Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rajah Garuda Sentanu


__ADS_3

Jayaseta dan rombongan para perempuan tandu serta para budak sekarang sudah berada di sebuah pondok. Pondok ini ada di bagian barat benteng Betawi. Di kiri kanannya bahkan depan dan belakang dipenuhi bangunan-bangun kayu lain milik orang-orang Cina yang digunakan sebagai beragam kedai. Seperti kedai kelontong, kedai makan, bahkan kedai perawatan tubuh.


Mereka mengikuti perintah kakek Salman si Pisau Terbang Penari untuk mengikutinya menjauh dari jalan dimana mereka tadi berperang. Pasukan kompeni Walanda dari benteng sudah pasti akan langsung mengincar gerombolan mereka. Bagaimana tidak, dua puluhan orang suruhan kompeni habis dibantai.


Wajah perempuan muda itu tersenyum manis kepada Jayaseta. Dandanannya yang menor berbanding terbalik dengan senyum simpul dan tatapan malu-malunya. Bajunya yang berlapis-lapis dan berbunga-bunga sepertinya tidak cocok ia sandang. Selapis jarit panjang yang melingkar di tubuhnya pastilah jauh lebih pas.


Pratiwi tidak tahan untuk tidak menyapa Jayaseta, “Kakang.”


Jayaseta mengerutkan kening di balik topengnya. Tiba-tiba ia langsung saja membuka topengnya, “Pratiwi?”


“Iya kakang, adinda memang Pratiwi adanya,” ujar sang gadis malu-malu.


Para budak memandang Jayaseta dengan tidak percaya. Benar apa kata orang bahwa sang Pendekar Topeng Seribu adalah seorang bocah muda di balik topengnya. Sedangkan Jayaseta sendiri tidak terlalu peduli dengan ini. Ia terkejut karena baru sebentar saja ia bertemu dengan Pratiwi.


“Mengapa adinda ada di sini? Dan mengapa adinda ada di tandu itu?” ujar Jayaseta heran.


“Sudah dua kali kakang membantu adinda. Adinda sudah bingung bagaimana harus membalasnya,” jawab Pratiwi lagi.


Jelas bahwa Pratiwi tidak mau membuat Jayaseta terbingung-bingung lagi. Segera saja ia menceritakan sebisa mungkin apa gerangan yang terjadi, “Kakang, setelah kakang pergi dari Cerbon, orang-orang suruhan kompeni berdatangan. Katanya mereka ingin mencari kakang, Pendekar Topeng Seribu.


“Sepertinya mereka ingin menuntut balas. Tapi ketika mereka tidak menemukan kakang, mereka malah memaksa orang-orang desa untuk memberikan anak perempuan mereka untuk dibawa ke Betawi bagi orang-orang Walanda.”


Kedua mata Pratiwi berkaca-kaca. Ia tidak menangis, namun jelas bahwa kesedihan sudah menggantung.


“Tidak adakah orang-orang Cerbon yang berani melawan suruhan kompeni? Bagaimana dengan Kesultanan Banten dan para prajuritnya?” jawab Jayaseta.


Suara yang muncul kemudian adalah suara kakek Salman, “Cerbon memiliki kerjasama yang cukup erat dengan Betawi. Mereka bersama-sama merasa terancam oleh kerajaan Mataram. Jadi kedatangan orang-orang suruhan kompeni di Betawi tidak begitu mengherankan mereka. Bahkan beberapa permintaan nyeleneh kompeni pun mereka turuti.


“Asal kau tau anak muda, sisa gerombolan Jarum Bumi Neraka yang ditangkap penguasa Cerbon pun sekarang telah dilepaskan karena ada orang dalam yang membantu mereka. Mereka sengaja mengincar gadis-gadis muda Cerbon untuk dijadikan simpanan atau gundik para petinggi Walanda.”


Mendengar ini Pratiwi tidak bisa untuk tidak menangis. Bahkan begitu juga dengan ketiga perempuan muda lainnya.


“Mereka memaksa adinda untuk pergi ke Betawi dan menjadi hak milik orang-orang kompeni,” ujar Pratiwi kemudian.


“Adinda tidak mampu melawan. Hutang yang membelit keluarga adinda membuat adinda tidak bisa apa-apa,” ujar Pratiwi sembari menahan tangis.


“Bedebah!” ujar Jayaseta gemas.


