
Datuk Mas Kuning menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia hapal dan begitu akrab dengan setiap larik bau di tempat ini. Angin pelabuhan yang membawa aroma hasil tangkapan ikan dari laut, bau rempah-rempah dagangan dari dalam kapal, atau bau kayu lapuk kapal dan barang-barang lembab terendam air asin laut. Sang Datuk juga mengenali dengan baik bunyi-bunyi burung camar serta teriakan para pelaut dan nelayan yang saling sahut.
Walau telah ia tinggalkan selama kurang lebih 43 tahun, meski telah terjadi perubahan kekuasaan serta budaya dan kebiasaan, Malaka tetaplah Malaka yang ia kenal. Tempat inilah darimana ia berasal. Maka ketika kakinya menginjak tanah kampung halaman itu, seluruh semesta terasa menyambutnya.
Datuk Mas Kuning tersenyum.
Dara Cempaka dan Jayaseta saling berpandangan kemudian ikut tersenyum demi menyaksikan pemandangan ini. Mereka paham betapa rasa rindu terhadap sebuah tempat dimana dirimu dilahirkan, dibentuk dan terpaksa harus ditinggalkan, adalah sebuah perasaan yang sungguh penuh dan dalam.
"Andai aku bukanlah nakhoda, melainkan seorang pendekar semacam kau, Jayaseta, pastilah aku akan ikut perjalanan penuh ilmu dan pengalaman hebat ini," ujar Raja Nio kepada Jayaseta.
"Sebagai nakhoda dan pelaut, perjalanan tuan Raja Nio juga sama hebatnya. Aku mendapatkan pengalaman dan ilmu yang tiada bandingannya dan tak mungkin dibayar dengan apapun," jawab Jayaseta. "Tuan Raja Nio tak perlu khawatir. Sekali lagi, hidup membawa pusaran nasib dengan cara yang begitu rahasia. Rencana semesta bukanlah untuk kita bongkar. Kita sudah berjodoh di masa lampau, mana tahu masa depan membawa kita kembali bertemu, tuan," lanjutnya.
Datuk Mas Kuning yang mendengar perkataan ini berpaling ke arah mereka. Senyumnya semakin mengembang. Ia mendapati bahwa Jayaseta sudah memiliki modal untuk menjadi tidak hanya seorang pendekar yang mumpuni, namun juga bijak.
"Baik, baik, Jayaseta. Aku selalu berdoa agar garis takdir mempertemukan kita kembali di jalan yang searah. Berikan lah jalan kependekaranmu kepada kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Aku akan terus berlayar, membeli lada di Malaka, menjualnya di Semarang atau Betawi. Aku mungkin juga akan kembali ke Sukadana atau Banjarmasin di pulau Tanjung Pura, mungkin berhadapan lagi dengan para bajak laut dan perompak, kemudian berlayar lagi membelah lautan. Sama seperti kau yang harus mencapai keparipurnaan kependekaran," balas Raja Nio panjang lebar.
Jayaseta menepuk bahu sang nakhoda berkulit gelap berparas tampan itu kemudian memeluknya sembari berbisik, "Tak perlu berlebihan, tuan. Kita pasti akan bertemu kembali. Bukankah Ireng dan Siam akan ikut bersamaku? Mereka adalah awak kapalmu, tuan."
Raja Nio terkekeh. "Ah, biarkan aku sedikit sendu, Jayaseta. Aku harus berlayar tanpa keseruan lagi tanpamu."
__ADS_1
Jayaseta balas tertawa.
"Sampai bertemu kembali beberapa bulan ke depan. Semoga urusanmu di negeri Siam berjalan lancar sehingga engkau bisa mengembalikan awak-awakku dengan sempurna dan kita jalani pelayaran dengan keseruan yang sama kembali."
***
Baharuddin Labbiri, laki-laki Bugis setengah baya itu berdiri kaku melihat tak percaya ke arah rombongan orang yang datang ke rumahnya. Berjalan paling depan, tak mungkin salah ia melihat Datuk Mas Kuning, orang yang berjasa memeliharanya sewaktu kecil, menjadi paman guru ilmu kanuragan, teman, kawan sekaligus orangtuanya.
Datuk Mas Kuning sendiri ingat meninggalkan Baharuddin Labbiri ketika umurnya 24 tahun sedangkan laki-laki Bugis itu masih sangat muda, mungkin 9 atau 10 tahun. Sebagai seorang guru dan bapak angkat muda, Datuk Mas Kuning dengan berat hati harus meminta kepada Baharuddin Labbiri untuk tetap kuat dan bertahan hidup. Anak kecil itu harus mampu bersembunyi dari ancaman para tentara Pranggi. Umur semuda itu, Baharuddin Labbiri sudah memiliki kewajiban untuk menyembunyikan kegiatan latihan silat gayong Malaka namun tetap memeliharanya.
Datuk Mas Kuning ternyata masih hapal dimana letak bangunan itu, walau sekarang telah tumbuh menjadi tiga sampai empat kali lebar, luas dan besarnya.
