
Sasangka bergeser sedikit sehingga tebasan golok dari lawan tersebut lolos, lalu dengan cepat mencabut wedhung dari warangkanya. Namun, alih-alih langsung membalas menebas musuh yang menyerangnya dengan golok, Sasangka malah membenamkan ujung gagang senjatanya di tulang rusuk musuh.
PRAK!
Mungkin dua baris tulang patah, atau lebih. Yang jelas, musuh langsung tumbang terjerembab ke lantai kayu geladak jung tersebut.
Tiga rekannya yang tidak semuanya kenal dengan baik saling pandang, mengirimkan pertanyaan. Apa yang harus mereka lakukan?
Nasi sudah menjadi bubur, sudah kepalang basah, pikir pria Jawa dengan keris terhunus. Tapi, ia tak mau langsung menyerang sendiri dan mungkin pula mendapatkan kesialan. "Baj*ingan, as*u bunting! Kita bunuh sekalian orang ini, kawan-kawan. Dia sudah mengganggu acara kita dan sekarang sudah terlanjur mencari masalah. Kita habisi dan serang bersama-sama. Kita lihat seberapa lihai orang ini," ujarnya keras.
Badik dan keris akhirnya bersama-sama meluncur mengincar perut dan dada orang berpenutup mulut tersebut.
Sasangka mundur selangkah, kemudian berkelit dengan gesit di lorong tepian kapal yang sempit itu. Tusukan yang dilakukan berbarengan itu menjadi kisruh, bukan hanya karena ketiganya tak memiliki naluri kekompakan dalam menyerang, namun juga karena Sasangka sangat menguasai medan pertarungan. Sasangka mengenal seluk beluk kapal selama bertahun-tahun. Belum lagi kemampuan silat dan jurus-jurus baru yang ia kuasai, gubah dan terapkan ini.
Tiba-tiba saja Sasangka sudah menyelip dan berada di belakang ketiga penyerang yang saling tubruk.
Ketika para penyerangnya berbalik arah, Sasangka bahkan tak perlu mencabut dua wedhungnya yang lain. Ia hanya menjejak lutut seorang penyerang kemudian melutut dagunya ketika ia jatuh dan belum sempat berteriak.
Lainnya ... Sasangka menangkap lengan, menarik, menyikut kemudian menubrukkan tubuh mereka ke yang lain. Goyangan jung akibat ombak dan ruang sempit malah mempermudah Sasangka bergerak. Jurus tiga langkahnya sangat berdayaguna dan sederhana namun mematikan.
"Aku bahkan tak perlu mengeluarkan wedhung apalagi menggunakannya sebenarnya. Mereka cuma begundal-begundal lemah yang sok berani saja," pikir Sasangka.
Ia memasukkan wedhung ke sarungnya kembali dan memberikan tendangan terakhir ke wajah satu perampok yang sudah jatuh berlutut di lantai.
Sasangka mumbul melompat mencelat kembali ke lantai atas dengan gerakan seringan kapas dan menghilang.
__ADS_1
Kawanan perampok yang datang kemudian karena teman-teman mereka tak kunjung kembali malah terperanjat menyaksikan rekan-rekan baru mereka bergelimpangan di jalur tepian kapal yang sempit itu. Mereka perlahan membubarkan diri, pura-pura tak kenal satu sama lain. Terutama ketika para pengawal kapal datang dan melihat hal ini serta mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
Pratiwi membuka mata dan melihat awan berarak di langit sedangkan tempat ia berbaring bergoyang-goyang perlahan di atas sungai.
Ia melirik ke atas dan melihat wajah Yu dari bawah. Laki-laki itu sedang sibuk mendayung perahu dan memperhatikan sekeliling. Pratiwi memutuskan untuk tak mengganggu Yu, meski ia sadar bahwa kakeknya, Karsa, tak ada di dalam perahu bersama mereka.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Pratiwi untuk meraba-raba kejadian sebelum ia sadar. Ia bahkan langsung mencoba menebak apa yang terjadi dengan kakeknya itu. Ia dengan cepat kemudian sudah memiliki beberapa kemungkinan atas jawabannya. Tapi ia menyimpannya dalam hati saja saat ini dan kembali menutup mata, merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang meletup-letup namun tetap memaksa diam memaku seperti sebelum ia sadar. Tak lama Pratiwi benar-benar terlelap.
***
Orang-orang Cina suku Hakka belum akan berbondong-bondong datang ke pulau Tanjung Pura bagian Barat ini seratus tahun kemudian. Namun, Fong Pak sudah lebih dahulu merantau sejak usianya yang ke-25 bersama kesembilan belas rekan-rekan sedaerahnya dengan menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Champa. Ia sempat singgah dan mencari peruntungan ke Kesultanan Johor dan kepulauan Riau beberapa tahun sebelum berlabuh di pulau Tanjung Pura. Sekarang ia sudah berumur 37 tahun.