Namun ia kemudian memandang Pratiwi dan keempat perempuan lainnya, “Ada laiknya kalian mengganti pakaian kalian. Aku tidak begitu suka melihat penampilan kalian,” ujar Jayaseta dengan sedikit bergurau.


Keempat perempuan tersebut, termasuk Pratiwi langsung menganggung sembari tersenyum, “Baik tuan muda,” ujar yang lain, “Baik kakang,” ujar Pratiwi.


Jayaseta sengaja membuat mereka untuk pergi sejenak berganti pakaian karena ingin berbicara lebih banyak dengan kakek Salman. Lagipula ada benarnya juga bahwa ia sama sekali tidak suka gaya dandanan dan pakaian mereka.


“Kakek, siapa sebenarnya kakek dan para budak ini? Mengapa kakek juga ikut menjadi budak, namun malah ikutan melawan para pengawal? Kakek sama sekali bukan orang lemah,” Jayaseta serasa haus sekali dengan segala berita dan cerita yang lengkap mengenai kejadian ini.


“He he he,” sang kakek terkekeh.


Ia kemudian melanjutkan, “Aku memang sengaja berpura-pura untuk menjadi salah seorang budak. Tujuanku jelas dari awal anak muda, aku adalah salah satu orang yang berjuang membebaskan bangsa ini dari orang-orang kompeni. Ketika pertama melihat cakram yang kau lemparkan, aku sudah langsung mengingat Bharata. Besi buatannya dari dulu selalu buruk, ha ha ha …”


“Maksud kakek, Bharata itu Kakek Keling?”


“Hah? Apa kau bilang? Kakek Keling? Ha ha ha .. rupanya itu julukan yang kau berikan kepadanya?” ujar kakek Salman.


“Ya kakek. Berarti jelas aku tidak salah, kakek adalah Salman, si Pisau Terbang Penari?” ujar Jayaseta bersemangat.


“Tentu saja. Nama itu sudah melekat denganku.”


Akhirnya cerita pun mengalir sudah. Kakek Salman menjelaskan bahwasanya ia memang mempersiapkan diri untuk menyerang iring-iringan para suruhan kompeni yang diperintahkan untuk membawa perempuan-perempuan muda dari Cerbon untuk dipersembahkan bagi para kompeni. Cara satu-satunya adalah menjadi budak dan mempersiapkan tandu yang dilengkapi dengan senjata.


Sewaktu sang kakek pura-pura kelelahan dan terjatuh, sebenarnya ia ingin mengambil senjata rahasianya dan menghabisi para pengawal suruhan kompeni.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Jayaseta membantu sang kakek untuk menyerang habis-habisan para kompeni. Sayangnya memang mereka harus kehilangan para budak yang tidak tahu menahu masalah ini dan hanya ikut berperang karena juga sudah merasa hidup terlalu lama sengsara.


“Mari cucuku, ikutlah denganku untuk berperang melawan kompeni. Mereka adalah orang-orang asing yang ingin menguasai tanah Jawa. Setelah Betawi mungkin nanti Banten, Cerbon, Mataram, Bali, bahkan tanah orang-orang Melayu di pulau Samudra pun akan mereka kuasai,” ujar sang kakek bersemangat.


Jayaseta tersenyum pedih dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Lalu bagaimana dengan sikap Mataram yang menyerang Surabaya dan membumihanguskan Giri Kedaton? Bukankah itu juga tindakan penguasaan yang sememena-mena kakek?” jawab Jayaseta.


Sang kakek ingin menjawab namun batal karena keempat perempuan tandu sudah kembali.


Andaikata hati Jayaseta belum terikat dengan pesona Almira, sudah barang tentu Jayaseta pun akan menyadari bahwa Pratiwi juga merupakan seorang perempuan muda yang begitu cantik. Dan menawan.

__ADS_1


Dalam usia mudanya, Pratiwi sudah menunjukkan pesona kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuhnya. Bagaimana tidak ia jelas terpilih menjadi salah satu ‘hantaran’ bagi kompeni.


Pakaian perempuan kompeni yang semula ia kenakan sekarang telah tergantikan oleh selembar kain jarit batik saja yang dibelitkan ke tubuh Pratiwi menutupi dada sampai ke pahanya. Sedangkan kedua bahu dan punggungnya telanjang. Di pinggangnya terikat kain yang berfungsi sebagai sabuk. Rambutnya yang panjang hanya disimpulkan dengan sederhana ke bagian belakang kepalanya. Begitu juga para perempuan lain yang mengenakan pakaian serupa.


