
Kedua pemimpin prajurit Melayu menggelegak darahnya terbakar amarah. Mereka sama sekali tak menduga bahwa sosok tak dikenal itu tak mau berbasa-basi. Harusnya mereka lah yang geram dengan semua keadaan ini dimana para perompak mencari masalah di kepulauan dan pesisir wilayah yang sedang dipermasalahkan oleh Jambi dan Johor kemudian melarikan diri serta kemudian malah mencari masalah dengan kapal-kapal lain. Masalah ini harus diluruskan dengan menaklukkan orang ini, pikir keduanya.
Tapi benar saja, Jayaseta tak mau ambil pusing lagi. Ia kembali menyerang dengan cepat dan gencar.
Keris dan tumbuk lada berusaha menghalau lebih dahulu serangan Jayaseta. Kedua jenis belati itu menusuk, menghujam dan menikam ke arah dada, perut dan leher hampir bersamaan. Jayaseta bergerak bagai angin, menyelip diantara serangan. Ia menepis serangan dan mendorong lengan lawan, menolak bahu musuh, serta menangkis tusukan dan sabetan keris dan tumbuk lada dengan lengannya yang dibebat kain tersebut.
Tak lama, kain di kedua lengannya ia lepas.
BESS ...!
BESS ...!
Kain dikibaskan dan meletupkan tenaga. Pemimpin pasukan Jambi tersentak ke belakang karena dua kali hempasan kain yang digunakan Jayaseta tersebut mengenai tubuhnya. Ia berguling di geladak kapal.
Melihat dua kali serangan mendarat telak pada pemimpin pasukan Jambi, sang pemimpin pendekar-pendekar Johor mengambil kesempatan menyerang Jayaseta dari arah belakang. Keris mengarah ke pinggang dan tumbuk lada ke arah punggung.
Kepekaan kependekaran Jayaseta sudah diatas rata-rata. Hawa gerakan di balik kepalanya sudah terasa bakal sejak musuh hendak memulai serangan.
Dengan sebuah gerakan lembut namun tegas, Jayaseta berbalik, menghempaskan satu kainnya, mengikat lengan musuh yang memegang keris. Jayaseta menyentaknya sehingga musuh hilang keseimbangan. Ia tak mungkin bisa memusukkan tumbuk padanya karena satu tangannya terbelit kain. Jayaseta kemudian mengibaskan satu kain lainnya ke pergelangan kaki serta juga membelitnya.
Sekali hempas, keseimbangan sang musuh sama sekali telah hancur. Ia berputar di udara sekali sebelum tubuhnya terhempas ke lantai geladak jung dengan keras.
***
Dua kapal berukuran sedang penuh dengan prajurit bayaran dari beragam bangsa merambat pelan di atas air laut dangkal mendekati kapal milik pelaut Minangkabau-Bengkulu-Rejang dan jung Raja Nio yang dikempit dua kapal milik prajurit Melayu Jambi dan Melayu Johor-Riau.
Meriam telah disiapkan dengan para prajurit di dalam lambung dan di atas geladak kapal bersiap dengan bedil dan bubuk api.
BAM! BAM! BAM!
Ledakan keras kembali terdengar melewati udara pagi. Asap putih dengan jejak-jejak hitam membumbung di angkasa dari mulut meriam kapal pertama.
Tak lama asap kembali terlihat di kapal bercadik milik orang-orang Bugis serta kapal Minangkabau karena tertembus pel*uru meriam. Jarak yang tepat untuk menghamburkan tembakan ke arah kapal tersebut yang sama sekali tak siap dan menjadi sasaran tembak belaka.
__ADS_1
Labussa terlempar ke belakang. Beberapa prajurit terjatuh ke dalam air, beberapa terhempas dan tak sadarkan diri. Tubuh mereka terluka, bahkan ada yang kehilangan lengan dan kaki.
Makkawaru terhenyak karena begitu terkejutnya. Ia melihat Labussa, sang pemimpin terlempar ke sudut geladak dan hendak membantu ketika para tawanan perompak yang salah satunya bertopeng Mah Meri yang terangkap dan sebenarnya cukup terluka parah itu bangun dan secara bersamaan ketiganya menangkap tubuh Makkawaru. Ketiga perompak itu mendorong sang pendekar Bugis itu sekuat tenaga. Keempatnya jatuh dari geladak kapal ke kapal bercadik Bugis yang sedang terbakar.
Labussa yang jatuh terlentang masih sempat melihat kejadian ini. Ia berdiri dan bergegas ke arah jatuhnya orang keduanya itu.
DAAARR!!!
Ledakan keras terdengar lagi. Perahu Bugis bercadik itu untuk kesekian kalinya dihantam meriam dan hancur lebur dengan Makkawaru dan ketiga perompak terluka di atasnya.
***
Pemimpin pasukan Jambi dan Johor bangun hampir secara bersamaan. Mereka hendak melanjutkan penyerangan kepada Jayaseta ketika mereka mendadak membatalkannya. Bahkan semua orang di atas geladak perhatiannya tertuju kepada ledakan yang terjadi tak jauh dari pandangan mereka di jung ini.
"Apa lagi ini?" ujar pemimpin Johor.
Teriakan para awak jung Raja Nio bersahut-sahutan dengan para prajurit Melayu Jambi dan Johor yang baru saja menggunakan teropong mereka juga.
"Tuan ... Kapal di sana, kemungkinan milik orang-orang Minang ditembak. Ada dua kapal bercadik Bugis juga terkena ledakan," lapor seorang prajurit Jambi.
"Apakah mereka perompak yang tadi kita kejar?" tanya pemimpin Johor sembari berseru.
