Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Gumunan, Kagetan


__ADS_3

Gambaran wajah cantik Lau Siufan membayang di pelupuk mata Sasangka. Ia menutup mata dan merasakan kedua tangannya memeluk tubuh ramping istrinya dengan kulit seindah patahan batu pualam tersebut. Rambut selurus air terjun nya menyapu wajah Sasangka setiap kali mereka bercinta dan saling berbagi rasa.


Ketika kedua matanya terbuka, rombongan Narendra dan Katilapan berjalan kaki. Mereka nampaknya sudah memulai petualangan ini, entah kemana dan untuk apa. Sasangka bahkan melihat Jayaseta, orang yang begitu ia kenal, hormati bahkan takuti di masa lampau. Laki-laki yang merupakan Pendekar Topeng Seribu yang asli itu ternyata terlihat bugar, bahkan semakin tampan.


Ingin hati mendorong tubuh ke pelabuhan dan ikut sebuah jung kembali ke Betawi menemui sang istri dan ayah mertuanya. Ia ingin menyampaikan hasil baik dan berita bagus dalam hal perniagaan tuak dengan orang-orang Melayu dan Cina di Malaka ini. Ia ingin pula melepas rindu terhadap istrinya yang lama tak ia jumpai. Tapi, setelah menunda kepulangan belasan hari semenjak ia dikalahkan sosok pendekar tua baya yang tak dikenal serta mengetahui bahwa rombongan Narendra, Katilapan dan bahkan Jayaseta ada di Malaka, belum lagi desas-desus mengenai sepak terjang Pendekar Topeng Seribu yang membunuh para pendekar asal Siam, maka arah perjalanan hidupnya memang telah berubah.


Sasangka akan kembali menunda kepulangannya ke pulau Jawa dan akan mengikuti kepergian Jayaseta dan rekan-rekannya, entah kemanapun mereka. Meski di dalam hari, Sasangka merasa bahwa Siam adalah tujuan mereka. Permasalahan kabar mengenai Pendekar Topeng Seribu, yang jelas bukan Jayaseta apalagi dirinya, pastilah menjadi pemantik kepergian Jayaseta.


Terlihat sekali Jayaseta dan rombongannya memiliki persiapan untuk memyebrang ke negeri lain. Mereka tidak lagi mengenakan pakaian sutra bergaya peniaga Melayu. Pakaiaan mereka adalah pakaian biasa yang mengaburkan latar belakang bahasa dan bangsa. Apalagi, dengan menenteng daab jelas sekali bahwa mereka akan ke Siam. Itu pikiran Sasangka. Maka, ia pun mengikuti mereka. Sengaja menunggu sepemakanan sirih sebelum menyusul rombongan itu agar tak terlalu dekat jarak diantara mereka.


***

__ADS_1


Jaka Pasirluhur menarik nafas panjang, merasakan bebauan bumi Melayu ini. Entah mengapa darahnya berdesir dengan rasa semangat yang tinggi. Ia ingin membuka semua tirai rahasia mengenai sepak terjang Jayaseta yang dikabarkan telah sampai ke perbatasan Kedah dan Siam. Dari banyak persiapannya, pengetahuan tentang Malaka dan wilayah-wilayah sekitarnya lah yang menjadi menu utama pelajarannya. Ia mencari tahu segala seluk-beluk tanah Melayu sampai Siam.


Tapi, tentu, semua yang telah ia pelajari dan dibayangkan di dalam benaknya hampir tak berguna ketika ia sendiri harus mengalami langsung dengan mata dan raganya. Bahkan baru sampai ke pelabuhan Malaka saja, ia sudah dibuat terheran-heran, tercengang, gumunan, kagetan, dengan pakaian, perabotan, kebiasaan, bahasa, dan hampir apapun yang ia lihat di pelabuhan negeri Melayu yang dikuasai dan diperintah orang bule Pranggi ini.


"Sialan, aku ke tempat ini bukan sedang berwisata atau plesir. Aku harus memusatkan diri pada tujuan utamaku," ujar Jaka Pasirluhur dalam hati. Tapi toh ia tetap terkekeh. "Ya, tapi apa salahnya sedikit menikmati, bukan?"


Desas-desus dan kabar burung tentang Pendekar Topeng Seribu yang muncul di Malaka ini seakan menekankan citra bahwa sang pendekar tak dikenal itu memiliki keterikatan dengan Malaka. Misalnya saja, pada waktu terjadi penjegalan dan pembajakan dari dalam benteng kota Malaka oleh kelompok jawara dan pendekar bawahan Walanda, yang diduga adalah kelompok Jarum Bumi Neraka, semerta-merta tanpa diduga, sang sosok Pendekar Topeng Seribu datang untuk menggagalkannya. Semua anggota kelompok itu disikat habis dan diluluhlantakkan.


Tentu, Jaka Pasirluhur bukan orang bodoh yang mau menerima begitu saja berita tersebut. Urusan ketaranegaraan bukanlah bagian dari minat dan kegemaran utamanya, meski ia juga sadar, dari segala jenis kabar burung pastilah ada bercak-bercak kebenaran di sana. Hatinya mengatakan untuk berangkat ke Ayutthaya, maka itulah yang harus ia lakukan.


***

__ADS_1


Yu membiarkan Pratiwi berjalan-jalan di Malaka. Di dekar pelabuhan atau sekeliling benteng. Istrinya itu membalut dirinya dengan pakaian ala laki-laki yang sementara ini memang tak terlalu menonjol. Orang-orang tak terlalu memperhatikan perempuan itu.


Kadang ia merasa bahwa kekhawatirannya terlalu berlebihan. Pratiwi adalah seorang pendekar. Bukan pendekar biasa. Ia adalah pembunuh berdarah dingin. Jadi, mencemaskannya adalah perbuatan yang bodoh.


Lagipula, udara Malaka dan suasana nya bisa saja membuat kesehatan Pratiwi menjadi sedikit lebih baik. Lagipula, sampai saat ini, mereka masih menginap di sebuah hunian sewa di luar benteng kota milik seorang juragan berdarah campuran Melayu dan Jawa. Yu dan Pratiwi menunggu Fong Pak Laoya untuk pergi ke kampung-kampung di wilayah Malaka selama beberapa hari untuk mencari Laoya atau tabib yang menurutnya dapat membantu mengobati Pratiwi.


***


Pratiwi terhenyak. Sepasang matanya memandang sosok yang terlalu ia kenal. Jayaseta sedang berjalan di depannya, hanya sepelemparan batu saja jaraknya.


Pasangannya dingin, tapi entah apa yang dirasakan oleh pendekar perempuan yang menyamar sebagai laki-laki ini, apalagi sepasang matanya memandang lekat hampir tak berkedip ke arah Jayaseta yang berjalan bersama istri keduanya, Dara Cempaka, dan rombongan lain yang beberapa cukup ia kenal. Siapa lagi bila bukan Narendra dan Katilapan.

__ADS_1


__ADS_2