Sang kakek terdiam. Bukan karena para perempuan tersebut, namun ia memutuskan untuk tidak menjelaskan lebih jauh kepada Jayaseta mengenai percakapan mereka tadi. Padahal andai Jayaseta tahu bahwa ia dan Bharata, si Kakek Keling, sudah memilih jalan yang berbeda.


Delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 1628, ia berumur empat puluhan tahun. Dalam umur matang itu, ia ikut serta memimpin penyerangan pasukan Mataram ke benteng Betawi bersama Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandureja namun menemui kegagalan.


Sewaktu Sultan Agung memerintahkan algojo untuk menghukum kedua pimpinan tersebut, ia juga ikut melarikan diri dengan para pasukan lain yang lebih muda. Akhirnya, ia pun lolos dari hukuman pemenggalan kepala kepada tujuh ratus empat puluh empat pasukan Mataram.


Beberapa orang pasukan Mataram dan mereka yang membela Mataram kemudian pindah haluan dan membelot ke kompeni, seperti anggota Jarum Bumi Neraka dan beberapa anggota Lima Iblis Pencium Darah.


Salman sendiri menolak untuk dihukum mati dan memutuskan untuk tetap melakukan perlawanan terhadap kompeni. Salman pun heran mengapa Bharata tidak menceritakan seluruhnya mengenai dirinya. Mungkin juga Bharata tidak mau terjadi perasaan yang tidak menyenangkan bila Jayaseta tahu bahwa ia adalah mantan prajurit Mataram yang sudah membunuh ayahnya serta menghancurkan tanah kelahirannya, Giri Kedaton.


***


Pratiwi sumringah. Ia terus saja tersenyum manis di hadapan Jayaseta. Jayaseta sendiri juga senang, sayangnya bukan karena memiliki rasa yang sama dengan Pratiwi. Jayaseta hanya lega bahwa ia berhasil menyelamatkan orang lain lagi dari tindakan kejahatan orang-orang kompeni.


Mengenai tawaran kakek Salman untuk melawan kompeni, terus terang bukan itu yang ia inginkan. Ia tidak peduli apakah kompeni, pasukan kerajaan Mataram, Banten, Cerbon atau kerajaan manapun bila melakukan tindakan sewenang-wenang pasti ia akan berada di depan untuk menghalanginya.


Aroma teh yang wangi menguap di depan wajah Jayaseta. Ia tersenyum ketika Pratiwi meletakkan cangkir teh yang terbuat dari keramik Cina itu di sebuah meja di hadapannya. Pratiwi kembali membalas senyuman Jayaseta. Hati Pratiwi bergemuruh melihat ketampanan sang pahlawan.


“Terimakasih Pratiwi,” ujar Jayaseta.


“Sama-sama kakang,” balas Pratiwi.


Bila ditengok, Pratiwi memang tidak dapat menyembunyikan pesonanya. Tak heran orang-orang suruhan kompeni mengambilnya untuk diserahkan pada orang-orang asing tersebut untuk dijadikan bahan hiburan nafsu bejat mereka.


“Kakang, maaf atas kelancangan adinda. Namun sedari awal perjumpaan kita, adinda belum mengetahui nama kakang,” Pratiwi bertanya sembari menunduk malu-malu.


“Bila kakang berkenan, bolehkah adinda mengetahui nama kakang sebenarnya? Tidak pantas rasanya adinda menanyakan hal ini. namun adinda juga tidak akan dapat tidur tenang bila adinda tidak mengetahui nama penolong adinda,” ujar Pratiwi kemudian.


Jayaseta terkekeh, “Adinda Pratiwi jangan berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan. Namun baiklah, namaku Jayaseta, adinda.”


Pratiwi kembali tersenyum dan walau masih malu-malu, ia mengangkat wajahnya yang mungil dan mencoba memandang mata Jayaseta secara langsung. Pancaran cinta muncul lagi di hati pratiwi, “Terimakasih kakang Jayaseta.”


Setelah menghabisi rombongan kompeni, Jayaseta, kakek Salman, para budak dan keempat perempuan tandu tersebut menginap di sebuah penginapan milik seorang Cina. Awalnya orang Cina itu tidak mau menerima rombongan ini.


