
Jaka Pasirluhur menakar kudi di tangan kanannya. Ia meletakkan senjata itu di atas sebuah meja kayu, kemudian mengambil satu senjata lagi tepat di samping kudi, sebuah caluk.
Ia ingat sudah memberikan kudi andalannya kepada Jayaseta dan mengganti senjata nya itu dengan sebuah caluk. Ia juga telah melepaskan gelar kependekarannya, Sang Kudi Langit, sebagai bentuk rasa rendah hati dan tak terlalu jemawa.
Hanya saja, untuk apa sebenarnya semua pelepasan itu? Apakah benar dengan melepas gelar dan mengubah penggunaan senjata membuatnya memiliki jati diri? Ketika tangan kirinya hilang tepat di pergelangan, ia menyesuaikan setiap jurus-jurusnya dengan gaya dan jurus-jurus baru, seakan dengan caluk, satu tangan dan jurus lain, membuatnya menjadi seseorang yang baru.
Ia meragukan hal itu. Bukankah itu namanya bentuk benci diri dan penyangkalan belaka?
Jaka Pasirluhur kembali menggenggam kudinya, menimbang-nimbang di tangannya, kemudian memapraskannya ke udara. Bunyi angin mendesir akibat serangan kudinya itu membuat Jaka Pasirluhur merinding. Ada dorongan kuat untuk kembali menggunakan senjata yang begitu akrab dengannya tersebut.
Jaka Pasirluhur, tubuhnya sudah jauh lebih ramping di banding dahulu. Ia mengenakan selembar pakaian berlengan panjang tanpa kancing maupun tali. Salah satu lengan panjangnya menutupi tangannya yang buntung.
Sekali lagi Jaka Pasirluhur menebaskan kudi ke udara dan merasakan kekuatan tebasannya. Betapa ia rindu senjata ini.
Maka, ia kembali mencoba jurus-jurus lamanya, terutama rangkain jurus Kudi Hyang Bayu. Tubuhnya maju cepat, mundur gesit, menyamping, kemudian mendadak jatuh menggelinding di tanah.
__ADS_1
Ia bangun kemudian duduk mendeprok di tanah, tertawa terbahak-bahak seorang diri.
"Heh, buntung, lucu sekali kau ini. Rupa-rupanya kau membuat jurus Kudi Hyang Bayu tak bekerja dengan baik. Aku bagai binatang yang kehilangan ekornya, tak seimbang," ujarnya jenaka pada diri sendiri sembari tertawa.
Jaka Pasirluhur mendadak terdiam.
Mendapatkan pelajaran dari seorang pendekar seperti Jayaseta bukan berarti meniru habis perilaku, tindak tanduk dan pola pikirnya. Mengambil yang perlu memang baik adanya, namun sisanya adalah kita yang menentukan mau jadi apa dan bagaimana.
Jaka Pasirluhur menancapkan kudi nya di tanah. Ia berdiri dan berjalan ke arah meja kayu, melirik caluk, namun kemudian mengabaikannya. Ia berjalan terus dan berhenti di depan sebuah gumpalan kain, menunduk dan merogoh ke dalam.
Jaka Pasirluhur mengambil topeng Penthul putih berwajah jenaka. Ia tersenyum dan memasangkan topeng itu ke wajahnya. Semesta serasa menyatu dalam panca inderanya.
Jaka Pasirluhur kembali ke tempat ia menancapkan kudinya, dan meraih senjata itu.
***
__ADS_1
Almira dan beberapa pengawal Banyumas yang juga rekan serta bawahan Jaka Pasirluhur memandang ke arah Jaka Pasirluhur yang sedang memainkan jurus-jurus kudinya.
"Jurus Kudi Hyang Bayu yang aku kenal tak sedahsyat ini. Kang Jaka malah terlihat lebih gesit serta lincah," ujar Padma, salah satu anak buah rombongan Banyumas itu. Yang lain, Indratmoko, mengangguk mantap tanda setuju. "Kang Jaka seperti sampai pada taraf tertentu di dalam kesaktiannya, Nyai Almira," ujarnya kepada Almira.
"Syukurlah, Alhamdulillah. Aku senang bila melihat Kakang Jaka justru semakin maju dalam ilmu kanuragannya," balas Almira.
Memang benar, di depan mereka, sebuah pemandangan yang berbeda ditampilkan oleh Jaka Pasirluhur yang tak paham bahwa tuannya bersama rekan-rekannya sedang memperhatikannya dari jauh.
Jurus Kudi Hyang Bayu nya kini telah disesuaikan oleh keadaan raga nya yang telah buntung, serta ditambah dengan jati diri bangsa nya, orang Banyumas, yang terkesan santai, jenaka, namun lugas dan pemberani.
Gerakannya kini semakin ringkas dan tanpa basa-basi. Jaka Pasirluhur lebih banyak menunduk dan merendah bagai beejongkok, kemudian mencelat dan menebas dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuhnya yang semula harus menanggung keseimbangan ternyata malah sekarang menjadi lebih tertakar dan teratur.
Topeng Penthul yang membuatnya terlihat jenaka dan kocak itu semakin membuat gerakannya seperti tarian seorang pelakon Penthul dalam gelaran seni ebeg yang memang lucu. Tapi siapa sangka, penampilan gerakan didukung oleh topengnya itu ternyata adalah sebuah tipuan dan muslihat yang mengejutkan.
Bila Jayaseta mengenakan topeng untuk membuat musuh kebingungan dan tak dapat menemukan perasaan yang tergambar di wajahnya, topeng Penthul Jaka Pasirluhur membuat musuh terbawa dan tersedot dalam permainan tipuan. Babatan dan bacokan kudi nya akan melepaskan nyawa lawan bahkan sebelum mereka sempat berhenti tertawa.
__ADS_1
Kudi Hyang Bayu menjelma menjadi jurus-jurus ringkas mematikan yang tak jemawa, melulu menggunakan gerakan membelah dan menebas yang tak perlu. Topeng Penthul membuat Jaka Pasirluhur menggenggam semesta.
Almira menghela nafas kembali. Ia berdoa agar jalinan jalan takdir memang dapat menemukan Jaka Pasirluhur yang akan berlayar esok hari dengan sang suami. Bila tidak pun, ia berdoa dengan tulus agar keduanya selamat melindungi oleh Yang Maha Memiliki.