Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Garis Nasib yang Serupa


__ADS_3

Arthit si Muay Paak Klang sama sekali tidak berpikir untuk berbakti kepada siapapun, tidak pada kerajaan Ayutthaya, tidak kepada kelompok lainnya. Ia hanya tertarik pada olah kanuragan, dan tentu hasil sampingannya, seperti uang, nama dan kekayaan. Namun, mendengar nama besar Pendekar Topeng Seribu, sepertinya tak ada lagi yang dapat membuatnya keringat dingin dan jantungnya berdetak cepat. Bukan disebabkan oleh rasa takut, melainkan oleh semangat yang membabibuta. Ia tak menyangka nama besar yang terkenal di nusantara dan dihembuskan angin sampai juga di negeri Siam.


Utusan Khun Wanchay Na Ayutthaya memberikan kabar luar biasa ini. Ia memang tidak suka sama sekali dengan para pejabat dan penjilat kerajaan. Si Wanchay ini menurut Arthit adalah seorang laki-laki aneh nan bodoh. Ia memilik pikiran yang tidak bisa diterima oleh Arthit. Berbakti kepada negara, tetapi tidak dianggap adalah sebuah kekonyolan.


Cerita mengenai para pendekar Siam bersama pendekar-pendekar lethwei thaing asal Burma yang dibantai habis oleh sang pendekar dari Jawa itu sama meresahkan dan anehnya. Apalagi dikatakan bahwa Pendekar Topeng Seribu berseloroh dengan jemawa mengatakan bahwa ia mewakili kerajaan Kedah Melayu. Sungguh diluar nalar. Pendekar sebebas itu, apalagi dari tanah Jawa, mendadak menjadi budak sebuah bentuk penguasa? Lagipula, kurang besar apa negeri Mataram sampai ia harus berbakti pada kerajaan Melayu?


Arthit tak suka dengan penjelasan ini. Dari sudut manapun, semua mencurigakan adanya.


Hanya saja, siapa yang mampu menghabisi para pendekar Siam dan Burma dengan segalak dan seganas itu bila bukan seorang pendekar sungguhan?


Begini perhitungannya, menurut Arthit berusaha terlihat cerdas bagi dirinya sendiri. Khun Wanchay Na Ayutthaya yang merasa berasal dari garis keturunan keluarga penting di negeri Siam ini terus-menerus menjilat kepada kerajaaan Ayutthaya. Salah satu caranya adalah dengan membentuk pasukannya sendiri untuk menghadapi lawan-lawan negara, yang paling dekat tentu adalah kerajaan Melayu Kedah. Sialnya, setiap tindakannya tidak direstui kerajaan. Malah peperangan terakhir dengan pasukan Kedah berakhir kacau. Mendadak, Kedah memiliki senjara rahasia, yaitu sang Pendekar Topeng Seribu – yang mana ini sudah dari awal tak didapati hubungannya.


Ayutthaya kesal karena Khun Wanchay Na Ayuttahaya menggunakan nama kerajaan untuk mengambil keputusannya sendiri, apalagi didapati pasukan sang tuan tanah kaya raya dan dari golongan keluarga terhormat itu menggunakan pasukan orag Burma yang mana merupakan musuh utama orang-orang Siam. Serta kalah pula!


Sialnya lagi, benteng resmi pasukan Siam di perbatasan Ayutthaya-Melayu diserang oleh orang tak dikenal yang mengaku bernama Pendekar Topeng Seribu dari Kedah. Sesulit apapun dinalar, sosok tak dikenal dan dicurigai tersebut tetap memiliki garis lurus yang berhubungan dengan kejadian dikalahkannya pasukan Khun Wanchay Na Ayutthaya.

__ADS_1


Kini, Ayutthaya dan Khun Wanchay Na Ayutthaya mencari cara untuk menyelesaikan kerumitan permasalah tersebut dengan memintanya untuk mencari si sosok itu, apakah benar atau tidak ia adalah sang Pendekar Topeng Seribu, dan tentu saja mengalahkannya. Arthit paham, kerajaan besar ini sudah pasti melakukan banyak hal lain lagi untuk menyelesaikan masalah perbatasan tersebut. Mungkin sekali para punggawa kerajaan pun tidak hendak membuat berita ini sampai ke ibukota apalagi ke takhta. Arthit tahu, ia hanya salah satu bidak permainan saja.


