
Jayaseta telah mengenakan seperangkat pakaian berbahan sutra berwarna hijau pupus. Baju bagian atasnya berkancing berlengan panjang. Celananya panjang menutupi mata kaki. Pinggangnya berbalut sarung warna serupa. Rambutnya yang panjang, seperti biasa digelung di puncak kepalanya dan ditutupi ikat kepala bergaya Melayu. Ia menggenggam gagang kelewang yang diserahkan oleh Raja Nio untuknya dibawa mengarungi sungai bersama pemilik barunya.
"Apa pakaian semacam ini perlu?" ujar Jayaseta.
Semua mata memandang takjub padanya. Raja Nio memang memberikan beberapa helai pakaian baru yang jelas banyak dimilikinya sebagai seorang nakhoda yang membawa banyak barang dagangan.
"Kau benar-benar tak sadar bahwa dirimu semenarik ini, pendekar?" tanya Raja Nio yang sekarang sudah mampu duduk dengan baik. "Aku bahkan curiga, jangan-jangan kau ini sebenarnya keturunan priyayi, darah biru. Pakaian sutra yang termasuk biasa saja ini membuat engkau menjadi gagah. Dan jujur, bahkan sebagai laki-lakipun bisa jatuh cinta padamu," Raja Nio tertawa. Ia melirik ke arah Dara Cempaka yang ketika pandangannya bertubrukan dengan pandangan sang nakhoda, ia tak bisa lagi menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.
Intinya, meski Jayaseta benci sekali mendapatkan perhatian sebegini rupa, ia tetap menerima alasan bahwa ia memang harus mengenakan pakaian Melayu yang bagus itu dalam perjalanan. Ini dimaksudkan untuk mengurangi gesekan dengan para suku Daya yang melihat rombongan kecil ini sebagai orang-orang pesisir yang tak ingin mencari masalah, apalagi menantang mereka.
Perahu panjang yang dinaiki Jayaseta bersama rombongan berisi kepala Karsa yang disimpan di dalam sebuah kantong anyaman bambu, dendeng daging pelanduk sebagai bekal selain makanan lain, tombak dan senjata tajam, beberapa lembar kain sutra dan giwang sebagai hadiah bagi suku yang hendak mereka kunjungi nanti.
Dara Cempaka yang berbusana pria, serta kedua awak kapal yang bersemangat menemani Jayaseta dalam perjalanan tersebut juga mengenakan pakaian yang begitu indah.
Kedua awak jung ini masing-masing menggunakan nama gelar yang diberikan di atas geladak, sebagai bentuk jatidiri baru mereka. Awak jung yang berasal dari Blambangan bernama julukan Ireng memang berkulit gelap. Sedangkan awak satunya yang berasal dari Melayu Palembang bernama julukan Siam, karena memang ia berdarah campuran Siam, Melayu Palembang dan Cina, memiliki kulit yang bisa dikatakan berbanding terbalik dengan rekannya.
Mereka adalah para pendayung ulung. Perahu kurus yang ditumpangi Jayaseta itu melaju di tepian sungai yang mengalir deras di bagian tengahnya.
Ireng mendayung di ujung depan perahu, sedangkan Siam di bagian belakang. Dara Cempaka sesekali ikut memberikan bantuan dayungan, membuat Jayaseta yang mengkerut di tengah perahu merasa begitu malu karena tak bisa menyumbangkan bantuan apapun.
Ini sudah hari ketiga perjalanan mereka. Setiap hari, mereka berhenti si tepian sungai. Berkemah, beristirahat dan bermalam. Saat itulah Jayaseta merasa kembali percaya diri dan kuat. Ketika kakinya menyentuh tanah, maka ialah yang paling cepat berburu burung, ikan, rusa hutan atau mencari beragam buah-buahan untuk makanan mereka.
Hanya sekali saja racun kutukan di dalam tubuhnya bertingkah dan kumat. Namun Jayaseta hanya memerlukan waktu dua tarikan nafas saja untuk mengatur kembali tenaganya, mengusir racun tenaga dalam yang dikacaukan oleh ulahnya sendiri itu.
Di malam hari, Jayaseta yang lebih banyak berjaga. Masalah ini tidak ada yang meragukannya, semua orang tidur dengan nyenyak, tahu bahwa ada pendekar tangguh yang menjagai mereka, meski ketiganya, termasuk Dara Cempaka sendiri, bukanlah orang yang awam dalam hal ilmu silat.
Namun, ketika berada di atas aliran air sungai, Jayaseta lah yang seperti dijagai ketiganya. Ia kerap mengambil kesempatan itu untuk tidur atau beristirahat.
***
Hari ketiga perjalanan perahu Jayaseta, di siang hari ketika sinar matahari yang sebenarnya di atas kepala itu tertutup rimbunnya pepohonan.
__ADS_1
Empat orang menyelip di balik pepohonan yang akar-akarnya merogoh tepi sungai, memandang perahu Jayaseta berbelok masuk ke anak sungai dimana mereka berada.
Keempat orang ini mengenakan pakaian yang memiliki ciri serupa dengan orang-orang Daya lainnya, namun bukannya cawat kain, mereka mengenakan sehelai celana panjang yang menyempit di pergelangan kaki.
Mereka sudah mempersiapkan tombak lembing di tangan kanan mereka yang diarahkan ke perahu Jayaseta, mereka tinggal menunggu dengan sabar saat perahu itu sudah dekat dengan jarak tembak mereka.