Apalagi ternyata sang pemilik, Abun, mengalami kesulitan berbahasa Melayu atau Jawa. Untungnya Jayaseta dengan fasih menjelaskan semuanya dalam dialek Hokkien. Abun akhirnya percaya dan terbalik dengan sikap semula, ia malah memberikan semua keperluan rombongan tersebut menempatkan mereka di kamar-kamar yang tersembunyi sehingga terhindar dari kejaran pasukan kompeni yang mungkin saja segera mencari mereka.


Teh manis, kental dan pekat itu diseruput perlahan oleh Jayaseta. Nikmatnya luar biasa. Pertarungan bukan hal yang menyenangkan pada dasarnya. Pertarungan sangat melelahkan, menghabiskan tenaga dan menguras pikiran. Ilmu silat ketika diajarkan sedari awal memiliki falsafah yang sama, yaitu untuk membela diri atau membela orang yang lemah. Pertarungan selalu harus bisa dihindari atau memang bila harus dilakukan, harus dilakukan dengan cepat dan tepat agar dapat menyelesaikan masalah dengan sesegera mungkin. Teh buatan Pratiwi membuat Jayaseta sadar betapa lelahnya ia saat ini.


Pratiwi duduk di samping Jayaseta, “Kakang Jayaseta,” ujarnya.


Jayaseta memandang Pratiwi, “Ya adinda.”


Pratiwi rupanya membawa buntalan kain batik yang kemudian ia buka. Jayaseta melihat sebuah keris yang cukup panjang dengan gagang berukir indah yang nampaknya terbuat dari gading.


“Kakang, bila kakang berkenan, tolong kakang terima keris dari adinda ini,” Pratiwi memberikan keris yang indah itu kepada Jayaseta.


Jayaseta terbingung-bingung, “Apa ini adinda?”


“Adinda sudah memiliki keris ini sedari kecil. Kakek adinda konon adalah seorang jawara di Swarnadwipa yang memberikan ini kepada adinda. Sewaktu adinda dibawa pergi dengan paksa, sebenarnya adinda sudah membawa keris ini diam-diam. Namun adinda tidak memiliki keberanian untuk menggunakannya. Mungkin pendekar seperti kakang lah yang berhak memilikinya,” ucap Pratiwi panjang lebar.


Jayaseta menerima keris itu dan mengeluarkan dari sarungnya. Bilah keris itu panjang dan berluk tiga belas. Sangat indah dan terlihat begitu kokoh.


“Kakek adinda menamakannya Kyai Pulau Bertuah. Adinda tidak mengetahui kesaktian apa yang dimiliki keris ini. Tapi yang jelas hanya orang-orang yang memiliki kanuragan lah yang sepertinya pantas memilikinya, kakang,,” lanjut Pratiwi.



Demi melihat keindahan keris tersebut Jayaseta jadi tidak enak hati.


“Rasanya aku tidak pantas menerima ini, Pratiwi. adinda sudah memberikanku sepasang pakaian. Aku bahkan merobekkannya. Sekarang adinda memberikanku sebuah keris yang sangat berarti bagi adinda,” ujar Jayaseta sembari memberikannya kembali kepada Pratiwi.


“Ambil saja kakang. Adinda iklas. Dan memang kakang lebih membutuhkannya dibanding adinda,” ujar Pratiwi memaksa.


Jayaseta kembali menggenggam keris panjang itu dan meraba gagangnya yang indah serta menyarungkannya kembali. Ia tersenyum kepada Pratiwi dan mengucapkan terimakasih.


***


Kakek Salman berdiri di depan Jayaseta di ruang tamu yang tidak begitu besar di penginapan Abun tersebut. Hanya ada dua buah kursi kayu dan sebuah meja bulat kecil bergaya Cina.


Jayaseta berdiri bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan celana selutut hitam. Bahkan rambutnya hanya digulung seadanya. Mata Jayaseta menutup, sedangkan nafasnya turun naik dengan teratur. Jayaseta berada dalam pemusatan pikiran dan raganya yang sempurna.

__ADS_1


“Atur nafasmu dengan baik. Setelah kau merasa mampu menjadi penguasa atas tubuhmu sendiri, undang racun kutukan Kyai Plered perlahan. Nagataksaka akan bertarung dengan racun Kyai Plered. Biarkan mereka bertarung sejenak, tapi usahakan kau jangan sampai jatuh terlalu dalam ke dalam pertempuran mereka, cucuku,” ujar Kakek Salman sembari mengeluarkan pisau senjata rahasianya dari balik sabuknya.


