Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Badranaya


__ADS_3

Badranaya


“Terimakasih aku ucapkan sekali lagi buat kakang-kakang sekalian. Aku tidak khawatir dengan diriku, tetapi sudah terlalu banyak korban yang jatuh. Untunglah kalian segera datang,” ujar Jayaseta kepada saudara-saudara barunya, para prajurit sewaan, yang sudah dua kali ini bisa dikatakan 'menyelamatkannya.'


Memang benar, selain Abun yang tewas serta selain kakek Salman yang terluka parah di bagian punggungnya, bahkan kedua orang budak yang sebelumnya pingsan terkena tendangan Pratiwi juga sempat bangkit dan berhasil selamat melarikan diri.


Jayaseta kemudian meminta para perempuan untuk segera pergi dari Betawi. Perempuan-perempuan itu kemudian bersama para budak dengan sembunyi-sembunyi dibantu oleh para prajurit rekan-rekan Jayaseta tersebut mencari jalan-jalan rahasia untuk keluar dari Betawi pulang ke kampung halaman mereka.


Dalam beberapa hari, Jayaseta masih harus bersembunyi dari kejaran para pasukan Betawi dan antek-antek Pratiwi.


Ia kesal sekali harus seperti ini, padahal ia bisa saja menghadapi Pratiwi termasuk para prajurit atau tentara bawahan kompeni Walanda Betawi sekaligus. Ingin sekali rasanya menghabisi orang-orang durjana yang licik itu.


Namun, menyelamatkan para budak dan membawa pergi kakek Salman adalah tujuan utamanya. Bila ia bersikeras untuk menyerang Betawi misalnya, apa gunanya para kakangnya datang menyelamatkannya?


***


Sayangnya, suasana terlalu cepat berganti kesenduan dan kemuraman ketika kakek Salman sendiri sudah ikut pula menyusul kematian Abun. Selama dua hari penuh sang kakek tak sadarkan diri dan mengalami demam tinggi. 


Jayaseta harus dapat menerima bahwa sang kakek sudah pasti akan tewas karena sepasang belati Pratiwi beracun. Racun yang begitu kuat sehingga bahkan seorang kakek Salman atau Kakek Keling sekalipun tidak akan dapat menghilangkannya, terutama dalam waktu singkat.


Pratiwi begitu lihai. Ia paham bahwa ia tidak akan dapat begitu saja membunuh sang kakek dalam keadaan sang kakek sehat walafiat dan siap siaga.


Lama sudah ia dan orang-orang suruhan kompeni mencari sang kakek yang dikenal sebagai salah seorang tokoh yang melakukan beragam pergerakan melawan yang sangat mengganggu kompeni. Selain itu sebenarnya seperti yang dikatakan Pratiwi, Jayaseta juga termasuk incaran kompeni.


Untung sekali bagi Pratiwi karena berhasil mendapatkan waktu yang tepat untuk membokong kakek Salman ketika tenaga dalamnya sedang digunakan seluruhnya untuk ‘mengobati’ Jayaseta.


Padahal sudah sejauh ini perjalanan Jayaseta dan ia pun telah berhasil menemukan sang kakek seperti diamanatkan kakek gurunya, kakek Keling, untuk menggenapkan pengusiran racun kutukan tombak pusaka Kyai Plered.


Semuanya hampir seperti sia-sia.


Sebelum tewas kakek Salman mewanti-wanti Jayaseta untuk menyampaikan salamnya bagi Bharata, sahabatnya, kakek guru Jayaseta. Ia juga menyerahkan lima buah pisau terbangnya sebagai beberapa peninggalan yang bisa ia berikan kepada Jayaseta sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri sampai kematian menjemputnya.


Memamng kakek gurunya yang satu ini sebenarnya sudah sempat untuk memberikan jurus andalannya, Tarian Gila Pembobol Sukma dan beberapa jurus lemparan pisau terbang rahasianya pada Jayaseta. Selain itu, walau racun kutukan Kyai Plered belum benar-benar hilang dari tubuhnya, sang kakek sudah sempat memberikan cara khusus untuknya mengusir sang racun dengan rajah Garuda Sentanu.


Dengan susah payah dan tidak memedulikan permintaan Jayaseta untuk beristirahat, sang kakek meminta Jayaseta untuk kemudian kembali ke Giri Kedaton untuk kemudian pergi berlayar ke Sukadana untuk bertemu dua tokoh sakti, yaitu Panglima Beruang dan Datuk Mas Kuning. Mereka berdua yang dianggap memiliki ilmu tinggi untuk kembali merajahkan Garuda Sentanu atau merajahkan ilmu lain yang seimbang dengan Garuda Sentanu.

__ADS_1


Sang kakek benar-benar menghabiskan tenaganya untuk menjelaskan semua hal yang perlu Jayaseta lakukan dengan sungguh-sungguh. Sang kakek bahkan memastikan kembali bahwa Jayaseta dapat menghapal dan mengulang permintaannya.


