bahwa ia bisa jadi berbohong mengenai Karsa, bahwa ialah yang membunuh. Sisi pendekarnya berteriak ingin membuktikan bahwa ialah sang Pendekar Topeng Seribu yang tersohor tersebut. Namun biarlah orang itu tahu sendiri kehebatannya.
Maka, Jayaseta menerima pinangan pertarungan satu lawan satu dengan tangan kosong pendekar Daya itu. Ia bertekad untuk bertemu Temenggung Beruang dan memberikan pelajaran kepada pemuda Daya putra sang kepala suku ini.
__ADS_1