“Sewaktu mereka bertarung, aku akan merajahkan Garuda Sentanu di atas rajah Nagataksaka yang dibuat oleh Bharata untuk membatalkan kutukan Kyai Plered,” ujar kakek Salman sembari menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya yang sudah memegang sebuah pisau lempar miliknya.


Pratiwi berdiri di pojokan ruangan tamu memperhatikan Jayaseta dan sang kakek dengan wajah was-was dan gelisah.


Pratiwi ngeyel untuk ikut serta ketika sang kakek menawarkan Jayaseta untuk “mengobatinya”. Jayaseta sebelumnya telah menceritakan panjang lebar semua hal yang terjadi pada dirinya, terutama mengenai racun kutukan Kyai Plered yang ada di dalam tubuhnya pada Pratiwi. Jayaseta merasa Pratiwi berhak tahu mengenai hal ini.


Sang kakek sedari awal sudah mengetahui ada sesuatu yang berbeda pada diri Jayaseta sewaktu ia bertarung dengan pasukan-pasukan bayaran kompeni dan telah juga berhasil memperingatkan Jayaseta untuk mengendalikan racun tersebut, berniat untuk membebaskan Jayaseta dari kutukan.


Maka dari itu, ia langsung mendengarkan cerita Jayaseta dari awal ia mendapatkan racun kutukan tombak pusaka Kyai Plered sampai Kakek Keling merajahkan Nagataksaka untuk menjinakkan racun tersebut. Kakek Salman pun kemudian mengangguk-angguk dan paham alasan Bharata untuk memintanya membantu Jayaseta.


Kakek Salman merasa perlu untuk memberikan rajah Garuda Sentanu untuk memperkuat perlawanan dan mengusir kekuatan racun kutukan tombak Kyai Plered.


“Biar kulihat cakram yang diberikan Bharata untukmu, cucuku,” ujar sang kakek tiba-tiba.


Jayaseta menyerahkan ketiga cakram yang salah satunya telah sompel.


Sang kakek terkekeh, “Heh heh heh, sudah kukatakan bahwa besi bikinan si tua renta itu buruk sekali.”


Sang kakek kemudian mengeluarkan sebuah benda berbentuk persegi yang dibungkus dengan kain berwarna putih. Ketika kain yang menutupinya dibuka, terlihatlah sebuah kotak kayu berukir indah berwarna-warni. Sang kakek pun membuka kotak kayu tersebut.


Di dalamnya Jayaseta dapat melihat berbagai benda-benda tajam terbuat dari besi. Sepertinya itu adalah beragam senjata rahasia, semacam senjata lempar. Tidak mengherankan karena seharian ini Jayaseta melihat keliahaian sang Pisau Terbang Penari dalam menggunakan pisau rahasia sebagai senjata lemparnya. Salah satu benda tajam yang ia keluarkan adalah sebuah cakram.


Cakram ini walaupun memiliki ukuran yang serupa dengan ketiga cakram yang diberikan oleh Kakek Keling, terlihat lebih berat dan kokoh. Di bagian dalam lingkaran terdapat ukiran indah keemasan. Kakek Salman menyerahkan cakram itu kepada Jayaseta.


“Ambillah ini Jayaseta untuk menggantikan cakram sompelmu itu,” ujar sang kakek sembari sekali lagi terkekeh.


Sudah dua senjata yang diberikan oleh orang lain hari ini kepada dirinya, pikir Jayaseta. Tanpa ragu dan mau basa-basi Jayaseta menerimanya.


“Cakram ini lebih berat dari ketiga cakram Bharata, namun tentu ia jauh lebih kuat dan kokoh. Kekuatan besi buatanku ini lima kali lebih kuat dibanding cakram bututmu, he he he. Bila kau melemparkannya dengan baik ia dapat menghasilkan daya potong yang sangat berbahaya bagi musuh-musuhmu.”


“Terimakasih kakek.”


“Anggap saja hadiahku bagi murid sahabatku,” balas sang kakek.


Saat itulah kemudian kakek Salman meminta Jayaseta untuk ikut ke ruang tamu kecil di penginapan tersebut untuk merajahkan Garuda Sentanu pada lukanya.