"Kami tak yakin, tuan. Kapal mereka tak berbendera dan sepertinya dirancang untuk bertempur di laut," jawab sang prajurit.
"Mereka jelas akan menyerang kita. Sebaiknya segeralah berpikir dengan matang namun sesegera mungkin," ujar Jayaseta dingin di balik topeng kayu kera Mah Meri tersebut.
Raja Nio kemudian berdiri di tengah geladak. "Tuan-tuan, segera kembali ke kapal anda masing-masing. Kita berada dalam keadaan yang sulit bila seperti ini. Tembakan meriam akan menghancurkan kita bersama yang dalam keadaan berhimpitan seperti ini. Kita juga akan kesulitan membalas serangan," ujar Raja Nio dengan suara keras, meyakinkan semua orang dapat mendengarnya.
Kedua pemimpin pasukan Melayu yang berseberangan melihat ke arah Raja Nio, Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu dan pada para perompak bertopeng yang telah ditangkap. Mereka jelas ragu untuk melepas para tawanan itu sekaligus masih penasaran pada pertarungan mereka dengan Jayaseta. Namun kemudian mereka juga sama-sama melihat ke arah para prajurit dan awak kapal mereka yang ada di atas kapal bergoyang-goyang oleh ombak.
"Kembali ke kapal, persiapkan persenjataan. Kita hadapi para penyerang itu!" seru sang pemimpin Jambi.
Perintah ini langsung dilaksanakan oleh para prajurit Jambi. Mereka juga sebenarnya sudah geregetan untuk kembali ke kapal karena melihat ancaman nyata lain di atas sebuah kapal, yaitu kapal penyerang.
__ADS_1
Pemimpin Johor sendiri hanya menganggukkan kepala sebagai tanda perintah yang serupa. Para prajurit Johor dan Riau langsung berlari melewati papan-papan penyebrangan.
Teriakan-teriakan perintah bersahut-sahutan, "Naikkan layar. Putar kemudi. Siapkan meriam."
***
Lopes Fransisco de Paula menenggak araknya kembali. Ia mengistirahatkan kedua matanya. Ingin rasanya menikmati pemandangan di depan, pertempuran antar bangsa Melayu dan nusantara. Namun ia sedang lelah. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Cukuplah untuk saat ini.
Kapalnya perlahan meninggalkan medan pertempuran di laut dangkal, meninggalkan bunyi dentuman meriam bertalu-talu bagai tetabuhan kematian.
***
Kapal penyerang yang diperintahkan Lopes Fransico de Paula untuk menyerang kapal-kapal pasukan Melayu sudah mengetahui bahwa para prajurit Johor dan Jambi sudah dalam perjalanan kembali ke kapal mereka dari jung pedagang yang malang itu.
Maka, mereka langsung menembakkan meriam mereka sebelum kapal-kapal itu bersiap.
BUMMM..!!
BAAMMMM..!!
Benar saja, walau pe*luru meriam hanya mengenai sisi kapal Jambi, ledakan-ledakan itu membuat prajurit dan kapal kocar-kacir. Kapal Johor yang menempel di sisi lain jung Raja Nio itu malah harus berputar agar mendapatkan sasaran tembak.
Kapal penyerang beragam bangsa yang dipersenjatai Pranggi ini bisa saja sekaligus menembak jung Raja Nio, namun mereka sengaja menghemat pelu*ru agar tepat sasaran. Mereka bahkan mempercepat pergerakan sembari terus menembaki sasaran empuk mereka, kapal Jambi.
***
"Putar ... Putar kapal!" perintah Raja Nio kepada juru mudi dan para awak. "Kalian lihat kapal yang menjauh itu? Kita kejar dia!"
"Tunggu, Raja Nio. Apa maksudmu?" ujar Jayaseta mendadak buncah dan bingung. "Ada apa dengan kapal itu? Bukanlah lebih baik kita menghindari pertempuran dan melanjutkan perjalanan?" lanjut sang pendekar.
"Kita sudah lolos dari kesalahpahaman yang melibatkan kekuatan besar negeri-negeri Melayu, Tuan Raja Nio. Mengapa kita tidak pergi jauh saja?" kali ini Narendra yang berbicara.
"Tidak. Kita sudah tercemplung ke dalam masalah ini. Sementara memang kita lepas dari masalah karena kapal-kapal penyerang tiba-tiba datang dan membuat perhatian mereka tertuju pada kapal itu. Namun, para perompak yang kita tangkap masih ada di kapal. Aku tak bisa membayangkan bahwa mereka akan terus-terusan meminta penjelasan atas apapun yang terjadi dengan para perompak ini. Lagipula, kita akan singgah di negeri Melayu, negeri mereka," jelas sang nakhoda.
__ADS_1
"Lalu, apa hubungannya dengan kapal yang mau kau kejar, Raja Nio?" ujar Jayaseta penasaran.
Raja Nio memandang topeng Jayaseta lekat-lekat. "Tak ada yang memperhatikan, kecuali aku. Kapal itu adalah kapal induk dua kapal penyerang itu. Bahkan aku melihat dari tadi, semenjak para perompak menaiki kapal kita dan kapal orang-orang Minangkabau itu, kapal induk itu hanya diam, tidak pergi bahkan ketika meriam-meriam kapal kita dan Minangkabau yang dibajak ditembakkan. Kapal itu seakan sedang memperhatikan dan menonton apa yang sedang terjadi. Kita akan tahu jawabannya sesegera mungkin. Persiapkan senjata kalian masing-masing. Silahkan gunakan senjata tajam," tegas sang nakhoda jung dari Semarang tersebut.