Ia toh tak peduli. Siapapun yang mengalahkan pasukan Khun Wanchay Na Ayutthaya dan begitu berani memporakporandakan pasukan Siam Ayutthaya di barak mereka sendiri pastilah seorang pendekar yang mumpuni. Bila sosok itu sungguh sang Pendekar Topeng Seribu, Arthit berarti sungguh beruntung mendapatkan lawan hidup dan mati dan sesuai dengan tujuannya selama ini berolah ilmu kanuragan. Kalau pun bukan, tak ada ruginya sama sekali bagi dirinya. Ia akan dapat bertarung dengan sosok hebat itu, yang pantas ia hadapi.


Dengan sebuah perahu dan empat orang pendayung, Arthit menyusuri sungai mencari keberadaan sang Pendekar Topeng Seribu. Ia sudah mendengar sehari yang lalu bahwa ada pertempuran di berbagai tempat, salah satunya di tengah sungai antara para perompak Champa dan Annam dengan kapal-kapal Lan Xang. Dalam pertempuran itu, ia mendengar pula bahwa ada Pendekar Topeng Seribu yang terlibat. Itu sebabnya para perompak memutuskan untuk menggagalkan serangan.


Cuih! Pikir Arthit. Betapa sebuah cerita yang paling menggelikan.


Sehebat itukah si pendekar sampai-sampai para perompak yang banyaknya luar biasa itu memutuskan untuk menyudahi serangan mereka? Lagipula, apa urusannya si pendekar sampai benar-benar masuk ke tanah Siam ketika sebelumnya menyerang para prajurit di perbatasan? Mau cari mati dengan menyerang pusat kerajaan sendirian?


Maka, semesta pun seperti berada di pihak Arthit. Di jarak pandanganya, asap mengepul di tengah sungai. Sampan dan perahu hancur dan terbakar, dengan mayat mengapung di atas arus.


“Orang-orang Annam dan Champa, serta ada pula prajurit sewaan asal Lan Xang,” gumam Arthit ketika melihat busana dan gambaran bentuk tubuh, warna kulit dan wajah mereka.


“Tuan Arthit, sepertinya di depan sana telah terjadi pertempuran seperti yang kita dengar sehari yang lalu dari para nelayang di kampung-kampung tepi sungai. Sudah jelas, kapal-kapal Lan Xang pastilah berada di depan sana,” ujar salah satu pendayung di perahu yang dinaiki oleh Arthit tersebut.

__ADS_1


“Dayung lebih cepat. Semoga setengah hari lagi kita akan dapat menemukan apa yang kita cari. Bila benar Pendekar Topeng Seribu ada di depan sana, maka perjalanan kita akan mendapatkan hasilnya,” ujar Arthit.


Sungguh, semesta sedang berbaik hati kepada Arthit. Tidak perlu menunggu sampai setengah hari. Hanya dalam sekali penyirihan, dua buritan kapal yang berlayar beriringan terlihat mencolok di lengkungan sungai.


Darah Arthit bergemuruh. Dua kapal dagang Lan Xang itu terlihat berdiam diri saja.


“Tunggu! Kedua kapal itu tidak bergerak,” seru Arthit. “Sial, yang satu malah hampir habis terbakar,” serunya kembali.


Ia sungguh berharap dunia hari ini berpihak padanya. Rupa-rupanya, dua kapal Lan Xang tersebut adalah sisa kapal hasil peperangan sebelumnya.


“Pasti hanya ada mayat di dalamnya. Kita tidak perlu naik. Percuma, orang yang aku cari tidak akan ada disana, bilapun ada, pasti juga sudah menjadi mayat,” rutuk Arhit kesal.


“Tuan Arthit. Aku melihat dua kapal lain nun jauh di sana!” seru pendayung lainnya.


Arthit melongokkan kepalanya. Ia bahkan berdiri di atas perahu cepat itu. “Kau benar! Baik, dayung perahu ini dengan lebih cepat. Setengah hari terlalu lama. Sini, kemarikan dayungmu. Aku yang akan membantu kalian mendayung lebih cepat. Sepertinya alam suka bermain-main dengan perasaanku hari ini, anak-anak. Ayo, ayo, cepat semuanya,” seru Arthit kembali bersemangat.

__ADS_1


Memang sudah bisa dipastikan, dua kapal lain yang terlihat membayang oleh kabut dan asap dari kejauhan adalah kapal yang dinaiki oleh dua orang yang sama-sama mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu dengan alasan yang berbeda, yaitu Sasangka dan Jaka Pasirluhur, tetapi dengan garis nasib yang serupa.


__ADS_2