Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Putus Terpenggal


__ADS_3

Belasan pasukan Siam muncul dari balik bukit. Hanya enam sampai tujuh orang berkuda, sisanya berlari di samping. Kesemua prajurit itu mengenakan pakaian berwarna merah terang dengan pinggang yang dililit kain hitam, celana pangsi sebetis, bertelanjang kali dan mengenakan penutup kepala lancip dengan. Beberapa mengenakan pakaian pelindung dari besi di dada dan bahu mereka, terutama para prajurit bersenapan. Satu orang, si pemimpin, mengenakan penutup kepala lancip juga namun dengan lingkaran serupa caping tapi jauh lebih kecil.


Pedang panjang terselip di pinggang, digenggam, atau digantung bersilang di punggung. Beberapa dari mereka inilah yang menenteng senapan laras panjang dan tadi menembakkannya ke udara.


Di sisi lain bukit juga terlihat dengan jumlah yang lebih sedikit, pasukan Melayu Kesultanan Kedah. Para prajurit Melayu ini mengenakan pakaian sutra halus putih-putih, penutup kepala tinggi maupun serupa surban. Tombak-tombak tinggi terjulur ke depan. Beberapa juga menenteng senapan dan sudah mempersiapkan moncong nya ke arah para pasukan Siam maupun kelompok kecil yang sedang bertarung di tengah-tengah diantara dua pasukan negeri yang sedang di dalam masa ketegangan itu.


"Berhenti, Pucok Gunong. Hentikan apapun yang kau lakukan sekarang," perintah salah seorang punggawa pasukan Melayu Kedah.

__ADS_1


"Apa masalahnmu, Nuruddi? Bukankah aku membantu Kedah untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Siam ke*parat ini, hah?" balas Sang Harimau Belang kepada punggawa kesultanan Kedah yang ternyata bernama Nuruddi itu. Terlihat sekali kedua orang ini saling mengenal.


"Kau tidak membantu sama sekali, Pucok Gunong. Lihatlah korban di pihakmu dengan pihak mereka. Dalam ilmu hitung pun harusnya kau tahu dengan baik hasilnya. Lagipula, orang-orang Siam sekarang ternyata bekerjasama dengan orang-orang Burma, bangsa yang pernah menjajah dan masih mencari celah untuk menundukkan Ayutthaya," kembali Nuruddi berseru.


Kini punggawa itu malah berjalan mendekat ke arah para pasukan Siam di sisi berlawanan dan berteriak keras. "Ini bukan tanggung jawab kami, orang Kedah. Harusnya kalian orang Siam yang bertanggung jawab atas kekacauan ini. Memang para pendekar Melayu itu bukan suruhan kami, tapi lihat sendiri pasukan para pendekar kalian yang ternyata bercampur dengan orang-orang Burma. Aku tak tahu bahwa kalian bisa juga bertekuk lutut dengan bangsa penjajah kalian, bahkan bekerja sama dengan mereka."


Ucapan pancingan Nuruddi ini jelas masuk ke dalam hati sang pemimpin pasukan Siam itu. Bukan tanpa alasan, Ayutthaya pernah menyerang kerajaan Burma sehingga perang terjadi pada tahun 1568 sampai 1569 Masehi. Dimana saat itu dimulai dengan kegagalan Ayutthaya menundukkan Phitsanulok, yaitu sebuah negeri bawahan kerajaan Burma. Akibatnya, Burma membalas menyerang Ayutthaya dan memenangkan pertempuran ini pada tahun 1569 Masehi. Ayutthaya langsung menjadi negeri bawahan Burma yang kuat dan besar itu. Bahkan Kerajaan Burma sampai langsung melebarkan penundukan mereka sampai ke kerajaan Lan Xang, negeri orang-orang Lao yang berbatasan dengan Dai Viet, meski hanya menguasainya selama waktu yang singkat sampai tahun 1570 Masehi.

__ADS_1


Rumit memang hubungan antara orang-orang Siam, Khmer di Kamboja, Lao di Lan Xang, Burma, Campa dan Dai Viet sampai Melayu. Tapi tak ada yang benar-benar dibenci oleh orang-orang Siam selain orang-orang Burma, dan begitu sebaliknya.


Maka, sang pemimpin melihat ke arah para pendekar Burma yang terluka dan cidera di dalam kelompok pendekar-pendeka Siam yang juga terluka itu. Ia meludah ke tanah, kemudian mengangkat satu tangannya. Para prajurit Siam yang memegang senapan langsung berlari maju tanpa basa-basi. Mereka sudah tahu dengan jelas apa yang harus mereka lakukan tanpa perintah berupa kata-kata.


Malang bagi para pendekar Burma yang tak sempat melakukan tindakan pencegahan. Luka-luka yang mereka derita pun membuat mereka tak bisa melakukan banyak hal dengan cepat. Pelu*ru menembus tengkorak kepala mereka. Tidak sampai disitu, prajurit yang tak memegang senapan sudah menghunus pedang dan memotong leher pendekar Burma yang sudah tertembus peluru itu. Kepala para pendekar Burma bergelimpangan di tanah putus terpenggal. Satu-satunya keberuntungan para pendekar Burma itu adalah bahwasanya mereka tak merasakan sakit sampai saat kemarin mereka.


__ADS_1


__ADS_2