***


Rajah Kakek Keling dan kakek Salman sebenarnya adalah goresan serupa gambar yang dialiri tenaga dalam. Tenaga dalam tersebut juga disertai doa-doa kepada Hyang Agung atau Tuhan yang Mahakuasa agar mendapatkan hasil yang terbaik.


Rajah Nagataksaka adalah tenaga dalam yang sesuai dengan namanya digambarkan seperti Nagataksaka yang sakti namun ‘nakal’. Mengalir liar dalam tubuh Jayaseta dan menghambat gerak laju racun Kyai Plered.


Sedangkan Garuda Sentanu adalah tenaga dalam yang lebih ‘bijak’ namun sangat kuat, melebihi kekuatan Nagataksaka. Ia sengaja kakek Salman torehkan untuk membantu mengingatkan Ngataksaka yang terlalu liar dan nakal untuk membantu tubuh Jayaseta. Selain itu, ia juga dimaksudkan untuk tidak saja mengurung daya racun Kyai Plered di dalam tubuh Jayaseta, namun juga memusnahkannya.



Bila ketika dirajahkan Nagataksaka Jayaseta memusatkan tenaga dalamnya dalam keadaan bersila, Garuda Sentanu dirajahkan dalam keadaan berdiri.


Jayaseta mengatupkan kedua telapak tangannya di dada kemudian mengepalkan kedua tangannya dan meletakkannya di samping tubuhnya. Ia mengatur nafasnya dan merasakan hawa murni masuk ke pusat dadanya. Dengan tenaga murni itu pula ia meledakkan tenaga sehingga bagian dalam tubuhnya tersentak. Dengan ini, ia ‘memancing’ Kyai Plered untuk keluar.


Benar saja, tubuh Jayaseta meregang. Namun ia berusaha kendalikan dengan kekuatan Nagataksaka. Luka gores di dada kirinya seperti menyala, begitu juga dengan luka anak panah di bahunya kanannya. Tidak hanya itu, semua bekas luka yang berhamburan di tubuh Jayaseta juga menyala seperti api-api kecil.


Kakek Salman tersenyum penuh makna.


Ia memusatkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya kemudian ke pisau lemparnya. Ia mendekati Jayaseta dan mulai menorehkan luka lain di atas rajah Nagataksaka.


Jayaseta menggeram. Tubuhnya serasa terbakar sampai ubun-ubun. Tapi di sisi lain, ia merasakan hawa dingin yang perlahan merangsek ke dalam tubuhnya dari dada kirinya.


Kakek Salman meningkatkan pemusatan tenaganya ke rajah tersebut. Sekarang luka yang ditorehkan sang kakek sudah membentuk gambar cakar seekor burung garuda. Kemudian terus membentuk sayap , leher, kepala dan terus turun untuk membentuk kaki dan cakar di sisi lain untuk mencengkram Nagataksaka.


Tenaga luar biasa telah meresap masuk ke dalam tubuh Jayaseta. Ia sudah dapat merasakan bahwa sejenak lagi ia akan terbebas dari racun kutukan tombak pusaka Kyai Plered. Sebentar lagi sang racun akan meninggalkan tubuhnya selama-lamanya dan ia tak perlu khawatir lagi si racun akan keluar sewaktu-waktu untuk mengendalikan dirinya.


Tubuh Jayaseta bergolak, tapi bukan karena rasa sakit namun lebih kepada rasa nyaman dan daya tenaga yang luar biasa.


Sang kakek sendiri sekarang tinggal menutup rajah Garuda Sentanu pada bagian cakar. Hanya tinggal segaris lagi sampai tiba-tiba ia berteriak dengan keras, “Aaakhhhh ….!”


Sang kakek menghentikan rajahannya dan belum sempat menutup goresan terakhirnya. Ia sekarang jatuh berlutut. Mulutnya mengeluarkan darah segar.


***


Jayaseta tersentak dan membuka mata.

__ADS_1


Di lihatnya sang kakek di depannya jatuh terlutut dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sedangkan tak berapa jauh di belakangnya terlihat Pratiwi berdiri dengan dua tangannya memegang dua buah belati yang berlumuran darah.


Wajahnya yang begitu cantik dan polos sekarang tersungging senyum samar yang kejam dan menakutkan.


__ADS_2