Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Air Mata


__ADS_3

Katilapan dan Narendra menarik nafas dalam-dalam. Keduanya saling pandang dan saling bertukar senyum samar. Keduanya sudah ada di geladak kapal menuju ke pulau Tanjung Pura.


Rasanya sudah lama sekali mereka tak mencium aroma angin laut, angin kebebasan dan harapan.


Katilapan membalut tubuhnya dengan baju tanpa lengan dan tanpa kancing. Rajahnya yang bertebaran di seluruh tubuhnya membuat beberapa awak menduga ia adalah orang Daya yang bepergian.


"Aku tidak pernah melihat orang Darat Tanjung Pura bepergian ke luar pulau dengan jung, apalagi kembali setelah bepergian," ujar salah satu orang tumpang di jung itu.


Katilapan hanya tersenyum, "Aku bukan orang Darat, kisanak. Aku dari Bisaya. Apakah memang orang-orang di pulau itu berbusana seperti diriku?" tanya Katilapan yang kemudian menjadi penasaran, walau sebagai orang yang juga telah menghabiskan banyak waktu di laut, ia sudah kerap mendengar cerita-cerita semacam itu. Hanya saja, kali ini, ia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat yang kerap diceritakan tersebut.


"Ah, bukan busana, kisanak, tapi lebih kepada ...," ia menunjuk tubuh Katilapan, "... rajah yang ada di seluruh tubuhmu itu."


Katilapan melihat tubuhnya, kemudian mengangguk-angguk.


Memang pada masa itu, tidak banyak catatan sejarah yang menjelaskan tentang perjalanan orang Daya ke luar pulau. Mereka memang lebih kerap berada di dalam pulau, masuk ke pedalaman, kadang berpindah tempat untuk mencari tempat hunian baru. Perpindahan ini berhubungan dengan ketersediaan lahan bagi ladang dan sumber makanan, atau keamanan. Maka tak jarang, darah harus ditumpahkan dalam usaha berpindah ini dengan perang pengayauan dengan suku-suku Daya lain.


Namun begitu, tidak berarti tidak ada orang Daya yang tercatat pergi ke luar daerahnua sama sekali.


Orang-orang Daya awal mula sudah memiliki kerajaan. Tercatat salah satu nama kerajaan orang Daya mula-mula ini bernama Bangkule Sultankng yang berdiri di sebuah daerah yang bernama Bahana. Kerajaan ini kemudian runtuh dan dilanjutkan dengan berdirinya kerajaan Sidiniang yang didirikan di pegunungan Sidiniang, di daerah yang bernama Sangking pada tahun 1380 Masehi. Kerajaan Sidiniang diperintah oleh seorang raja bernama Patih Gumantar.


Masa itu adalah masa yang sama dengan masa kejayaan kerajaan Majapahit di pulau Jawa. Walau kerajaan Majapahit terbukti banyak menyerang kerajaan dimanapun di nusantara yang tidak mau tunduk kepadanya, tidak bisa pula dipungkiri pengaruh Majapahit begitu besar pada masyarakat dan daerah-daerah taklukannya. Tidak jarang, kerajaan yang menundukkan malah mendapatkan persahabatan dengan negara tundukan.


Begitu juga Patih Gumantar, sang raja yang menjalin hubungan persahabatan dan persaudaraan dengan Patih Gajah Mada dari Majapahit.


Patih Gajah Mada yang sakti mandraguna itu pun bahkan berterus terang kepada Patih Gumantar yang sangat ia percayai dan hormati ini bahwa cita-cita Majapahit untuk menguasai nusantara harus dicapai dan digenapkan. Sang Patih malah meminta secara khusus agar Patih Gumantar yang juga sakti untuk membantunya dan kerajaan Majapahit untuk mencapai cita-cita itu. Ia mengajak sang Patih bersama pasukan Majapahit untuk berangkat ke Muang Thai, negeri Ayutthaya, tanah orang-orang Siam, dalam rangka membendung serangan pasukan Tartar Kubilai Khan yang berniat menguasai negara itu.


Maka berangkat lah Patih Gumantar. berlayar ke negeri seberang itu bertemu pasukan Majapahit yang telah terlebih dahulu bersiap di sana. Patih Gumantar juga diduga membawa serta pasukan kerajaan Sidiniang dari orang-orang Daya pilihannya yang handal dalam pertempurannya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, karena kehandalan pasukan gabungan Majapahit-Sidiniang beserta kesaktian Patih Gajah Mada dan Patih Gumantar, pasukan Tartar pun berhasil dibendung agar tak menguasai Muang Thai serta negara-negara sekitarnya.


Puluhan tahun sebelumnya, pasukan Tartar sendiri sudah pernah diusir oleh pasukan Raden Wijaya, raja pertama kerjaan Majapahit sewaktu pasukan Kubilai Khan itu menyerang tanah Jawa untuk mengukum raja Singasari.


Sebagai hadiah atas bantuan raja Sidiniang tersebut dan tanda persahabatan mereka, Patih Gajah Mada memberikan sebuah keris sakti milik kerajaan Majapahit dan kerap ia gunakan dalam pertarungan. Keris itu sampai saat ini dinamakan Keris Pusaka Susuhunan.