Tangan lainnya yang bebas memegang gagang pedang yang menggantung di pinggang. Namun, tidak seperti do suku Daya yang lebih seperti golok dari panjang bilahnya, pedang mereka memiliki ciri yang sedikit berbeda.
Pedang ini memiliki tepi yang cembung dan punggung yang cekung, yang melebar ke arah ujung sehingga pusat tebasan terletak pada sebuah titik.
Pedang ini kerap disebut naibor atau nyabur. Bilahnya biasanya memiliki satu atau lebih bagian berlubang yang terlihat seperti patah dan tidak ada pelepahnya atau disebut midrib. Gagangnya dibuat dari tanduk rusa.
Namun ada pula satu orang dari rombongan ini yang membawa parang ilang yang bentuknya juga sangat serupa dengan naibor atau senjata lain yang serupa, yaitu langgai tinggang.
***
Dara Cempaka yang merasa ada sesuatu yang tidak beres. Keremajaannya hampir hilang sama sekali disini, berganti kepekaan seorang pendekar yang terlatih dengan baik.
Keputusannya untuk mengantar Jayaseta ke kampung berbenteng kayu ulin tanpa memberitahukan kepada sanak saudaranya, tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya yang masih berada di negeri orang, adalah sebuah keputusan berani. Sang Datuk sudah mempercayakan kepadanya tugas ini, bahkan walau ia juga terpaksa tak bisa menjenguk Datuknya itu dan tak tahu bagaimana keadaannya sekarang.
Maka, benar pula ternyata bahwa ia memang diperlukan, terutama melihat sang pendekar sedang kehilangan banyak kemampuan kependekaraanya di atas sungai yang mengalir deras ini.
Dara Cempaka melepaskan kipas berkerangka besi yang terselip di pinggangnya. Ia kemudian meraba tombak di dalam perahu dan menggenggamnya erat.
Ireng dan Siam juga sudah paham dengan keadaan ini. Kepekaan mereka juga seakan tertantang. Burung-burung beterbangan dari atas pepohonan di tepi anak sungai ini.
Berbeda dengan sungai utama, anak sungai yang lebih kecil memiliki arus yang lebih kecil pula serta kedangkalan dalamnya sungai. Maka perahu dapat berjalan pelan.
__ADS_1
Kedua awak menggenggam dayung mereka dengan erat.
"Sial!" ucap Jayaseta dalam hati. Ia sudah terlebih dahulu merasa dan menakar marabahaya yang mengancam, namun dalam keadaan berada di tengah sungai seperti ini, ia kembali merasa tak berguna walau kelewang sudah ia genggam pula.
SYUUUTT!
Sebatang tombak lepas dari balik pepohonan yang akar-akarnya menerobos dari tanah ke air sungai.
"Awas, tombak!" seru Dara Cempaka sembari mengibaskan kipasnya.
Batang tombak itu terkena sedikit kibasan kipas Dara Cempaka, namun membuatnya berganti arah. Ireng menangkis nya dengan gayung sehingga tombak itu terlempar ke atas. Jayaseta menebasnya menjadi dua potong tombak yang jatuh ke air.
"Bawa kita ke tepian! Kita akan lebih leluasa melawan mereka di sana," seru Jayaseta.
Semua orang setuju dengan ucapan Jayaseta, namun semuanya juga setuju bahwa ini tidak mudah. Apalagi satu tombak melaju lagi ke arah perahu.
Jayaseta masih terlalu terbatas dalam bergerak, apalagi ia juga begitu khawatir akan dapat jatuh ke air. Di sinilah peran Dara Cempaka kembali terlihat. Serangan kedua ini ditangkis dengan tombak yang ia genggam sehingga gagal mengenai Siam yang masih mendayung secepat mungkin.
"Pusatkan tenaga dan pikiran kalian untuk mendayung sampai tepi secepatnya, aku akan coba menahan serangan-serangan mereka," ujar Dara Cempaka.
Benar saja, dua lemparan tombak lagi dapat ditangkis Dara Cempaka dengan gabungan kipas dan tombaknya. Tepat pada saat itu pula ujung perahu menubruk tepian anak sungai yang berlumpur dan penuh akar pepohonan.
Jayaseta melompat ringan namun cepat. Kakinya menyentuh tanah, membuat semua indra dan syarafnya kembali bekerja dengan penuh.
Empat musuh dari balik pepohonan bahkan belum semua sempat menarik naibor dan parang ilang mereka ketika Jayaseta sudah menanamkan tendangan ke dada salah satu pembokong tersebut.
BRUG!
Tubuh sang korban mencelat mundur ke belakang sampai empat tombak jauhnya.
Kelewang Jayaseta menderu dalam satu sabetan setengah lingkaran, membuyarkan para penyerang. Ketiganya kocar-kacir. Ada yang jatuh terduduk, ada yang bergulingan ke belakang. Satunya lagi terjengkang dan merasakan darah mengalir dari dada telanjangnya yang dipenuhi rajah.
__ADS_1
Jayaseta berdiri dengan kuda-kuda sederhana dengan kelewang terhunus di sampingnya. Tatapan mata pendekar itu sudah terlanjur menciutkan nyali keempat orang pelempar tombak tersebut, termasuk satu orang tadi yang terlempar karena tendangan Jayaseta. Orang itu meraba dadanya yang serasa remuk redam.