Menurut kakek Salman, Jayaseta tidak akan mampu bertahan sampai dewasa bila racun kutukan Kyai Plered tidak dihilangkan dari tubuhnya. Nagataksana dan Garuda Sentanu yang belum sempurna nantinya akan bisa dijebol. Bila itu terjadi maka Jayaseta akan dimakan habis-habisan oleh racun kutukan Kyai Plered sehingga ia akan mati mengenaskan.


Perasaan campur aduk menyerang Jayaseta. Di satu sisi ia merasa sedih karena guru barunya yang belum lama ia kenal sudah meninggalkan dunia. Sedangkan di sisi lain, ia merasa bersalah karena bagaimanapun ada rasa kesal dan menyayangkan bahwa sang kakek sudah terlebih dahulu wafat sebelum menyelesaikan rajahnya. Perasaan ini yang terlalu menyiksa bagi Jayaseta. Ia merasa begitu mau untung sendiri, hanya memikirkan kepentingannya sendiri tanpa memikirkan bahwa orang yang dimintainya tolong sudah meninggalkan dunia.


“Kami merasa ikut bertanggung jawab karena terlambat datang, le. Kami mohon maaf karena tidak dapat menyelamatkan kakek guru,” ujar Badra mencoba menebak isi hati sang kemenakan.


“Ah, sudahlah, paman. Semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kalian malah sebenarnya sudah datang tepat waktu, bila tidak, aku tak tahu apa yang terjadi.”


"Tapi toh, aku rasa kau bisa menjaga diri, Jayaseta. Kau jauh lebih sakti dari kami. Tanpa pertolongan kami pun, kau bisa menghabisi cecunguk-cecunguk Walanda itu seorang diri," ujar Katilapan.


Sebenarnya semua tahu bahwasanya Katilapan sedang bercanda. Walau ucapannya mengandung kebenaran, tapi tanpa bantuan mereka, korban akan berjatuhan dan kakek Salman mungkin tak akan sempat memberitahukan keinginan dan pesan-pesan terakhirnya.


Sudah jodoh bahwa mereka akan selalu menemukan Jayaseta. Sewaktu mereka mengadakan perjalanan ke Betawi, terpisah dari Jayaseta, tanpa sengaja mereka melihat iring-iringan pasukan kompeni bersenjatakan lengkap menuju sebuah penginapan. Badra kenal sekali dengan iringan itu, seragam mereka, senjata mereka, tindak-tanduk mereka. Ia sudah begitu akrab bahkan hapal dengan segala gerak-gerik para rombongan pasukan Walanda tersebut. Badra kemudian memohon kepada rekan-rekannya yang lain untuk mengikuti para serdadu Walanda tersebut. Alasannya sederhana, ia punya perasaan bahwa akan terjadi sesuatu. Lucunya, yang lain mengiyakan.


Pada awalnya mereka tidak begitu mau ikut campur dengan apa yang bakal terjadi sampai Karsan melihat bahwa sang pemilik penginapan ditembak oleh salah seorang serdadu kompeni.


Ini membuat darahnya menggelegak. Karsan pun kemudian menyarankan agar mereka mencari tahu apa yang terjadi. Bila mungkin, mereka harus menyelamatkan siapapun yang ada di dalam penginapan dan mungkin akan dibunuh atau ditangkap oleh para serdadu.


Badra nampaknya memang masih memiliki kekuatan dalam kelompok ini. Walau ia bukan lagi ketua, pelan-pelan masing-masing anggota mulai mengakui peran Badra. Ia dinilai memiliki kemampuan berpikir dan nalar yang baik. Walau kadang memiliki pikiran dan pendapat gila, ia ternyata seakan berhasil memecahkan masalah.


Sayang, Badra tidak memiliki kemampuan silat yang mumpuni. Dari awal pertemuan Badra dan Jayaseta dimana ia hanya berpura-pura garang, dilakukkan untuk menutupi kelemahannya tersebut.


Itulah sebabnya, semua menyanyangkan kematiannya kemudian dengan rasa sesal yang meluap-luap. Hubungan yang membaik dan bahkan sudah menemukan rasa sayang dan saling percaya antara Jayaseta, Badra dan lainnya sedang tumbuh-tumbuhnya, apalagi ternyata nasib dan takdir masih terus menemukan mereka.


***


Badranaya datang beberapa hari kemudian, setelah pergi dengan tiba-tiba setelah pemakaman kakek Salman, dengan luka di sekujur tubuhnya. Bau bubuk api mengambang di sekeliling tubuhnya karena ternyata lima buah ***** kompeni menancap di dagingnya.


“Apa yang kau lakukan, Badra?”


“Siapa yang melakukan ini?”


Pertanyaan demi pertanyaan berhamburan dari mulut masing-masing rekan-rekannya

__ADS_1


.


Jayaseta sendiri memandang tak percaya dengan keadaan sang paman yang mengenaskan ini. Sudah jelas bahwasanya lima ***** tersebut berasal dari senapan-senapan serdadu kompeni.