Jadi jelas, bahwa orang-orang Daya juga merupakan bangsa petualang yang sudah dibuktikan dalam catatan sejarah. Hanya saja, sejarah juga mencatat bahwa masa ini orang-orang Daya lebih nyaman masuk ke pedalaman dan memperkuat kehidupan mereka di sana sebagai suku penduduk asli pulau itu.


Katilapan memandang Narendra. "Bagaimana kabar Sasangka sekarang? Aku tak paham anak itu. Tak menyangka ia bisa juga jatuh cinta dan memilih untuk tidak bersama kita lagi."


Narendra memandang ke lautan lepas tak bertepi. Tak ada yang tahu betul apa yang dipikirkannya, meski kemudian ia menjawab, "Kita juga tak menyangka Jayaseta akan kawin. Bahkan istrinya sudah hamil yang kurasa tanpa Jayaseta sendiri ketahui."


Narendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Yang penting kita harus segera menemukannya di Tanjung Pura nanti apa dan bagaimanapun caranya. Jalinan takdir kita sudah terikat, tak mungkin terlepas lagi."


Katilapan mengangguk mantap. "Meski di dalam hati aku yakin Jayaseta dapat mengalahkan Sang Penyair Baka dan segala rencana busuknya, aku merasa kita memiliki tanggung jawab untuk tetap bersamanya."


***


Pratiwi siuman. Jarum-jarum masih menancap di dadanya. Ia tak berbusana sama sekali, telanjang bagai seorang bayi, namun tertutup selembar jarit sebagai selimut.


Ada Lau Siufan di dalan ruangan itu memperhatikannya.


Pratiwi menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. "Kau beruntung aku tidak dalam keadaan terbaikku. Dalam keadaan biasa, kau tak bisa selamat kurang dari lima jurus," ujar Pratiwi dingin.


Lau Siufan mendekat, memegang keningnya. "Panasmu sudah jauh berkurang. Aku rasa kau akan segera sehat kembali."


Pratiwi tersenyum getir. Lau Siufan menangkap makna senyuman itu. "Aku juga tahu kau akan bisa mengalahkanku dengan gampang. Aku tidak ragu itu. Tidak ada juga sedikit pun kesombonganku untuk menantangmu kembali."

__ADS_1


Pratiwi kali ini terkekeh.


"Kau paham bahwa sepupu tua ku itu menyanyangimu? Aku tak berharap apa-apa, bahkan sebenarnya aku orang pertama yang menentang pilihannya itu. Tidak mudah mencintai perempuan ... hebat sepertimu. Tapi, sebagai seorang kerabat yang juga menyayanginya, aku cuma merasa perlu membuatmu tahu itu," Lau Siufan menggunakan kata 'hebat' untuk menggantikan kata 'jahat', 'bengis' dan 'tak punya perasaan.'


Lau Siufan mengambil dedaunan yang dibobok dalam sebuah piring tanah kemudian menempelkan di luka Pratiwi, membuat perempuan muda cantik berkulit gelap itu meringis.


"Kau banyak omong juga ternyata," balas Pratiwi. Tapi ada nada bersahabat di sana. Ada semacam gelombang aneh yang berasal dari ucapan-ucapan perempuan peranakan Cina itu yang masuk ke relung-relung jiwa Pratiwi.


Untuk pertama kalinya, dalam kehidupan kerasnya, Pratiwi menangis.


Lau Siufan tersentak. Ia benar-benar terkejut melihat perempuan sakti itu meneteskan air mata dari salah satu ujung matanya. Perasaannya sekarang menjadi campur aduk; penasaran, kaget dan juga ngeri.


Ia merasa tak melakukan suatu halpun yang membuat luka di dada Pratiwi makin melebar atau semakin parah. Lagipula, luka semacam ini hanya membuat pendekar seperti Pratiwi sekadar meringis.


Lalu, apakah ucapannya tadi?


Pratiwi sendiri sebenarnya juga sedang di dalam jurang kebimbangan yang sangat. Ibundanya telah tewas lama dan saat itu ia tak bersedih. Ia bahkan jatuh cinta bukan main pada sang pembunuh. Maka, ia hutang kesedihan itu sekarang.


Ia juga gagal dalam tugas. Anak buahnya tewas. Tuan yang harus ia lindungi juga tewas, termasuk para penjaganya. Ia sendiri terkapar tanpa daya, bagai singa ompong yang terluka. Untuk ini, ia juga hutang tangisan.


Terakhir, ia merengek kepada kakek kembarnya untuk membawakan laki-laki yang ia cintai ke hadapannya, bagai seorang anak kecil meminta mainan dan gula-gula kepada orangtuanya di pasar. Orang yang ia cintai entah kemana, dan ia dicintai seorang laki-laki yang pantas ia jadikan budak.


Tidak ... Ia bukan menangis karena mengetahui ada laki-laki yang ternyata tulus mencintainya. Ia menangis karena merasa sial.


"Aku akan bunuh Jayaseta!" ujarnya tiba-tiba.


Lau Siufan terhenyak, tak tahu harus berkata apa. Ketika akhirnya ia membuka mulut, ia hanya bisa berkata, "Akan kupanggilkan Koko Yu," kemudian bergegas meninggalkan ruangan pengobatan itu.

__ADS_1


__ADS_2