
Lâm memusatkan perhatian. Ia tidak akan membiarkan malam melahap keawasan dan kesigapannya. Ketika semua bawahannya, para perompak Champa, kalut, Lâm tidak mau seperti itu.
"Bangsat! Keluar kalian, bedebah! Hadapi kami secara jantan. Tunjukkan muka kalian semua. Jangan beraninya menyerang sembunyi-sembunyi!" teriak satu perompak Champa yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran sekaligus ketakutannya.
Gemerisik kembali terdengar. Satu sosok tak dikenal meluncur menyambar seorang perompak Champa bagai seekor burung hantu memangsa tikus. Sekali lagi semua orang tersentak. Kecepatan gerakan sang sosok tak dikenal itu jelas diatas rata-rata.
Keterkejutan mereka hanya sebentar karena sosok dalam bentuk bayangan di malam kelam terasebut kembali muncul. Namun kali ini ia langsung menyerang ke arah para perompak Champa tanpa lagi sembunyi-sembunyi.
"Disitu kau rupanya. Akan kubunuh dan kuncincang tubuhmu!" ujar anggota perompak Champa yang sama. Ia mengangkat tombaknya dan menyerang sosok tersebut.
__ADS_1
Sang sosok yang nyatanya benar Jayaseta, mengenakan topeng baja berwarna abu-abu, mengatupkan kedua matanya dan menggunakan indra lainnya untuk menuntun langkah dan gerakan jurusnya.
Serangan tombak menghujani Jayaseta dengan deras. Tusukan-tusukan itupun sesungguhnya tidak dapat dilakukan dengan baik oleh karena pandangan mereka yang begitu gelap. Para perompak Champa hanya menyerang berdasarkan penglihatan mereka yang miskin serta naluri belaka. Sinar langit malam yang tak mampu menembus dedaunan dan pepohonan jelas tak juga mampu membantu para perompak Champa untuk mencari keberadaan sang penyerang dengan tepat. Sebagai hasilnya, tusukan-tusukan tombak mereka cenderung menyasar tempat kosong.
Jayaseta sebaliknya, menggunakan kegelapan sebagai bagian dari kekuatan dan keuntungannya. Gerakannya tegas tetapi penuh dengan pertimbangan yang melibatkan setiap sisi indranya. Ketika satu tusukan dilancarkan, udara yang menghantarkan bunyi langsung digunakan Jayaseta untuk melihat keberadaan sang penyerang. Saat itu pulalah ia dapat memutuskan gerakan selanjutnya.
Jayaseta merunduk dan melangkah panjang-panjang. Ia menghindar dengan cekatan dan memetakan keadaan. Setelah dirasa pas, barulah Jayaseta memutuskan untuk menyerang. Ia berencana menyelesaikan semuanya dengan satu kali runutan serangan.
PLANG!
__ADS_1
Tinjunya menghajar tameng perompak Champa yang masih sempat melihat kemunculan sosok sang pendekar di depannya. Namun, ia sama sekali tidak bisa dibilang beruntung. Tubuhnya terdorong mundur oleh kekuatan yang tak biasa. Tenaga dari pukulan sosok tak dikenal dan hampir tak terlihat itu bak berasal dari lima orang sekaligus. Ia terdorong mundur dan jatuh di semak-semak.
Jayaseta berputar cepat. Udara di sekitarnya memberikan tanda bahwa ada dua orang perompak sedang berada tepat di belakangnya. Ia menancapkan kedua kakinya di tanah dengan mantap, kemudian masih dengan mata tertutup menyikut tameng di belakangnya sekaligus memberikan tinju melewati tameng musuh satunya sehingga tepat mengenai leher musuh.
Si perompak Champa yang tamengnya disikut jatuh terjerembab di tanah, membuat beberapa rekan perompak lain yang berada di belakangnya ikut rubuh karena terjegal kakinya tak dapat melihat dalam gelap. Sedangkan, sang perompak yang tak sempat mengangkat tameng dan terkena tinju di lehernya langsung ambruk dengan leher patah.
Kegelapan benar-benar memberikan keuntungan yang besar bagi Jayaseta. Bahkan Lâm pun paham itu. Bila dalam keadaan wajar, yaitu dalam terang, Jayaseta perlu melakukan jurus-jurus yang cepat dan perlu mempertimbangkan perlawanan musuh yang sama-sama dapat melihat keadaan lawannya. Memang benar bahwa dalam kegelapan Jayaseta masih memerlukan pemusatan pikiran yang luar biasa untuk mempertajam semua indranya serta menyerang dalam sekali atau dua kali gebrak saja agar tidak membuang-buang kesempatan. Namun, kegelapan membuat musuh tidak berkutik. Mereka hanya dapat menebak-nebak dan menyerang secara serampangan sekaligus sangat hati-hati agar tak terkena kawan sendiri.
Jayaseta di sisi lain, setelah mampu menyerap semesta dan memetakan letak musuh, dapat dengan lebih tepat menyerang mereka.
__ADS_1
Lâm tidak bisa menerima keadaan ini. Tidak akan butuh waktu lama bagi pasukannya untuk kocar kacir. Ia perlahan sudah mampu memperhatikan gerak sang sosok tak dikenal itu, meski ia masih terlalu ragu untuk mengetahui apakah penyerang dalam gelap tersebut murni satu orang saja atau lebih.
Lâm menghela nafas dengan kasar ketika melihat dua orang perompak lagi terlempar bagai dua helai daun kering. Ia meletakkan pelan tombak dan tamengnya, kemudian meraba lempengan logam dari balik sabuk serta mencabutnya.