Di sanalah dahulu Datuk Mas Kuning muda berlatih silat bersama para hulubalang Malaka secara diam-diam dan rahasia, menyembunyikan gerak jurus-jurus mereka dalam tarian silat pulut. Baharuddin Labbiri kecil, anak seorang pelaut pendekar Bugis yang tewas di laut, dipelihara oleh Datuk Mas Kuning serta menjadi murid silat pertamanya.
Tak disangka setelah Datuk Mas Kuning serta banyak hulubalang serta pendekar Malaka ditangkap dan hendak dibunuh prajurit Pranggi, anak kecil itu sekarang telah memiliki kerut wajah dan rambut putih seperti dirinya.
"Walau engkau telah nampak hampir menyaingi ketuaanku, Labbiri, namun pandangan mata nakal anak-anakmu itu tak pernah akan berubah," ujar Datuk Mas Kuning sumringah, membuyarkan keterkejutan Baharuddin Labbiri.
Laki-laki setengah baya itu masih tak berbicara sama sekali. Sebaliknya, ia langsung memeluk sang ayah angkat. Rasa haru tertumpah sudah. Segala kerinduan dan pertanyaan selama ini sudah terjawab.
__ADS_1
***
"Aku tak percaya paman kembali ke tempat ini, kembali ke rumah kita dan bertemu denganku lagi. Bertahun-tahun silam, aku menyaksikan paman ditangkap oleh para pasukan bule Pranggi dan digiring ke dalam kematian. Tapi tak secuilpun keraguan bahwa paman akan selamat. Ternyata benar adanya. Tuhan masih memberikanku rahmatnya sehingga masih dapat bertemu orang yang paling berjasa dalam hidupku," ujar Baharuddin Labbiri.
Sang datuk terkekeh. Pertemuan ini telah membuat keduanya melepas kerinduan yang luar biasa. Air mata haru tercurah, cerita bertaburan.
Setelah rasa kaget, terkejut dan tak percaya mulai mereka, Baharuddin Labbiri menjamu sang paman, ayah angkatnya di ruang utama dengan makanan, minuman dan sirih.
"Labbiri, bagaimana mungkin pamanmu ini sehebat itu. Engkau kutinggalkan sewaktu berumur ... Berapa? Sembilan kah, sepuluh tahun? Sedangkan aku dua puluh empat tahun. Mana mungkin jasaku begitu besar, Labbiri. Malahan, lihatlah engkau sekarang. Laki-laki setengah baya yang ... Ah, hampir tak dapat kupercaya mataku sendiri, berhasil mempertahankan bahkan membangun perguruan silat gayong dengan murid-murid Melayu, Bugis bahkan Jawa. Silat pulut masih tetap pula kau jaga. Bagaimana caramu menyembunyikan ini semua dari pemerintah Pranggi, Labbiri?" Ujar Datuk Mas Kuning sembari beberapa kali berdecak kagum.
Memang di bangunan terbuka di gugusan bangunan bagian tengah ini, terlihat jelas sebuah padepokan, perguruan silat sekaligus sanggar tari dan seni Melayu. Murid-murid lelaki dan perempuan sibuk berlatih tari silat pulut dan tentu saja silat gayong Malaka serta Pattani yang tetap masih sedikit disamarkan dengan bunga-bunga kuda-kudanya.
Jayaseta terkesima dengan kegiatan ini. Apalagi latihan setiap murid terlihat begitu akrab baginya. Mereka semua bergerak dalam diam. Setiap pukulan dan langkah begitu luwes terserap dalam tetabuhan dan bebunyian alat-alat bernada. Kekuatan silat gayong sesungguhnya tersembunyi dalam alunan nada dan suara. Mengingatkannya pada pelatihan silat di rumah Datuk Mas Kuning di Sukadana.
Jayaseta memandang Dara Cempaka yang tidak kalah takjub memandang latihan silat tersebut. Bisa dikatakan malahan Dara Cempaka lah yang mendapatkan perasaan mendalam mengenai hal ini. Ia telah berlatih lama di bawah sang Datuk, kakek kandungnya sendiri. Sekarang, ia berada di tempat dimana sang kakek lahir dan tumbuh.
Baharuddin Labbiri memandang lekat-lekat wajah sang paman, kemudian mengedarkan pandangan ke para rombongan: Jayaseta, Dara Cempaka, Narendra, Katilapan, Ireng dan Siam, kemudian terkekeh, "Datuk kalian ini telah memberikan dasar yang kuat bagi bapak untuk bertahan hidup dan berkarya. Ilmu silat gayong yang beliau ajarkan kepada bapak bukan sekadar ilmu berkelahi dan bertempur. Bila hanya masalah ilmu kesaktian, bapak yang berumur sembilan atau sepuluh tahun waktu itu, paling hanya paham kulitnya saja. Tapi, paman Mas Kuning telah memberikan bapak segala yang diperlukan untuk menjalani takdir dengan berani," ujar Baharuddin Labbiri kepada Jayaseta dan rekan-rekannya.
"Baiklah, paman. Ceritakanlah semua. Katakan saja, apa yang dapat kulakukan untuk paman dan rombongan tamu-tamu terhormat ini," lanjutnya sembari tersenyum sumringah dan hangat.
__ADS_1