Semua rekan-rekannya percaya pada pemuda ini karena ia dikenal sebagai seorang Laoya; dukun, peramal dan tabib, sejak usianya masih sangat muda. Fong Pak sendiri terus-menerus diperlihatkan dan dibayang-bayangi penglihatan dalam mimpinya tersebut.
Ia awalnya tak mau mengajak siapapun, karena ia beranggapan bahwa mimpi tersebut adalah panggilan tanggung jawab atau kehendak langit. Hanya saja, mendengar kata 'emas', siapa yang tak tergiur. Teman-teman seperguruan silat Cina nya dengan percaya diri dan cenderung sombong karena merasa memiliki kedigdayaan langsung meminta ikut pergi bersamanya.
Di perbatasan antara kerajaan Dai Viet dan Champa, mereka harus menghadapi para jagoan silat Dai Viet yang tidak menyukai orang-orang Cina, terutama di bawah wangsa Ming.
Dua rekan mereka tewas di tangan para jawara Dai Viet ini karena sebuah pertarungan yang ceroboh.
Di Champa, dua rekan lain juga tewas karena berhadapan dengan para prajurit Muslim Champa yang menyergap mereka karena menjalani usaha haram dan tak berijin di wilayah kerajaan Champa.
Namun, Fong Pak terus pada pendiriaannya menyelesaikan panggilan 'emas' nya. Meski sekali lagi, ketika sampai di wilayah Kesultanan Sambas, kejadian sial menimpa mereka. Sebuah kesalahpahaman terjadi sehingga tiga rekan mereka kembali tewas dalam sebuah pertempuran dengan para pengawal kesultanan yang merupakan orang-orang Daya.
__ADS_1
Sisa yang telah sampai di pulau ini tak bisa bertahan dan terpencar ke berbagai wilayah. Fong Pak tidak gentar karena sinar kebenaran telah menyelamatkannya. Ia pergi berperahu sampai ke wilayah kerajaan Sukadana.
Di tempat ini, sudah tiga tahun, ia menjadi seorang Laoya yang membawa para arwah leluhur ke kuil pemujaan di tepi sungai dan menjadi tabib bagi orang-orang sekitar sembari menunggu 'panggilan' tersebut.
Saat ia sedang menyapu halaman tempat pemujaan dari kayu yang diwarnai merah dan kuning terang dibangun di tepi sungai itu, ia melihat sebuah sampan bersauh. Ada seorang lelaki Cina berpakaian Melayu atau Jawa di atasnya. Laki-laki itu mendadak turun dari perahu dengan membopong seseorang, perempuan pikirnya, yang tak sadarkan diri.
Fong Pak Laoya melepaskan sapu lidi yang ia pegang dan berlari menyongsong mereka yang sudah jelas sedang membutuhkan bantuan. Sebagai seorang tabib memang ia memiliki kepekaan dengan keadaan dan orang yang membutuhkan bantuan. Sebagai seorang Laoya, wangsit turun tepat di kedua matanya ketika melihat pantulan sinar matahari di kening berkeringat sang laki-laki Cina tersebut.
Pantulan sinar matahari di kening Yu itu berwarna keemasan.
***
Jayaseta menekan kedua telapak tangannya di dada Dara Cempaka. Aliran tenaga dalamnya ia salurkan melalui lengan, mendesak masuk ke tubuh istrinya tersebut.
Jayaseta terus bartafakur dan memusatkan pikirannya hanya untuk memberikan tenaga dalam hangat murninya kepada Dara Cempaka. Ia menolak berpikir hal-hal buruk mengenai apa yang bakal bisa terjadi pada sang istri.
Tenaga dalam Jayaseta tanpa disangka ternyata sudah mencapai tahap dan tingkatan yang dua kali lebih tinggi dari sebelumnya. Bukan tenaga dalam penghancur, namun tenaga murni penyembuh.
Tubuh Dara Cempaka yang kaku dan dingin secara tiba-tiba menghangat dan luwes.
Dara Cempaka terbatuk dan bangun duduk secara mendadak, membuat Jayaseta membuka mata dan menghentikan pengobatannya.
Dara Cempaka tersadar dan bernafas perlahan. Ia memandang wajah sang suami dan langsung memeluknya.
Jayaseta balas memeluk. "Kau sudah kembali, istriku," ujarnya pendek. Dara Cempaka tidak menjawab, berusaha menahan tangisan haru dan kelegaan yang luar biasa karena telah diselamatkan oleh sang pendekar, Jayaseta, sang suami sendiri.
__ADS_1