
Sasangka dan Jaka Pasirluhur sama-sama memerhartikan bahwa orang asing yang datang tiba-tiba itu mempersembahkan hawa pertarungan dan pertentangan yang kental. Sang sosok bangsa Siam tersebut tak terlihat membawa senjata dalam bentuk apapun. Tatapan dingin sang sosok sama sekali tidak menunjukkan persabahatan, meski juga sulit ditebak apa yang ada di dalam pikirannya.
“Dua sosok orang bertopeng rupa-rupanya. Angin telah membawa kabar berita sehingga aku dapat menemukan kalian berdua disini. Ciri-ciri yang miskin kuterima nampaknya sulit untuk dipercaya, tetapi aku sangat yakin dengan jalan takdir. Lihatlah, tidak hanya satu, melainkan dua orang bertopeng sekaligus yang kudapatkan. Aku yakin, kalian adalah dua orang pendekar. Aku dapat melihat hawa kesaktian menguap dari tubuh kalian. Jadi, dibanding rugi, mana tahu sungguh salah satu dari kalian, atau mungkin dua-duanya adalah yang disebut sebagai Pendekar Topeng Seribu. Toh, saking rahasianya, tak ada yang membahas sesungguhnya berapa orang sosok mahsyur itu. Begitu hebatnya kah ia sehingga seorang diri dapat mengalahkan beragam bentuk pendekar dari beragam bangsa pula?” ujar Arthit panjang dan dingin dalam bahasa Siam.
Sasangka dan Jaka Pasirluhur sama sekali tak paham dengan ucapan orang tersebut. Untaian kata-kata dengan nada aneh itu hanya memberikan satu hal, sebuah tantangan.
Secara naluriah, Sasangka dan Jaka Pasirluhur bertukar pandangan. Mereka tahu bahwa orang di depan mereka tersebut juga pasti tak paham bahasa yang mereka gunakan. Maka Jaka Pasirluhur terang-terangan menatap ke arah Sasangka yang tertutup kain di bagian mulutnya itu. “Jadi, apa yang harus kita lakukan? Dia tak menggunakan senjata sama sekali. Bukankah aneh dan tidak adil bila kita mencabut senjata kita pula? Bahkan kau pun menggunakan sepasang …, eh, tiga bilah sekaligus.”
Sasangka tersenyum tipis di balik kain penutup mulutnya. “Aku serahkan kau saja, itu juga kalau dia memang berniat macam-macam dengan kita. Lagipula, seperti yang kau katakan tadi. Bila memang menggunakan senjata hukumnya tidak adil, maka, dua lawan satu sama tidak adilnya, bukan?”
Jaka Pasirluhur mengangkat kedua bahunya. “Ada benarnya juga katamu. Kurasa tak mungkin kita berdua mengeroyoknya. Tapi, masuk akal juga kalau kita melakukannya, bukan? Ini bukan pertandingan untuk oleh raga atau olah kanuragan biasa untuk senang-senang. Siapa yang menang, dia yang hidup. Apa kau yakin, ia akan membiarkan kita hidup? Yah, itu juga kalau kita tahu maunya apa, dan apakah sungguh ia adalah seorang pendekar.”
Arthit maju mendekat dengan perlahan. Gerakan langkahnya menyebarkan hawa bahaya bagi kedua pendekar bertopeng lawannya tersebut. Sasangka dan Jaka Pasirluhur langsung mundur selangkah dan memperkuat kuda-kuda mereka.
Ini yang membedakan naluri pendekar hebat dengan yang bukan. Lawan-lawan Arthit di dalam gelanggang pertarungan Muay Boran, tidak mampu melihat hawa membunuh ini. Pertama, mungkin karena mereka memang berada di tingkat bawah kemampuan kanuragan Arthit sehingga tak mampu menangkap betapa bahayanya sosok yang satu itu sampai kemudian mereka terkapar kalah. Masih bagus mereka tidak tewas. Kedua, Arthit jelas menyembunyikan kekuatan hawa membunuhnya ketika berhadapan dengan lawan di atas gelanggang tanah.
Namun, menghadapi orang yang ia anggap sang Pendekar Topeng Seribu sendiri, jelas membuat Arthit mengeluarkan semua kemampuannya, dimulai dari hawa membunuh yang ia lepaskan ke angkasa. Sama seperti seekor binatang buas, Arthit menunjukkan bahwa ia adalah sang pemangsa, memaksa korban-korbannya untuk tunduk dan siap menerima penghakiman yang ditimpakan kepadanya.