Padahal saat ini mereka sedang berada di tempat persembunyian yang cukup aman selama beberapa hari dari kejaran pasukan kompeni. Dengan hilangnya Badra, membuat kemenakan dan teman-temannya khawatir sekaligus penasaran. Mereka sementara harus menghilang dari pandangan umum, tapi Badra malah tak diketahui rimbanya. Ketika ia muncul, tubuhnya sudah dalam keadaan yang luar biasa mengejutkan.


Dengan nafas yang terputus-putus, Badra menjelaskan bahwa ia sengaja mendatangi benteng kompeni dan meminta bertemu dengan pimpinan serdadu Belanda di sana, de Jaager.


Ia menjelaskan siapa sebenarnya adik-beradik de Jaager dan secuil penjelasan bahwa ia pernah bekerja bersama mereka. Kejadian ini kembali mengingatkan Jayaseta dengan kakek Salman. Rasa pilunya tak bisa ditahan lagi.


Badra mengaku datang ke sarang kompeni untuk menantang de Jaager bersaudara, bekas pimpinannya sewaktu dahulu bekerja di pelabuhan Betawi. Ia merasa percaya diri bahwa dengan memotong kepala ular, maka tubuhnya akan mati. De Jaager bersaudara haus perkelahian dan tantangan antar pendekar. Maka menantangnya untuk Jayaseta akan membuat Walanda tak perlu mengerahkan Pratiwi dan serdadu-sedadunya untuk mengejar Jayaseta, serta teman-temannya tentunya. Lagipula jelas Jayaseta akan menang. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Itu yang tadinya ia pikirkan.


“Kau dapat berbicara dengan kami, Badra,” ujar Narendra dengan agak keras, setengah membentak. Ia kesal karena Badra melakukan tindakan ini seorang diri tanpa memberitahu mereka.


“Kita adalah saudara. Apapun keputusanmu pasti dapat kita bicarakan bersama,” Mahendra kali ini yang berbicara sembari memegang bahu Badra.


“Aku tidak ingin merepotkan kalian, saudara-saudaraku. Yang jelas, tantanganku diterima oleh mereka. Tiga hari lagi, Jayaseta, ia akan menemui kedua de Jaager bersaudara seorang diri di bukit bambu selatan benteng Betawi.”


Sebisa mungkin Badra memaparkan semua hal yang terjadi. Ia juga kemudian meminta maaf kepada saudara-saudaranya terutama kepada sang kemenakan, Jayaseta.


“Terimaksih, le, karena telah membawa hidup kami ke jalan yang benar. Sebagai pamanmu yang hina ini, a ... aku ... merasa menjadi berguna sekarang. Tidak hanya bagi saudara-saudaraku ini, tapi juga ka … rena dapat berguna bagi keponakanku. Maafkan kesalahanku dari awal perjumpaan kita, dari sewaktu kau kecil. Maafkan ketidakmampuanku menjadi seorang keluarga yang bisa diandalkan," tarikan nafasnya sudah diambang batas hidup dan mati.


"Dan kalian semua, terimakasih atas pengalaman menjadi saudara yang sejati,” ujar Badra sebelum nafasnya kemudian hilang, meninggalkan tubuhnya, untuk selamanya.


Ruangan tempat persembunyian Jayaseta itu kembali dirundung sedih yang luar biasa. Mereka kehilangan seorang saudara yang perlahan telah membuat mereka saling merasa percaya dan saling menjaga pula. Kenyataan ini membuat kesedihan tersebut berlipat-lipat. Jayaseta pun akhirnya kehilangan keluarganya yang masih tersisa.


Pada awalnya Badra berhasil menemui de Jaager bersaudara. Kesepakatan telah tercapai, tantangan diterima. De Jaager akan bertarung dan adu kesaktian dengan Jayaseta, sang pendekar pribumi yang memporak-porandakan para jagoan Walanda. Mereka akan bertarung di sebuah bukit yang ditutupi dengan pohon bambu di bagian selatan benteng.


Bila Jayaseta kalah, ia harus mau menyerah atau tidak mengganggu kegiatan dan kebijakan kompeni. Sedangkan bila de Jaager kalah, kompeni tidak boleh lagi mengganggu Jayaseta. Tidak ada perintah penangkapan atau pembunuhan atas diri Jayaseta.


Sayang, kompeni tidak setulus itu. Ketika pertemuan itu selesai, serdadu kompeni berusaha menangkapnya. Badra memberontak sekuat tenaga dan sebagai hasilnya, lima ***** bersarang di tubuhnya.


Devisser de Jaager memerintahkan pasukannya untuk membiarkan Badra pergi. Entah karena ia berpura-pura, atau memang memiliki maksud licik. Yang jelas de Jaager bersaudara tetap berniat dan tertantang untuk bertukar serangan dengan Jayaseta.

__ADS_1


__ADS_2