“Orang ini tak main-main. Kau pasti bisa merasakannya. Apa masih mau coba rencana pertama? Satu lawan satu dimulai dari aku duluan?” tanya Jaka Pasirluhur cenderung menyindir. Bagaimanapun keduanya paham bahwa yang mereka hadapi bukanlah orang biasa. Bahasa yang tidak mereka tahu ketika sang sosok asing itu berbicara sendiri – atau kepada mereka, hanya tak mereka tak pahami – itu bagaimanapun mungkin sekali merupakan ancaman dan tantangan untuk bertarung.
__ADS_1
“Baik, kisanak. Cukup, berhenti sampai disitu!” seru Jaka Pasirluhur dalam bahasanya. “Kita sama-sama saling tak memahami bahasa masing-masing. Kami tak paham mau kisanak apa. Jadi, bisakah kita cari cara untuk dapat saling berbicara?” lanjut pendekar bertangan satu itu.
“Kau ini bodoh, dungu atau apa? Jelas kita sama-sama tak bisa saling memahami. Mengapa masih kau ajak dia bicara bahasa kita?” seru Sasangka kesal sekaligus bingung.
“Mana tahu dia bisa bahasa lain selain bahasa lidah ibunya,” balas Jaka Pasirluhur.
Sasangka menatap ke arah Jaka Pasirluhur tak percaya. Ia sendiri juga tak percaya dengan kejadian demi kejadian di dalam perjalannya ini.
Arthit di sisi lain kembali berjalan mendekat. Kakinya mantap menjejak tanah berumput tepat ke arah keduanya.
“Tunggu, kisanak! Jangan cari masalah bila tidak mau mendapatkan akibatnya. Jangan mendekat atau terpaksa aku harus menyerangmu,” ujar Jaka Pasirluhur mengangkat salah satu tangannya ke depan untuk memberhentikan si sosok tak dikenal tersebut.
Serangan lutut lolos dari sasarannya.
Sasangka yang melihat kejadian ini sontak menyerang lawan. Ia berlari cepat ke depan dan memberikan tendangan lurus ke arah bahu lawan.
BUG!
Arthit berguling ke samping akibat tendangan cepat yang diancarkan Sasangka.
__ADS_1
Arthit bangun, membunyikan tulang lehernya, kemudian tersenyum lebar. Tidak ada tanda-tanda rasa sakit atau luka yang ada pada tubuhnya, termasuk bahunya yang ditendang Sasangka tersebut. Padahal, walau tidak menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, tendangan Sasangka bukanlah serangan biasa. Buktinya, Arthit sendiri tak luput dari sasarannya dan sempat berguling ke samping karena kekuatan tendangan tersebut.
“Bajingan! Menyerang orang seenaknya saja!” seru Jaka Pasirluhur.
“Sudah, dibanding merutuk, lebih baik kita hajar saja orang itu. Dia bukan orang biasa. Aku sudah menendangnya, dan tepat pula. Tetapi ia tak menunjukkan rasa sakit,” ujar Sasangka.
“Hah, berarti kau setuju kita menyerang bersama?”
Sasangka tak menjawab atas sindiran Jaka Pasirluhur itu lagi. Sebaliknya ia telah dibakar amarah, sesuai dengan sifatnya. Tanpa menunggu tindakan kelanjutan dari Jaka Pasirluhur, Sasangka memutuskan menderu maju sendiri. Sepasang belati wedhung dengan tiga mata bilah tajam itu tetap masih menggantung di pinggangnya. Sasangka menyerang dengan tinju tiga jurusnya.
Arthit mundur, menyilangkan kedua lengannya di depan muka dan menerima satu pukulan keras.
BUG!
Pendekar Siam itu tersentak ke belakang setengah langkah. Ia tersenyum.
Sasangka mengintip air muka sang lawan di balik kedua tangan yang menciptakan pertahanan tersebut. Melihat sang musuh tersenyum, walau tipis, membuat Sasangka menjadi berang.
Ia kembali memberikan serangan tiga jurusnya. Tidak cuma sekali, tetapi sampai langsung tiga serangan. Tinju lurus ke tengah, berlapis tiga sengaja dilakukan untuk membobol pertahanan lengan menyilang sang lawan. Sasangka ingin memberi pelajaran tokoh tak dikenal itu karena telah bermain-main dengan serangannya.
__ADS_1